
BRAK!!!!
"Auch... Hahhhhh.... Hahhhhh...... Daff.... Daffff.... Ma-maafin a-akuuuuu" Lirih suara Yuna kesakitan.
Tap
Tap
"Hmmm.... Apa lu bilang ha? Maaf?" Daffa mendekati Yuna yang sudah tak sanggup lagi menahan setiap kekejaman Daffa pada tubuhnya.
Yuna takut, bahkan ia sudah menutup mata sanking ketakutannya dengan Daffa yang menatapnya nyalang.
Prankkkkk...
Bughhh!
"AKKKKKKHHHHHH!!!!!" Pekik Yuna tak bisa menyentuh perutnya yang baru saja di tendang Daffa.
Ia hanya dapat menutup mata semakin erat, berusaha menyalurkan rasa sakitnya. Tangan dan kaki diikat Daffa erat seperti di tempat penyiksaan yang semestinya.
"Yuna" Panggil Daffa berat.
"Nghh..." Geram Yuna mencoba menjauhkan suara itu, namun Daffa sebagai dominan lebih dulu mengapit pipi Yuna.
"Nghh.. Nghhhhh...Nghhh" Lirih Yuna mencoba lepas dari Cengkraman Daffa.
"Ck Ck!!! Berhentilah berjuang karna lo ngak di perkenankan" Ujar Daffa memandang Yuna remeh.
"Sudah, sudah sampai mana hmm?" Tanya Daffa.
"A-apa maksud Kamu Daff?" Tanya Yuna sedikit terbata.
Ekspresi yang semula masih memiliki senyum langsung menghilang, muka Daffa langsung mengeras.
Plak!!!
Satu tamparan langsung mendarat di pipi lecet Yuna hingga kepala itu oleng ke kanan.
Yuna kesakitan, namun tak ada siapapun disini. Tak ada orang dirumah Yuna.
Atau,
Rumah Daffa.
Daffa kembali mengapit pipi itu dengan tangan kirinya "Ingat Ja*lang, lo itu hanyalah gelandangan sebelum gua pungut, jadi sopan aja lu ama majikan" Hardik Daffa semakin menarik tuas penghubung besi yang menyatukan kedua tangan Yuna keatas dan kaki yang ditarik kebawah membuat wanita itu semakin menggeram sakit.
"Deeiiiiiiiii..... SAKKIIIIITTTTTT!!!!!! AAAAAAHHHHHHHH...." Pekik Yuna.
Kedai pinggiran
"Gua heran ama lu, dikasih madu malah milih kumbang" Ucap Feron meminum sirup pesanannya dalam ekspresi kesal.
"Maksudlo?" Tanya Nanda tak paham.
"Ya itu, pahamilah maksud gua" Ucap Feron masih mencoba memberikan clue.
"Serius gua gak paham, bisa langsung ke intinya aja gak?" Tanya Nanda.
Feron langsung melirik Alfi.
"Sama Ron, kagak paham hahahaha" Balas Alfi tertawa.
Dalam diam Feron langsung mengepalkan kedua tangannya mencoba menahan kesal.
"Astaga, sebenarnya lo berdua itu kenapa sih? Kok gak paham-paham juga, " Ucap Feron mulai kesal.
"Maksud lo?" Tanya Alfi dan Nanda kompak.
"Ck! Selalu gua, selalu gua yang harus peka di dalam persahabatan ini, selalu gua yang harus jadi garda terdepan untuk kalian dalam memahami. Kenapa sih kalian bahkan gak pernah mau tau tentang gua dikittt aja, ah! Percuma ngomong" Geram Feron menendang angin.
"Huft! Sudahlah" Ucap Feron kembali duduk, ia kembali mencoba mengatur emosinya yang sempat naik.
Dengan sedikit helaan nafas, Feron menatap Nanda "Maksud gua itu adalah udah ada si Anwar kok malah milih sama gua," Terang Feron menunjuk dirinya namun Nanda hanya memandang dalam diam seraya mengunyah makanannya pelan.
