
...◦•●◉✿Willea✿◉●•◦...
...𝓑𝓾𝓴𝓪𝓷𝓵𝓪𝓱 𝓴𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓬𝓲𝓷𝓽𝓪 𝓪𝓷𝓽𝓪𝓻𝓪 𝓦𝓲𝓵𝓵 𝓭𝓪𝓷 𝓐𝓵𝓮𝓪 𝓼𝓪𝓳𝓪. 𝓜𝓮𝓵𝓪𝓲𝓷𝓴𝓪𝓷 𝓴𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓭𝓪𝓻𝓲 𝓦𝓲𝓵𝓵, 𝓓𝓸𝓾𝓫𝓵𝓮 𝓛, 𝓛𝓮𝓿𝓲 𝓭𝓪𝓷 𝓐𝓵𝓮𝓪. 𝓚𝓪𝓻𝓮𝓷𝓪 𝓲𝓽𝓾𝓵𝓪𝓱, 𝓚𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓲𝓷𝓲 𝓫𝓮𝓻𝓳𝓾𝓭𝓾𝓵...
...◦•●◉✿Willea ✿◉●•◦...
“Tidak, sikapku ini akan membuat semua orang berada dalam bahaya. Bukan begitu, Paman?”
Levi seketika menyadari kesalahannya begitu teringat dengan Lucia yang terlibat bahaya, karena ingin menyelamatkan dirinya saat penyerangan di taman.
Dengan sikap diamnya sekarang tidak akan mengubah apapun, justru malah akan membuat semua orang yang dia lindungi sekarang berada di dalam bahaya dengan keberadaannya.
“Ini salah, aku harusnya tidak diam! Aku harus menyelesaikan masalah ini terlebih dahulu, baru aku bisa memilih antara kehidupanku yang sekarang atau kehidupan yang telah di sediakan kakek untukku,” ujar Levi seakan sedang bicara dengan orang lain, padahal dia hanya bicara sendiri sedari tadi.
“Akan tetapi, apakah Tuan tidak akan membenci diriku karena telah menipunya selama ini? Apakah Tuan akan memaafkan aku, jika aku baru mengatakan identitasku yang sebenarnya sekarang? Apakah Tuan juga akan membantu menyelesaikan masalah ini, jika aku jujur sekarang? Aakkhhh, … Semua pertanyaan itu membuatku semakin frustasi saja!” seru Levi sembari mengacak-acak rambutnya dengan frustasi.
“Paman, apa yang harus aku lakukan sekarang? Haruskah aku jujur atau tidak?”
Levi terus menggerutu di depan Bastian yang masih belum bisa merespon apapun pertanyaan yang dari tadi dia lontarkan dengan frustasi. Levi terus berada di samping Bastian menanyakan hal yang sama dengan beda urutan saja
Disisi lain, Will sedang di hadapkan dengan Alea yang berada di dalam kamar hotelnya. Setelah memberikan laporan dan membereskan sisa pekerjaannya, Will segera menemui Alea yang sudah bersedia menunggu sampai selesai.
“Kau mau minum sesuatu?” tanya Will sekadar basa-basi.
“Iya, bolehkah aku minta segelas air dingin?” ujar Alea disertai sebuah senyuman tipis di bibirnya.
“Tunggu sebentar,”
Will beranjak dari duduknya dan mengambilkan segelas air yang di minta oleh Alea dan kemudian langsung memberikannya. Alea pun menerima segelas air itu dan segera meminumnya.
“Terima kasih,” ucap Alea dengan suara lirihnya.
“Tidak masalah, hanya air putih biasa bahkan gratis dari pihak hotel,” sahut Will yang mengira Alea berterima kasih atas minumannya.
“Bu-bukan! Bukan itu, maksud dari ucapan terima kasihku tadi.”
Alea ingin sekali segera meralat perkataan dan menjelaskan apa yang sebenarnya ingin dia sampaikan kepada Will.
Namun, lidahnya terasa kelu, apalagi saat matanya bertatapan dengan mata indah Will. Serasa seketika jantungnya berhenti, jika terus melihatnya.
“Lalu untuk apa?” ujar Will dengan tatapan bingungnya.
“Terima kasih karena, … Karena kau pernah menyukai orang sepertiku selama ini! Dan terima kasih, karena berkat perasaan dulu aku bisa merasakan menjadi seseorang yang sangat berarti untuk orang lain. Aku hanya ingin berterima kasih tentang itu, sebelum aku menyesalinya lagi,” jelas Alea yang lebih tepat sebagai ungkapan perasaannya yang selama ini coba dia sembunyikan dari semua orang terutama dari Will.
Sebenarnya di dalam hati Will merasa sangat bahagia mendengar pengakuan yang dia tunggu-tunggu selama ini dari Alea.
