All For Dreams

All For Dreams
Penyekap dan rahasia



Malam hari tiba.


Tap! Tap! Tap!


Cklek!


"Selamat datang" Ucap Yuna di depan pintu.


Daffa langsung menaikkan satu alis matanya menatap Yuna aneh, sedikit melirik kiri kanan "Lo kenapa? Aneh bener" Ucap Daffa membuka sepatu dan meletakkannya di rak yang telah di sediakan.


"Tidak ada, aku biasa kok" Balas Yuna tersenyum.


"Oh, ok" Balas Daffa pada Yuna yang mengikuti langkahnya untuk masuk semakin dalam ke rumah mewah itu.


"Hari ini aku masak makanan kesukaan kamu Daff, makan dulu yuk" Ajak Yuna menyentuh kedua pundak Daffa yang sedang membuka atribut di badan idealnya.


Daffa melirik "Tumben lo masak, gua jadi curiga. Biasanya kita selalu pesen junk food, tapi kenapa sekarang lo masak?" Tanya Daffa menyelidik.


Yuna langsung menggaruk tengkuknya "Ituuu.....???"


"Haaahhh... Sudahlah, nanti gua ke meja makan. Sekarang lo keluar aja dulu, gua pen mandi" Ucap Daffa mengusir Yuna dari kamarnya.


Cklek! (mengunci)


"Aneh? Apa begitu ketahuan?" Gumam Yuna berpikir dan pergi menuju meja makan.


...----------------...


"Sekarang gua harus masukin bubuk ini supaya si Daffa tidur, gua gak pengen dia selalu nyiksa Nanda. Selain itu....." Yuna berpikir jauh "Gua gak pengen Daffa sampai jatuh cinta sama Nanda" Lanjutnya bergumam.


Karna dari pandangan Daffa yang menyiksa Nanda, sedikit terpancar rasa tertarik.


Yuna menyentuh perutnya yang sudah menjendul sedikit "Bagaimanapun juga, mama akan berusaha untuk membuat papa tetap di pelukan mama sayang (mengelus perutnya lembut) do'a kan mama ya" Gumam Yuna mengaduk minuman Daffa hingga serbuk yang ia campuran dapat larut dengan sempurna.


Sekarang tingg-


Tuk!


Craaasshhhh!!!!


Belingan gelas berhamburan kemana-mana, Yuna seketika langsung berjongkok untuk mengumpulkan bekas belingan hingga tangannya tak sengaja tergores oleh serpihan tajam gelas yang pecah.


"Auch!" Gumam Yuna, ia sedikit melirik ke atas. Berharap ada uluran dari Daffa, namun sepertinya itu hanya angannya saja saat Yuna menatap kaki jenjang itu mulai berjalan menjauh.


"Lain kali hati-hati, lo buat baju gua basah" Ucap Daffa berjalan kembali ke kamarnya.


Yuna menunduk "Cinta sendirian memang sakit" Gumam Yuna menitikkan air mata.


...****************...


Di tengah suasana makan.


"Lo udah kasih makan si Nanda?" Tanya Daffa di selingi kunyahan.


Yuna mengangguk tanpa suara, ia makan dalam diam. Mukanya sedikit sembab, namun ia tetap berusaha untuk tetap bersikap baik-baik saja.


Daffa melirik, pura-pura tak sadar dengan wajah sembab Yuna dan malah mengalihkan pandangannya pada smartphone yang berbunyi nyaring.


"Hallo?" Tanya Daffa memulai obrolan.


"......"


"Oh, Aca (tersenyum cerah) ada apa sayang?" Tanya Daffa dengan gurat bahagia.


Aca? (terkejut) Aca, kenapa? Sejak kapan mereka dekat?


Lirih hati Yuna menatap Daffa tak sedih. Aura kecemburuan sontak melingkupinya.


BRAK!!!


Daffa melirik Yuna "Besok mas bawain coklat deh,"


"......."


"Ngak apa-apa kok, yang tadi itu cuma pembantu. Gak usah terlalu di perduliin 'gak penting juga' gak usah dibahas, besok mas dateng cepet trus bawain Aca coklat bwuesaaaaarrr banget, ok?"


