
Kita mendapatkan musuh, kita mengalahkannya, mungkinkah cerita ini monoton dan mudah ditebak, karena selalu setelah kalah, sudah pasti akan muncul pengganggu lain, seberapa banyak kah anakbuah Niji en Ciel?
Mungkin saja bisa dihitung oleh jari-jemari kakian, bahkan Senseih Teacher si Zona Anak TK pun kalah.
Ingatkah engkau kepada, alur cerita ini berjalan, yang menemanimu dikala kegabutan, ingatkah engkau kepada ingatanmu yang pernah membaca cerita ini, menemanimu menunggu cerita favoritmu rilis.
Ingatkah engkau kepada, pagi hari bersahaja, ada embun, dan panorama pemandangan pagi lainnya, dan destinasi hatimu merasakan bahwa kota ini biru, dan kemudian mengerahkan semangatmu untuk menggambarkan suasana pagi biru ini di kanvasmu, dan kamu semakin bersemangat untuk membuat pagi birumu semakin berseni.
Kita tak pernah tahu, atau bahkan pembaca ga pernah tahu, apa yang dimaksudkan oleh sang narasi, dan apa yang coba Ia tuangkan dalam ketikan yang membosankan.
Apakah Hokkaido itu biru, ataukah sesuatu itu biru seperti dalam kartun yang rilis musim ini?
Pagi sudah terlaksanakan, dan bahkan sang bulan hilang, mulaikah Ia akan muncul, belum, ini masih teramat pagi, jalan raya pun masih sepi.
Adakah Manusia lain, selain mereka berdelapan yang menuju ke Mansion, musuh baru yang keren, dengan kekuatan yang keren dan gak lawak kayak sebelumnya.
Terkadang ekspektasi keren menghilang, saat hal yang tak jelas menjadi plot berjalan.
Seperti biasa, sang Niji en Ciel selalu senang saat suruhannya akan kembali beraksi, kali ini siapakah yang akan Ia kerahkan untuk mengalahkan musuh-musuh?
Teknik Train si Kereta bahkan kalah, yang notabenya dia mensummon kereta api yang lebih berat daripada bus.
Teknik Kipas Angin Terbangnya bang Herikoputeru bahkan gagal, dan sekarang Terminal si Terminal Malam juga kalah oleh mereka.
Apakah kekuatan unik ini tidak akan bisa mengalahkan mereka? Jangan salahkan mengapa mereka kalah, tapi salahkan mengapa mereka menjadi tokoh sampingan di cerita ini.
Jalan raya membentang sepi, masih tak ada kendaraan lewat, apakah ini hari libur, makanya mereka para pekerja kantoran tidak terlihat, bisa saja kan? Tapi sepi begini sudah tak wajar, menandakan keanehan yang berlebihan.
Delapan orang ini bingung, mengapa sepi, mengapa sunyi, mengapa tak ada bunyi nyaring suara knalpot motor, klason-klason yang berbunyi bahkan tak ada.
Apakah kemampuannya adalah memanipulasi pergerakan, atau malah tentang memanipulasi hari, atau tentang memanipulasi kendaraan agar tak lewat di jalan ini , seperti teralihkan oleh blockade jalan.
Kemampuan spoiler tak bisa digunakan , tegapi seseorang yang bisa menjawab adalah Nyonya yang akan direkam oleh lensa kamera sekarang.
"Aku menyerahkan ini kepada sang kehebatan di jalan raya, dia memiliki julukan 'Highway to Despair..." Niji memberikan spoiler kepada pembaca yang penasaran tentang karakter yang muncul sekarang.
"Cars Skydiving, dia adalah karakter paling berbeda dari semuanya, dibandingkan mengerahkan kekuatannya lebih dulu yaitu kemampuan utamanya, dia lebih menggunakan zona of the end..." Niji semakin intens memberitahukan, "Kemampuan aslinya adalah menciptakan mobil dan menabrak musuh-musuhnya, hampir sama dengan Terminal, tetapi Terminal tidak memiliki Zone of the End..."
Apa yang coba kalian jelaskan, dan apa yang sedang mengintai dari kejauhan, dan Ia tersenyum melihat delapan orang yang berlarut-larut dalam kelelahan.
