
...◦•●◉✿Willea✿◉●•◦...
...𝓑𝓾𝓴𝓪𝓷𝓵𝓪𝓱 𝓴𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓬𝓲𝓷𝓽𝓪 𝓪𝓷𝓽𝓪𝓻𝓪 𝓦𝓲𝓵𝓵 𝓭𝓪𝓷 𝓐𝓵𝓮𝓪 𝓼𝓪𝓳𝓪. 𝓜𝓮𝓵𝓪𝓲𝓷𝓴𝓪𝓷 𝓴𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓭𝓪𝓻𝓲 𝓦𝓲𝓵𝓵, 𝓓𝓸𝓾𝓫𝓵𝓮 𝓛, 𝓛𝓮𝓿𝓲 𝓭𝓪𝓷 𝓐𝓵𝓮𝓪. 𝓚𝓪𝓻𝓮𝓷𝓪 𝓲𝓽𝓾𝓵𝓪𝓱, 𝓚𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓲𝓷𝓲 𝓫𝓮𝓻𝓳𝓾𝓭𝓾𝓵...
...◦•●◉✿Willea ✿◉●•◦...
Hari-hari pun berlalu, kondisi Zhia dan bayi yang berada di dalam kandungannya kini semakin membaik. Apalagi setelah melakukan pemeriksaaan secara mendetail, Zhia dan Bayinya sekarang sudah aman.
Bahkan sekarang Zhia dan Rayden telah mengetahui jenis kelamin calon anak mereka. Namun, baik Zhia dan Rayden masih merahasiakan kepada semua orang.
Hal itu mereka lakukan karena ingin membuat kejutan kecil kepada semua orang, terutama untuk Luca dan Lucia.
“Sayang, kapan aku bisa pulang kerumah?” tanya Zhia dengan ekspresiu wajah memohon.
“Kita harus mendengarkan keputusan dari Dokter yang menangani kalian, Zhi! Kita tunggu saja Dr. Lena yang memutuskan semuanya setelah memastikan hasil dari pemeriksaan terakhir kali,” jelas Rayden sembari mengupas sebuah apel untuk Zhia.
“Baiklah, aku akan menunggu kabar baiknya dari Dr. Lena dan Dr. Ian,” ujar Zhia yang akhirnya mengalah.
Zhia telah mengetahui semua yang terjadi, karena Rayden selalu menepati janjinya dengan mengatakan segalanya dengan jujur kepadanya.
Dengan raut wajah sedihnya, Zhia menunduk, menatap perutnya yang semakin membesar sembari mengelusnya dengan lembut.
“Ada apa? Apa kau sedih karena tidak bisa pulang ke rumah sekarang?” tanya Rayden yang menyadari perubahan raut wajah istrinya.
“Tidak, bukan kerena itu!” jawab Zhia yang menyanggahnya.
“Lalu karena apa? Katakan padaku apa yang membuatmu sedih, aku akan mengurusnya?” tanya Rayden yang mulai mencemaskan istrinya.
“Lagi-lagi semua ini karena salahku! Andai saja aku bisa memilih pengawal yang lain, pasti semua ini tidak akan terjadi,” ujar Zhia yang mulai mengeluarkan air mata penyesalan.
“Tidak, sayang! Ini bukan salahmu, aku lah yang bersalah karena selalu membuatmu menjadi target musuh-musuhku. Seharusnya aku juga yang lebih memperhatikan orang-orang yang akan berada di sampingmu.”
Rayden langsung meraih Zhia kedalam pelukannya, menenangkannya dan mengatakan sesuatu yang bisa membuat Zhia berhenti menyalahkan diri sendiri. jika memang ada orang yang harus di salahkan, maka orang itu adalah Fernand dan anak buahnya.
“Sudah jangan di pikirkan lagi mengenai masalah ini, aku yang akan mengurus semuanya sampai tuntas,” ujar Rayden lagi.
“Bagaimana kalau kamu pikirkan saja cara untuk memberitahu semua orang, terutama Luca dan Lucia bahwa mereka akan menjadi kakak dari tiga adik laki-lakinya di sini,” sambung Rayden sembari ikut mengelus perut Zhia dengan lembut.
“Iya, kau benar! Luca dan Lucia pasti akan sangat senang ketika mengetahui bahwa ketiga adiknya laki-laki,” balas Zhia yang ikut mengelus perutnya.
“Jangan pikirkan hal lain, fokus saja dengan kesehatanmu dan bayi kita! Aku kan menghubungi Mamah untuk menemanimu di sini, jika kau merasa bosan.”
Rayden mencoba menawarkan hal lain agar pikiran Zhia bisa teralihkan dari masalah klan yang membuatnya sakit kepala walau hanya memikirkannya saja.
Dan terlebih lagi, Rayden juga harus memeriksa persiapan untuk pembalasan terhadap Fernand dan para sekutunya.
“Apa kau harus pergi sekarang?” tanya Zhia yang menyadari maksud Rayden mengatakan hal tersebut.
