All For Dreams

All For Dreams
Gladiator asmara



Hari yang sangat cerah di Pekanbaru...


Drrrggghhh


Drrggghhhh...


Suara kipas angin berbunyi, mengantarkan 4 gadis pemalas pada kebiasaannya di kantor magang.


"Bung, kencengin dikit dong kipasnya" Perintah Fiona mengusap peluh di pelipisnya seraya menggoyangkan kipas plastik di genggamannya.


"Ini udah yang paling kenceng Piong" Jawab Bunga sedikit meninggikan nada bicaranya.


"Ah! Masak iya itu udah yang paling kenceng sih?!" Ucap Fiona bangkit dari posisinya menatap kipas angin.


"An*jay yang bener aja, ihhh!!! Panas banget dah Pekanbaru" Keluh Fiona akhirnya memilih untuk berjalan keluar kantor, berniat untuk mencari udara yang lebih segar.


Setelah sampai di depan pintu utama, seketika tangan Fiona berhenti bergerak. Ia melihat daun pintu yang sudah dibuka terlebih dahulu oleh seorang pria dengan senyuman manisnya secara brutal.


Trak!!


"Kantor utama, sudah lama ya" Ujar pemuda itu memasuki kantor, tak memperdulikan Fiona yang hampir saja terkena daun pintu, atau sudah.


Pintu kembali tertutup otomatis, memperlihatkan Fiona yang syok ditempatnya "Hampir aja muka gua benjol" Ucap Fiona syok, kipas mainan yang sedari awal ia genggam kini sudah menjatuhkan serpihannya kelantai.


Pemuda itu melangkah mantap, menghampiri 3 gadis lainnya yang hanya dapat menatap pemuda itu tercengang.


"Hallo every body. Lu liat kak Agnes gak? Gua lagi nyariin dia nih" Ucap pemuda itu celingak celingukan.


Bunga, Iis, dan Delima hanya dapat menatap ternganga sang pemuda. Mereka langsung tersihir oleh ketampanan pemuda tersebut dan langsung menunjuk ruang pengelola di samping mereka.


"Silahkan trus jalan" Ujar Iis seraya senyum pepsodent.


"Oh, woke, thanks ladies" Jawab pemuda itu serasa mengedipkan sebelah matanya tersenyum melambai pergi.


"An*jink cakep bener" Sontak ketiga siswi itu berucap.


"Ganteng darimananya, buat gua dia masih di bawah standar ketampanan seorang Fadli" Ucap satu suara, Fadli mengintrupsi khayalan para gadis tersebut.


Dalam persekian detik senyum mereka langsung luntur.


"Lu ya Fadli, cocoknya di setarain ama keset yang selalu gua pijak pas pertama masuk ni kantor, lu setara banget tuh! (menunjuk Fadli) Tapi kalau lu coba adu tampan ama dia, hmm! Sorry, kayaknya muka lu harus dipermak dulu ke korea sana" Sarkas Delima menunjuk arah hilangnya sang pemuda.


"Pan*ek lu, Si Daffa cuma menang skincare ama duit doang ***! Kalau adu wajah natural pasti lebih unggul gua lah!" Cemooh Fadli memonyongkan bibirnya tidak terima dengan ucapan Delima.


.......


.......


.......


...111...


...Gladiator Asmara...


.......


.......


.......


.........


.......


"Astaga ganteng banget" Gumam Fiona membatin.


Sedari tadi ia hanya menatap Daffa yang sedang berbicara dengan kak Agnes.


Senyum pemuda itu seakan menyihir Fiona untuk tetap menatap lama, hingga Daffa balik menatapnya, sontak membuat wajah Fiona panas total, malu ketahuan telah lancang menatapnya.


Fiona langsung menyentuh kedua pipinya yang panas seraya menunduk dalam.


Dalam tundukan kepala, Fiona masih sempat-sempatnya untuk sedikit melirik Daffa yang sudah tak menatapnya dan itu langsung membuat jantung Fiona mulai menyetarakan degupannya seperti semula, namun seketika...


"Gua yang salah.. Atau emang lo yang selalu mandangin gua sedari tadi?" Ujar suara itu sudah berdiri di ambang pintu penghubung ruangan Fiona dengan kak Agnes.


Deg... Deg.. Degdegdegdegdegdeg


Tak menerima jawaban sontak membuat Daffa langsung mengarahkan kakinya melangkah mendekati Fiona.


Dengan gerakan lamban, Daffa berhasil meraih pundak gadis itu, mengusapnya perlahan dan mulai mencoba untuk semakin jauh mengarahkan tangannya pada wajah Fiona yang sudah merah padam.


Daffa menunduk, mencoba untuk mensejajarkan mulutnya dengan telinga Fiona "Apakah nona manis ini yang selalu memperhatikan saya..." Ucap Daffa dalam.


