Willea

Willea
84. Rasa Penasaran Luca



...◦•●◉✿Willea✿◉●•◦...


...‌𝓑𝓾𝓴𝓪𝓷𝓵𝓪𝓱 𝓴𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓬𝓲𝓷𝓽𝓪 𝓪𝓷𝓽𝓪𝓻𝓪 𝓦𝓲𝓵𝓵 𝓭𝓪𝓷 𝓐𝓵𝓮𝓪 𝓼𝓪𝓳𝓪. 𝓜𝓮𝓵𝓪𝓲𝓷𝓴𝓪𝓷 𝓴𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓭𝓪𝓻𝓲 𝓦𝓲𝓵𝓵, 𝓓𝓸𝓾𝓫𝓵𝓮 𝓛, 𝓛𝓮𝓿𝓲 𝓭𝓪𝓷 𝓐𝓵𝓮𝓪. 𝓚𝓪𝓻𝓮𝓷𝓪 𝓲𝓽𝓾𝓵𝓪𝓱, 𝓚𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓲𝓷𝓲 𝓫𝓮𝓻𝓳𝓾𝓭𝓾𝓵...


...◦•●◉✿Willea ✿◉●•◦...


“Cepatlah, kita ada waktu dua jam untuk melapor pada Tuan muda secara langsung!” protes Will lagi, saat menyadari Levi hanya ingin terus menggodanya.


“Okay, … Aku pergi mandi sekarang! Apa kau tidak ingin mandi bersama?” goda Levi lagi.


“Sialan kau, cepat sana!” seru Will yang akhirnya menendang pantat Levi untuk segera membersihkan diri.


“Astaga, lembut sekali kau jadi orang, Will! Coba tendang bokongku sekali lagi, soalnya terasa nikmat. Hahaaaa, ….”


Bahkan saat mau masuk kedalam kamar mandi, Levi masih saja menggoda Will.


“Dasar bocah psikopat gila,” umpat Will dengan kekesalan yang memuncak.


“Kalian bersihkan ruang itu. Pastikan tidak ada satu pun noda yang tersisa!”


Lalu Will pun menyuruh beberapa anak buahnya untuk membersihkan dan membereskan mayat yang ada di dalam ruangan interogasi.


“Baik, Tuan!” sahut mereka yang segera melakukan apa yang di perintahkan.


...****************...


Hampir 30 menit kemudian, Levi muncul dengan pakaian yang baru dan tercium bau wangi yang artinya dia menuruti apa yang dikatakan oleh Will sebelumnya. Setelah itu, mereka pun segera tancap gas menuju Mansion kediaman Xavier lagi.


Namun, sebelum itu Will sudah memberi kabar pada Rayden bahwa mereka akan datang untuk melaporkan hal penting. Sehingga begitu mereka tiba di Mansion Rayden dan Noland sudah menunggunya di ruang biasa.


“Selamat malam, Tuan! Maaf, mengganggu waktu istirahat kalian,” sapa Will sembari membungkuk memberi hormat dan begitu pula dengan Levi.


“Lupakan formalitasnya. Informasi apa yang kalian katakan itu sangat penting?” tanya Rayden yang tidak ingin banyak basa basi.


“Seperti yang diperkirakan oleh Felix, mereka sedang menargetkan Nyonya muda dan si kembar,” jawab Levi.


“Ada salah satu dari pengawal yang anda rekrut baru-baru ini yang menjadi mata-mata musuh. Akan tetapi, kami tidak bisa mendapat informasi lebih detail mengenai siapa orangnya,” imbuh Will yang membantu Levi menjelaskan isi laporannya.


“Sial, beraninya mereka mencoba bermain-main denganku,” umpat Rayden yang sangat geram begitu mendengarnya.


“Cano, lebih baik kita segera singkirkan semua pengawal yang baru kau rekrut itu. Semakin cepat kita bertindak, maka semakin baik untuk keselamatan Zhia dan si kembar.”


Noland mencoba memberikan saran yang terbaik untuk mereka lakukan saat ini. Sesaat Rayden memang memikirkan solusi yang sama persis dengan Noland, tetapi setelah dia memikirkannya kembali.


Rencana itu juga sangat beresiko, sebab mereka akan kekurangan pengawal untuk melindungi Zhia dan si kembar.


“Tidak, Pah! Kalau kita menyingkirkan semuanya sekarang, maka musuh akan lebih mudah menyerang Zhia dan si kembar. Sebab saat ini kita kekurangan pengawal untuk mereka, sebagian telah Cano alihkan untuk masuk ke dalam klan,” jelas Rayden yang tidak bermaksud menolak saran dari papahnya itu.


“Tapi, Tuan! Kalau kita tidak menyingkirkannya sekarang. Nyonya muda serta Tuan dan Nona kecil juga bisa dalam bahaya,” sela Levi yang ikut khawatir dengan kemungkinan terburuknya.