"Ck! Aaaaaahhhhhh!!!!! Kenapa otak lo dungu banget sih (menoel kepala Nanda) seharusnya ini kesempatan lo buat lebih deket 90% ama Anwar, kenapa lo buang dugongggg!!!!" Kesal Feron mengepalkan tangannya seraya memberi ekspresi menahan marah.
Nanda memperhatikan, cukup lama "Jadi maksud lo gua bodoh gitu?" Tanya Nanda menaikkan nada suara.
"Iya, lu bodoh. Udah jauh-jauh ke Pekanbaru masak cuma gini doang, masak cuma segitu doang, masak cuma janji manis terus cabut. Lu pikir ini cerita picisan, kita semua tau Nand, kalau lu suka ama si Anwar kenapa gak lu terusin aja langkah emas ini dan berlalu pergi hang Out bentar ama dia, minimal cepika cepiki kek, makan bareng kek, konvoi kek. Ini malah langsung cabut pulang gitu aja" Kesal Feron mengutarakan isi hatinya.
"Oh, jadi itu maksud lu, ok fine. Yok Fi kita cabut, malas gua ngobrol ama kepala batu yang gak bisa peka ama maksud sahabatnya" Hardik Nanda mengapit tangan Alfi yang sedari tadi hanya memperhatikan dalam diam seraya meminum minumannya tenang.
"T-tapi Nand" Panggil Alfi dalam genggaman Nanda yang terus berjalan, bahkan Alfi langsung memandang Feron yang masih kesal dengan Nanda.
Setelah kepergian Alfi dan Nanda.
"Aaaaahhhh!!! Ban*gsat! Selalu gua mulu yang di paksa paham dan peka, timbang di suruh peka dikit aja lemot tu otak" Kesal Feron menendang meja terdekat.
"Mmmmm... Anu..."
"Apa?!" Tanya Feron emosi.
"Ngak jadi" Kata si penjual langsung pergi.
Di perjalanan.
"Nan" Tanya Alfi.
"Hmmm.."Balas Nanda.
" Lu yakin pulang malam?" Tanya Alfi lagi.
" Iya dong, kayak biasanya aj-" Nanda langsung menghentikan ucapannya.
" Biasanya apa Nan? Ehehehehe.... Mon maaf sebelumnya Nand, tapi gua kalau ke tempat lo malam-malammmmm... (berpikir) kayaknya gua gak seberani Feron deh" Ujar Alfi jujur.
"Maksud lo?" Tanya Nanda.
"Yaaaaa... Gua penakut Nand, lebih baik kita cari tempat lo nginap aja di daerah sini. Bermumpung daerah ini kawasan tempat tinggal gua ama Feron," Ujar Alfi menepi dan langsung menstandard motornya.
"Jadi lo pilih gimana Nand? Seharusnya juga tadi kita gak main cabut aja sih ninggalin dia" Ucap Alfi memandang langit.
Jam sudah menunjukkan pukul 22.30 WIB. Sudah cukup larut memang, namun biasanya Nanda dan Feron juga biasa aja lewat di jam segini tapi sepertinya untuk Alfi sendiri itu sulit.
"Trus gimana ya Fi?" Tanya Nanda berpikir.
"Gak ada pilihan lain, lo gak mungkin pulang bareng gua, bisa-bisa entar ayah gua introgasi yang engak-engak. Kalau gua titipin lo dirumah Andiinn??? Hmmmm????" Alfi berpikir, bukan ide yang buruk. Ia lekas langsung menghubungi Andin dan berharap agar sang pujaan mau menampung sahabatnya untuk satu malam ini.
Panggilan tersambung.
^^^[Assalamualaikum]^^^
" Waalaikumsalam, Andin? "
^^^[Iya, dengan siapa ini?]^^^
B*bi memang, dasar ayah mertua b*bi. Udah gua pesenin simpan nomor gua malah dianggurin aja petuah calon menantu idaman sejuta umat ini.