Mungkin, jika sejak awal Alea mengatakannya dia akan langsung memeluknya dan melamarnya saat itu juga.
Akan tetapi, Will masih membutuhkan sedikit waktu untuk membuat Alea sadar sepenuhnya tentang perasaannya.
Bukan karena rasa kehilangan sementara, karena sikap Will yang sekarang cuek dan terkesan seperlunya saja.
Oleh sebab itulah, Will masih diam dan mendengarkan apalagi yang akan di sampaikan oleh Alea kepadanya.
Di dalam hatinya, Will memang tidak tega melihat Alea yang seperti serba salah menghadapi sikapnya sendiri tapi itu demi kebaikan mereka berdua.
“Maaf! Aku mengabaikan niat baikmu selama ini, _....”
“Lalu?”
Belum selesai mengatakannya, Will segera memotong ucapannya dengan tatapan tajam dan dingin. Sehingga membuat Alea berpikir bahwa Will marah besar akan sikap plin plan nya selama ini.
“Lalu, ….” Alea tampak kebingungan.
“A-aku, ….”
“Pertama, aku ingin bertanya padamu. Kau itu memangnya orang seperti apa, hingga mempermainkan perasaanku seperti ini?” ujar Will dengan raut wajah seriusnya.
“Kedua, apa kau sekarang menyesalinya? Menyesal karena aku sudah tidak mengejarmu seperti lagi? Ataukah harga dirimu terluka?” lanjut Will masih dengan raut wajah yang sama.
“Hah? Ba-bagaimana kau, ….”
“Dan ketiga, kau salah tentang aku yang pernah menyukaimu! Karena sampai sekarang perasaanku tetap sama kepadamu. Aku masih menyukaimu bahkan mencintaimu,” sambung Will yang tidak ingin perkataannya terpotong oleh Alea.
Alea tercengang mendengar penyataan ketiga dari Will, perasaannya terasa sangat lega sekaligus terharu secara bersamaan.
Meskipun Will mengatakannya dengan raut wajah serius, tetapi dia bisa merasakan ketulusan melalui kata-katanya.
Tanpa bisa terbendung lagi, dia meneteskan air matanya. Dan menangis terisak dalam diam di sana, Alea menangis terharu dengan perasaan Will yang begitu tulus meski telah berulang kali dia telah menyakiti hatinya.
Sementara, Will dibuat salah tingkah dengan reaksi Alea itu. Bukan itu reaksi yang Will harapkan dari Alea, dia sama sekali tidak mempunyai niat untuk membuat wanita yang di cintai nya menangis seperti itu.
“M-maafkan aku, Will!” ucap Alea dengan di sela isakannya sambil menundukkan kepalanya.
“Alea, bukan waktunya kita seperti ini! Kita datang ke sini untuk sebuah misi penting dari Tuan. Jadi, bisakah kita mengabaikan soal ini dulu. Kita akan menyelesaikan ini nanti, begitu kita kembali. Bisa ‘kan?” ujar Will.
Bukan karena Will sedang berjual mahal atau sebagainya, tetapi tugas mereka memang sangat penting untuk segera di selesaikan. Karena ada bahaya yang tengah mengancam di negara A.
“Tapi bisakah kau memelukku agar aku bisa merasa lebih tenang?” pinta Alea dengan tatapan memohon.
Will tersentak mendengar permintaan Alea itu. Naamun itu hanya sesaat sebagai reaksi tidak terduga nya, Will pun segera menghampiri Alea dan langsung memeluknya dengan erat.
Bukannya merasa tenang, Alea malah semakin menangis terisak di dalam pelukan Will sembari terus mengatakan kata maaf.
“Sudah, tidak apa-apa! Jangan, menangis lagi ‘yah! Ingatlah, kita harus menemui perwakilan dari ZD Group. Kau ingat itu ‘kan?” ujar Will yang berusaha menenangkan Alea agar berhenti menangis.
Will hanya bisa tersenyum bahagia dengan semua kelakuan tidak terduga yang ditunjukan Alea itu. Will memang bisa bernafas lega, karena percintaannya berakhir dengan baik.
Akan tetapi, perasaan khawatirnya terhadap keselamatan Levi tidak kunjung menghilang meskipun dia telah mempercayakan sepenuhnya pada Rayden.
“Apapun yang terjadi kita harus menyelesaikan misi kita di sini secepat mungkin, Alea! Kita harus segera pulang, karena ada hal penting yang harus selesaikan bersama yang lainnya,” batin Will.
Dia hanya bisa mengatakan itu di dalam hatinya saja, sebab dia tidak ingin Alea khawatir tentang masalah antar kelompok mafianya.
Bersambung,.......
...****************...
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari setiap pukul 10 pagi ‘yah!😍😍...
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah seru Double L, keluarga Xavier dan para pengawal tampannya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...