
Shuo si Pelempar memiliki kemampuan Miracle Ball.. dimana setiap molekul tergantung suhu dia bisa membekukan atau bahkan menghilangkan bola-nya.. dengan lemparan penuh keajaiban.. dia memiliki kemampuan yang tidak terlalu operpower sebagai musuh..
Tetapi...
"Jangan meremehkanku.. kalian..!!" teriak Shuo.
"Hmm Shuo-san.. jangan terlalu terpancing kata-kata mereka.. mereka itu lemah.." ucap Zwei.
Dihadapan mereka berdua ada ratusan penggemar baseball yang mencoba untuk mengeroyok mereka..
"Hmm.. Glove-mu sudah ada kan..?" tanya Shuo.
"Ya..." Zwei tersenyum...
"Dalam dongeng klasik Perugia, ada kiper dengan sarung tangan yang mengagumkan.. dan sekarang saat ini.. bahan itu diubah menjadi Glove baseball.." ucap Shuo.
Kombinasi Pitcher dan Catcher.. mereka tersenyum...
"Miracle Ball : Fire...."
Lemparan ... dia mengubah molekul suhu menjadi panas.. dan memungkinkan suhu sekarang menjadi panas.. lemparan yang berapi-api...
"Glove.. Hands Never Stop..." tangan Kanan sang Zwei membesar.. dan menghantam area lain yang banyak halangan...
"Ini adalah tekad kita masing-masing.. menghancurkan para penggemar dan tim.. Baseball membosankan karena di era ini.. sudah terlalu bikin mengantuk.." ucap Shuo.
"Lalu mengapa kau bermain baseball.. jika itu membosankan?" Pria misterius itu menghampiri mereka..
Saat dia tersorot oleh kamera atau apapun itu.. wajahnya terlihat.. seperti orang yang mengantuk atau memang dia sangat sangat ingin tidur..
"Aku hanya lewat.. permainan itu jika membosankan lalu kenapa kau mainkan?" ucap Nicki, dengan wajah santai dan tak takut apapun...
"Apakah kau ingin kuhantam dengan lemparanku..?" tanya sang Shuo, dengan wajah kesal.. dia kemudian membuat gundukan untuk menjadi Mound tempat dia berdiri.
"Hahaha... aku tidak terlalu pandai bermain baseball, Kawan.." Nicki berjalan santai melewati Shuo dan Zwei.. memang dia takkan peduli terhadap apapun..
Atau mungkin dia serba bodoh dan tak terlalu peduli tentang masa kini..
Shuo semakin mengeram.. geraham giginya.. terlihat begitu jelas saat dia mengeram...
"Kau.. takkan kubiarkan...!!!" teriak sang Shuo.
Pose melempar dengan keren.. atau mungkin.. dibalik sifat angkuh dan kehebatan karena dia pandai melempar..
"Rasakan ini..."
"Dia akan mati.." ucap Zwei.
"Miracle Ball : Killer Target..."
Lemparan dengan kehebatan, keakuratan yang super duper berbahaya..
Melesat... mungkin... lemparan yang mencoba membidik kepalanya.
"Ini akan headshot.." ucap Shuo santai...
Namun...
Bola itu hangus kemudian.. tidak memperlihatkan wujud yang untuh.. hangus dan sangat menyedihkan..
"Cannon End..." ucap Nicki santai..
Saat ia meniup asap yang mengumpal dari pistolnya..
"Dia menghentikan hal itu dengan tembakkan.. dia..??!!" Zwei terkejut dengan pemandangan barusan.
"Tekadmu beda, tekadku juga beda.. tapi terima kasih karena kesini aku bisa tahu siapa nama Istriku dimasa depan.." ucap Nicki sangat santai.. matanya kemudian memperlihatkan semangat yang tinggi..
"Di era ini kalian menghancurkan tim-tim.. dan juga bahkan mendapat kekuatan itu dari Dongeng Klasik Perugia.. Tim Serie A tahun 1970 yang memiliki dongeng indah.." ucap Nicki.
"Namun.. ketahuilah.. kalian masih bocah cilik yang tidak punya otak untuk memikirkan betapa kejamnya dunia ini.." sambung Nicki.
Kekuatan tanpa mengalahkan musuh dengan hantaman.. tidak bersikap keren dan menarik perhatian..
Dia melakukannya dengan celoteh aneh.. membuat apapun musuhnya termotivasi untuk menjadi lebih baik kedepannya...
Nicki berjalan dengan santai meninggalkan dua pemuda itu yang katanya masih bocil..
"Ini adalah arc sangat singkat... hanya tiga chapter.." ucap Nicki..
Dia sudah tak terlihat ditempat yang tadi..
Karena saat ini dia sudah berada dilokasi rumahnya di abad ke 33..
"Istriku namanya sudah kuketahui.. tapi aku takkan melakukan spoiler.. hahaha.. yang jelas..."
Kemudian beberapa anak-anak kecil berlarian kearah sang Nicki..
"Inilah abad ke 33.. cucuku memiliki cucu-cucu yang tampan dan kharismatik.." ucap Nicki.
"Dan lihat si yang satunya.. hmm namanya siapa ya.." gumam Nicki memikirkan sesuatu.
"Yacht niisan cepat panjat dan ambil balonku..!!!" teriak gadis kecil dengan sangat cempreng..
"Berisik.. aku tidak ingin melakukannya..!!" bentak Yacht.
Yacht santai serba santai dan sangat santai sesekali kemudian dia mengupil.. "Cita-citaku tidak bekerja.." ucap Yacht.
"Dia mirip sekali denganku.. jangan-jangan.." ucap Nicki.
Sementara ada anak kecil yang berambut silver dia tengah membaca sebuah majalah..
"Ini adalah karya seni edisi ke 27 dari Hart-san.. majalah dewasa.." Anak itu mimisan ...
"Plane.. dia sangat mirip denganku.. hohoho.." ucap Nicko yang membaca To Love Ru, mengintai Plane dari atas pohon..
"Inilah serba serbi abad ke 33.." ucap Nicko..
Dia kemudian..
"Aku.. aku terkejut.. aku akan melakukan spoiler.. ternyata aku menikah dengan A-...."
"Sorry gan.. kalian sudah kukembalikan kemasa tempat kalian tinggal.. mengetahui masa depan dan memberitahukan kepada mereka.. itu adalah hukum tabu.." ucap Gaim.
"Piotr-san juga sudah mengirim email padaku.. jangan beritahukan apapun soal dunia dimasa depan.. karena jika kalian akan memberitahu.. mungkin alurnya akan diubah.." ucap Wanita Teleportasi...
"Hadduh..." Nicki tepuk jidat..
"Bawa si bawa.. tapi jangan membawaku saat eek juga kali..!!" teriak Nicki.
Ternyata Nicki terbawa kemasa depan lengkap dengan kloset dan eek yang belum dia siram...
"Aku bahkan belum cebok..!!" teriak Nicki.
"Inilah era dimana volume dua akan dimulai.. apakah era ini.. serbuan dari beberapa musuh keras akan datang.. akan kunantikan dan kutunggu.." ucap Piotr.
Dia memainkan telepon genggamnya..
"Hyo-san.. dia mungkin berbahaya..." sambung sang Piotr..
B E R S A M B U N G