
"Aku bukanlah siapa-siapa.."
"Aku hanyalah... Tukang kebun..."
Kata-katanya adalah kebenaran, pakaian dan gayanya eksistensi yang tidak bisa ditolak keberadaannya.
Dia hanyalah tukang kebun, dan itulah kebenarannya, dia hanyalah anakbuah dari mas Nijiiro yang tidak tahu-menahu soal konflik.
Tatapan matanya kemudian tidak menyeramkan, matanya menutup dengan sendirinya, Cangkul yang sedaritadi dia pikul kemudian dia letakan ketanah.
"Seperti monochrome... dan mataku menutup seperti kelopak bunga..." Benar saja, matanya tertutup, seperti orang tertidur, dia mungkin merem.. "Zone of the End: Sakit Mata!!" Kemampuan sang Tukang Kebun ini adalah, ini membuat matanya sakit dan harus merem, dalam keadaan merem, dia bisa melihat pergerakan orang-orang.
"Mas Asep, kamu sudah 49 tahun, kamu sudah bukan olahragawan mumpuni seperti dulu, jangan melawan mereka!!" Teriak Rainbow.
"Dakara hayaku... Isshin furan oberete goran..." Asep bersenandung, "Kairaku e to yami e to rasen kaiden..." sambungnya, "Zone: Actived...."
Bahkan meskipun dia merem, bahkan seperti dia tidak bisa melihat apa-apa, setelah membacakan mantera lirik lagu, dia bisa melihat semua pemandangan disini dengan luas...
"Dia sedang ngapain? Apakah dengan menyanyikan lagu Enamel dia bisa seganteng Gojo Satoru???!!!" Nicki terkejut.
"Gojou Satoru bukan di situ, dia ada di Jujutsu, Jujutsu dan Kuroshitsuji adalah hal yang berbeda!!" Bentak Nicko.
Sementara itu keberadaan Cohnan sudah tak ada, muncul satu Pria dengan badan tinggi mantap dengan wajah cetar membahana, membuat cewek-cewek mungkin bisa hangat, "Bagaimanapun kebenaran hanya ada satu!!! Rainbow!! Kau akan ditahan!!" Teriak Pria ini.
"M-masaka???!! K-kimi wa??!!! Ano detektif esemah yang terkenal itu???!!!" Mendadak si Asep terkejut, dia bahkan berjalan sambil merem dan mendekat kearah sang Karakter Sampingan yang datang mendadak.
"Yeah.. This is me... Shunichi Kidou, Detektif..."
"Aduh, makin gajelas saja adegan ini, aku serasa mengantuk dan ingin tidur dengan santai tanpa harus melihat keberadaan membosankan yang diperlihatkan konsep cerita ini.." Nicki mengeluh.
"Sudah saatnya tokoh utamanya berganti, dia sangat membenci cerita ini dan sang penulis, setiap waktu, kelebihannya hanya berkomentar dan melakukan kritik, padahal harusnya bersyukur karena dia sudah menjadi tokoh utama disini..." ucap Seigino Mikata. Kemampuan Sinkornisasinya belom dia gunakan, karena kemampuannya gak berguna buat bakuhantam, bahkan dia tidak tertarik menyelamatkan Rainbow yang penuh dengan kecantikan.
"Untung aku sudah bercermin, jadi aku tidak membuka tirai kamar untuk mengintai Rainbow-ojousan.."
Asep, nama lengkapnya adalah Asep de Khang-Khebon. Dia adalah eksistensi terunik yang takkan bisa ditebak oleh para musuhnya, dengan kemereman yang tidak berguna, dan Zone of the End-nya bukanlah mengharuskan matanya memerah, melainkan mengharuskan dia menutupnya.
".... Eksistensi yang kurasakan bukanlah sekedar aura Organisasi Baju Coklat, ini seperti...." Shunichi mulai bergidik ngeri, dia merasa dalam penampilan Asep tidaklah menakutkan, tetapi di dalamnya, mungkin tertera eksistensi kejahatan yang sempurna.
"Ini... Bukan eksitensi kejahatan, tetapi eksistensi keindahan???!!" Sambungnya, dia mengoreksi narasi.
"... Wilayah Kekuasaan...." Dari kemeremannya, dia tersenyum, senyuman itu tidaklah menakutkan, melainkan menghadirkan rasa nyaman yang sempurna bagi orang-orang yang menyukai keindahan.
".... Kekuatannya tidaklah menakutkan, toh dia hanyalah tukang kebun... tetapi.. keindahan itu akan menghanyutkan dan membuat kenyataan yang kelam menjadi keindahan tak berujung..." Rainbow berkomentar.
