All For Dreams

All For Dreams
Kenyataan dan keinginan



"Ini anak Daffa" Lirih Yuna memotong isi fikiran Vion yang langsung kaget.


"S-sejak kapan?" Tanya Vion. Namun keterkejutannya hanya sebatas pertanyaannya saja. Selebihnya Vion sudah cukup tau, dan ia tidak perlu kaget lagi dengan kelakuan kurang adab sang sahabat bernama Daffa yang suka ke rumah pelacur itu.


.......


.......


.......


...All For Dreams...


...Kenyataan dan keinginan...


.......


.......


.......


.......


"Apa gua harus kasih tau lo semuanya?" Tanya Yuna.


Vion langsung kembali dalam ketenangannya "Lo harus, sebab apa yang lo ucapin bakal membantu lo suatu saat" Ucap Vion mantap.


Yuna berpikir, apakah ia harus mengatakannya atau tidak?


"Yuna, dengerin gua. Gak semua hal harus lo pikul seorang diri, terkadang bercerita juga perlu adanya. Sekedar mengurangi beban di hati apa salahnya kan? Sekarang lo sebutin, udah berapa bulan si debay di perut lo?" Tanya Vion.


Yuna menatap Vion sejenak, kemudian kembali beralih menatap pohon beringin di depannya" Jika gua gak salah, ini masuk 2 minggu" Jawab Yuna.


"Keponakan" Cicit Vion mengangguk.


.


.


.


Kini Feron tengah asyik berkutat dengan fikirannya, mau mengatakan hal ini pada Anwar atau tidak sudah menjadi pertanyaan Feron sejak jam pertama berakhir.


"Ck! Akh! Gua kasih tau aja, lagiankan dia pacarnya si Nanda, masak dia gak boleh tau perihal pacarnya sendiri sih" Keluh Feron langsung berjalan ke meja Anwar.


"Anwar" Panggil Feron langsung mengambil duduk tepat di depan Anwar yang terkejut.


"Apaan?" Tanya Anwar yang sedikit sewot.


"Nanda ilang" Ucap Feron to the point.


"What? Pantes aja gua chat, Video call, dan telfon gak di balas. Rupanya karn-"


"Ya Nanda ilang, lu harus bantu gua buat cari pacar lo lagi War. Kita harus cepat, takutnya Nanda kenapa-napa disana" Ucap Feron langsung menarik pergelangan tangan Anwar untuk berdiri, namun.


"Lah? Kenapa War?" Tanya Feron berbalik menatap Anwar yang enggan untuk beranjak dari tempat duduknya.


Pandangan pemuda itu serius, membuat Feron sedikit bertanya karnanya.


"Huft.... Haaaahh.... Gua tau ini terlalu cepat bagi gua untuk mengatakannya, tapi..." Anwar menjeda ucapannya dan hal itu langsung membuat Feron menaikkan satu alis matanya tak faham.


"Tapi apa War? Gak usah bertele-tele deh baiknya lo ikutin gua dulu, entar kita omongin lagi masalah lo" Balas Feron kembali menarik tangan Anwar untuk beranjak dari kelas.


.


.


.


Gazebo belakang perpustakaan.


Theo sedang memikirkan hal yang sangat janggal, sudah hampir 2 jam pemuda TKJ itu mencoba untuk menepis fikiran ini, namun akan selalu berakhir di titik yang sama lagi.


Sampai kehadiran Feron dan Anwar memecahkan konsentrasinya.


"Theo, gimana?" Tanya Feron duduk di samping Theo yang langsung menatapnya.


Theo menghela nafas sejenak "Buruk banget Fer" Ucap Theo mengurut pangkal hidungnya lelah.


"Kenapa?" Tanya Feron tak faham.


Sementara Anwar yang baru saja duduk hanya ingin mendengarkan saja, ia sedikit tak faham dengan arah pembahasan dua orang di depannya ini.


"Gua tau ini aneh, tapi gua harus bilang kalau clue pertama kita memang selalu benar" Ujar Theo menatap kembali layar laptopnya.


"Maksud lo?" Tanya Anwar mewakilkan ucapan Feron.


Theo menatap Anwar dalam senyum tipis "Nanda di sekap oleh dua orang yang bahkan gua gak tau apa motifnya" Jawab Theo menatap Anwar lelah.


.


.


.


.


Treng... Treengg...


Bunyi suara besi yang saling beradu, membuat Nanda yang tertidur tak nyaman jadi terbangun karnanya.


Dapat ia lihat dengan sedikit buram, seorang wanita tengah jongkok memandanginya.


Nanda merangkak mendekati Yuna yang langsung duduk di tempatnya, pandangannya sayu, matanya sudah sembab. Namun kini, Yuna sedikit baik terhadap Nanda yang langsung memasang muka bertanya.


