Willea

Willea
44. Luca, Sang Genius IT!



...◦•●◉✿Willea✿◉●•◦...


...‌𝓑𝓾𝓴𝓪𝓷𝓵𝓪𝓱 𝓴𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓬𝓲𝓷𝓽𝓪 𝓪𝓷𝓽𝓪𝓻𝓪 𝓦𝓲𝓵𝓵 𝓭𝓪𝓷 𝓐𝓵𝓮𝓪 𝓼𝓪𝓳𝓪. 𝓜𝓮𝓵𝓪𝓲𝓷𝓴𝓪𝓷 𝓴𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓭𝓪𝓻𝓲 𝓦𝓲𝓵𝓵, 𝓓𝓸𝓾𝓫𝓵𝓮 𝓛, 𝓛𝓮𝓿𝓲 𝓭𝓪𝓷 𝓐𝓵𝓮𝓪. 𝓚𝓪𝓻𝓮𝓷𝓪 𝓲𝓽𝓾𝓵𝓪𝓱, 𝓚𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓲𝓷𝓲 𝓫𝓮𝓻𝓳𝓾𝓭𝓾𝓵...


...◦•●◉✿Willea ✿◉●•◦...


“Mereka tidak akan mengatakannya dengan mudah, Lev! Kau bermain saja pelan-pelan dengan mereka, karena kami tidak akan mengganggumu!” ujar Will mengingatkan pada Levi.


“Boleh aku pinjam belatimu, Jay?” pinta Levi yang tidak menanggapi perkataan Will sama sekali tapi malah langsung meminta senjata tajam.


“Hay, untuk apa kau meminta benda seperti itu?” seru Will yang mulai panik.


“Aku ingin mengembalikan sesuatu pada mereka. Cepat berikan belatimu!” ujar Levi disertai senyuman sinis diwajahnya.


Jaydon segera menyerahkan belatinya begitu saja, tampak Levi terlihat tersenyum menatap salah satu tawanan yang dari tadi terus mebalas pertanyaan Will. Kemudian, Levi memainkan belati pada tubuh orang tersebut.


“Baik kau mengatakannya atau tidak, aku sudah mengetahuinya sejak awal. Tapi yang aku sayangkan, kenapa kalian menyentuh paman Bastian-ku, Hah!” teriak Levi yang semakin marah jika mengingat kondisi Bastian sekarang.


“Kalian masih tetap diam, Hah! Maka aku akan kembalikan sepuluh kali lipat dari luka yang di alami oleh paman-ku!”


Begitu selesai mengatakan itu, Levi langsung menusukkan belati itu pada dada kiri dan kanan pria itu berkali-kali. Tanpa ada rasa belas kasihan, Levi terus menusuk pria itu dengan penuh kemarahan.


“Matilah secara perlahan, karena aku tidak mengijinkanmu mati dengan mudah,” bisik Levi pada pria yang sudah sekarat.


Will, Felix dan Jaydon hanya menyaksikan itu tanpa reaksi apapun. Sementara tawanan lainnya langsung ketakutan hanya sekadar menatap sosok Levi saja.


Awalnya, di mata mereka Levi seperti bocah ingusan biasa. Akan tetapi, dengan cipratan darah rekannya yang memenuhi wajah Levi membuat mereka langsung bergidik ngeri.


“Jadi, siapa di antara kalian semua! Siapa mau menjadi yang selanjutnya?” ujar Levi yang menatap para tawanan itu satu persatu.


“Tidak, Tuan! Kami akan bicara, jujur saja kami tidak tahu siapa orangnya yang telah membayar kami untuk membunuhmu. Hanya orang yang tadi anda bunuh yang berhubungan langsung dengannya dan juga Tuan Kenzo!”


Salah satu tawanan lainnya segera memberitahu Levi yang dia ketahui. Sebab dia tidak ingin bernasib sama seperti ketuanya itu.


Yang lainnya pun ikut membenarkan, karena mereka pembunuh bayaran biasa yang hanya mengikuti perintah dari ketuanya.


“Kenzo? Siapa dia? Benarkah di antara kalian tidak mengetahui orang yang membayar kalian selain kedua orang itu?”


Levi tidak segampang itu mempercayai perkataan musuhnya. Jadi, dia harus memastikannya kembali.


“Apa mungkin Kenzo yang kalian maksud adalah pria yang berhasil melarikan diri itu?”


Tiba-tiba Jaydon menyela pembicaraan, sebab dia teringat dengan satu pria yang berhassil lolos dari kejarannya. Karena itulah, Jaydon ingin sekalian memastikannya.


“Benar, Tuan! Dialah Tuan Kenzo yang terhubung langsung dengan orang yang telah membayar kami,” sahut tawanan itu dnegan cepat.


“Bagaimana? Dia sudah berhasil lolos sekarang dan yang satunya sudah kau bunuh barusan?” ujar Will pada Levi.


“Sudahlah, kita akan menangkapnya terlebih dahulu! Sisanya kau urus saja, Will! Aku mau mandi dulu,” sahut Levi yang terlihat murung dan juga kesal secara bersamaan.