Wilayah Kekuasaan Asep de Khang-Khebon sudah memperlihatkan eksistensi keindahan, kebun bunga yang dipenuhi keindahan, ada yang belum mekar, karena keindahan kemekaran adalah hal yang harus dipertunjukan kepada orang-orang yang ingin melihat keindahan berlebihan.
"Wilayah ini???!!!" Nicki terkejut
"Kirei da!!" Mana berspekulasi.
"Kakkoi!!" Nicko memuji
"Tidak menakutkan.." Bossun meremehkan.
"Ah lupa..." Rainbow berkata, seakan-akan dia mengingat sesuatu yang lebih parah, "Jika bunga bermekaran... maka...."
"Ssstttt... Biarkan rahasia menjadi rahasia..." Asep menganjurkan agar sang Rainbow tidak membongkar rahasia.
"Souka..." Kidou mulai memperlihatkan insting detektifnya, "Pelakunya adalah orang itu!!" Sembari menunjuk kearah Asep.
"Kalau itu udah tau, soalnya dia kan ngeluarin kemampuan gak rahasia-rahasiaan, detektif bodoh!!" Bentak Nicki.
Asep tersenyum, "Kalian adalah tokoh-tokoh yang berwatak jahat bagi keluarga Skydiving, karena kalian datang tak di undang, mau pulang harus diusir.." Asep berucap, "Maukah kalian go to heaven?"
Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang akan membuat mereka pergi dan menghilang dari peradaban, "Bungaku tidak membenci kalian, karena bunga hanya ditakdirkan untuk tumbuh dan mekar, kemudian layu dan mati..."
"Flower Never Hate the Wind...."
Bunga itu tidak ditakdirkan untuk membenci angin, meskipun angin merusak segala keindahannya, angin mencoba membuat dia keluar dari zona nyamannya, tetapi Bunga tidak pernah membenci angin.
Bunga ditakdirkan untuk mekar, rusak, layu, dan mati.
Wilayah kekuasaan sang Asep, perlahan-lahan mulai memperlihatkan kekejaman, keindahan ilusi yang menghanyutkan Manusia-Manusia kedalam keputus-asaan.
Bunga itu mulai mekar satu-persatu, "Flower: Serbuk Sari.."
"Ini??!!!!" Bossun dan Christoforus menghirup bau sang bunga yang mekar, membuat mereka dalam hitungan detik langsung roboh kemudian.
Seigino tidak berguna, tetapi dia melemparkan eksistensi yang sudah bisa ditebak oleh Rainbow, "Masker Anti-Asep!!" Seru sang Seigino.
Rainbow langsung memakai masker tersebut, bahkan satunya dia pakaikan kepada mas Nijiiro. "Wilayah kekuasaan milik Asep, terlihat indah namun berbahaya jika dihirup saat wilayah itu mekar.." Komentar Rainbow.
"Aku berputar-putar aku terpusing-pusing menghirup hal ini.... aku jadi pusing.. aku tau jurusnya aku tau wilayahnya tapi aku jadi pusing.... pusing..." Nicki mulai sempoyongan, dia merasakan efek wilayah kekuasaan dari mas Asep.
"Skakmat.. Jika kau mengandalkan Gitar dengan Zone tidurmu, maka aku menggunakan wilayah kekuasaanku yang penuh dengan eksistensi memabukan...." ucap Asep.
"Flower never hate the wind, but i am hate the flower.. why flower absolutely beatiful, meskipun tidak menggunakan riasan, mereka tetap indah, sedangkan aku... harus memancarkan keindahan jika merawat wajah..." Mana terlihat pusing juga, dia sempoyongan.
"Kemampuanku hanyalah umur, tapi aku adalah pecinta olahraga lomba minum beer.." sambung Mana yang sudah mabuk, "Kau lupa... meskipun pemabuk bukanlah olahragawan.... tetapi mata mereka bisa memerah..." Mana tersenyum, matanya kemerahan akibat mabuk, "Zone of the End: Anti-Negatife Aura..."
Dalam keadaan mabuk, karena serbuk sari milik wilayah kekuasaan Asep super memabukan, maka dalam keadaan mabuk, mata sang Mana bisa memerah meskipun tidak meminum beer dan alkohol, dia bisa memasuki Zone jika dia mabuk.
Zonenya adalah mampu mengabaikan unsur negatif yang mengganggu tubuhnya, "Jadi... Asep-san, pertarungan kita baru dimulai, Kan?"
Tatapan intimidasi dari orang mabuk, adalah kekuatan yang bisa menyerang balik wilayah kekuasaan sang bunga.
"Aku membenci bunga...."
B E R S A M B U N G