
...◦•●◉✿Willea✿◉●•◦...
...𝓑𝓾𝓴𝓪𝓷𝓵𝓪𝓱 𝓴𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓬𝓲𝓷𝓽𝓪 𝓪𝓷𝓽𝓪𝓻𝓪 𝓦𝓲𝓵𝓵 𝓭𝓪𝓷 𝓐𝓵𝓮𝓪 𝓼𝓪𝓳𝓪. 𝓜𝓮𝓵𝓪𝓲𝓷𝓴𝓪𝓷 𝓴𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓭𝓪𝓻𝓲 𝓦𝓲𝓵𝓵, 𝓓𝓸𝓾𝓫𝓵𝓮 𝓛, 𝓛𝓮𝓿𝓲 𝓭𝓪𝓷 𝓐𝓵𝓮𝓪. 𝓚𝓪𝓻𝓮𝓷𝓪 𝓲𝓽𝓾𝓵𝓪𝓱, 𝓚𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓲𝓷𝓲 𝓫𝓮𝓻𝓳𝓾𝓭𝓾𝓵...
...◦•●◉✿Willea ✿◉●•◦...
“Terima kasih atas doa-nya! Semoga secepatnya dia resmi menjadi istriku,” ucap Will sambil tersipu malu, sikapnya itu malah membuat Dr. Ian menjadi merinding sendiri.
“Dasar bocah gila! Sudahlah, aku harus memeriksa pasien lain sekarang,” ujar Dr. Ian yang masih memiliki jadwal yang padat.
“Baiklah, terima kasih juga atas kerja kerasnya untuk menyelamatkan Levi,” ucap Will lagi dengan setulus hatinya.
“It’s Okay!” sahut Dr. Ian seraya meninggalkan ruangan itu.
Tidak lama setelah kepergian Dr. Ian, Tuan Roman bersama dengan seluruh keluarga Xavier pun tiba. Seketika ruangan itu penuh dengan orang dan dengan setia menunggu Levi membuka matanya.
Terlihat Lucia yang di persilahkan untuk duduk di samping Levi sembari menggenggam tangannya. Mendengar bahwa Levi akan segera terbangun membuat perasaan semua orang menjadi tak menentu.
“Kapan Kak Levi akan membuka matanya?” tanya Lucia yang sudah tidak sabar untuk menantikannya.
“Tunggulah sebentar lagi, sayang! Kita semua pun tidak tahu kapan Levi akan sadar,” ujar Zhia.
“Kalau Luci merasa lelah, Papah akan mengantarmu untuk beristirahat ke ruanganmu.” Rayden menimpali.
Tapi Lucia tetap bersikeras, “Tidak! Luci akan tetap menunggu Kak Levi sampai bangun.”
Suasana pun kembali tenang, mereka semua kembali menunggu Levi dengan sabar sampai dia membuka matanya. Tangan Lucia semakin menggenggam tangan Levi dengan erat, sementara di dalam hatinya dia terus berdoa agar Levi bisa secepatnya membuka mata.
Tiba-tiba Lucia merasakan jari jemari Levi mulai bergerak. Sontak saja Lucia langsung berseru, “Kak Levi sudah bangun! Luci bisa merasakan jemarinya mulai bergerak!”
“Apa!” ujar semua orang serentak.
“Will, kau cepat panggil Dr. Ian untuk memeriksanya lagi!” perintah Noland pada Will.
“Ada apa kau mencariku lagi?” Tanpa di sangka orang yang di carinya sudah berada di ruangan itu sejak tadi.
“Hai, sejak kapan kau sudah berada di sini?” tanya Noland yang penasaran semenjak kapan kemunculan Dr. Ian di rungan itu.
“Aku sudah berada di sini tepat setelah kalian memenuhi ruangan ini. Sebab aku sudah menduga bahwa temanku ini pasti akan mencari keberadaanku,” jawab Dr. Ian dengan santainya.
“Kalian menyingkirlah sedikit, berikan pasien ini ruang untuk bernapas,” lanjutnya sembari berjalan menghampiri Levi.
“Dokter, lihatlah! Tadi tangan Kak Levi bergerak,” ujar Lucia.
“Tentu, lihatlah dia juga sedang berusaha untuk membuka matanya,” sahut Dr. Ian sembari menyuruh Lucia untuk memperhatikan kelopak mata Levi yang mulai bergerak secara perlahan.
Lucia memperhatikan mata Levi dengan seksama, hingga detik berikutnya mata mereka saling bertemu dan saling terpaku satu sama lain. Sementara genggaman tangan mereka yang semakin erat satu sama lain.
Serasa duania milik mereka berdua, itulah yang di pikirkan oleh semua orang. Sedangkan Levi sendiri, dia merasa masih berada di alam mimpi karena dia bisa menatap mata Nona kecilnya dan bahkan menggenggam tangan mungilnya.
Kejadian langka yang tidak akan mungkin bisa menjadi kenyataan, itulah yang di pikirkan oleh Levi saat itu.
