All For Dreams

All For Dreams
95



Sreeettttttt


"Enghhhhhh (Ryou menunjuk bekas kuenya dan kelas 12 bergantian dalam ekspresi mengerut) Dimana makanan bapak?" Tanya Ryou tidak habis fikir, brownis seharga 500 ribunya ludes tanpa sisa krim Sedikitpun di atas tempat kue.


Semua pura-pura tuli, mereka fokus menatap layar pc di depan mereka, enggan menatap wajah Ryou yang langsung panik menatap kuenya baik di atas meja maupun di dalam kantong kresek hilang.


Namun Ryou dapat melihat dengan jelas, bekas kripik dari inggrisnya masih berada di sela bibir tebal Gusti.


"Iniii?" Ucap Ryou berjalan.


Flashback!


Di pagi hari nan cerah, Ryou seperti biasa sedang memilah beberapa cemilan di kulkas 3 pintunya dalam suasana wahkyu.


Melirik sedikit ke arah ovennya yang tengah memasak daging terbaik se-indonesia, bahkan ia yakin daging ini lebih mahal dari ****** emas pak Bino.


"Woke, akhirnya" Gumam Ryou meletakkan semua cemilan yang baru saja ia pilah dari kulkasnya.


Menyusun satu-persatu makanan kurang manusiawi bagi para kaum miskin kedalam kresek seharga 100 ribu perlembarnya.


"Aku siap aku siap" Racau Ryou membawa dua kantong kresek kedalam mobil BMW mengkilapnya.


Setelah meletakkan 'perlengkapan' sehari-harinya, kini Ryou siap untuk memulai sarapan mahalnya.


"Siapakah gerangan murid-murid yang bisa membuat ku stres? (Smirk) jawabannya tidak ada, hahahahahahhahahahahahah!!!!!!!" Tawa Ryou mengisi seluruh penjuru dapur.


Skippp, sekolah.


Jam pelajaran kelas Ayu.


Tomi tidak henti-hentinya menelan ludah tatkala melihat Ryou yang tengah mengunyah keripik kentang dalam kenikmatan tiada tara. Bahkan Tomi sampai hapal dengan aroma ini.


Aroma kemahalan~


Ryou yang menatap wajah para siswanya, hanya dapat peka dalam ke bathinan.


Sepertinya mereka menyukai makanan ini, sebaiknya aku pamer saja.


Inner Ryou menaruh keripiknya ke atas meja dan memilih berjalan untuk melihat perkembangan tugas yang tengah di buat oleh murid-murid yang sebentar lagi akan lulus ini.


"Gimana Gusti? Susah pekerjaannya?" Tanya Ryou menaruh kedua tangannya di atas sandaran kursi Gusti yang sudah berkeringat dingin di beri aura mencekam oleh guru Arsitek di belakangnya ini.


Ryou menunjuk layar pc "Pastikan potongan dak betonnya lebih di tipiskan lagi, kau membuat rumah ini seakan menjadi markas perang jika desainmu begitu. Perhitungan Balok induk juga sebaiknya lebih di perhatikan, karna kau tau orang-orang sipil akan kesusahan jika kau membuat perhitungan rumah yang asal jadi saja" Ucap Ryou berjalan pergi ke meja lainnya, menyisakan Gusti yang langsung membuang nafas lega.


"Kalian ingat anak-anak, ada sedikit nasehat yang akan bapak berikan pada pertemuan kita yang hanya tinggal menghitung hari ini,


Pertama: soal 'UKK' ini harus kalian kerjakan dengan sungguh-sungguh, dan bapak ingin tidak ada yang copy paste. Bapak ingin hasil ori dari kalian semua.


Kedua: arsitek tidak mengenal yang namanya kecantikan, tetapi 'Estetika', ingat itu baik-baik. Sesuaikan setiap apa yang kalian buat itu dengan fungsinya masing-masing. Seperti secondary skin, penempatan kulit terluar bangunan ini memiliki dua sisi yang tajam. Pertama, jika ia di gunakan dalam bangunan tinggi, maka fungsinya akan tercapai, kedua, jika kalian gunakan dalam bangunan satu lantaiiii (menatap Ayu) maka fungsinya akan berkurang, atau tidak berguna. Jadi Ayu, sebaiknya secondary skinnya di buang saja, dan perlebar tritisannya lagi. Kembali bapak ingatkan bahwa lebar minimal tritisan adalah 80 cm sesuai fungsi.


Itu saja terlebih dahulu-oh iya, pengawas ujian kali ini juga cukup menyusahkan, jadi bapak sarankan untuk memperdalam ilmu kalian lagi, seperti pelafalan dalam kuda-kuda kayu, lebar dinding, kolom, serta posisi yang baik dalam pencahayaan rumah tinggal type 45 dua lantai, karna bapak yakin pengawas ini akan sedikit membingungkan" Ujar Ryou panjang lebar menjelaskan beberapa maklumat penting.


Ryou kembali duduk, melirik sedikit Ayu yang masih menunduk setelah ia menasehatinya di depan seluruh kelas. Sepertinya Ryou sedikit keterlaluan.


Ia beralih memandang kantung kreseknya, sepertinya menawarkan makanan sebagai permintaan maaf tidaklah buruk.


Ayu masih menunduk, sesekali ia akan menghela nafas menatap ke layar laptop sederhananya.


Puk!


"!"


"Maafkan bapak" Ucap Ryou dengan suara kecil. Ia meletakkan satu kue tiramissu ke atas pangkuan Ayu yang sontak terkejut dengan apa yang di berikan guru bimbingan UKKnya ini.