Yuna geram, Bisa-bisanya Daffa tidak menggubris dirinya.


Trakkkk!!!! Braaakkk!!!


Crassshhh!!!!!


Semua perabotan makan di atas meja sontak menjadi sasaran kemarahan Yuna yang sedang naik pitam.


"Hey!!! Apa yang lo lakuin!!? " Bentak Daffa setelah mematikan telfonnya. Ia mencoba untuk menyentuh tangan Yuna, namun Yuna langsung menjauhkan dirinya dari Daffa.


"Jangan sentuh akuuuuu!!!" Jerit Yuna marah.


"Hey! Lo kenapa sih?!" Tanya Daffa ikut emosi.


Yuna melihat Daffa mulai mendekat seketika langsung menarik kursi dan meletakkannya tepat di depan Yuna, seolah-olah menjadikan kursi itu sebagai perisai untuk melindunginya dari Daffa.


Daffa berdecih, pandangannya sedikit kesal melihat kelakuan ajaib Yuna.


Ada apa dengannya, kenapa ni orang jadi aneh banget belakangan ini?


Inner hati Daffa menatap jengkel Yuna yang bergetar setiap kali ia mulai mendekatinya.


"Ada apa dengan lo ha? Kok sikap lo aneh banget belakangan ini?" Tanya Daffa menuntut seraya menyingkirkan kursi yang memisahkannya dari Yuna.


Yuna yang ketakutan langsung mencoba untuk kabur, namun genggaman erat tangan Daffa pada pundaknya malah membuat Yuna sulit untuk bergerak.


"Diam dan jangan macam-macam karna gua gak suka drama" Sinis Daffa menatap Yuna tajam.


Yuna gemetar, setetes dua tetes air mata mulai jatuh dari wajahnya yang memerah menahan emosi.


"A-apa?" Cicit Yuna "Apa hubungan kamu sama Aca?" Tanya Yuna sedikit bergetar.


Daffa terdiam, genggamannya pada pundak Yuna terlepas dan langsung membuat Yuna terduduk di lantai dingin.


"Heh! (menampilkan senyum kejam) Biasa, pacar baru gua" Jawab Daffa tersenyum senang.


"Sejak kapan?" Tanya Yuna tak percaya.


"Hmph! Sejak kapan ya?" Ucap Daffa balik bertanya, namun malah pergi berjalan ke arah dapur.


Daffa sedikit berpikir tentang alat dapur yang ingin ia gapai, sampai ia menemukan alat itu di antara tumpukan bahan-bahan masakan mentah "Sejak gua udah bosan sama lo yang cuma bisa teriak dan bersikap absurb membuat gua sedikit jijik (meraih benda yang di cari) namun Aca menyembuhkannya. Ia memberikan gua perhatian yang selama ini gua butuhin dari cewek, dan itu semua ada pada Aca (melirik Yuna) dan pastinya itulah yang gak ada pada lo" Ucap Daffa menaikkan pisau daging di genggamannya hingga ia dapat melihat siluet Yuna dari pisau itu.


"Hehhh~" Gumam Daffa ber-smirk.


Daffa sontak berbalik dan langsung


Zwinngg!!!!


Prannnkkk!!!!!


"Hahhh?" Gumam Yuna menatap ke arah jendela yang sudah pecah terkena lemparan pisau Daffa.


Prok!! Prok!!! Prok!!!!


Daffa bertepuk tangan seraya berjalan pelan ke arah jendela yang sudah pecah, pandangannya tajam memburu, sontak membuat Yuna ketakutan.


Apa jangan-jangan?


Yuna langsung memperhatikan arloginya


22.23 WIB.


Astaga!!!


"Nanda Triasla, gak sadar rupanya burung merpati sudah lepas dari sangkar" Ucap Daffa membuka jendela dan langsung melompat keluar.


Sementara Nanda yang terkena lemparan pisau Daffa seketika mendesis nyeri menahan sakit di dadanya yang tak sengaja terkena serpihan kaca jendela.


"Hey sayang, sakit ya?" Tanya Daffa tersenyum misterius.


.......


.......


.......


.......


...TBC ...