"Ini Alfi Ndin"
^^^[Oh, Alfi, Apa kabar?]^^^
"Baik beb, gini Ndin, Aa' Alfi pengen langsung aja.....
Lanjut suara Alfi menelfon, sementara Nanda menunggu kepastian. Ia bahkan sudah menghubungi sang Papa perihal ia yang takkan pulang malam ini, dengan sedikit keributan Tentunya. Namun dengan keahliannya, sang Papa akhirnya terkibuli luar dalam.
"Jadi gini Nand," Suara Alfi berhasil mengembalikan kesadaran Nanda.
"Iya Fi, bisa?" Tanya Nanda.
"Nghh..." Gumam Alfi menggeleng "Andin sama keluarganya lagi keluar kota" Lanjut Alfi.
Mereka akhirnya diam di pinggir jalan, niat hati ingin pulang dan memukul bantal mengenai perilaku Feron padanya harus Nanda urungkan, sebenarnya ia masih cukup kesal, namun mau berkata apa? Bahkan Nanda saja belum menginjak teras rumahnya.
Aksi mengkhayal kedua sahabat berlanjut hingga satu cahaya motor menyilaukan mereka.
"Lu berdua kenapa masih dimari?" Tanya suara itu membuka helm sportnya seraya berjalan mendekati Alfi dan Nanda.
"Eh Feron" Ucap Alfi, namun berbeda dengan Nanda yang langsung buang muka, Intinya ngambeklah.
Semua kelakuan Nanda tak luput dari mata tajam Feron yang hanya dapat memaklumi.
"Kenapa?" Tanya Feron.
"Gak ada tempat nginap buat Nanda" Balas Alfi.
"HA? Nginap? Kenapa gak lu anatarin ni anak orang dari tadi sih, udah dari jam berapa lu berdua nongki di pinggir jalan ha?" Tanya Feron mendekati Nanda.
"Belum lamaan siiiiihhhh? " Jawab Alfi melihat arlogi miliknya "Anjai, udah jam 01.25 WIB aja, An*jaiii gilak gilak"
Mengabaikan keterkejutan Alfi, Feron memilih menatap Nanda "Lu gak dinginkan?" Tanya Feron berjongkok, Ia berusaha mensejajarkan tingginya dengan Nanda yang juga berjongkok, namun sepertinya Feron masih harus tetap menunduk untuk menatap gadis itu.
"Kagak" Seru Nanda ketus.
"Hadeh cewek" Gumam Feron menatap Alfi.
"Ya udah Fi, biar Nanda nginap di rumah gua aja. Mumpung ada kamar Oma yang masih bersih" Ujar Feron kembali berdiri.
"Seriusan?" Tanya Alfi antusias.
"Gua bohong, sekarang cepat cabut sebelum kakaklu nelfon gua kayak yang lalu-lalu" Perintah Feron menyuruh Alfi pulang.
"Ok Fer, thanks banget" Jawab Alfi antusias, tak sempat memperdulikan ekspresi Nanda yang hendak marah karna ditinggal begitu saja.
**Bruuummm..
Brummmmmm**......
Suara motor Alfi berlalu pergi tanpa mengucapkan kata pamit pada Nanda yang langsung ternganga di tempatnya.
"Maafin dia, kalau jam segini emang keluarga Alfi rada ribet" Ucap Feron.
"Yok cabut, gak baik bagi gadis perawan sendirian di tepi jalan" Ujar Feron menarik kedua tangan Nanda.
"Apa lebih gak baik kalau ada gadis perawan yang nginap di rumah cowok?" Tanya Nanda.
"Tenang, dirumah ada bi Asih. Entar kalau mau *****-***** lu juga gua harus tidur dulu" Balas Feron memakai helm.
"Kenapa?" Tanya Nanda seraya naik ke motor.
"Karna kalau gua sadar takutnya gua syok ngeliat wajah om-om kayak lu di sebelah gua ent- PLAK!!!"
"Dasar gak sopan!!!" Seru Nanda memukul helm Feron kencang.