1+1: New

1+1: New
Chapter 185 - Berapa?



Berapa teguh seorang lelaki?


Yang tetap tegar menghadapi hal-hal suram


Berapa keren seorang lelaki yang selalu tetap menepati janji?


Berapa besar semangatnya yang selalu tegar dan tak mengeluh? Berapa persen kemampuan lelaki? Yang bisa menolak kekerasan suara?


Apa yang kamu harapkan dari seorang Cohnan, karakter sampingan yang bisa saja kalah saat terjerembab menghantam tanah, gendang telinga pecah, berdarah tak terkira, meringis kesakitan Ia, mungkinkah kirimkan saja Ia kedalam kereta, yang tak tahu kereta tiba pukul berapa?


"Dia mungkin akan kalah , Cohnan.." ucap Nicki, "Tapi, bukankah Ia juga belum memperlihatkan Zona-nya?"


"Huh? Dia tak terlihat seperti olahragawan, aku ragu.." ucap Mana.


"Kita tak memiliki seseorang yang bisa diandalkan kah?" Bossun masuk dalam obrolan.


Mereka juga mendengarkan dentum meriam mendadak, suara bising-bising seperti dentuman meriam.


Tetapi mungkin saja mereka tak terkejut, atau mungkin telinga mereka sedikit berdengung, menangkap objek suara pun agak sedikit susah.


"Cohnan, kau tidak punya kesempatan untuk mengalahkan Stadion, kekuatanmu ternyata cukup menarik.." Nicko berucap, namun tak kunjung beraksi, dia masih tetap saja membaca komik To Love Ru.


Mereka berucapkan kata begitu, sebenarnya seperti apakah Zona sang Cohnan, mereka masih tetap mengejek Ia yang terjerembab, tak menghormati semangatnya, tak menghormati kekerenannya meskipun cukup sebentar.


Apakah karena mereka sudah kenal lama, sedangkan Cohnan cuma pendatang baru? Inimah sudah dibatas wajar, membully karakter baru demi popularitas semata, seperti fens-fens Naime Taipi .


Soundtrack mulai terdengar; seperti sebuah lagu yang akan membangkitkan seorang Cohnan dari kekalahan.


~ Berapa jauh seorang lelaki


~ Tempuh jarak lalu jalan mendaki


~ Berapa cepat seorang lelaki


~ Tanpa keluh sigap dia berlari


~ Berapa jauh seorang lelaki


~ Tempuh jarak lalu jalan mendaki


~ Berapa cepat seorang lelaki


~ Tanpa keluh sigap dia berlari


~ Berapa dalam seorang lelaki


~ Selami lautan demi tepati janji


~ Berapa keras seorang lelaki


~ Pecahkan cadas di atas kaki sendiri


~ Berapa dalam seorang lelaki


~ Selami lautan demi tepati janji


~ Berapa keras seorang lelaki


~ Pecahkan cadas di atas kaki sendiri


[ Tcih ]


Apakah itu kekerenan sang Cohnan yang bangkit, mata merah merekah. Apakah Cohnan memiliki Zona yang khusus untuk diaktifkan dengan ejekan?


"Benar, Cohnan bukanlah seorang sportman , tetapi dia bisa bermain sepakbola, bahkan ikut futsal di-mana-mana, itu sudah memungkinkan dia bisa mengakses Zona, tetapi, agar bisa mengaktifkan lebih cepat daripada menunggu dia terlalu kritis, kita cukup mengejeknya maka dia akan bisa memasuki Zona.." Nicki berkomentar, nampaknya Ia sudah tahu bahwa Cohnan memiliki Zona paling menarik.


[ B-Berapa jauh seorang lelaki ]


"Tidak tahu?" Jawab sang Stadion tak tahu-menahu.


Terlihat sang Cohnan berdiri dengan badass abis, dengan wajah sedikit berdarah karena wajahnya menghantam lantai.


"Zona of the End: Koi wa Thrill, Shock, and Suspense..."


"Zona apa ini???!!!"


