Willea

Willea
123. Firasat Buruk



...◦•●◉✿Willea✿◉●•◦...


...‌𝓑𝓾𝓴𝓪𝓷𝓵𝓪𝓱 𝓴𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓬𝓲𝓷𝓽𝓪 𝓪𝓷𝓽𝓪𝓻𝓪 𝓦𝓲𝓵𝓵 𝓭𝓪𝓷 𝓐𝓵𝓮𝓪 𝓼𝓪𝓳𝓪. 𝓜𝓮𝓵𝓪𝓲𝓷𝓴𝓪𝓷 𝓴𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓭𝓪𝓻𝓲 𝓦𝓲𝓵𝓵, 𝓓𝓸𝓾𝓫𝓵𝓮 𝓛, 𝓛𝓮𝓿𝓲 𝓭𝓪𝓷 𝓐𝓵𝓮𝓪. 𝓚𝓪𝓻𝓮𝓷𝓪 𝓲𝓽𝓾𝓵𝓪𝓱, 𝓚𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓲𝓷𝓲 𝓫𝓮𝓻𝓳𝓾𝓭𝓾𝓵...


...◦•●◉✿Willea ✿◉●•◦...


“Tuan, apakah mereka telah menyiapkan jebakan untuk membunuh kita semua?” tanya Felix mencoba memastikan dugaannya.


“Kau benar! Mulai dari sini setiap sisi jalan sudah di jaga oleh pasukan bersenjata musuh kita. Jadi, sebelum mereka menyerang, kita yang harus menghabisi mereka terlebih dahulu,” jawab Rayden membenarkan.


“Dan satu hal lagi. Dengarkan intrusksi dari Luca dengan baik agar tidak terlalu banyak anggota kita yang menjadi korban kali ini. Karena kali ini kita bukan hanya akan baku hantam tapi perang bersenjata. Sekali saja kita lengah, maka kematian yang berada di depan mata. Kalian mengerti?”


Rayden secara tidak langsung menjelaskan betapa pentingnya peran Luca dalam pertarungan kali ini. Sekilas Rayden menatap putranya yang selalu fokus pada layar laptopnya, apapun yang terjadi dia kan selalu melindungi kedua anak kembarnya yang hebat itu.


“Kami mengerti, Tuan! kami siap menggila dan mempertaruhkan segala dalam pertarungan kali ini.”


Will dan yang lainnya siap untuk mempertaruhkan segalanya.


“Bagus! Felix, kau akan membereskan yang berada di wilayah kanan jalan ini, sedangkan Jaydon kau membereskan yang sebelah kiri. Bawalah pasukan yang menurut kalian cukup untuk membereskan semuanya dengan cepat,” ujar Rayden membagi tugas.


“Papah! Papah, ada sejumlah pasukan yang cukup besar bersiap di belakang Mansion!” Tiba-tiba Luca berseru.


“Pasukan cadangan ‘yah?” gumam Rayden sembari memikirkan solusinya.


“Kalau begitu, Mike dan Nick harus mencari jalur memutar. Kemudian, buat pasukan cadangan itu menjadi fokus melawan kalian. Sementara, aku sendiri dan Will yang akan terus maju ke depan.” Rayden kembali membagi tugas.


“Baik, Tuan muda! Kami akan berangkat sekarang juga,” sahut Mike dan Nick yang memulai perjalanan terlebih dahulu.


“Luca!” panggil Rayden pada putranya.


“Iya, Pah?” sahut Luca menengok ke arah papahnya.


“Apa kau sudah menemukan keberadaan Lucia dimana?”


Rayden harus memastikan keberadaan Lucia terlebih dahulu sebelum dia juga ikut bergerak.


“Melalui alat pelacak, Luci sudah pasti berada di dalam Mansion utama. Akan tetapi, Luca belum menemukan lokasi pastinya di ruangan mana dia di berada,” jelas Luca sambil terus mengarahkan anak buahnya.


“Aku harap, Levi bisa melindungi Lucia di sana.” Harapan Rayden.


“Kalau begitu dimana keberadaan musuh yang harus Papah hadapi sekarang?” tanya Rayden nada bicaranya berubah terdengar sangat serius.


“Tidak usah di jawab! Siapapun yang menghalangi jalanku, akan aku pastikan mati dengan cara paling menyakitkan,” lanjut Rayden sebelum Luca menjawab pertanyaannya.


“Lalu bagaimana dengan keamanan Tuan kecil di sini, Tuan?” tanya Will menyela pembicaraan.


“Benar, kalau begitu Will kau menggantuikan Felix memimpin. Dan tugas Felix adalah menjamin keselamatan putraku,” jawab Rayden yang mengganti strategi.


“Baik, Tuan muda!” sahut Will dan Felix.


“Ayo, kita menggila sekarang!”


Rayden pun segera memimpin pasukannya untuk terus bergerak maju. Pasukan Will dan Jaydon segera menempatkan posisi masing-masing sesuai yang di arahkan Luca.


