All For Dreams

All For Dreams
Please, be mine



Di taman kota, Alfi dan Andin memilih untuk duduk di salah satu tempat yang telah disediakan penjual.


Seorang pengamen bertopi lebar hampir menutupi seluruh wajahnya datang kemeja Alfi dan mulai memetik gitarnya bernyanyi.


" 🎼 Tolong katakan pada dirinya, lagu ini kutuliskan untuknya. Nama yang selalu kusebut setiap tidu-"


"Diam lu, nah goceng. Pindah tongkrongan lu sana cepat! " Usir Alfi pada pengamen itu.


"Huh!!! Baru juga mulai bang" Ucap pengamen itu yang tanpa di ketahui Alfi adalah Regas.


"Apaan dah? Gua gak butuh hiburan, yang gua butuhkan itu ketenangan, dan lu datang pake acara nyanyi lagi!" Sungut Alfi melirik tajam pengamen itu yang tak kunjung pergi.


"Hushhhh.... Pergi lo ngak!?" Kesal Alfi berdiri dari duduknya.


Pengamen itu hanya menatap Alfi datar dengan tangan yang sudah diturunkan dari gitarnya yang tersampir di dada.


"Oooo, minta di gibang ni orang" Emosi Alfi langsung menendang pantat Regas hingga sang empunya terhempas ke paving block taman.


"Alfi sudahlah, pengamennya kan cuma pen cari nafkah, gak usah digituin dong" Ucap Andin membela pengamen itu dan membantunya untuk berdiri.


"Kalau kamu kayak gini terus, nanti gak bakal ada orang yang mau berteman sama kamu" Tambah Andin menasehati.


"Betul banget mbak betuull" Balas Regas menjulurkan lidahnya mengejek Alfi.


Melihat ekspresi Regas sontak membuat emosi Alfi kian terpancing.


"Gak usah sok deh lu, cepetan cabut ngak!?" Marah Alfi hendak kembali menendang pengamen (Regas)


"Iya! iya bang" Jawab Regas setengah mengutuk dan akhirnya pergi meninggalkan Alfi bersama Andin yang kini kembali menikmati suasana sunset mereka ditemani dengan batok kelapa yang tentu masih berisi.


"Ehem A-"


"Ini tuan, ada pesanan lainnya" Tiba-tiba seorang pelayan langsung memotong ucapan Alfi dengan pesanan yang ia taruh diantara keduanya.


Alfi langsung melirik tajam, namun lirikannya malah menjadi pandangan bertanya setelah melihat siapa pelayan itu.


"Lulba! Lu ngapain di mari!?" Tanya Alfi dengan suara yang tiba-tiba meninggi tanpa ia sadari.


"Ya bantuin emak gua lah" Jawab Lulba santai serta menghidangkan pesanan mie goreng kehadapan Alfi dan Andin yang sudah antusias ingin mencicipi.


"Emak?!" Ucap Alfi curiga.


"Ya bantuin ekonomi emak gua lah Fi, gua kan cowok, harus pandai cari duit buat bahagian emak" Ujar Lulba bangga seraya melirik Andin memberikan senyum menggoda dengan alis naik turun minta dihajar Alfi.


Andin tertawa melihat ekspresi Lulba, sementara Alfi sudah memecahkan batok kelapa menjadi dua.


"Sabar Alfi sabar, tenang. Disini ada Andin, lo gak mau reputasi lu hilang didepan calon gebetan kan? Gak mungkin lo kasih tontonan Triller, ok sabar dan tarik nafas, hmmmpphhh.... Huaaaaahhhhh~" Gumam Alfi menyadarkan dirinya.


Setelah mengambil nafas cukup dalam, Alfi kembali menatap Lulba dengan senyum terpaksa.


"Dan lagi, siapa yang pesan ini? Perasaan gua belum ada pesan?" Tanya Alfi menatap makanan di hadapannya.


Refleks Lulba menunjuk Andin yang nyengir pada Alfi, seketika perasaan ingin meninju Lulba Alfi urungkan dan hilangkan karna melihat wajah calon gebetan yang seperti menahan lapar kini menatap makanan di depannya penuh selera.


