All For Dreams

All For Dreams
Cupid cinta



Previous....


"Gimana caranya kita kasih ni surat?" Tanya Feron mengambil surat dari tas mininya.


"Hmmm..... Gimana ya?" Ucap Alfi ikut bertanya.


Tatapan fokus ke jalan, namun Fikiran Alfi malah bercabang berkat pertanyaan Feron sang sahabat.


Gimana caranya kita kasih tu surat ke tangan Anwar, gak mungkinkan di post-in, yang ada nyampenya seminggu.


Inner Alfi berfikir.


...103...


...Cupid cinta...


Pertanya demi pertanyaan selalu membekas diingatan kedua sahabat ini, bahkan Alfi sampai memandang ke sekitar demi mencari jalan keluar.


"Fi Fi..." Panggil Feron menepuk punggung Alfi.


"Apaan?" Balas Alfi melirik ke belakang.


"Gua ada rencana" Ucap Feron tersenyum bangga.


.


.


.


Di depan rumah Anwar, tepatnya di depan kedai depan rumah Anwar. Terduduk lesuhlah kedua makhluk beda bapak ibuk. Dengan permen mil*kita batangan sebagai penyalur hasrat kepusingan, Feron malah berpikir keras berlainan dengan Alfi yang asyik menikmati kerupuk kemasan.


Feron melirik Alfi dalam aksi jongkoknya menghitung batu di jalanan berbatu. "Lu bisa gak, kagak makan dulu. Ini kita dalam situasi genting lu malah ngunyah trus" Omel Feron melempar kerikil ke muka Alfi yang sedang asyik menatap langit.


Andinnnn


Inner hati Alfi seraya mengunyah kerupuk kulit.


Pluk!


"Auch! Sakit atuh Fer, kamu teh kumaha? Aya-aya wae" Komentar Alfi berbahasa Sunda.


"Please ya Fi, gua tau lu itu keturunan Sunda, tapi jangan pake bahasa itu sekarang. Yang sekarang harus lu bahas itu ini!" Ucap Feron memperlihatkan surat Nanda.


Alfi memperhatikan dari tempatnya, memandang surat itu lamat dan beralih memandang ke arah rumah Anwar lama.


Alfi menggeleng" Kayaknya sulit Fer, lu liat aja noh (menunjuk rumah Anwar) gimana caranya kita lewati bapaknya si Anwar yang lagi duduk sambil ngopi didepan teras rumahnya, yang ada ntar kita dibilang pengemis lagi" Hardik Alfi berdiri dari jok motor.


"Lu bener, kalau begitu plan B" Feron langsung berdiri dari posisinya, seraya mengemut permen batangan, Feron mengeluarkan smartphone. Mendial nomor dan langsung melakukan Chat pribadi.


"Ngapain lo?" Tanya Alfi.


"Chat Anwar, " Jawab Feron "Dia aktif, saatnya kita telfon" Lanjut Feron langsung menelfon Anwar.


"Lu dimana? Rumah? Bagus deh? Ngak ada... Gua cuma pengen kasih titipan nih (menatap ke arah rumah Anwar) Gua pas betul di depan rumah lo, ini di kedai samping pom mini (melambai ke Arah Anwar) Ok, siip" Telfon dimatikan.


Alfi yang memperhatikan hanya bisa terpaku di tempatnya melihat ke bar-baran sang sahabat yang langsung menelfon korban mereka.


"Lu mau kasih apaan Ron?" Tanya Anwar turun dari motornya.


Feron langsung melempar tas mininya pada Alfi yang sigap meraih "Ini" Ucap Feron berjalan ke arah Anwar dan langsung menyerahkan surat Nanda ke genggaman Anwar.


"Apaan ni?" Tanya Anwar hendak memeriksa surat tersebut, namun segera di cegat Feron.


"Entar aja lu liat isinya, sekarang mending lu balik aja. Kita juga udah mau pergi kok" Ujar Feron menepuk surat di genggam dekat dada Anwar.


"Maksud lu Ron?" Tanya Anwar.


"Ok daaa~ (langsung menyentil pipi Alfi) Cepetan Fi, naik ke motor" Bisik Feron di awal, memaksa Alfi untuk segera beranjak dari surga makanan.


"Iya Ron, sabar bentaran napa?" Balas Alfi menaiki motornya.


"Kita pergi War, jangan lupa dibaca suratnyaaaa!!!!!" Teriak Feron dengan muka tegang meninggalkan Anwar yang masih tak paham dengan surat yang di berikan Feron.


"Gile si Ron, lu bar-bar banget" Ucap Alfi masih memegang Tas mini Feron seraya menyetir.


Feron yang masih fokus menatap ke arah Anwar hanya dapat bergumam memberikan tanggapan.


Sementara Anwar disana kembali menatap surat pemberian Feron.


"Pasti ini surat Nanda, secarakan gak mungkin ini surat Feron. Yang ada entar genre cerita berubah jadi LGBT hehehehe" Tawa Anwar mengakhiri masa bericaranya dan langsung menaiki motornya untuk kembali kerumah.


