
"..... Aku selalu ada disaat posisinya seperti ini, seperti Kebun Bunga.." ucap Mana.
Nicki memanglah tokoh utama, tetapi Mana begitu cemerlang. Sebagai tokoh sampingan yang jarang muncul, dia membuktikan bahwa dia bukanlah sekedar tokoh sampingan.
Narà Siū ini hanya panggilan dari Narasiman, nama aslinya masih misterius.
"Kurasa aku harus memasukan unsur obrolan, biar semakin jelas bahwa aku bisa bicara..." ucap sang Narà. Kemampuan si Narà ini apaan yang jelas dia adalah lawan terakhir yang harus dikalahkan oleh mbak Mana dengan segenap jiwa dan raganya.
"Naràsiūman? Apakah kamu baru siuman, Naràkun???!!!" Mana berusaha mengejek nama mas Narà.
"Namaku bukan Narà Siū, nama asliku adalah.."
"Huh?"
"Namaku berseru pada seruanku, namaku teringat dalam ingatanku, dan mulai sekarang namaku adalah Yukine!!!" Seru Narà.
"Njir. Jangan meniru adegan di anime Noragami, Naràsiūman, kau baru siuman dari koma kan? Makanya kamu sekarang sok-sok ikut gaya itu..?" Mana kembali bertanya.
"Aku ikut-ikutan gaya ginian biar si Author nemu ide, kuyakin dia sudah mulai kebingungan perihal mau dibuat gimana ini adegan, pemikirannya semakin sempit dan pertarungan ini semakin berlanjut akibat dia kepengen buat arc ini selesai dalam 20 chapter!!" Balas mas Naràsiūman.
- Buk Dokter.. Nara sudah pensiun!!
"Woi!!! Daritadi aku belom pensiun, aku emang pengen pensiun dari cerita ini, eh akukan baru debut dua kali disini, tapi aku sebagai Naràsiman yang hebat dan keren, aku akan mengalahkan kalian dengan kekuatanku yang sebenarnya.." Narà menatap tajam, dia kemudian mulai menekan-nekan tombol aneh yang berada di jam tangan miliknya, "Henshin!!"
"K-kau pikir kau Kamen Rider or Super Sentai yang bisa berubah, hah??!!!"
"Semua orang akan berubah, begitu juga denganku, tapi ada yang tidak akan berubah.. Yaitu ikatan..." balas Narà Siū yang sudah memakai kostum berwarna Crimson. Atau biasanya disebut Merah Tua.
"B-bisa gitu ya??!?!! Jadi semua orang bisa berubah???!!!" Mana juga mulai ikutan bergaya bak mas Narà barusan, "H-henshin!!"
"Wow!!!" Narà malah takjub dengan perubahan milik si Mana, "Kau sedang Kosplay Miss America ya dari Battle Fever J???!!!"
"This is not kosplay, this is my powaaa!!! I am show you my absolutely super Henshin!!!" Teriak Mana, dia kemudian mulai berlari dengan cepat, "Goodbye Mister!!!" Dan lalu melepaskan drop kick kearah mas Narà.
- Piotr Szmanowszky melihat adegan ini, dia merasa adegan ini sangat aneh, karena masa mereka bisa henshin. Dia kemudian mulai menulis, ini adalah kemampuan mengubah alur cerita lewat ketikan.
"Adegan Ini Skip!! Kabulkan Permintaanku, Order!!!"
Akhirnya adegan barusan kembali lagi keadegan awalan yang membingungkan.
"..... Aku selalu ada disaat posisinya seperti ini, seperti Kebun Bunga.." ucap Mana.
Seperti ada pengulangan alur, itu biar cerita ini gak jadi Super Sentai.
"Wow, Mana-ojousan, kau harus mengakhiri ini secepat mungkin.." ucap Narà.
"Wow, Ojousan? Kau sudah membuat ini semakin berakhir begitu heppi ending, apakah kimi wa akan give up dichapter ini???!!!"
"Kotae wa No desu wa!!" Balas mas Narà.
Sepertinya adegan ini akan mencapai akhir dari pertempuran, ekspedisi terakhir yang mengharuskan ending diserahkan kepada mbak Mana sebagai eksistensi yang mengakhiri pertempuran tidak jelas ini.
Semakin tidak jelas sebuah eksistensi omongan kosong, maka akan semakin tidak jelas kearah mana cerita ini akan berlanjut, semakin sering mereka bicara, semakin sering mereka membuat narasi memanjang, ini adalah agar kosakata seribu kata terlaksanakan dan mencapai finishing yang mumpuni.