“Apakah aku masih di alam mimpi? Atau aku berada di neraka? Tapi kenapa neraka bisa seindah ini hanya karena kehadiran Nona kecil saja,” batin Levi yang masih berpikir dia masih berada di dunia lain.
“Sampai kapan kau akan menatapnya seperti itu dan mengabaikan mereka semua yang sedang menunggumu!” Hingga suara Dr. Ian menyadarkan Levi sepenuhnya.
Seketika Levi pun segera memperhatikan situasi di sekelilingnya. Dan benar saja, sudah ada banyak orang yang sedang menatapnya. Bahkan ada Kakek yang sudah hampir sepuluh tahun lebih tidak pernah di temuinya, kini malah sedang menatapnya dengan penuh kerinduan sekaligus kesedihan di matanya.
“Kakek!” lirih Levi hampir tidak bisa terdengar.
Kemudian Levi kembali beralih menatap wajah Lucia yang sudah hampir menangis. Sembari memanggilnya, “Nona kecil!”
“Kak Levi, … Huhuhuuu, ….”
Lucia langsung saja menghamburkan tubuhnya untuk memeluk Levi, tanpa sadar dia malah mengenai lukanya hingga membuat Levi sedikit merintih kesakitan.
“Akhh, …”
“Aduh, … Maaf, Luci sungguh tidak sengaja!” ucap Lucia langsung menjauh dari tubuh Levi.
“Maafkan Luci! Luci sungguh tidak sengaja. Maafkan Luci, Kak Levi!” ucap Lucia sekali karena merasa sangat bersalah.
“Tidak apa-apa! Aku masih baik-baik saja, ini hanya luka kecil saja,” ujar Levi sambil tersenyum tipis.
“Luka kecil katamu! Asal kau tahu saja ‘yah, kau hampir mati saat kau tiba di sini.”
Sontak saja, Dr. Ian sangat kesal mendnegar perkataan dari Levi. Sebagai Dokter yang telah berhasil menyelamatkan nyawanya, tapi orang tersebut malah menganggap luka yang di dapatkannya itu sebagai hal sepele saja.
Namun sayangnya, tidak ada satu orang yang membelanya. Malah semua orang membela Levi, karena mereka tentu saja tidak mau membuat Lucia merasa sedang di salahkan. Situasi yang tidak mendukung dan orang-orang yang tidak berpihak padanya, Dr. Ian pun sudah kehilangan kata-kata.
“Sudahlah, aku menyerah berdebat dengan kalian para fans fanatik Lucia!” Dr. Ian pun menyerah.
“Lev, bagaimana perasaanmu sekarang?” Pertanyaan dari Will.
“Hay, apa kau tau ini berapa?” Pertanyaan dari Noland sembari menunjukkan kedua jarinya sambil tersenyum manis.
“Jangan hiraukan mereka! Kau harus banyak istirahat ‘yah?” Perkataan dari Julia.
“Terima kasih sudah menjaga Lucia dengan baik, Levi!” Ucapan terima kasih dari Zhia.
“Kerja bagus, Levi!” Pujian berasal dari Rayden.
“Kau sangat keren, Kak Levi!” Begitu juga dari Luca.
“Semoga lekas sembuh, adik kesayangannya Will!” Doa terbaik dari calon kakak iparnya, Alea.
Levi hampir saja menangis, begitu terbangun semua orang sudah berada di sekelilingnya. Pertama kalinya, Levi menyadari bahwa banyak orang yang menyayangi dirinya. Bahkan setelah sekian lama, akhirnya dia bisa melihat Kakeknya lagi.
Sambil meneteskan air mata Levi berkata, “Kalau tahu akan seperti ini, aku rela terluka ratusan kali.”
“Tidak boleh! Kak Levi tidak boleh terluka lagi apapun yang terjadi!” seru Lucia yang langsung menentangnya dengan keras.
“Aku hanya bercanda, Nona kecil! Luka ini saja juga masih terasa sangat sakit,” ujar Levi sambil terkekeh.
“Zaen!” Semua orang langsung terdiam begitu Tuan Roman memanggil dengan nama panggilan kecil Levi.
“Bisakah kalian semua keluar sebentar! Ada sesuatu yang harus aku bicarakan dengan Kakekku,” pinta Levi pada semua orang tanpa terkecuali.
“Apakah Luci juga harus keluar?” tanya Lucia dengan wajah polos dan memelasnya.
“Maaf, ini hanya sebentar saja,” jawab Levi.
“Luci, Ayo kita keluar dulu nanti kau bisa menemani Levi lagi kalau mereka sudah selesai bicara,” ujar Zhia membawa Lucia.
Seketika ruangan itu terasa hening, hanya tersisa Levi dan Kakeknya saja di sana yang masih saling terdiam.
Bersambung,.......
...****************...
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah seru Double L, keluarga Xavier dan para pengawal tampannya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...