
...Cerita ini hanya hayalan semata, jika ada kesamaan tokoh, tempat, ataupun kejadian. Itu semua hanya kebetulan fikiran yang tak disengaja....
.........................
Sekarang Stevan dilema, antara ego atau ucapan para sahabat. Namun Stevan harus berbuat apa? Toh dia dan Daffa kini malah sudah di luar pekarangan Mall.
Daffa yang asyik peregangan dan Stevan yang melirik kiri kanan menatap para sahabat yang malah sibuk mengurut pangkal hidung masing-masing.
"Gimana ni Fer? Kita kan disuruh pak Bino liburan, kenapa malah cari keributan?" Bisik Theo kalut.
Feron yang mendengarkan hanya dapat memandang Stevan dan Daffa bergantian. Sepertinya Daffa adalah orang yang sulit untuk di ajak bernegosiasi, dan Feron membenci hal itu. Semakin lama ia semakin sering di pertemukan dengan orang-orang yang bersifat aneh dan bebal.
"Ck! Kita liat saja dulu bertindak kemudian" Perintah Feron memandang ke depan, tepatnya pada Stevan dan Daffa yang sudah mengambil ancang-ancang bertarung.
"Langsung aja (menampilkan wajah bengis) gua gak MAU MAIN-MAIN!!!" Teriak Daffa langsung berlari dan melancarkan pukulannya pada Stevan.
Cepat!
Bisik hati Stevan menangkis serangan.
"Hahahaha!!" Tawa angkuh di berikan Daffa.
Cepat sekali, gua bahkan tidak dapat melihat titik bertapaknya
Inner Stevan menatap nanar setiap pergerakan Daffa yang terbilang unik, dann..
"Aaa?!"
"Neee... Orang baru. Sepertinya kau baru mengenal kota Pekanbaru ya?! Hmph (tersenyum iblis) tidak buruk" Tiba-tiba siluet Daffa sudah berada tepat di belakang Stevan yang belum sempat mengeluarkan satu helaan nafas.
Cepat!
"Terlambat!" Ucap Stevan ber-smirk dan langsung
Braaakk!
Memukul tengkuk Stevan hingga ia terlempar 2 meter dari tempat Daffa berdiri.
"LEMAH!" Olok Daffa membelalakkan matanya meremehkan Stevan yang langsung bangkit.
Stevan bergumam nyeri, mengusap tengkuknya yang sakit luar biasa.
"Ck! Kau sangat lemah Be*go!!! Kenapa? Kenapa tidak ada yang bisa menandingi Daffa Muhammad ha! Puih! (meludah sembarangan) Gua jadi bosan (mengkretek jari-jarinya) mari bermain sedikit lebih lama" Senyum iblis di layangkan Daffa membuat Stevan sedikit bergetar dan langsung berdiri.
Brrrmmmmm!!!!
Brrrmmmmm!!!
"Daffa!" Seru suara itu keras, namun Daffa masih belum melirik barang sedikit saja. Daffa masih menatap Stevan garang.
"HUAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!"
Teriak Daffa langsung melayangkan pukulan pada Stevan.
.
.
.
.
Pak Sabran menyesap Coffe lattenya damai. Sementara Ryouichi masih tertunduk tak ingin mendongak.
Tak!
"Ryou-oh tidak, tapi William" Ryouichi langsung mendongak, menatap pak Sabran tak percaya.
"Bagaimana kabarmu?" Tanya pak Sabran menatap Ryouichi yang hanya dapat menampilkan ekspresi terkejutnya.
"B-baik pak" Jawab Ryou sedikit gugup.
"Baguslah" Balas Pak Sabran mengalihkan pandangannya pada pemandangan luar.
Butuh waktu keterdiaman yang cukup lama. Baik diantara keduanya sama-sama tak ingin membuka percakapan.
Sementara pak Ibram, ia memilih pergi. Alasannya sederhana, mencari angin, padahal ia hanya ingin memberi privasi lebih pada kedua guru DPIB itu untuk berbicara lebih dalam. Dan pak Ibram tau, pasti kehadirannya hanya akan membuat suasana menjadi tidak nyaman.
"Kenapa kau kembali?" Tanya Pak Sabran akhirnya membuka percakapan kembali setelah beberapa saat terdiam.
Di balik meja cafe, Ryouichi mengepalkan tangannya erat. Sulit untuk di jelaskan, tapi sebenarnya Ryouichi bahkan tak ingin kembali ke kota ini.
"Itu...." Ryouichi merotasikan matanya ke arah daun basah di dekat jendela. Tetesan air dari daun itu jatuh dan membasahi meja cafe tempat Ryouichi duduk.
"Karna Feron ke Pekanbaru" Jawab Ryouichi pelan.
"Apa? Feron ke Pekanbaru?" Pak Sabran langsung tertarik ingin mendengar lebih.
"Jadi kenapa kau mengejarnya? Ganjil sekali?" Tanya pak Sabran lagi menatap Ryouichi yang juga menatapnya.
"Ini bukanlah seperti yang bapak pikirkan, anak itu pergi karna Pak Bino. Dia pergi pak, pergi! Bapak sendiri pasti tau bukan kalau anak itu selalu membuat masalah kemanapun dia pergi, saya hanya takut dia kenapa-kenapa di kota ini pak! Saya....." Ryou berhenti berbicara. Ia sadar apa yang ia ucapkan tidak berdasar dan langsung memandang minumannya dalam raut kesal.
Aku kenapa si?!
Lirih Ryouichi dalam fikiran kalutnya, ia selalu menanyakan kenapa ia sampai rela kembali ke sini hanya demi Feron. Kenapa?
Pak Sabran yang tau hanya memperhatikan Ryou dalam diam, tak ingin mengejek ataupun berkata satu kata yang pastinya akan membuat fikiran pemuda di depannya ini emosi. Tapi,
"Mungkin itulah yang disebut naluri orang tua Will, kau sudah merasakannya bukan? (menarik senyum simpul) Itulah rasanya... " Ujar pak Sabran tersenyum hangat seraya menumpukan wajahnya pada tangan kiri.
"Rasanya?" Ryou langsung membelalakkan mata.
"Benar. Itulah rasanya mencintai yang bukan mencintai. Kau pastinya ingat apa yang pernah ku katakan bukan." Tambah pak Sabran seraya mengaduk minumannya dalam ketenangan.
'Cinta tak selamanya untuk lawan jenis saja, tapi cinta juga datang dari rasa kasihan dan ingin melindungi sesama. Mencoba memahami dan mendidik, dari satu sifat ke sifat lainnya kita jadi belajar jika kita begitu berharga. Cobalah untuk belajar dari hal itu'
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
...TBC ...