All For Dreams

All For Dreams
Prasmanan



"Megah banget tempatnya, gak salah ni Ron?" Tanya Nanda.


"Kagak salah lagi" Jawab Feron merapikan songketnya, sementara Nanda memperhatikan pintu masuk yang dimana terdapat banyak orang yang memakai pakaian melayu indah berjejeran.


Semua orang menunjukkan kartu undangan yang akhirnya membuat Nanda langsung pias di tempatnya.


"Ronnn..." Lirih Nanda memanggil.


"Apa?" Tanya Feron menggenggam smartphone, kini ia sedang menelfon seseorang.


"Apa kita punya apa yang mereka punya?" Tanya Nanda menunjuk undangan yang di tunjukkan oleh orang-orang.


Feron menampilkan Smirk "Kita gak perlu itu karna gua tamu spesial disini"


...109...


...Prasmanan...


.......


.......


.......


"Daff, kita ambil makanan dulu apa langsung ikutin acara?" Tanya Yuna mengapit tangan kiri Daffa.


"Serah dah" Balas Daffa bosan.


Kalau gak karna ada urusan dimari gua ogah datang


Inner Daffa berkomentar.


Sementara itu...


"Lu kalau mau makan ambil aja sepuasnya, gua mau temuin seseorang dulu, ok" Ucap Feron langsung meninggalkan Nanda pergi.


"Ok" Jawab Nanda.


"Gua harus nemuin Alfi sama si kembar dul-


BRAK!


" Auch... Auchh.. Sorry sorry gua ga-Stevan! " Pekik Feron terkejut.


Stevan yang masih membiasakan pandangannya langsung dikejutkan oleh suara Feron.


" Stevan! Lo ngapain dimari? Dan ngapain lo pakai baju bodyguard?" Tanya Feron cepat dan menuntut.


"Ck! Rupanya lo, " Ucap Stevan mengabaikan pertanyaan Feron.


"Gua kerja" Lanjut Stevan merapikan kemejanya.


"Lu? Kerja? Kenapa?" Tanya Feron lagi.


"Lu bisa gak, gak usah kebanyakan bacot!? Jadi tuan muda yang penurut aja apa susahnya sih?" Ucap Stevan balik bertanya.


"Maksud lo, eh- tunggu-tunggu sebentar. Otak gua ngelag" Saat menyadari dirinya yang OOC, Feron langsung kembali kesikap tenangnya saat menghadapi bawahan. Ia menarik Stevan ketempat yang lebih sepi agar dapat berbicara dengan leluasa.


" Lu kerja buat siapa?" Tanya Feron menatap Stevan tajam.


"Apa urusannya am-" Feron langsung mengapit pipi Stevan keras hingga membuat ucapan Stevan menggantung.


"Gua gak suka bertele-tele Stev, sekarang gua cuma butuh kejujuran lo, lo kerja buat siapa? Miya atau Vein?!" Tanya Feron nyalang.


"B-wukan uwrusan lwu" Ucap Stevan melawan.


Plak!


Stevan langsung menampar tangan Feron hingga tangan itu melepaskan pipinya.


"Lagian, gak ada urusan juga ama lo gua kerja buat siapa. Mungkin aja gua kerja buat bos diantara tamu undangan dimari" Ucap Stevan.


"HAH? Lu ngawur apa gimana si? Pakaian ini tuh cuma dimiliki oleh bodyguard keluarga Adidjaya, jadi lu gak usah kebanyakan ngeles, gua cuma butuh lo jawab dengan jujur aja. Dua pilihan pastinya, Ayah atau nenek gua!?" Tanya Feron menuntut.


"Ck! Gak perlu lu tau" Stevan langsung memalingkan wajahnya.


"Oh! Ok, jadi sekarang semua udah jelas. Sekarang gua tau siapa pengkhianat sebenarnya di kelompok ini," Bisik Feron "Yang selama ini ngintilin gua, yang selama ini selalu ngasih tau keseharian gua ama Vein hingga kejadian di rumah sakit beberapa bulan lalu, it's fu*ck men. Rupanya l-"


"AAAAAAAAAAA!!!!!" Teriakan menggema, Feron seketika memandang ke arah suara dan kembali berbalik menatap Stevan.


"Damn, Ste- Anj*ink, gua ditinggal" Geram Feron menatap angin.


...Di tempat lainnya, 10 menit sebelum teriakan...


Nanda yang ditinggal Feron hanya dapat bermuka masam, namun apalah daya. Nanda akan berpikir bahwa pemuda itu akan sebentar, pasti.


"Lebih baik gua makan aja" Gumam Nanda berjalan ke arah prasmanan.


Disisi lain..


"Daff, aku mau ngambil makanan temenin yaaa" Ucap Yuna manja.


"Horeee!!" Pekik Yuna girang.


Kembali pada Nanda yang sudah mengambil makanannya dalam raut bahagia.


"Di tangan kanan punya gua dan di tangan kiri punya Feron hehehehe" Tawa Nanda tak menyadari seseorang Didepannya.


Bruukkk


Prankk!!!


