
"Wow.. Mantap.. Sudah gelap.." ucap Mana.
"Memang sangat gelap.." balas Narasi.
"Wow aku terkesima.. wow aku tersanjung, wow aku tertarik, wow wow wow wow wow wow wow..." balas Mana.
"Ratusan orang tidak menyadari kalau terus gue harus bilang wow ternyata mereka sudah bilang wow?!!" Naràsiū terkagum-kagum, dia terpesona oleh ketidaktahuan yang menjadi tahu akan hal yang selalu menjadi misteri.
Adegan ini menjadi hening, pergerakan mereka tidak kelihatan, karena saat ini kamera bukanlah atribut inframerah, bahkan sekarangpun mereka dalam kegelapan.
"Seperti dalam Kurayami no Konan?"
"K-kau menyebut namaku?!" Konan dalam kegelapan, dan Cohnan dalam kesalahan pendengaran, Cohnan dan Konan adalah berbeda, terkesan hampir sama tapi tidak berbenturan.
"Chotto???!! C-cohnan? K-kau berada disini? Keluarkan rumus matematikamu!!" Seru Mana.
Mereka tidak bisa melihat satu sama lain, bahkan sang pemilik kemampuan gelap ini juga tidak bisa melihat mereka dalam kegelapan, seperti Konan dalam kegelapan, dan saat ini bahkan ada Cohnan dalam kegelapan, dalam kegelapan mereka ditemani oleh pencipta kegelapan yang tidak bisa melakukan apa-apa dalam kegelapan miliknya sendiri.
"Saat semua gelap, maka yang terlihat tidak ada disini, bahkan cahaya dari hapemu takkan ada.. karena dalam kegelapan tiada akhir.. maka kegelapan akan merebak kedalam sumber cahaya.." ucap Narà.
Strategi apa yang harus digunakan untuk menghadapi kemampuan ini, bahkan tanpa ada cahaya tidak akan bisa melihat dalam kegelapan.
Mana mulai berspekulasi, dia bertingkah layaknya detektif untuk saat ini, meskipun adegan dia berfikir tidak terlihat dalam kamera, dia tetap berusaha memikirkan sebuah skema.
"Marude Kurayami no Cohnan.." ucap Cohnan, "Toh, aku Cohnan bukan seperti lagi, tapi emang berada dalam kegelapan untuk saat ini.."
"Semakin lama, pikiranku menjadi tidak ada, unsur kegelapan seperti wabah yang akan membuatku ikutan kelam, apakah kemampuan gelap ini bisa menguasai unsur cahaya dalam hatiku?" Mana mulai memegang kepalanya menggunakan kedua tangannya, dia mulai bertingkah ngeselin... "Otakku bergetar!! Otakku bergetar!!" Untungnya sikap ngeselinnya ini tidak terlihat oleh lensa kamera.
Mana mulai mengendap-endap, dia mulai masuk kedalam skenenisasi membingungkan, menjadikan dinding sebagai patokan untuk bertahan dari benturan yang berbahaya, mungkin ada eksistensi suara televisi yang hidup tapi tidak menunjukan cahaya. Hanyalah suara yang terdengar tanpa ada unsur cahaya.
Strategi merepotkan yang tak ada akhirnya, memikirkan konsep mengakhiri pertikaian dengan semaksimal mungkin tanpa menimbulkan korban jiwa.
Mana terhenti, kakinya menginjak eksistensi teraneh, mungkin itu adalah remot tivi dengan bentuk memanjang.. "Eksistensi strategi ini, bergantung pada remot dan bergantung padaku yang salah menekan tombol!!!" Mana mulai menekan-nekan tombol, layaknya pengingat dalam situasi terkini, dia menekan-nekan tombol sembari memastikan dengan pendengarannya kalau suara sang tivi berganti-ganti. "A-aku harus menemukan iklan terbagus, iklan yang menawarkan konsep penerangan membara yang bisa melawan segala jenis kegelapan!!" Seru Mana.
Bunyi sesuatu lagi kembali terdengar, ini adalah langkah kaki dari dua orang yang mengendap-endap. "Mana, kaukah disini?" Suara ini adalah suara sang Cohnan, dia kesini karena mendengarkan sumber suara bising, mungkin mana tidak sengaja menekan tombol volume yang akhirnya membuat suara tivi terdengar hingga kesana.
"Hoh? Kau ingin mengecek cahaya televisi? Tidak ada.. apakah kamu salah spekulasi, Meitantei Mana?" Suara ini adalah suara milik mas Naràsiūman. "Kau sudah akan kalah disini, dengan kegelapan mencekam, dalam waktu empat jam kemudian, dikarenakan matamu terlalu lama melihat kegelapan, maka matamu akan ikutan kelam tanpa penglihatan."
"N-nani?!?!!" Mana terkejut.
"Yeah.. Singkatnya... Matamu akan buta.. bahkan Cohnan.. Kalau aku tidak.. karena dalam kegelapan mencekam, aku menutup mata.." Balas sang Naràsiūman.