Misteri, ketegangan, misteri, hiruk-pikuk mewabah, hal-hal menakutkan mulai tak terbendung, mendominasi setiap penglihatanmu.


Zone of the End: Koi wa Thrill, Shock, and Suspense (Cinta adalah Sensasi, Kejutan, dan Ketegangan)


Zona ini menciptakan sebuah ilusi yang menayangkan kisah cinta yang suram , menyayat hati, membuat anda mewek, bahkan bisa tegang karena ada sensasi yang mengejutkan, bahkan beberapanya membuat sensasi sedih hingga membuat anda ingin menangis.


Mulai dari perselingkuhan, pengkhianatan, cinta dengan ending terburuk, cinta segitiga hingga akhirnya saling tikam.


Sang Stadion mungkin akan sedih, karena dia seperti menonton sinetron yang ingin membuatnya bersenandung, 'Kumenangis, membayangkan betapa kejamnya dirimu padaku'


"Hiks-hiks-hiks..." Bersedih Ia terjebak dalam ilusi, perasaannya dibayang-bayangi oleh hal-hal suram yang tak terbendung.


Tetapi, apakah Ia masih memiliki semangat untuk mengeluarkan kemampuan utamanya?


"Aku juga.. hiks-hiks.. aku-juga... akan semangat... hiks.. hiks.. aku menghormati seranganmu, serangan kesedihan, merasakan derita tiada akhir, berapa? akupun tak tahu harus menjawab apa, tetapi aku tahu cara menghormati kemampuan lawanku..."


Menghormati? Dilihatnya entah apa, dan tak terkira merasakan apa, seperti tak terduga Popcorn sudah berada di tangannya, dan lalu mencomot-comot Popcorn secuil demi secuil , dimakan renyah terasa, dan mereka yang melihat adegan ini mulai keheranan.


Seperti penonton film yang ingin menikmati tayangan, kebanyakan mereka menikmati tontonan sembari makan popcorn.


"Enak..." ucap sang Stadion, tetapi Ia juga tersenyum, nampak ingin mengeluarkan serangan balik untuk sang Cohnan.


"Giliranku ya?" Sambungnya, serius Ia dengan tak terbendung, seolah ingin kalahkan Cohnan, seperti merapal jutsu, atau hanya hal-hal formal agar membuat Ia terlihat sangat anggun di kamera.


[Stadion Avenue: Koshien Stadion!!!]


Apakah ini nama jurusnya? Apakah ini adalah kemampuan sang Stadion yang Ia keluarkan sekarang.


"Kau tahu kan, Stadion Baseball Koshien? Mereka cukup bising, sorak-sorai pendukung pun mewarnai, bahkan lemparan kecepatan yang terduga bisa saja melesat ke arah bangku penonton... dan bahkan, mungkinkah beberapa bola baseball akan melesat kearahmu?"


Stadion Skydiving


Kemampuan: Wilayah Stadion/Stadium


Kemampuan ini mampu menciptakan Zona Stadion, dimana musuhnya merasa berada disebuah stadion sepakbola atau apapun itu, dan tergantung stadion apa maka sorak-sorai akan berbeda, dan serangan dari bangku penonton akan seperti apa, seperti lemparan tak bertuan, atau bahkan cemoohan untukmu yang gak keren sama sekali.


Intinya kemampuan ini bermaksud untuk menjatuhkan mental sang lawan dengan suara penggemar atau apapun itu, teramat aneh dan bahkan saking anehnya; Author agak bingung ngejelasinnya gimana.


Lantas saja melesat, bola bisbol dari lemparan yang tak bertuan, tak ada pelempar namun beberapa bola melesat tak karuan, ingin mengenai target.


"Kurasa...." Cohnan tersenyum, Sia-sia-kah Ia berjuang untuk bangkit, bahkan sampai di hina agar bisa mengeluarkan Zona.


"Kau sudah merasakan kekalahanmu kan?" Masih sombong sang Stadion, bahkan senang Ia saat bola baseball menghantam tubuh sang Cohnan secara beruntun.