"Jangan tanya" Sentak Yuna paham dengan gelagat Nanda yang langsung terkejut di bentak seperti itu.


Yuna memilih untuk bersandar di jeruji besi Nanda, ia menatap cahaya yang masuk dari kisi-kisi ruangan gelap itu "Cahaya sore memang selalu membawa rasa sedih" Bisik Yuna.


Sementara Nanda hanya dapat melirik punggung ringkih itu dalam diam.


"Makan aja Nand, kali ini gua mohon isi tenaga lo" Ucap Yuna pelan.


Diam, di sana diam. Nanda yang masih tak faham hanya dapat menatap punggung Yuna terus menerus. Menatap punggung ringkih itu sedikit bergetar membuat Nanda menjadi gatal ingin bertanya.


"Lo kenapa?" Tanya Nanda pada akhirnya.


Punggung itu sontak naik beberapa senti, kemudian sang empunya berbalik menatap Nanda dalam ekspresi hampa.


"Mau dengar gua cerita" Lirih Yuna.


"Tergantung" Balas Nanda.


Yuna mengulum senyum simpul "Gua anggap ya"


.


.


.


.


"Pekanbaru Jl. AHMAD YANI, NO........ Ini kawasan perumahan elit, gua yakin lawan kita kali ini pasti konglomelarat" Ucap Alfi mantap.


Duagh!!!


"Auchh... Sakit BANGSUL!" Teriak Alfi marah memandang Lulba yang hanya nyengir.


"Konglomerat Fi konglomerat, bukan konglomelarat! Dasar Alfi saraf!" Balas Lulba mengejek kelatahan seorang Alfi.


Alfi merengut "Ya itu maksud gua"


"Jadi, gimana The?" Tanya Feron.


"Gua sih bisa langsung menyadap CCTV mereka untuk beberapa kali, tapi hanya 'beberapa' kali saja. Selebihnya kita bakal ketahuan, jadi kita harus mempertaruhkan keberuntungan kita pada 5 kali percobaan" Jawab Theo menatap seluruh anggota.


"Haishh...? Masak cuma 5 kali percobaan sih, lo pikir kita lagi main game waktu pake ada percobaan segala" Komentar Regas tak terima.


"Lu terima atau gak sama sekali," Hardik Theo menatap Regas tajam "Selain itu, ini adalah kawasan perumahan elit, dan kemampuan gua masih belum bisa menyaingi hacker-hacker keren di luaran sana" Lanjut Theo langsung menyanggah wajahnya dengan telapak tangan.


Semua berpikir dalam, termasuk Anwar yang kini harus berpikir lebih jauh.


Sepertinya gua tau kawasan ini


Innernya berjalan ke arah Theo yang sedang menatap layar laptopnya, mencoba untuk memilih rumah mana yang lebih dulu akan ia retas.


"Theo, gua tau rumah mana yang harus lo retas" Ucap Anwar mantap.


.


.


.


.


"Maafin gua Nand" Lirih Yuna.


"Buat apa?" Tanya Nanda di sela suapannya.


"Sebenarnya ini semua cuma tipu muslihat Daffa doang," Ucap Yuna melirik Nanda.


"Maksud lo apa? Bukannya gua di sekap disini juga karna alasan gak jelas? Jadi buat apa lo minta maaf kalau sedari awal penyekapan kalian ngak berdasar" Ujar Nanda mengutarakan isi fikirannya.


Yuna melirik pintu keluar sebentar sebelum mendekatkan wajahnya ke sel "Dengarkan ini baik-baik, sebenarnya Daffa punya rencana lain. Dan lo tau lo hanya umpan Daffa" Bisik Yuna begitu pelan.


"A-apa?!" Nanda seketika terkejut dengan penuturan tiba-tiba dari Yuna.


Yuna mengusap perutnya sejenak dan kembali menatap Nanda lamat "Jadi, sebelum keinginan Daffa tercapai lo harus udah keluar dari sel ini mengerti. Nanti malam, pukul 22.00 WIB gua bakal kemari lagi buat kasih lo kunci sel ini, tapi lo harus ingat satu hal. Lo harus keluar saat jam 10.00 WIB keesokan harinya, jangan gegabah, karna Daffa dan gua bakal sekolah di jam segitu, jadi gua rasa lo bakal aman nantinya" Pesan Yuna mengambil dan langsung meremat tangan Nanda hangat.


"Ok, gu-"


"Tunggu sebentar, gua masih belum paham dengan semua ini. Lo, Daffa, kalian berdua sebenarnya ada apa?" Tanya Nanda memotong ucapan Yuna.


"Sebenarnya........"


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


.... ...


...TBC...