"Apa maksudnya pak?" Tanya Ayu hendak menolak, namun dengan cepat Ryou menahan tangan itu.


"Tidak apa-apa, hitung-hitung ini sebagai hadiah permintaan maaf bapak yang telah membuat kamu tidak enak hati, " Jawab Ryou tersenyum.


"Maafkan bapak yang tanpa sadar membuat kamu malu" Lanjut Ryou, kini menatap ke layar laptop Ayu dan menggerakkan mouse untuk melihat perkembangan tugas gadis itu.


"Sejauh ini sudah bagus, tinggal memperbaiki di beberapa titik yang sudah bapak bulatkan, semangat trus ya"


Ryou mengusap kepala gadis itu. Ayu seketika blushing, entah kenapa tapi rasanya memalukan saja. Kembali menjadi objek tatapan teman-teman, terkhususnya para siswi yang menatap Ayu kesal.


"Bapak izin keluar sebentar, jika kalian mau cemilannya silahkan di ambil (menunjuk meja yang terletak brownis) Ok byy" Ryou pun keluar kelas dalam suasana ceria.


And flashback.


Sepertinya Ryou salah memberikan maksud hingga membuat cemilannya jadi ludes di lahap makhluk-makhluk kelaparan ini.


.


.


.


.


Kelas 11 DPIB.


"Dah, sekarang nyanyi satu lagu sebagai hukuman kamu" Ucap buk Rara menyilangkan kakinya di kursi guru.


"Tapi suara saya ancur bu-" Ucapan Feron hanya di tanggapi dengan "Tatatatata, gak ada alasan. Sekarang sebagai hukuman karna kamu telah tidur di jam saya, maka kamu saya hukum nyanyi, masih beruntung tuh kamu, daripada ibuk suruh sikat wc TAV yang sudah berkerak 3 tahun belum di bersihin itu!" Ancam Buk Rara membelalalakkan matanya marah.


"Iiiiiuuuuuuuu.... Ok deh, daripada kembali kesana dan dirawat di ICU lebih baik gua nyanyi aja dah, ancur-ancur tu gendang telinga lu semua gua juga kagak perduli" Lirih Feron masih didengar semua orang walau samar.


"Ibu gua pernah nyanyiin lagu ini, dan entah kenapa pada kesempatan kali ini gua pengen lo semua juga dengar dalam versi gua" Tutur Feron menyamankan diri di kursinya, memegang gitar Arman yang baru saja ia ambil, menyetel beberapa senar agar pas dimainkan.


Setelah mengatur beberapa senar, Feron menatap teman-temannya seraya menghirup dan membuang nafas perlahan.


"Baiklah" Gumam Feron mulai memetik beberapa nada, memandang ke seluruh teman-temannya dalam senyuman hangat.


Rossa, Takdir cinta..


Semua penonton mendengarkan dengan khidmat, bahkan Fiona sampai menitikkan air mata mendengar suara Feron yang semakin lama semakin memelan itu.


*Dari semua pandanganku


Bila melihat matamu


Kuyakin ada cinta


Ketulusan hati


Yang mengalir lembut


Penguasa alam


Tolonglah pegang aku


Biar'ku tak jatuh


Pada sumur dosa yang terkutuk*


Di setiap nadanya, Feron benar-benar seperti mengajak seluruh teman-temannya untuk merasakan moment itu.


Momen dimana Feron merasa sangat hancur dalam kehidupannya.


Kini Feron melirik Nanda, sedikit ber-Smirk hingga membuat Nanda langsung mengalihkan pandangannya. Matanya sudah merah, hendak menangis tapi ia gengsi saja, dan memilih menutup mata dengan punggung tangan seraya menunduk, bagi Feron itu sudah cukup untuk mengetahui bahwa gadis itu juga ikut merasakan perasaan Feron saat menyanyikan lagu ini.


Gua harap dengan lagu ini Nanda bakal paham tentang perasaan gua.


Isi hati Feron menatap tepat kearah Nanda.


Triiinggg


Bunyi senar gitar, menutup lagu Feron.


***Prokk!!!


Prookkkk!!!


Prookkkk***!!


Semua bertepuk tangan, tak terkecuali buk Rara yang sudah menghabiskan satu boks tissue wajahnya sebagai penyeka ingus dan air matanya yang tak hentinya keluar.


"Bagus sekali, bagus sekali pembawaan lagunya, menusuk seperti Teteh Rossa hiks! Ehem huaaa" Ucap Buk Rara masih bertepuk tangan dan memberikan dua jempol pada Feron.


"Thanks Man atas gitarnya" Ujar Feron mengembalikan gitar Arman.


"Santai ae" Balas Arman tersenyum sok keren.


"Dan sebagai penutup, " Ucap Feron.


"Gua pengen...." Feron mengulurkan tangannya pada Nanda yang langsung menerima tak mengerti. Membawa gadis itu kedepan kelas.


"Nan, pacaran-" Feron, berkata dengan ringannya.


Semua kelas langsung sunyi, bahkan burung yang sedang terbang langsung berhenti di udara.


Setelah terdiam cukup lama.


.


.


.


.


.


.


.


"HAAAAAAAAAHHHHHH!!!!"


Semua langsung berteriak tak percaya.


"Cubit gua Is cubit gua, gua pasti mimpi ni pasti, masak ia kan hahahahaha" Gumam Fiona menatap Feron tak percaya.


...Tbc...