"Aaaaaaaaaa ma... af..." Lirih Fiona.


Daffa kembali berdiri tegak "Apa?"


Fiona dengan malu-malu melirik Daffa "Maaf" Cicitnya menatap Daffa malu-malu.


"Ah! Maaf ya" Daffa langsung tersenyum lebar hingga membuat matanya tertutup sempurna "Untuk apa?"


"Ah itu anooo...???? Untuk apa yaaa... Itu anooo" Ucap Fiona salah tingkah sendiri.


"Hahahahahahha.... Mbak ini lucunya, sanking lucunya sampai ingin saya karungin dan dibawa pulang" Ucap Daffa bersilang tangan.


"A-apa?!"


"Ups.. Maksudnya mbak ini manis sampai pengen saya ajak makan malam bareng" Kibul Daffa tersenyum.


"A... Aaaa gua mana cocok makan malem bareng lu.." Aku Fiona mengusap jilbanya malu ditatap Daffa terus menerus.


"Ah, tak apa-apa. Itung-itung PDKT kan gak masalah, dapet syukur gak dapet ya coba lagi. Apalagi buat dapetin nona secantik dan semanis lo memang butuh perjuangan juga gak sih biar berasa berharganya"


"Benarkah?!" Tanya Fiona berbinar senang.


Asyik, mangsa baru...


Batin siapa ini?


Tentu saja....


.


.


.


"Daffa"


Gumam Feron menatap tulisan panjang di papan kerjanya.


Sudah hampir seminggu lebih tangan Nanda masih diikat layaknya mummie, dan sontak hal itu menjadi mala petaka bagi pemuda 17 tahun yang sudah menghela nafas hampir 100 kali dalam kurun waktu dekat ini.


"Lu Gumam apaan tadi?" Tanya Nanda berjalan ke arah kursi seraya memakan buah pesanan yang ia minta ke Feron.


Feron memandang Nanda "Dufan, gua ngomongin Dufan dan hari libur. Gua bosan jadi babu lo seminggu ini" Ucap Feron malas.


"Aukh ah ba*bi, entar lu gak usah antar gua pulang Ron. Ada si Anwar yang bakal jemput gua sore ini, jadi lu bisa free jadi ojol gua buat dua hati kedepan" Ujar Nanda menutup acara makan buahnya dengan ngelap mulut di pakaian Feron.


"Ba*bi sekali anda, WOY! BAJU GUA BARU DI LAUNDRY!!! JAN AMPE LU GUA JADIIN KANG LAUNDRY DADAKAN ENTAR!!!!" Teriak Feron menarik kembali bajunya.


"Ih, pelit amat lu. Timbang gua pinjam buat lap mulut aja marah, gimana kalau gua jadiin buat pel ni kantor tu baju" Cicit Nanda memonyongkan bibirnya.


"Gua seret lu ke penghulu" Sarkas Feron tanpa memfilter dulu ucapannya.


Trank!


"!"


"Astaga... Maaf.. Maaf.. Abang salah jadwal datangnya, permisi. Silahkan lanjutkan Feron, abang tunggu diluar kantor kalau udah siap" Teriak bang Sukma yang datang entah darimana.


Feron dan Nanda langsung berkerut menatap ekspresi bang Sukma.


.


.


.


Jam pulang...


"Thanks ya War, udah mau jemput gua padahal lu juga baru pulang dari Pekanbaru" Ucap Nanda berusaha naik di motor KLX Anwar.


Anwar yang melihat Nanda kesusahan langsung berinisiatif untuk membantu sang pacar naik ke motornya.


"A-nwar.. Gak usah" Ucap Nanda malu-malu.


"Gak apa-apa Nan, itung-itung buat membayar semua perhatian yang jarang gua kasih ama lo" Balas Anwar tersenyum.


"Manis banget" Gumam Nanda.


"Asem woy asem... Jomblo merasa terusir disini!" Sarkas Feron menganggu moment kemesraan yang sengaja dibangun Anwar jadi runtuh akibat suara kaleng rombeng.


"Diam Lo Ba*bi, kita lagi mencoba membangun kisah kasih malah diganggu ama obat nyamuk!" Amuk Nanda memarahi Feron.


"Ck!!! Iya-iya Nanda, silahkan mesra-mesranya dilanjutkan. Penghalang nyamuk akan segera pergi agar tidak mengganggu kemesraan dua insan yang sedang dimabuk cinta" Ujar Feron merengut, namun jika diperhatikan lebih dalam, muka itu sedikit sedih.


"F-Fer...." Gumam Nanda memanggil, namun Anwar lebih dulu menyalakan motornya dan pergi dari sana bersama Nanda.


Menyisakan Feron yang menatap Nanda dalam wajah kelam.


Feronn...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


...Tbc...