Mengapa Narasi terlalu banyak? Tentu saja ini adalah bagian dari mendominasi obrolan dengan narasi yang berlebihan, dimana mereka berlabuh, dimana mereka beraksi, dimana mereka bergaya bak pahlawan, selalu saja, selalu saja narasi akan mengikuti kemana mereka akan melakukan sesuatu.
Seberapa cepatkah dia mengetik adalah kecepatan miliknya tergantung seberapa mood dia hari ini untuk menyelesaikan satu chapter.
Tetapi, nasib baik selalu ada padanya, ceritanya tidak mendapatkan viewers, dengan tidak ada viewers itu adalah kenikmatan, karena dia bisa merasakan nikmat terhindar dari kritikan pedas, kisah cintah yang suram, hari-hari yang keras.
Mana dan Narà malah kebingungan, obrolan mereka bisa diciptakan kembali jika Narasi berhenti berjalan, tetapi Narasi masih tetap menjadi konsep halangan yang membuat mereka tidak bisa beraksi.
Tidak bisa melakukan apapun karena Narasi menguasai konsep ini, konsep mengecewakan yang menunda-nunda pertempuran agar chapter next lengkap sudah, tetapi cerita seperti ini adalah cerita membosankan yang akan ditinggalkan oleh pembaca di tengah jalan.
Seperti apa pemandangan Narasi di benua lain, dan seberapa bagusnya mereka beraksi untuk menciptakan tulisan indah dengan penempatan tanda baca yang benar, sedangkan bagian ini menawarkan hal membingungkan yang akan membuat pembaca membaca Narasi terpanjang dengan aksi nihil.
Viewers semakin tenggelam kedalam naungan narasi, semakin ingin penasaran dimana akhir dari Narasi ini berjalan, bagaimana dia akan berhenti itu adalah hal yang dipenuhi penasaran membara.
- Anda penasaran? /Narasiman bertanya.
- Yeah!! /balas viewers
- Sama saya juga!! /Balas Narasiman yang ikutan penasaran.
Akhirnya itu hanyalah obrolan yang dibuat oleh narasi itu sendiri tanpa menghadirkan tanda kutip bahwa itu masuk dalam obrolan, semakin banyak orang mulai keluar, dan lalu klose, mereka out of the story, dan mencari keindahan lainnya di story sebelah yang mantap.
Narasi ini akan mulai melakukan protes semakin memanjang, mengingat ia sudah bicara sampai-sampai mulutnya berbusa, tetapi pembaca tidak asyik karena mereka tidak punya waktu membaca Narasi panjang yang membosankan.
"Woy!!!" Narà berteriak, "Kenapa giliranku lama!!"
"Benar, Narasiman ini membuang-buang waktu!!" Seru Mana.
- Ini obrolan, dan barusan itu obrolan, buah dari protesan mereka kepada sang Narasi yang berusaha menang sendirian agar dia doang yang disorot di depan kamera hari ini, dia juga kepengen terkenal dan lalu eksis dimana-mana.
"Narasi sudah terkenal dalam cerita, bahkan di film sebelum awal mulai masalah, Narasi pasti ada!!" Seru Narà.
"Ini semakin menjauh dari nilai keseruan.." Komentar Mana.
Mulai sekarang ini giliran narasi, dia harus beraksi disini dan membuat dua orang ini pusing-pusing lalu tidur kemudian karena tidak tahan dengan Narasi cerewet.
Melewati konsep ini, ini adalah eksistensi yang membosankan, semakin membosankan hingga membuat sang Narà mulai menunjukan tanda-tanda dia akan mengeluarkan kemampuannya.
Mata memerah, ini adalah Zone of the End, "Narasi, jangan sok tau, ini bukan Zone.. melainkan mataku memerah karena lampu disini terang, pasti lampu Phillips ya?!!"
- Yoi mamens.
Tapi, sayang sekali, adegan ini akan kuambil lagi, aku ingin beraksi, karena mas Smanowszky sudah mengubah adegan kalian dengan adeganku yang cetar membahana..
"Aku kesal..." ucap Narà.
Buat apa kes-
Layar sudah gelap, segelap langit tanpa bintang-bintang, segelap kopi panas yang coba kamu minum.
"Seperti mati lampu?" Mana kebingungan, mengapa semuanya menjadi gelap.
"Ya, karena kemampuanku membuat apapun menjadi gelap.."
B E R S A M B U N G