Kembali ke Alfi, Feron.


"Huft! Akhirnya gua bisa sampaiin janji gua ama Nanda, " Gumam Feron lega "Fi, smartphone gua" Lanjut Feron meminta smartphonenya.


Trank...


Prank...


Alfi dan Feron membeku di motor menatap barang-barang Feron bertaburan di jalan, semuanya bertaburan termasuk dompet, powerbank, cas smartphone, dan juga...


"Anjir! Berenti Fi, masa depan gua semuanya jatuh!!!!" Teriak Feron menatap nanar lipstik pesanan sang tante.


.


.


.


Feron dan Alfi kini saling bertatapan dalam fikiran kacau.


"Sorry Fer, gua gak sengaja" Sesal Alfi menatap botol lipstik yang sudah terbelah dua, sementara Feron sudah gelisah menatap barang titipan Bunda Neti yang kini isinya sudah berbaur dengan pasir dan kerikil jalanan.


Feron menunduk "Untung aksi sial kita gak diliat ama Anwar, kalau sampai keliatan bisa malu besar" Lirih Feron mengambil barang yang sudah tak berbentuk itu.


TRIIIINNGGGG!!!!!


Bunyi suara smartphone Feron benar-benar menghancurkan fikiran serius kedua pemuda yang sedang jongkok di pinggir jalan tak jauh dari rumah Anwar.


"Siape Ron?" Tanya Alfi menatap wajah Feron yang langsung pias setelah memandang layar smartphonenya.


"Anjay! Tante gua yang punya ni lipstik nelfon" Jawab Feron mengangkat telfon grogi.


...Percakapan telfon...


^^^Feron^^^


"Iya Bunda..." Ucap Feron menjawab.


^^^Apa pesanan bunda udah sama kamu^^^


"Engh.... (menatap ke arah lipstik) i-iya bunda"


^^^Hoooo, ya udah. Kalau gitu langsung aja ke rumah utama. Bunda tunggu ya nak^^^


Klik...


Telfon langsung dimatikan. Dan untuk pertama kalinya Alfi menatap sesuatu yang lebih seram daripada wajah setan.


"Lu harus bantu gua" Ucap Feron menatap Alfi nyalang.


.


.


.


Rumah utama keluarga Adidjaya.


"Feron masih belum datang ya Tan?" Tanya Susan menghampiri Neti yang tengah berdiri di depan jendela ruang tamu.


"Belum ada San, setelah tante Telfon terakhir kali Feron tak mengangkatnya lagi" Balas Neti menghadap ke arah Susan.


"Apa Tante khawatir?" Tanya Susan lagi.


Neti kembali menatap keluar pekarangan rumah "Sebenarnya iya" Jawab Neti menyentuh dadanya.


"Neti, kembalilah ke kamarmu. Sebentar lagi acara akan dimulai dan kau harus rapi demi bisa menarik perhatian" Tegur Miya sang mama menghampiri Neti dan Susan yang langsung undur diri tak ingin berurusan lebih lama dengan sang nenek.


"Baik ma" Jawab Neti lemas.


"Jika kau memikirkan Feron, mama sudah menyuruh bodyguard untuk melacak keberadaannya dan sangat mencengangkan dia sedari tadi hanya jongkok di pinggir jalan, entah apa yang ia lakukan" Ucap Miya menggelengkan kepalanya pelan.


"Mungkin dia sedang menerapkan pelajaran tutorial jadi pengemis, kata buku yang Isyal baca, penghasilan pengemis saat ini sedang melonjak naik. Mungkin saja cucu nenek yang satu itu sedang mencoba usaha baru" Tiba-tiba suara Isyal menyaut ucapan sang nenek.


"Benarkah?" Tanya Miya menaikkan alisnya "Kalau begitu, tidak sia-sia dia ku angkat menjadi cucu" Komentar Miya bangga dengan usaha Feron yang sebenarnya bukanlah usaha itu.


Sementara Feron di tempatnya malah selalu bersin tidak tau kenapa, namun hal itu berhasil membuat Alfi sang sahabat yang tengah membantu Feron mengelem botol lipstik menjadi khawatir dan gelisah.


"Lu gak apa-apa kan Ron?" Tanya Alfi.


"Gak apa-apa" Jawab Feron mengusap hidung "Emang kenapa?" Tanya Feron balik bertanya.


"Yaaaa... Siapa tau kan, karna lu pecahin barang tante lu dia langsung santet lu bersin-bersin terus koidkan gak etis banget, entar gua gimana dong berurusan sama mayat lo dan keluarga Adidjaya? Kalau gua ditangkap? Disekap? Di penjara? Di-" Mulut Alfi langsung di bungkam oleh Feron dengan tangannya yang langsung mencubit kuat.


" Diam, keluarga gua bukan keluarga mafia Oon" Ucap Feron.


...Tbc...