
" Eh? Apa kita...... "
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
...All For Dreams...
...Rencana beracun...
.......
.......
.......
.......
.......
"Sepertinya wajah anda tidak asing?"
Feron langsung melangkah masuk ke dalam kantor Vein hanya untuk sekedar melihat tampang itu lebih dekat lagi.
"Benarkah?" Jawabnya tenang.
"A-"
Crashhhhhh!!!!!
"Hujan akan segera turun, sebaiknya kau pulang." Intrupsi Vein.
"Ah benar juga, mana gua ninggalin Alfi di parkiran lagi." Panik Feron langsung pergi begitu saja.
"Jangan lupa minta jas hujan sama kak Moni di resepsionis Ron." Ucap Vein yang masih dapat di dengar Feron.
Setelah kepergian Feron.
"Anakmu...."
"Ya, dia belum tau saja." Balas Vein tersenyum miring.
.
.
.
"Gua benci dunia dewasa karna dunia dewasa penuh kepalsuan."
"Apa?" Tanya Alfi seraya menyeka air hujan di wajah dengan punggung tangannya.
Mereka berdua kembali kehujanan, namun kali ini mereka berhenti di rumah Alfi dan tengah berduaan di kamar sederhana pemuda MM itu.
Feron memandang plafond kamar Alfi sambil merenung panjang dan sedikit menghela nafas.
"Gak, gak jadi." Ucap Feron menerima handuk kecil yang di lempar Alfi.
"Gak jelas ah," Alfi langsung berlari kecil dan menepuk kedua pundak Feron "Kasih tau ajalah Fer, cuma ada kita berdua aja kok di mari."
Feron menatap Alfi bosan "Gak ada, udah ah. Gua mau ke toilet dulu." Feron langsung menyingkirkan muka Alfi dan beranjak pergi untuk membuka pintu dan menemukan Aulia, adik Alfi yang tengah berdiri di depan kamar dengan tindakan seperti ingin menguping.
Namun Aulia bukannya fokus dengan ucapan Feron malah menatap ke arah badan Feron yang tak tertutup baju. Feron tanpa tau tempat malah memamerkan badan porposionalnya di hadapan gadis muda yang langsung merona hebat.
"Hehehehehehehehe...." Tawa kecil Aulia dan langsung pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaan Feron.
"Bocah aneh." Gumam Feron dan kembali berjalan ke toilet.
"Nape?" Tanya Alfi saat Feron sudah pergi.
Ia memandang kiri dan kanan, mencoba melihat anggota keluarganya dan mendapati Aulia yang tengah menyudut memunggunginya.
"Nape lo Jaenab?" Tanya Alfi yang langsung menendang pantat adiknya dengan keras "Jan ampe lo suka ama temen gua ye, bisa berabe entar." Pesan Alfi sebelum berlenggak pergi untuk mengambil segelas air panas.
.
.
.
Keesokan harinya.
"Ujian sebentar lagi bakal di adain, dan si banci nyuruh buat beli panduan ujian seharga 10k per kartu, gua bayar 50k tapi kenapa yang dapat cuma 3 biji? Ah, ini penipuan!" Maki Feron memandang dua buah kartu itu dalam kesal, sementara Nanda di sampingnya dengan setia hanya dapat ikut andil dalam kekesalan.
" Lu kan masih lumayan Ron, lah gua cuma atu. " Kata Nanda memamerkan kartunya pada Feron yang langsung melirik masam.
"Atau mah yang lu pegang Bestie dua bijik lagi kan di saku lo, ah dugong sayur." Kesal Feron langsung berjalan memasuki bengkel.
Sementara itu, di dalam kantor guru kejuruan.
Pak Hendri selaku guru yang bergerak di bidang Telekomunikasi kini tengah berbincang tenang bersama buk Ariani mengenai rencana penggunaan PC untuk UKK sementara Ardi... Hmmm...
Pandangan tajam Feron ter-arah jelas pada Ardi yang pura-pura tidak melihat malaikat kematian itu tengah memandangnya ingin menghakimi.
"Fer, kayaknya para guru lagi sibuk d-"
Seketika tangan Feron melintang di depan muka Nanda yang langsung menatap wajah Feron bertanya.
"Permisi," Kata Feron berjalan membuka pintu semakin lebar untuk memberikan akses masuk lebih dalam. Sementara Nanda setia mengikuti dari belakang.
"Iya Feron, ada apa?" Tanya buk Ariani memandang Feron yang berdiri tak jauh dari tempat ia duduk "Misi buk," Feron duduk di kursi yang tersedia tepat di depan buk Ariani yang kini memandangnya.
"Lanjutkan saja." Ucap Feron di saat semua guru malah memandangnya.
Semua kembali pada topik sebelumnya, bahkan Nanda sesekali juga ikut nimbrung berbicara, namun berlain hal dengan Feron, sesekali ia hanya akan berdehem dan juga mengetuk jari di meja, kakipun ia silangkan dan mengayun pelan, Feron kali ini benar-benar bersikap dendam.
"Gak mungkinlah buk, masak ia kita berangkat ke sana gak bawa duit banyak hahahahaha." Ucap Ardi tertawa keras dengan nada menggelora.
Hentakan jari Feron terhenti, kaki yang bergoyang juga ikut terhenti, dan ia langsung mengambil kartu dari kantung bajunya dan melemparnya tepat ke meja Ardi.
Feron langsung menyadarkan diri pada sandaran kursi yang tersedia, tangan tak luput ia silangkan.
"BTW, kartu belajar gua masih kurang tiga Pak, gimana kalau kita selesaikan masalah kartu belajar dulu sebelum bapak bahas uang jalan-jalan, gimana?" Ujar Feron tersenyum lebar.
.......
.......
.......
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
.... ...
...Tbc ...