"Ugh.... " Meringis Ia, merasakan rasa sakit Ia, berusaha mencari ide kah Ia, guna mengalahkan serangan yang tak terbendung inikah?


Masih tak ada tanda-tanda, mungkin memabg Cohnan akan kalah, atau malah ada sebab-akibat yang menimbulkan ajaib secara instan.


Cohnan adalah siapa, berapa lama seorang lekaki memikirkan kata-kata, berapa? berapa? dan berapa? berapa lama seorang lelaki harus mengetik cerita aneh ini? berapa? berapa? berapa dan berapa?


Masih tetap saja tak terbendung, apakah ini akhir sang Cohnan, tetapi, tangan kanannya masih tetap Ia masukan kedalam kantong celana sebelah kanan-nya, apakah dia memiliki siasat keren?


Apakah ini semacam eksekusi? tak terduga mewarnai hatimu yang rapuh ini?


"Kali ini bukan berapa lama seorang lelaki tak mengeluh.." Cohnan dengan wajah yang terluka, Cohnan yang memperbaiki kacamata, meskipun lensa sudah pecah, apakah ini siasat paling keren.


"Huh? Kau kan terserangkan oleh bola-bola yang tak bertuan, kenapa masih bisa berucapkan omong kosong? Kau sinting? Apakah pertanda tiga puluh detik menuju kematian?" Tanya sang Stadion, nampak Ia tak mengerti, ataukah Ia tak tahu-menahu, soal insting detektif dan peralatan yang selalu mereka bawa.


"Jumlah episode Detective Conan, ada berapa?" Pertanyaan teraneh, dilontarkan oleh Cohnan yang memplesetkan Conan.


"Tak tahu, tapi aku pernah menonton episode 1-nya, itupun cuma sampai Ia ketahuan sama orang jahat, aku tak lanjut karena grafiknya burik..." jawab sang Stadion.


"Ah, pemuja grafik, kalau begitu..." Cohnan tersenyum, lantas saja tangan kanan sedaritadi bercengkrama dengan kedalaman kantong celana miliknya Ia keluarkan saja sembari menghadirkan objek yang takkan diketahui oleh sang lawan.


"Berapa lama lagi kau akan kalah?" Kembali sang Cohnan bertanya.


"Kaulah yang akan kalah, brengsek!!" Bentak Stadion.


Berkata aneh adalah Cohnan, bertanya aneh adalah Ia, menyaksikan Detective Conan hingga seribu episode adalah Ia, berapa lama musuh yang Ia hadapi akan kalah?


"Secepatnya..." Cohnan berucapkan kata penutup, sembari seperti jam tangan yang mengeluarkan sebuah jarum; apakah ini teknik detektif.


"Huh?"


Wishhhhhh..


Menekan jam tangan, melontarkan jarum tak terduga, dan tak terbendung, tak ketahuan, tak bisa dicegah, tak tahu akan kemana Ia mengarah.


"Nyerang angi-"


Duarrr ilang.


Duar terjatuh Ia, seperti Kogoro Mori, saat terkena obat bius.


"Kelar..."


Pada akhirnya, Stadion hanya menghadirkan Stadion Koshien, dan Stadion dari sepakbola tak Ia pergunakan.


Mungkin itu akan jadi langkah kritis yang tak berguna, karena hinaan celaan suporter sepakbola hanya akan menjadi penyemangat sang Cohnan.


"Dia menang ???!!" Nicki terkejut.


"Bagaimana bisa!????!! Dasar detektif licik??!!" sambung Mana.


"Hebat!!" Komentar Nicko.


"Aku suka.." Sambung Jack Christoforus.


"Saikyou da.." Komentar Niji.


"Sramzz abiezz.." Sambung Rainbow.


"Berapa lama aku masih akan berdiri?" Cohnan mendadak memberikan pertanyaan kepada mereka semua.


"Tak tahu?" Balas mereka serentak.


"....." Menatap datar Cohnan kearah mereka semua, dan dalam hitungan detik Ia tumbang kembali, menghantarkan tubuhnya kembali terbaring di lantai.


B E R S A M B U N G