“Aku juga menyadari itu, Levi! Namun, kita tidak boleh mengambil keputusan gegabah di saat seperti ini,” jelas Rayden yang juga sedang memikirkan hal yang sama.


“Lebih baik kita awasi mereka diam-diam dan bersikap seolah tidak menyadari keberadaan musuh di antar kita. Dengan begitu, mereka juga tidak akan melakukan tindakan yang gegabah dengan menyakiti Zhia dan Si kembar terlebih dahulu,” lanjut Rayden yang mencoba mencari jalan tengahnya.


“Papah sependapat denganmu, Cano! Menurut Papah itu solusi yang terbaik untuk sekarang dan kita hanya perlu lebih berhati-hati dalam menjaga Zhia dan Si kembar,” ujar Noland sependapat dengan Rayden.


“Kalian tahu ‘kan apa yang harus di lakukan sekarang?”


Rayden tidak lupa bertanya akan tindakan apa yang harus di lakukan oleh Will dan Levi.


“Iya, Tuan muda! Kami akan melakukannya sebaik mungkin,” sahut Will dan Levi serentak.


“Bagus, beritahukan Felix dan Jaydon juga untuk membereskan tugas mereka secepat mungkin,” ujar Rayden lagi.


“Baik, Tuan muda!” sahut Will.


“Kami tidak mendapatkan informasi apapun dari mereka, maka dari itu kami langsung membereskannya,” jawab Levi dengan cepat agar Will tidak menjelaskan lebih mendetail apa yang sebenarnya terjadi dengan para mata-mata itu.


“Ouh, … Benarkah?” Rayden pun menjadi menatap Levi dengan curiga.


“Benar, Tuan muda.” Beruntung Will membantu Levi menjawabnya.


“Baiklah, kalian boleh pergi sekarang,” ujar Rayden yang masih menatap Levi dengan intens.


“Kalau begitu kami pamit undur diri,” pamit Will dan Levi sembari memberi hormat sebelum mereka pergi.


“Bukankah ada yang aneh dnegan bocah itu?” gumam Rayden yang masih terngiang ekspresi Levi.


“Pasti Levi yang membereskannya sendirian. Sudahlah, Papah mau kembali ke kamar untuk beristirahat,” ujar Noland yang menebaknya dengan tepat.


Noland dan Rayden pun kembali ke kamarnya masing-masing. Tetapi, saat sudah berada di dalam depan pintu kamarnya Rayden baru teringat mengenai permintaan Will yang ingin melamar Alea.


“Aaah, … Benar! Aku lupa belum memberitahukan semua orang tentang Will dan Alea!” seru Rayden begitu teringat akan hal itu.


“Sudahlah, aku bahas besok saja saat sarapan,” gumam Rayden yang tidak ingin terlalu memikirkannya lagi.


...****************...


Tanpa di duga oleh siapapun, setiap pembicaraan di dalam ruang kerja Rayden ternyata selalu di awasi oleh seseorang.


Dan ternyata orang itu adalah Luca, dia sudah mulai curiga dengan pa yang sedang terjadi saat penyerangan di taman yang melibatkan Levi dan adiknya yaitu Lucia.


Secara diam-diam, Luca memasang sebuah kamera di dalam ruangan itu dan selalu memutarnya setiap malam. Sehingga dari awal, Luca mengetahui semua masalah yang sedang terjadi.


Karena itu juga, dia selalu diam saat adiknya selalu bersikap manja kepada Levi. Sebab secara tidak langsung Luca mengetahui bahwa tidak tersisa banyak waktu lagi untuk mereka selalu bersama.


“Musuh Papah sekarang mengincar Mamah dan kami, aku sekarang tidak bisa pura-pura tidak tahu lagi,” ujar Luca yang sedang duduk melihat layar komputernya sembari memikirkan sesuatu.


“Salah satu pengawal yang Papah rekrut beberapa waktu ini adalah mata-mata musuh, tapi sejauh ini tidak ada yang aneh dari mereka. Jika yang mereka incar adalah Mamah dan kami, maka ada kemungkinan besar pengawal itu adalah seorang wanita. Akan tetapi, ada beberapa pengawal pria juga yang berada di samping kami,” gumam Luca yang mencoba memperkirakan siapa musuh terselubungnya itu.


“Jika itu adiknya, maka aku bisa menemukan siapa dia dengan memeriksa berkas informasi data pribadi mereka. Benar, aku akan coba meretasnya.”


Sebuah ide cermelang pun seketika muncul di otak genius Luca. Dia pun mulai bekerja dengan gerakan tangannya yang super cepat menekan papan keyboardnya.


Sehingga dalam hitungan menit beberapa data dari berbagai informasi orang yang ingin di selidiki Luca mulai terpampang memenuhi layar komputernya.


Bersambung,.......


...****************...


...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...


...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari setiap pukul 16.00 WIB ‘yah!😍😍...


...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...


...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...


...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....


...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...


...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...


...Agar tidak ketinggalan kisah seru Double L, keluarga Xavier dan para pengawal tampannya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...


...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...