Will, Felix dan Jaydon terpaksa harus menyelesaikan sisanya. Mereka menanyai satu persatu tawanan tersebut dan menyuruh mereka untuk memilih di antara dua pilihan yang mereka sediakan yaitu antara ruang ICU di rumah sakit dan penjara di kantor polisi.


...****************...


Sedangkan Rayden dan Luca sudah berada di perusahaan, lebih tepatnya di dalam ruangan Ceo milik Rayden.


Dan benar saja, setumpuk dokumen sudah menumpuk di atas mejanya akibat kenakalan putra itu yang selalu melakukan uji coba system keamanan di perusahaannya.


“Astaga, Luca lihatlah semua berkas ini! Semua ini gara-gara kenakalanmu yang selalu berusaha meretas system keamanan di perusahaan. Sudah papah bilang berapa kali, jangan main-main soal ini!” seru Rayden pada Luca yang duduk di sebelahnya dengan sebuah laptop didepannya.


“Sistem keamanan milik papah masih cukup lengah, karena itu Luca selalu ingin meretasnya. Papah harus menciptakan beberapa sitem baru untuk memaksimalkan keamanannya,” ujar Luca dengan santainya.


“Haaduh, … Anak siapa ‘sih ini? Di bilangin malah memberi saran telak padaku,” gumam Rayden yang hanya bisa menghela nafas panjang sembari memijat keningnya yang terasa sangat pening.


“Bagaimana, kau sudah menemukan lokasi terakhir orang itu?” tanya Rayden.


Luca masih menjawab dengan santainya, dia bahkan tertawa jika mengingat tentang computer yang berasap. Karena dia juga memiliki kenangan yang cukup indah dengan itu.


“Baiklah, kalau sudah mendapatkan lokasi terakhirnya segera beritahu, Papah! Dan jangan ulangi meretas system keamanan milik perusahaan lagi. Kau mengerti?” ujar Rayden memperingatkan pada putranya itu


“Okay, Pah!” sahut Luca.


“Dasar anak ini,” gumam Rayde disertai senyuman manisnya saat menatap Luca yang tengah fokus pada layar laptopnya.


“Ouhya, … Bagaimana dengan Lucia ‘yah? Sepertinya sangat sulit memisahkannya dengan Levi, karena sejak awal Levi yang menjadi pelindungnya,” batin Rayden.


Tiba-tiba Rayden kepikiran dengan Lucia yang masih marah akan keputusannya menghentikan Levi sebagai pengawal pribadinya.


Namun, semua itu Rayden lakukan demi keselamatan Luca dan Lucia sendiri. Sebab saat ini Levi masih menjadi incaran orang-orang tertentu.


“Apa aku terlalu berlebihan dengan menyuruh Levi menjauh ‘yah? Aish, … Bocah itu dari awal memang sudah aku duga akan menyebabkan masalah seperti ini ‘sih! Tapi kenapa dia tetap tidak mau mengatakan yang sejujurnya padaku? Apakah ada sesuatu yang membuatnya berat meninggalkan posisinya sekarang,” batin Rayden lagi yang semakin merasa frustasi saja.


Padahal Rayden sudah tidak ingin terlibat di dalam masalah klan mafia lagi. Apalagi masalah muncul di saat papah dan mamahnya tengah liburan dengan waktu yang belum bisa di tentukan untuk kembali.


“Papah!”


“Papah, …!


“Papahnya Luca!” teriak Luca.


Karena sudah berulang kali dia berusaha memanggil papahnya, tetapi tidak ada respon sedikitpun.


“Ouh, … Ada apa, sayang?” tanya Rayden langsung tersadar dari lamunannya berkat teriakan dari Luca.


“Papah, Luca telah berhasil menemukan lokasi terakhir orang itu. Ada di sini!” ujar Luca yang menunjuk pada titi biru yang ada dilayar komputernya.


Di mana lokasinya berada tidak jauh dari Mansion mereka, Rayden pun segera memastikannya dan memang benar lokasi terakhir sinyalnya menghilang berada di tempat itu.


“Sayang, kau memang sangat genius! Terima kasih ‘yah, Sayang! Papah akan memberitahu Will untuk segera memastikan lokasinya,” ujar Rayden yang tanpa segan memuji kemampuan putranya itu.


“Apakah Luca genius?” tanya Luca dengan wajah polosnya.


“Tentu saja! Kau adalah Luca, sang genius IT!” jawab Rayden dengan bersungguh-sungguh.


Luca pun tersenyum senang mendapat pujian dari sang papah. Sementara, Rayden langsung menghubungi Will agar memastikan tempat itu secepatnya. Sebab Rayden sangat yakin kalau orang itu masih berada di sana.


Bersambung,.......


...****************...


...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...


...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari setiap pukul 10 pagi ‘yah!😍😍...


...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...


...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...


...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....


...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...


...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...


...Agar tidak ketinggalan kisah seru Double L, keluarga Xavier dan para pengawal tampannya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...


...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...