Karena banyaknya drone yang tidak dapat di gunakan lagi karena terkena tembakan dari musuh, Luca pun terpaksa mengerahkan lebih banyak drone lagi yang di milikinya.


...****************...


Sejauh ini semua berjalan sesuai rencanayang di arahkan oleh Luca. Sementara di sisi lain, lebih tepatnya di rumah sakit Zhia mendapat kunjungan langsung dari Tuan Roman dan Bastian.


Namun, perasaannya sebagai seorang istri dan ibu tidak bisa dia hiraukan begitu saja. Sepanjang hari, entah kenapa Zhia terus merasa sangat gelisah dan khawatir. Lalu terus menanyakan keberadaan suami dan anak kembarnya.


“Nak, apa yang sedang kau pikirkan? Apakah kedatanganku kemari mengganggumu?” tanya Roman yang menyadari raut wajah Zhia tampak sedih seakan sedang banyak pikiran yang mengganggunya.


Dengan cepat Zhia segera menyanggahnya.


“Lalu apa yang sedang kau pikirkan, Nak? Sampai terus termenung seperti itu?”


Tuan Roman pun menjadi penasaran dengan apa yang Zhia pikirkan sekarang.


“Maaf, saya hanya kepikiran tentang suami dan kedua anak kembar saya saja. Entah kenapa perasaanku sejak tadi menjadi gelisah dan khawatir tentang mereka. Apakah benar mereka sedang berada di Mansion untuk mengambil sesuatu?”


Tatapan Zhia pun tertuju pada Noland dan Julia meminta penjelasan atau lebih terlihat dia sedang menginginkan kejujuran dari mereka.


Tak ingin membuat menantu kesayangannya yang masih dalam masa pemulihan itu khawatir, Noland dan Julia pun terpaksa menyembunyikan kebenarannya dari Zhia.


“Zhi, apa kau masih tidak percaya pada Mamah dan Papah? Tuan Roman bahkan bersama dengan Papah dan Mamah, ketika Cano dan si kembar pamit untuk mengambil barang-barang mereka di Mansion. Bukan begitu, Tuan Roman?” ujar Noland seketika mengirim sinyal bantuan pada kakeknya Levi yang tampak tidak terbiasa berbohong.


“Zhi bukannya tidak percaya pada perkataan Mamah dan Papah! T-tapi, entah kenapa Zhi terus merasakan firasat buruk. Mereka akan baik-baik saja ‘kan?”


Dengan wajah hampir menangis dia kembali menanyakan keadaan suami dan anak kembarnya yang dia tahu persis bahwa mereka pasti sedang berhadapan dengan sesuatu yang sangat buruk.


Julia langsung menghampiri Zhia dan memeluknya dengan erat, menjadikan dirinya sebagai sandaran bagi keluh kesah menantu kesayangannya.


“Firasat seorang wanita memang tidak pernah salah,” batin Noland.


“Tidak apa, sayang! Mereka akan baik-baik saja. Cano dan yang lainnya pasti akan berusaha keras untuk melindungi Luca dan Lucia dan saling melindungi diri mereka masing-masing. Jangan terlalu khawatir, perhatikan juga ketiga bayi yang berada di perutmu ini. Kamu percaya pada suami dan anak kembar mu, bukan?” ujar Julia mencoba menenangkan.


Sebagai seorang istri dan ibu dari seorang ketua mafia, Julia sangat memahami perasaan Zhia saat ini. Sebab dia sendiri pernah melalui hal yang sama ketika Noland dan Rayden sama-sama terjun ke dunia mafia, hingga putrinya yang berharga harus menjadi korbannya.


“Zhi takut terjadi sesuatu pada mereka, Mah! Hiks, ….”


Akhirnya air mata Zhia tumpah di pelukan Julia. Noland yang menyadari menantu kesayangannya butuh ruang untuk menenangkan diri bersama istrinya, dia pun mengajak Tuan Roman dan Bastian untuk keluar dari kamar rawat tersebut.


“Tidak apa-apa, sayang! Cano dan yang lainnya akan baik-baik saja. Lebih baik kita berdoa daripada menangisi mereka seperti ini,” ujar Julia menasehati dengan lembut pada Zhia.


“Tuan Roman, bisakah kita keluar saja dari sini! Menantu saya sepertinya butuh ruang untuk menenangkan diri,” pinta Noland penuh keramahan.


“Baiklah, Ayo kita keluar!” sahut Tuan Roman.


Noland pun mengajak Tuan Roman yang pastinya akan di ikuti oleh Bastian untuk keluar. Melihat betapa baiknya Noland dan Julia memperlakukan menantunya, Tuan Roman lagi-lagi menyadari tentang alasan Levi enggan untuk meninggalkan tempat itu dan kembali kepadanya.


Bersambung,.......


...****************...


...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...


...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life🙏🙏🙏😞...


...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...


...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...


...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....


...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...


...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...


...Agar tidak ketinggalan kisah seru Double L, keluarga Xavier dan para pengawal tampannya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...


...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...