
"KAUUUUU!!!!!?" Teriakan Feron menggema keseluruh gang sempit.
"Feron.." Ucap Afni ikut terkejut.
Mereka berdua saling memandang dalam ekspresi sama-sama terkejut, namun Feron yang sadar terlebih dahulu segera memperbaiki sikapnya.
"Ehem, sedang apa kau disini?" Tanya Feron ngasal.
"Eh?" Ekspresi Afni seketika bingung.
Astaga, apa yang gua ucapin sih? C'mon Feron fokus, fokus ini cuma Afni, ok.
Ucap hati Feron dengan tatapan yang menatap liar kesegalah arah sampai tanpa sengaja ia menatap rok Afni yang sobek dengan darah kering yang berlumuran disekitar rok abu-abunya.
"Ada apa dengan rok dan kakimu?" Tanya Feron langsung membungkuk, sontak hal itu membuat Afni jadi kelimpungan antara ingin membiarkan atau melarang aksi Feron.
Astaga, sanking banyaknya fikiran didalam kepalanya, Afni bahkan tidak menyadari kini Feron kembali berdiri dan sudah berbicara kembali.
"Afni" Ujar Feron mengguncang pelan bahu kanan Afni.
"Ah iya F-" Afni tidak sanggup untuk melanjutkan ucapannya, setiap kali ia ingin menyebut nama itu pastilah hanya kehampaan yang didapat.
"Engh.." Ucap Afni akhirnya tanpa bisa melanjutkan kalimat.
"Sebaiknya lo gua ajak ke tempat kenalan gua, disana ada antiseptik dan obat luka. Kita harus cepat sebelum luka lo infeksi" Ucap Feron seraya berlalu tak peka.
"Enghhh aaa..... FERONNNNNN!!!" Teriak Afni tanpa sadar mengucapkan nama Feron lantang.
Gedebuk!!!
Feron langsung membalikkan badan setelah mendengar suara jatuh yang begitu kuat dan refleks pada akhirnya berkata.
"Feron bego, udah jelas-jelas tu anak lagi sakit kaki malah lu ajak jalan kaki, ah dasar!" Gumam Feron langsung menuju Afni yang sudah tengkurap di bahu jalan.
"Sini gua bantu" Lanjut Feron langsung menggendong Afni ala bridal style.
"Mmmmm...." Gumam Afni salah tingkah.
"Sorry, lo gak suka y-"
"Guasukakok!!!" Jawab Afni cepat dengan muka yang sudah blushing dan langsung menutup muka dengan kedua telapak tangan setelah menyadari ucapannya sendiri.
"Apa?" Tanya Feron yang masih belum mengerti dengan ucapan Afni.
"SUDAHLAH AYO CEPAT JALAN!!!!" Teriak Afni sangat kencang dan hampir saja mendorongkan kepalanya yang tinggal sesenti lagi mencium bibir tipis Feron yang langsung menatapnya terkejut.
"Ah!? MAAFKAN AKU!" Lanjut Afni berkata baku, ia begitu banyak menggeliat dan hampir saja membuat keseimbangan Feron diuji.
"Hoooo... Yaudah, mari kita jalan saja" Final Feron pada akhirnya berjalan.
"Itu yang gua bilang dari tadi tungkik!!!" Ucap Afni kesal diposisi.
"Hahahahahahha, maaf-maaf" Tawa Feron charming, namun dimata Afni tawa Feron begitu nostalgia.
Apa ini yang disebut penyesalan?
Inner Afni langsung menatap jalanan dengan ekspresi sedih.
****
Setelah berjalan sekitar 15 menit, akhirnya mereka sampai kesebuah rumah mewah dengan klinik kecil disudut depan.
Tok!!
Tok!!!
Tok!!!
"Permisi.... Spada yang gak jawab pengikut dajjal" Ucap Feron langsung masuk dan mendudukkan Afni ke atas tempat tidur.
"Feron, apa tidak apa-apa kita langsung masuk tanpa memanggil dokternya dulu? Minimal perawatnya?" Tanya Afni celingak-celinguk kiri kanan.
"Santai aja, gua dah biasa disini" Jawab Feron dengan kotak P3K yang sudah berada digenggamannya.
Feron berlutut dan mulai mengangkat sedikit rok lusuh Afni yang sudah tidak layak pakai.
"Maaf Afni, bisakah kau menaikkan rokmu sedikit, aku ingin membersihkan lukanya" Ujar Feron menatap Afni dari posisinya.
"Aaaaa-ah iya iya" Jawab Afni terbata.
Lukanya cukup panjang
Inner Feron mulai membersihkan luka.
Tap
Tap
Tap
"Wah! Astaga, rupanya lo Fer" Ucap sebuah suara terkejut.
"Iya, emang siapa lagi? Gak ada makhluk tuhan se-kece gua yang mau masuk ke klinik buluk ini" Sarkas Feron yang langsung membuat wanita yang dibelakanginya murka.
"Heeeeh kutu babi! Bosan hidup tidur dijalan sekalian" Jawab wanita itu tak ingin kalah.
"Selesai" Gumam Feron berdiri.