"Lulba, masakin Ayam original sekalian masakan padang lu antar kemeja gua, gak pake lama terus tambahin airnya lagi, bini gua kelaparan" Reflek Alfi memesan makanan dengan menatap Andin yang asyik memakan mie miliknya. Demi kesehatan istri? Uang bulanan pun sanggup Alfi pertaruhkan.


"Bini?" Gumam Lulba menatap Andin.


"Kapan lu kawin ama dia Fi?" Tanya Lulba masih belum beranjak dan malah mencoba menggali informasi angin pada Alfi.


"Cabut gak lu!?" Geram Alfi berdiri dengan tangan yang menunjuk gerobak penjual asal.


"Balik gak lu sekarang sebelum ni sepatu gua melayang" Sinis Alfi memperlihatkan sepatu sportnya yang siap memukul Lulba yang langsung berlari kabur menyiapkan pesanan.


"Akhirnya tu makhluk pergi juga" Ujar Alfi kembali duduk seraya memasang sepatunya.


Kini Alfi kembali menatap Andin dengan senyum gobl*oknya.


Walaupun Andin makan dengan rakus dan berantakan, namun bagi Alfi itu adalah suatu nilai bonus agar ia bisa modus.


"Astaga, Andin kalau makan itu hati-hati ya" Ujar Alfi mengambil sapu tangan dari saku bajunya dan mengelap perlahan area mulut Andin yang terkena bumbu mie goreng.


"Aaa.... Makasih A-Alfi" Jawab Andin malu-malu seraya mengambil sapu tangan itu, menolak untuk dibersihkan oleh Alfi yang semakin senang karna tangan mereka bersentuhan.


Andin yang di perhatikan malah semakin grogi. Jujur saja, sebenarnya Andin memiliki perasaan pada Alfi yang merupakan temannya sedari SD. Dulu teman-teman mereka sering menjodohkan Andin dan alfi yang selalu saja bertengkar tidak ingin berbaikan.


Bahkan satu kelas sampai kelimpungan melihat mereka yang saling mengejar kala pelajaran guru matematika dimulai.


Hingga satu kejadian berhasil membuat Andin mendeklarasikan Alfi sebagai cinta pertamanya.


Jujur mengingat hal itu sontak membuat muka Andin kian memanas tatkala melihat smirk Alfi yang menatapnya.


Sebenarnya dapat berjumpa dengan Alfi seperti ini dan duduk dalam jarak sedekat ini sudah merupakan kebahagian paling mewah yang pernah Andin dapatkan.


Dan tentunya semua itu tak luput dari rencana seorang sahabat yang kini sedang berada di belakang gerobak penjual.


"Kenape lu Lul?" Tanya Feron menatap Lulba yang sudah menyumpah serapah.


"Liat tu kadal air kalau udah deket betina kesenangan dia aja, langsung garang minta ampun, padahal gua cuma nanya Andin kapan jadi bininya" Terang Lulba memonyongkan bibirnya menatap tepat kearah tempat duduk Alfi.


"Lu mah masih enak, lah gua di kasih goceng sama di tendang Alfi, sakit bat dah ni pantat sexy gua" Terang Regas masih mengusap pantatnya yang di tendang Alfi.


Sementara Feron hanya memperhatikan kedua makhluk itu dengan muka lelah.


Kenapa kedua makhluk ini bisa masuk kedalam circle ide Feron.


"WOY LULBA, MANA PESANAN GUA!?" Teriak Alfi dari tempat duduknya.


Seketika Feron dan Regas menatap tepat kearah Lulba yang sudah gemetar seraya menggigit kuku jarinya.


"Emang Alfi pesan apa ama lu Lul?" Tanya Feron.


"Eheheheheh" Lulba nyengir.


"Kita jual masakan padang kan?" Lanjut Lulba tersenyum ke arah dua temannya.


"?" Feron dan Regas hanya bisa menampilkan muka bertanya.


Hingga,


"Eh?" Satu kata berhasil lolos dari mulut Regas dan Feron.


Brak!


"PESAN PRASMANAN, PANGGIL YANG LAIN CEPAT REGAS, DARURAT MASAKAN PADANG!!!!" Teriak Feron kelimpungan.


...TBC...