"AAAAAAAAAAAAAAAAA" Pekik Yuna.


(Balik ke waktu semula)


"Astagfirullah astagfirullah, maaf kak say-"


"Gak usah minta maaf segala, lo taruh dimana si mata lo yang katarak itu ha!? Lu liat dress mahal gua jadi kotor begini, ya ampun gimana bersihin tumpahan kuah-kuah santan iniii!!!!??" Pekik Yuna panik menatap pakaiannya yang sudah berlumuran berbagai kuah makanan.


" Pokoknya gua gak mau tau! Pokoknya lo H-LO!! (Teriak Yuna menunjuk Nanda) Lo kok bisa disini!?"Tanya Yuna, membuat seluruh orang menatap mereka.


" Kenapa Yun? " Suara Daffa menghampiri Yuna.


" Daff Daff, ini ni Daf, cewek yang udah beraninya mukul aku kemaren" Ucap Yuna menunjuk Nanda dendam.


"Hmmm.." Gumam Daffa menatap Nanda.


"A-apa? Gua? Mukullu? Kayaknya ada kesalahan disini deh?" Tanya Nanda tak paham.


"Ck! (Daffa memandang ke arah Yuna) kenapa dress lo?" Tanya Daffa.


"Di tumpahin sambel ama ni orang, dia pasti sengaja Daff, karna dia gak terima kalau pacarnya ngungkapin rasa sama aku, jadi dia masih marah dan numpahin berbagai sambel dan kuah santan, Dafff... Gimana ni, dress aku rusak bangettt" Ujar Yuna berlagak panik hampir menangis.


Nanda menatap Yuna nyalang, Bisa-bisanya gadis ini membalikkan fakta.


Sementara itu, semua orang masih memperhatikan mereka, bahkan suara musik yang memekakkan telingapun juga ikut terhenti, dan Nanda hanya dapat memperhatikan dari ekor matanya yang sudah berkedut.


"Ya udah, tinggal lu bersihin aja apa salahnya?" Ucap Daffa memandang Yuna malas.


"Dafffaaaaa, ini tuh kuah santan Daffa, ini tuh susah banget diilangin, apalagi kuahnya udah nyampe ke pakaian dalam aku. Ini gak bisa dimaafin (meraih salah satu makanan berkuah) lo harus bayar" Yuna langsung menyiramkan makanan itu ke atas kepala Nanda yang tak melawan sama sekali di perlakukan demikian.


Ia hanya menatap Yuna yang seketika tersenyum senang melihat ia yang berlumuran kuah santan dan makanan.


"Impas" Ucap Yuna, namun sebelum tangan itu kembali meletakkan tempat makanan, Nanda menahannya "Apa!?" Teriak Yuna berusaha melepaskan genggaman tangan Nanda pada lengannya yang langsung memerah.


"Auuuu!!! Daff tolongggg" Pekik Yuna meminta pertolongan Daffa yang langsung menyerang perut Nanda, namun kaki Daffa langsung ditahan oleh tangan Nanda yang bebas.


"Hmmm... Menarik" Gumam Daffa menurunkan kembali kakinya begitu juga dengan Nanda yang langsung menurunkan lengannya yang sempat memegang kaki Daffa, ia berfikir bahwa Daffa sudah selesai dan tidak berniat ikut campur, terbukti dengan Daffa yang berjalan mundur.


Kembali Nanda menatap Yuna.


"Beraninya lo numpahin makanan ke baju yang udah rela dipinjamin Feron ke gua!" Teriak Nanda langsung mematahkan tangan Yuna.


KRAK!


"Aaaaaaaaa.... Sialan," Desis Yuna memegang tangan yang patah "Beraninya lo matahin tangan gua dasar ja*lang" Teriak Yuna.


Kregh!


"Astaga" Gumam Nanda keceplosan memandang Yuna yang langsung mengembalikan arah tulangnya sendiri.


"Lu gak tau siapa gua, berani-beraninya lo main-main dengan keanggunan yang sudah gua pertahankan, saatnya buat gua tunjukin apa itu rasa sakit dasar be*debah!" Geram Yuna melakukan peregangan pada lengan-lengannya.


"HA! Gak salah dengar gua? Makhluk Ja*lang kayak lo mau kasih tunjuk gua rasa sakit?" Tanya Nanda mengejek.


Seketika muka Yuna memerah menahan amarah, bahkan urat-urat halus mulai keluar dari kening wanita itu.


"Ck! Hyaaaakkkk!!!!" Teriak Yuna langsung menyerang Nanda.


Bugh!!


Astaga!


Suara hati Nanda terkejut.


Tes..


Nanda langsung menyeka darah yang mengalir dari keningnya, mencoba untuk menghindar dari serangan Yuna malah berimbas pada pelipisnya yang tergores oleh high-heels wanita itu.


"Hmmm.. Sepertinya gua harus memberi ruang buat acara gelud gratisan" Gumam Feron di antara kerumunan seraya memakan keripik singkong.


.


.


.


Tbc


Ps: Yuna itu gadis apa wanita?