“Maafkan aku, tapi aku harus memeriksa keadaan klan sekarang,” jelas Rayden dengan berat hati.
“Tidak apa, aku mengerti! Berhati-hatilah jangan sampai terluka,” pesan Zhia.
“Hmmm, … Aku akan pergi setelah Mamah sampai di sini,” ujar Rayden sembari menciumi Zhia dengan gemasnya.
...****************...
Tidak memakan waktu lama, Julia pun datang bersama dengan Noland dan kedua cucu kembar mereka.
Namun, mereka tidak bisa berlama-lama menjenguk Zhia karena mempunyai urusan yang lebih penting untuk mereka lakukan sekarang.
Akhir-akhir ini Luca dan Lucia memang jarang sekali menemani mamahnya dirumah sakit. Disebabkan karena Luca sedang sibuk membuat GPS super mini yang akan di bagikan kepada anggota inti klan agar bisa selalu mengawasi keberadaan pemiliknya masing-masing.
Sementara Lucia yang berperan sebagai asisten pembantunya. Sebab dari awal Rayden hanya membutuhkan kemampuan Luca saja.
Namun, karena tidak ingin membedakan antara Luca dan Lucia, dia pun memutuskan keduanya untuk bergabung.
Sambutan penuh hormat langsung mereka dapatkan dari anggota klan BlackSky. Kini mereka pun telah tiba di markas besar, dimana mereka semua ternyata sudah di tunggu oleh Will dan yang lainnya.
Mereka ingin segera melapor bahwa persiapan untuk pembalasan sudah selesai dan hanya tersisa menunggu waktu yang tepat saja.
“Apakah ada yang ingin kalian laporkan?” tanya Rayden yang selalu tidak menyukai basa basi tidak perlu.
“Tuan muda, kami semu ingin malaporkan bahwa semua persiapan telah selesai. Kita bisa melakukan kapan saja sesuai perintah anda,” jawab Will mewakili yang lainnya.
“Benarkah?”
Rayden hanya ingin memastikan sekaligus sedikit menggoda para anak buahnya yang terlihat sangat serius itu.
“Benar, Tuan muda! Kami sudah memastikannya berulang kali dan tidak masalah sama sekali dengan persiapan yang anda tugaskan kepada kami,” jelas Will yang malah terlihat semakin serius menanggapinya, begitu juga dengan yang lainnya.
“Hahaaa, … Tenanglah, aku percaya pada kemampuan kalian semua. Tadi aku hanya ingin sedikit bercanda saja,” ujar Rayden yang tertawa melihat reaksi semua anak buahnya yang malah terlihat semakin tegang saja.
“Baiklah! Luca, apakah kau berhasil membuat barang yang Papah minta?” tanya Rayden pada putranya begitu menyadari semua orang tidak menyukai candaannya barusan.
“Sudah, Pah! Tapi Luca hanya bisa membuat beberapa saja, karena waktunya tidak cukup untuk membuatnya untuk semua orang,” jawab Luca sembari menyerahkan barang yang di maksud.
Sebuah alat pelacak yang lebih terlihat seperti pin bros berbentuk sehelai bulu burung berwarna emas dengan sebuah batu permata yang di pasang alat pelacak dibawah batu permata berwarna warni itu.
“Wahhh, … Hasil kerjamu sungguh menakjubkan, Putraku sayang! Terima kasih, sepuluh buah alat pelacak ini sudah sangat cukup. Apalagi Papah yakin mereka pasti akan menjadikan target utamanya yang yang terlalu dekat dengan kita,” ujar Rayden yang tidak lupa memuji hasil kerja Luca.
“Papah tidak memuji Luci juga? Luci ‘kan juga ikut membantu Kak Luca membuatnya,” protes Lucia, karena Papahnya hanya memuji Luca saja.
“Terima kasih juga untuk Putriku yang sangat cantik ini. Semua ini berkat kalian berdua, Papah sangat bersyukur kalian berdua bersama kita sekarang.”
Kemudian, Rayden pun segera memuji putrinya sebelum terjadi drama yang tidak di inginkan. Lucia pun tersenyum puas setelah mendapat pujian dari Papahnya seperti sang kakak.
“Will, ambil ini!” Rayden memberikan satu pin bros itu kepada Will.
“Levi, Felix, Jaydon, Mike dan Nick! Kalian juga ambil ini,” lanjut Rayden memberikan pada orang-orang yang dipercayainya saja.
“Kalian bertiga juga harus mendapatkan ini.”
Rayden juga tidak lupa memberikannya pada Noland dan kedua anak kembarnya serta untuk dirinya sendiri.
“Ingatlah, pegang terus pin bros ini kemanapun kalian pergi. Terutama kau Levi, karena mereka pasti akan mencarimu,” pesan Rayden walaupun lebih menekankan pada Levi agar terus mengingat perkataannya.
Bersambung,.......
...****************...
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari setiap pukul 16.00 WIB ‘yah!😍😍...
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah seru Double L, keluarga Xavier dan para pengawal tampannya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...