"Lu duluan aja, entar gua nyusul pas amal dah cukup" Jawab Feron berlalu meninggalkan Anya dan Afni dalam situasi awkward.
"Heh, dasar" Ucap Anya menatap Feron yang sudah menghilang dari balik pintu.
"Lo siapa?" Tanya Anya tiba-tiba membuat Afni yang sempat melamun kembali tersadar.
"Aaaa- aku.... Namaku Afnia Elsa Nabila, salam kenal ka-kaakk?" Ucap Afni mengulurkan tangannya untuk berjabatan.
Anya melirik tangan Afni yang terjulur bebas "Anya, nama gua Anya. Lo bisa panggil begitu" Jawab Anya ketus membuang muka.
Afni yang sadar dengan sikap Anya langsung mengambil kembali tangannya. Anya dan Afni sama-sama terdiam kembali. Anya yang memilih untuk merapikan barang dan Afni yang hanya melirik sekitar.
Tap
Tap
Tap
"Afni, lo mau gua antar? Mumpung yang punya klinik lagi baik hati mau minjamin motornya" Ucap Feron berdiri disebelah Anya yang langsung menampilkan ekspresi jijik dengan sikap Feron.
"..." Afni hanya terdiam, kejadian beberapa jam lalu masih membuatnya trauma.
"Kalau lu diapa-apain sama ni makhluk, lu tinggal tendang aja tulang kering kaki kirinya. Niscaya lo bakal selamat" Ketus Anya menepuk bahu Feron dan berlalu pergi meninggalkan mereka.
Afni tertunduk, wanita itu Anya, kembali membuka luka lama Afni hingga ia tidak sanggup menatap Feron yang tengah berjalan mendekatinya.
"?"
Feron mengambil duduk disebelah Afni dan memandangnya.
"Lu mau liat lukanya?" Tanya Feron.
Afni ragu, namun rasa penasarannya menutupi rasa penyesalan.
"Y-ya" Ucapnya pelan.
Feron tersenyum, ia mengangkat kaki kirinya dan perlahan mulai menaikkan celananya sebatas lutut.
"Astaga" Ucap Afni reflek.
"Meski sudah 4 tahun, namun terkadang nyerinya masih terasa" Tutur Feron ikut menatap bekas luka di kakinya.
Tanpa diperintah, tangan Afni sontak mengelus bekas luka Feron yang diukir dengan gambar naga yang begitu panjang.
Tangan Afni terus mengelus hingga ia merasakan daging yang melekuk kedalam, dan Afni sangat yakin ini adalah bekas pisau Reno yang sengaja ia tancapkan sampai tulang kering feron terlihat jelas. Bekas luka melekuk yang menjadi ekor naga.
"Maafkan aku yang terlalu labil" Gumam Afni dengan air mata yang mengalir begitu banyak.
"Pasti hiks... Pasti kau begitu menderita karna luka ini hiks.." Afni menjauhkan tangannya dari kaki Feron dan memilih untuk beringsut menjauh seraya membuang muka tidak ingin Feron melihatnya menangis dengan penyesalan yang begitu besar.
Sementara itu, Feron kembali menurunkan kaki celananya kebawah dan beranjak dari posisi duduknya, langsung menggenggam tangan Afni dan membawanya keluar dari klinik Luna.
"Maaf Feroooonnn... Jangan hukum aku seperti Bruno kumohoonn huaaaaa..... Huaaaaa" Tangis Afni pecah saat Feron menariknya menuju kebagasi rumah Luna.
"Kau bicara apa? Bruno menghukummu? Kenapa? Oh iya, dan kenapa kau sampai berada di gang sempit bersama preman tadi?!" Tanya Feron beruntut dengan dirinya yang sudah naik ke motor matic Luna.
"A-aku tidak sengaja menjatuhkan laptopnya, dan... Hiks... Dan dia langsung menurunkan aku di gang sempit dan menyuruhku untuk jalan kaki hingga ada seorang pria gila yang menyerangku dengan botol kaca yang sudah dipecahkan menjadi senjata hingga aku mendapatkan luka dan robekan pada rokku, setelah itu aku dicegat oleh preman di gang sempit" Ucap Afni dengan intonasi cepat tanpa memberikan jeda untuk Feron mencerna kalimat.
"Setelah itu k-" Lanjut Afni terpotong oleh ucapan Feron.
"Gua tau siapa Bruno, tapi lo naik dulu entar keburu malam" Ucap Feron mengintrupsi.
****
Diperjalan...
Keadaan hening, Feron terdiam dan Afni yang sesegukan menahan tangis. Sebelumnya Feron telah menanyakan alamat rumah Afni yang rupanya tidak jauh dari rumah orang tua Vein sang ayah.
Feron memandang kaca spion, memandang Afni yang masih berusaha untuk meredam tangis.
"Gua tau Af, kalau lu bohong" Ucap Feron.
Suara sesegukan Afni langsung berhenti.
"Seorang Bruno Ferdinand Brahma, walaupun kami musuh namun baik gua maupun dia saling tau pribadi masing-masing" Ucap Feron dingin.
"Lo jual diri ya?" Tanya Feron to the point langsung melirik Afni yang seketika tegang di jok belakang motor.
"A-" Ucap Afni.
...TBC...