"Souka.. Souka... Souka.. Souka.. Souka.. Souka..." Cohnan berkata Souka terlalu banyak, mungkinkah dia mulai menggila dalam kegelapan mencekam tanpa penglihatan? "Souka-souka-souka-souka-souka-souka-souka-souka.."
Dia mengatakan Souka, bukti dia mendapatkan pencerahan yang good, "Souka... souka.."
"C-cohnan?!?!!"
"Aku sudah memecahkan unsur misteri ini, kemampuan ini memiliki satu kelemahan fatal!!!" Teriak Cohnan.
"Mustahil, kemampuanku tidak ada counter-attacknya, teruslah bermimpi dalam kegelapan mencekam, wahai Detektif ampas yang terjebak dalam kegelapan.." balas Naràsiūman.
"M-masaka??!!!" Mana mulai mendapatkan secercah harapan juga, entah kesamaan fiktif apa yang difikirkan oleh Cohnan dan Mana dalam situasi mendesak seperti ini, dalam keadaan dimana sang pemilik kemampuannya juga tak bisa melakukan apa-apa.
Hanya menunggu keadaan semakin lama maka akan membuat cahaya dimatamu menjadi kegelapan tak berujung, jika mereka tak bisa mengelak dan kabur dari kegelapan, maka kegelapan tak berujung akan menenggelamkan mereka semakin dalam kedalam kegelapan yang kelam.
Konsep menanti, adalah konsep strategi terakhir, strategi yang masih dalam konsep pengembangan, jika sudah disetujui maka itu akan dilaksanakan semaksimal mungkin agar bisa mengalahkan kegelapan mencekam.
Apa yang coba mereka dengar dalam kegelapan ini, Iklan apa yang akan coba mereka cari untuk melakukan serangan balik, mempromosikan hal-hal unik untuk mengakhiri kegelapan?
Remot yang ditekan-tekan, dan adegan berganti-ganti, suara-suara berbeda terdengar dari televisi yang tidak ada cahaya. Dalam ketidak-beradaan cahaya.
"Chrome..." Mana berbicara, dia berkata keras, seakan-akan Chrome ini sebuah panggilan yang merujuk ke mas Naràsiūman.
"Hah?"
"Hah?"
"Sou desu yo.. seperti itu..." ucap Cohnan, dia sudah berhasil memecahkan segala jenis misteri, bahkan Mana sudah mengetahui rencananya.
"Chrome?? Apakah kau takut dengan kegelapan?"
"Hah?"
"Aku sedang bertanya, Chrome!!!"
"Aku bukan Chrome!! Namaku Naràsiūman!!" Bentak Chrome, "Woi!!!!!"
"Chrome... Souka... Chrome... Souka... Chrome.. Souka.. Chrome... Souka.. Chrome..." Cohnan tersenyum.
"Chrome... Jawab saja!!"
"Bukan!!" Naràsiūman semakin kesal.
"Chrome, dimasa modern, Manusia tidak takut dengan kegelapan, karena ada cahaya yang menyinari mereka.." balas Mana.
"Nani??!?!!!"
Iklan yang terputar bukanlah iklan yang men-endorse cerita ini, karena cerita ini bahkan tidak memiliki sponsor, mereka hanya berjalan dibawah naungan penulisan sang Szmanowszky.
"Bagaimana cemerlangnya harus berakhir, saat cahaya muncul dalam kegelapan, dan bagaimana adegan ini tercipta..."
- Aku akan melihatmu dewasa.
"N-nani??!!!" Seperti sang Naràsiūman mengetahui hal ini..
~ Merasakan cinta
~ aku akan melihatmu membangun hidup bersamanya
~ aku akan melihatmu membangun keluarga menjadi seorang ayah dan menikmati setiap saat setiap tahunnya.
~ mengetahui aku akan ada disini untuk ketenangan anda..
"M-masaka??!!!"
"Sou desu yo!!"
~ Lampu Philipu LED yang tahan lama..
"Lampu Philipu LED!!!"
Cahaya yang menembus kegelapan, "Chrome... mulai sekarang, kau takkan merasakan kegelapan!!"
"Tidakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk!!!!" Karena cahaya dari LED yang bahkan katanya bisa menyinari dunia, akhirnya kesuraman dalam kegelapan dikalahkan oleh cahaya lampu LED.
"Chrome... saatnya dunia akan bersinar dengan lampu Philipu!!"
Naràsiūman yang kelihatan dalam cahaya, dan tak bisa membuat kegelapan kembali saat ada unsur cahaya yang bisa menyinari dunia hidup.
"K-kenapa pabrik lampu menciptakan lampu yang bisa menyinari dunia???!!!"
Apa yang terjadi adalah ketidak berdayaan, dan bogeman mentah dari sang Mana mengenai wajah sang Naràsiūman.
"Wanita.. akan galak pada saatnya..." ucap Cohnan.
B E R S A M B U N G