All For Dreams

All For Dreams
Mimpi Kelabu



...All For Dreams...


...Mimpi kelabu...


.......


.......


.......


Pernahkah?


Pernah gak kalian mengalami mimpi panjang yang seperti tidak memiliki akhir? Seperti game petualangan si jaket kuning?


Atau game terjebak di dalam rumah misterius?


Atau itu semua hanya di alami oleh gua yang baru saja terjaga dengan mimpi yang indah.


Tiit tiitt.. Tiittt.. (suara mesin detak jantung)


Pasti rumah sakit


Inner Feron sadar, ia sedikit mengusap matanya yang buram. Mencoba menggerakkan sendi-sendi yang kaku.


Sampai suara pintu yang terbuka membuat atensi Feron ter alih.


Mata tajamnya senantiasa selalu memperhatikan gerak-gerik Vein yang memasuki ruangan penuh bau obat ini.


Namun sepertinya Feron perlu sedikit mengangkat kapalanya untuk dapat melihat apa yang di lakukan kepala keluarga itu di sofa tunggu yang berada di ruang inap pribadi Feron.


Pria bermur itu kini memunggungi Feron, gerakan seriusnya berhasil membuat alis mata Feron naik dan segera mengeluarkan kata.


"Sedang apa kau?" Tanya Feron mencoba duduk dari tempat tidurnya.


Vein, ayah Feron sedikit terjengit namun dengan cepat kembali bersikap normal dan membalikkan badannya 160° ke arah Feron yang sudah duduk.


"Bukan urusan anak ceroboh sepertimu" Jawab Vein dingin berjalan ke arah Feron dengan nampan penuh makanan dan obat-obatan.


Feron menatap sang Ayah penuh selidik, ia sedikit menajamkan pandangannya pada nampan yang di bawa Vein dan di letakkan di atas pangkuan Feron yang tak siap menerimanya.


"Kau makanlah ini, sudah hampir sebulan kau selalu tidur dan tidak makan  (Ucap Vein seraya memperhatikan wajah anaknya yang menatap nampan berisi makanan yang baru saja ia letakkan dengan pandangan curiga) Apa otakmu sudah tumpul karna bocor?" Tanya Vein duduk di kursi yang tersedia.


Tolong tidurin gua lagi tuhaann!!! Mungkin dia bukan bapak gua, mungkin gua salah server masuk dunia. Gua yakin dia bukan bapak gua, gua pasti salah. Gua harus diam dan liat makanan aja, kayaknya itu lebih menarik ketimbang ladenin ni bapak bau tanah yang gak bisa bedain mana tidur mana koma.


Batin Feron menjerit frustasi.


Suasana berbicara dengan sang ayah sebenarnya tak begitu di sukai oleh Feron yang memang tidaklah ingin mendekatkan diri, lebih-lebih akrab dengan sang ayah yang kini malah menatapnya serius seperti mengisyaratkan bahwa Feron harus segera menghabiskan makanannya sebelum Vein bertindak lebih nantinya.


"Mmm ekhemm ekhem.." Disuapan pertama Feron tidak dapat menelan makanannya dan berakhir terbatuk-batuk, namun dengan kegesitan Vein yang menyodorkan air rasa aneh itu segera meluncur pergi dan tergantikan dengan Vein yang malah memijat pangkal hidungnya.


Sepertinya ayah dua anak ini ingin menceritakan banyak hal, tapi cukup ragu untuk mengutarakannya.


"Kalau mau cerita, cerita aja Yah" Ucap Feron seraya menyuap kembali makanannya, rupanya rasa makanan yang dibawa sang ayah tidaklah buruk. Terbukti dengan isi piring Feron yang notabenenya hampir 90% berisi lauk pauk kesukaan sang anak bungsu.


Rupanya di balik sikap dingin dan jarang di rumah, tidaklah menjadi penghalang bagi seorang Veiner Abdi Adidjaya untuk tau makanan kesukaan anak-anaknya.


"Kenapa?" Tanya Feron lagi.


"Haaaaaahhhh" Dan hanya helaan nafaslah yang menjadi jawaban bagi Feron yang sudah penasaran menunggu.


Pada akhirnya, mereka berdua hanya kembali pada keheningan yang tabu.


Cklek


"Selamat sore, tuan Adidjaya" Sapa dokter dengan seorang suster yang kembali menutup pintu.


Vein langsung melirik sang dokter.


"Selamat sore" Balas Vein berdiri.


Sementara dokter dan suster kini beralih untuk melakukan tugas mereka.


.


.


.


Di taman rumah sakit, Vein tertunduk dalam kehampaan. Ia sudah menyiapkan banyak sekali rencana untuk Feron. Dan semua ini bukanlah keegoisan Vein semata, ia berjanji.


Tak jauh dari tempat Vein, Neti dan nenek Feronpun mendekat. Mereka berdua sudah ingin komplen dengan keinginan Vein yang bagi mereka, semena-mena.


"Kakak/Vein" Ucap kedua wanita itu kompak.


Vein langsung mengalihkan atensinya dan kemudian berdiri.


"Kalian berdua cepat sek-"


Plakk!!!


"Jangan sampai cucuku mendengar ide gilamu Vein" Nenek langsung saja memukul pipi Kiri Vein kencang, ia tak habis fikir dengan rencana Vein yang begitu mendadak dan membuat Nenek sudah tak tahan dan langsung saja menampar pipi pria yang sayangnya adalah menantunya, Nenek enggan memberikan waktu bagi Vein untuk menyelesaikan kalimatnya.


"Teganya kakak," Tambah Neti semakin menghakimi niat Vein.


"Pokoknya kami berdua tidak akan pernah menyetujui ide gilamu, kami berdua tetap akan menentang setiap hal yang ingin kau lakukan, termasuk memaksa Vein!" Sambung Nenek tegas menunjuk wajah Vein yang seketika langsung dilingkupi rasa marah.


"Oh! Kalian pikir kalian siapa ha!? Berani sekali kalian berdua berkata seperti itu padaku yang jelas-jelas adalah ayah dari anak itu! Apa kalian pikir dengan adanya kalian berdua di rumahku kalian bisa seenak itu memberikan pendapat? Kalian salah, yang berhak dan yang bisa hanya aku (menunjuk diri sendiri) hanya aku, Vein ayahnya yang bisa mengatur. Bukan kalian berdua yang hanya berstatus Nenek dan juga Tante, kekuasaan dan peraturan masih ada padaku dan selalu akan begitu sampai Feron dan Adi mati!" Sanggah Vein emosi, ia bahkan sampai berteriak penuh kemarahan pada kedua wanita beda usia yang langsung terperanjat kaget mendengar penuturan Vein yang terlampau jauh itu.


" Dan sekarang, aku akan pergi. Tidak usah menghasut anak itu, baik kau (menunjuk sang nenek) ataupun kau (menunjuk Neti) kalian berdua tidak memiliki hak, karna semua hal yang berhubungan dengan Feron sudah aku tangani dan bereskan (Berjalan menjauhi dua wanita yang hanya bisa membatu) dan terlebih lagi, meskipun kau menutupinya Neti (berbalik, melirik punggung Neti tajam) aku tau kalau anak itu ketua berandalan, dan untuk itulah rencana ini aku persiapkan" Ujar Vein panjang lebar dan langsung pergi dengan hentakan sepatu yang begitu nyaring terdengar di lorong sepi itu.


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


...TBC ...