
...All For Dreams ...
...Definisi gak bener...
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
Gak perlu siapapun tau, kini Fiona sudah geram dengan perbuatan Liza yang malah memancing kemarahannya.
Bahkan sedari pak Ardi masuk untuk memulai pelajaran matematikapun Fiona masih geram dengan ucapan Liza yang begitu menyindir Ulu hatinya.
"Nan Nan, dengar cerita si Fiona nanyain Feron tuh! Kasih tau napa?" Tanya Liza diselingi muka jenakanya mencolek bahu tegap Nanda.
"Ck! Apaan sih Liz!" Geram Nanda membalas ucapan Liza ketus.
"Alah si Nanda suka begitu deh, selalu ketus kalau kita tanyain soal Feron (Liza senantiasa melirik Nanda yang mencoba fokus dengan bukunya) emang lo ada hubungan apa sih ama si Feron Nan? Ampe kita pada yang nanyain Feron muka lu kayak gak senang gitu?" Pancing Liza mencoba mengorek isi hati Nanda dalam senyum lebarnya.
Nanda tidak menggubris, fikirannya menolak untuk meladeni Liza karna ia tau Liza pasti hanya ingin memancing amarahnya saja.
"Oi Nan" Panggil Liza pada Nanda yang memilih untuk memasang earphone di kupingnya. Setiap kali Liza memanggil, maka semakin keras pula volume suara yang di naikkan Nanda.
Hingga ucapan salam berhasil mengalihkan atensi Nanda.
"Assalamualaikum!" Ucap suara itu yang berada tepat di ambang pintu.
Nanda dengan kecepatan rotasinya langsung menatap ke ambang pintu, namun yang diharapkan bukanlah yang diinginkan.
"Waalaikumsalam, loh Arman (melihat jam tangan) telat sekali kamu" Ujar Pak Ardi berjalan ke tengah kelas.
"Hehehehe (menggaruk tengkuk yang tak gatal seraya berjalan perlahan ke dalam kelas) maaf pak, tadi soalnya ada polisi di simpang perahu pak. Jadi saya cari jalan lain dulu supaya bisa lewat" Tutur Arman.
Sementara pak Ardi hanya menatap, enggan untuk memberi komentar.
Untuk Nanda sendiri yang sudah kecewa tanpa sadar melirik ke meja Fiona. Menatap gadis itu yang juga kecewa, terlihat jelas dari ekspresi wajahnya dan kerutan di dahinya.
Fiona belakangan ini aneh semenjak acara drama itu, apa jangan-jangan yang di gosipin itu benar? Kalau si Fio suka ama si kutu blangsat Feron?
Tanya hati Nanda heran hingga kembali suara telapak kaki santai terdengar, suara telapak kaki yang sangat berbeda dan pastinya kali ini Nanda tidak salah.
Kini Nanda kembali menatap ke arah ambang pintu, mencoba mempertaruhkan keberuntungannya.
Pasti, gua yakin pasti sii...
Tok.... Tok.... Tok....
"Assalamualaikum" Ucap suara itu malas. Membuat omelan pak Ardi pada Arman seketika terhenti dan menatap ke arah ambang pintu kembali.
"Feron!? Sob gua, lo pasti juga beralasan kalau di simpang perahu ada polisi kan Fer, iya kan?" Ucap Arman menggebu dan langsung sigap berlari memeluk Feron yang seketika terkejut dengan beban tubuh Arman.
"Aaaaaa... Bener sihhhh?" Ucap Feron tak yakin.
Anwar di bangkunya, hanya dapat menatap Feron tajam, ia juga melihat ekspresi muka Nanda yang langsung ceria menatap Feron.
Ck! Liat muka si Feron aja langsung ceria gak ketulungan
Kesal hati Anwar.
Feron berjalan ke dalam kelas mendekati pak Ardi yang sudah bersedekap dada seraya Feron menggendong Arman yang melilitkan badannya pada tubuh Feron.
"Jadi! (tegas pak Ardi) sebenarnya kalian terlambat hanya karna polisikah atau sesuatu yang lain?" Tanya pak Ardi curiga.
"Ya karna polisilah pak!" Sewot Arman.
"Hmmm?? Betulkah Feron?" Tanya pak Ardi.
"Betul pak" Jawab Feron calm.
"Ya sudah, untuk kali ini bapak maafkan dengan hukuman push up 50 kali" Imbuh pak Ardi final langsung kembali ke mejanya.
"Eeeeehhhh!!! Pak, kurangin lah pak. Masak iya 50" Ucap Arman mencoba nego.
"Kalau begitu 100 atau tidak sama sekali" Jawab pak Ardi cuek dan kembali melanjutkan kegiatannya membalikkan lembar halaman kitab.
"Eeeeeehhhhhh!!!!!" Balas Arman tak terima memonyongkan bibirnya kedepan.
Sementara Feron hanya menampilkan wajah malasnya, enggan untuk berdebat dengan pak Ardi.
.
.
.
Jam istirahat.
"Ron, lu beneran terlambat karna polisi?" Tanya Nanda menatap Feron.