Mata merah merekah, dia lebih mengaktifkan Zona daripada kemampuan utama, "Jalan ini tiada akhirnya , karena aku mampu memperpanjangkan jalan, memperpendek jalan, memanipulasi arah jalan, bahkan bisa membuat jalan menuju ketersesatan, tersesat di tempat berbahaya, sampai teramat mungkin bisa membawamu kedalam rasa putus asa..." Cars berceloteh.
"Zona of the End: Highway to Despair.."
Jalan Raya Menuju Keputusasaan, adalah jurus yang membuatmu lelah mau menemukan jalan yang benar, semakin lama engkau berjalan, semakin lelah, haus, dan penat dirimu, begitulah mengapa ini disebut sebagai Jalan Raya Keputusasaan.
Mereka ada di jalan, mereka berjalan, mereka tak melihat pemandangan yang langka, dan ke sana ke sini melihat sekitar, tak habis pula mendapatkan apa, hanya kekosongan teramat mencekam.
Dibandingkan itu , meskipun jalan raya membentang luas, ada rumahan di mana-mana, tetapi seperti tak bertuan, lapangan luas pun tak ada , himpitan bangunan sempit, sekiranya merajai tempat ini, apakah ini ulah-ulah orang kaya yang melakukan pembangunan di mana-mana dan akhirnya mengorbankan rumah penduduk pribumi dengan membeli harga mahal, lepas itu tak tahu mereka entah ke mana, mau melakukan apa, apakah uang mereka habis dengan cara hambur-hamburan, misteri.
Hidup seperti kapsul waktu, kamu akan menua semakin sering hari berganti.
Tanda-tanda pribumi, adalah bagian dari tiang gawang bekas reruntuhan, itulah yang mereka lihat saat mereka semua berjalan di jalan raya keputusasaan.
Sisa bangunan yang tergusur
Tanah lapang hanya tinggal cerita
Yang nampak mata hanya
Para pembual saja
Anak kota tak mampu beli sepatu
Anak kota tak punya tanah lapang
Sepak bola menjadi barang yang mahal
Milik mereka yang punya uang saja
Dan sementara kita di sini di jalan ini
Bola kaki dari plastik
Ditendang mampir ke langit
Pecahlah sudah kaca jendela hati
Sebab terkena bola
Tentu bukan salah mereka.
Apakah ini semacam cerita yang berusaha mengangkat isu sosial? Atau tentang kekhwatiran bahwa semakin lama dizaman sekarang tanah lapang semakin jarang, dibangunkan bangunan kokoh yang mewah.
Dan mereka yang tertunduk adalah kaum-kaum yang kalah dalam hal keuangan, menjualnya dengan harga menarik karena tawaran dari orang-orang kaya teramat menarik daripada pendapatan mereka setiap tahun.
"Ini adalah tempat yang cukup sepi, mengapa? Karena ini adalah tempat tinggalku dulu..." Cars berucap, dia masih tetap mengamati ke mana mereka akan berjalan, di mana mereka akan kalah dan menyerah, pasrah terhadap dominasi keputusasaan.
Melihat Manusia lain menderita, mungkin adalah keinginan sang Cars, seakan-akan otaknya akan bergetar seperti Betelguese Romanee Conti.
Jalan keputusasaan berarti mereka harus melihat betapa kelamnya jalan ini , dan betapa sedihnya pribumi yang pernah mendominasi tempat ini.
Mungkin terlihat murung wajah pribumi, sesaat akan mendapatkan pengusuran, atau tertunduk lesu wajah pribumi, melihat pembangunan yang orang-orang kaya lakukan lebih berwarna daripada saat mereka ada di sini.
Sampai keputusasaan ini berlanjut, dan sejauh mana jalan ini akan berakhir, mungkinkah menjelang malam, dan kembali pagi, mereka takkan sampai ke penghujung jalan ini.
Apakah mungkin ada trick licik dari sang Cars, dia masih mengikuti santai , bahkan tak melelahkan Ia rasakan, karena dialah pencipta area ini, mana mungkin dia lelah, aneh-aneh saja.
Cerita ini hanya menampilkan mereka berjalan, bahkan tak ada adegan mencengangkan yang lain, didominasi oleh narasi, didominasi oleh jalan kaki, dan didominasi rasa putus asa, lihatlah mereka yang berjalan di jalan raya, korban dari sang Cars yang memanipulasi jalan.
"Highway to Despair, akan membuat kalian menyerah..."
B E R S A M B U N G