Feron melirik Nanda, memberikan senyum simpul seraya mengelus kepala gadis itu yang langsung bersemu dengan perilaku tiba-tiba Feron padanya.
"Ya mana tau kan, lu nya pergi ke warung terus main remi kayak biasanya" Ucap Nanda pura-pura sibuk dengan bukunya.
"Hohohoho, untuk kali ini ada yang berbeda Princess (mencolek dagu Nanda gemas) dan sesuatu itu pasti membuat lo semakin penasaran" Ucap Feron memperagakan gerak Spongebob yang mengatakan 'imajinasi' seraya tersenyum jahil pada Nanda yang langsung cemberut.
Nanda langsung buang muka, enggan untuk menatap Feron lagi. Ia memilih untuk memainkan smartphonenya daripada melirik Feron yang aneh.
Graaakk (suara kursi)
"Nand, lu mau ikut gua jajan ke kantin?" Tanya Feron yang sudah berdiri.
Nanda melirik, sedikit mempertimbangkan keinginannya yang ingin menabung dan juga jajan bakso tusuk. Dua keinginan yang sulit sampai ucapan Feron membuat Nanda senang.
"Gua traktir" Ucap Feron langsung mengambil tangan kanan Nanda dan menariknya.
Di jalan.
Mereka berdua terjebak keheningan tanpa adanya percakapan berarti. Nanda yang pura-pura sibuk dengan smartphonenya dan Feron yang stay cool menatap jalan.
"KAK AYU!!!" Teriak Feron melambaikan tangannya dan langsung berlari ke arah bengkel DPIB meninggalkan Nanda yang terkejut dengan teriakan tiba-tiba Feron.
"Eh Feron toh" Jawab Kak Ayu tersenyum manis.
"Iya dong siapa lagi" Jawab Feron tersenyum lebar.
Sementara Nanda yang tetap berjalan santai baru saja sampai dan memilih untuk menatap mereka berdua dalam ke hampaan.
"Habis ngapain kalian kak Ayu?" Tanya Nanda ikut bergabung.
"Habis belajar sama pak Dimas Nan" Jawab Ayu menatap Nanda yang langsung ber-oh ria.
"Kalian?" Tanya Ayu balik bertanya.
"Habis belajar sama walasmu" Jawab Nanda merengut.
"Hehehehehe, belajar sama Pak Ardi itu enak lo kalau kalian nikmati" Ucap Ayu tertawa renyah.
"Enak kepalamu, makin pusing otak gua di buatnya malah lo bilang enak" Jawab Nanda ketus.
Sementara Feron hanya bisa tertawa kecil mendengar penuturan Nanda dan ekspresinya yang bagi Feron lucu sekali.
"Kak ayu" Ucap Feron, seketika perhatian Ayu teralihkan pada Feron yang langsung mendekat ke arah telinga kanan Ayu.
Feron berbisik dan Ayu mendengarkan, sesekali Ayu tersenyum dan sesekali alis matanya terangkat dan sesekali juga ber-oh ria, dan semua itu langsung membuat Nanda curiga.
"Lu berdua lagi bisik-bisik apaan sih? Gak baik lo bisik-bisik di depan umum, entar pemikiran orang bisa aneh" Ucap Nanda.
"Yah, biarin ajalah orang-orang dengan tanggapannya yang jelas ini urusan gua ama kak Ayu, bener gak kak Ayu?" Tanya Feron menatap Ayu yang langsung mengangguk.
"Ck! Setidaknya kasih tau gua dong" Ujar Nanda Akhirnya, ia kesal juga lama-lama. Maksud hatinya tak di tanggapi Feron dengan benar, membuat Nanda jadi kesal sendiri.
"Hoooo tidak bisa" Jawab Feron mengejek.
"Ya udah kak Ayu, kami mau ke kantin. Kak Ayu ikut? Gua yang bayarin kok kak" Lanjut Feron menatap Ayu seraya merangkul Nanda.
Ayu menatap wajah kesal Nanda dan kembali menatap Feron.
"Sepertinya gak usah deh Ron, kakak ada urusan lain juga. Lain kali saja ya" Jawab Ayu.
"Ooo ya sudah, kalau begitu kami undur diri dulu. Daaaaa kak Ayu" Ucap Feron melambai pergi.
.
.
.
Nanda, ditengah kegiatannya memilih bakso tusuk kini malah di buat makan hati dengan Feron yang malah menggoda adik kelas seraya senyum-senyum sok tampan.
"Dasar genit" Geram Nanda kesal.
"Ya? Apa Nand?" Tanya Feron langsung menatap wajah Nanda.
"Resleting kandang burung lo lepas tu" Jawab Nanda langsung memilih bakso cepat.
Sementara Feron langsung menatap ke arah sleting celananya yang benar saja, terbuka.
"Astaga, hampir saja otong gua terbang (cepat-cepat menyeleting celananya kembali) makasih sahabatku" Ucap Feron tersenyum malu.
"Masama" Jawab Nanda datar, namun jika diperhatikan lebih dekat. Ada sedikit rona merah di pipi Nanda yang berisi.
Sementara adik kelas malah tertawa malu melihat Feron yang menyeletingkan celananya.
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
...TBC ...