
...◦•●◉✿Willea✿◉●•◦...
...𝓑𝓾𝓴𝓪𝓷𝓵𝓪𝓱 𝓴𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓬𝓲𝓷𝓽𝓪 𝓪𝓷𝓽𝓪𝓻𝓪 𝓦𝓲𝓵𝓵 𝓭𝓪𝓷 𝓐𝓵𝓮𝓪 𝓼𝓪𝓳𝓪. 𝓜𝓮𝓵𝓪𝓲𝓷𝓴𝓪𝓷 𝓴𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓭𝓪𝓻𝓲 𝓦𝓲𝓵𝓵, 𝓓𝓸𝓾𝓫𝓵𝓮 𝓛, 𝓛𝓮𝓿𝓲 𝓭𝓪𝓷 𝓐𝓵𝓮𝓪. 𝓚𝓪𝓻𝓮𝓷𝓪 𝓲𝓽𝓾𝓵𝓪𝓱, 𝓚𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓲𝓷𝓲 𝓫𝓮𝓻𝓳𝓾𝓭𝓾𝓵...
...◦•●◉✿Willea ✿◉●•◦...
Setibanya di rumah sakit, Luca dan Lucia langsung berlari menghampiri mamahnya. Tidak lupa mereka meminta pelukan dari sang Mamah dan juga Grandma nya yang berada di sana juga.
“Mamah! Grandma, Luci sudah kembali lagi!” seru Lucia dengan riang gembira.
“Benarkah? Lalu dimana Papah dan Grandpa kalian sekarang?” tanya Julia yang tidak menemukan kehadiran Rayden dan Noland di ruangan tersebut.
“Papah, Grandpa dan Kak Levi sedang berbicara di luar,” jawab Luca memberitahu.
Setelah itu, Lucia pun menanyakan tentang kejutan yang akan di terima dari sang papah kepada Mamah dan Papahnya.
Sedangkan Luca langsung bermain dengan layar komputernya. Karena dia masih penasaran apa yang di bicarakan papahnya saat di ruang interogasi tadi.
“Ouhya, … Tadi Papah bilang akan memberikan kami sebuah kejutan, apakah Mamah dan Grandma tahu apa kejutannnya untuk Luci?” tanya Lucia dengan wajah berbinar penuh harap.
“Itu ‘kan namanya kejutan, kalau Mamah memberitahu Luci apa kejutannya. Maka namanya bukan kejutan lagi, nanti malah tidak seru,” jelas Julia berharap cucunya bisa mengerti dengan penjelasannya barusan.
“Benar yang di katakan, Grandma! Yang namanya kejutan orang yang akan mendapatkan tidak boleh mengetahui seperti apa kejutannya nanti.”
Zhia ikut menimpali, sementara Luca sudah asyik dengan laptopnya bahkan dia menggunakan headset agar tidak mengganggu konsentrasinya.
Namun, tidak lama kemudian panggilan alam harus menghentikan kegiatannya untuk mencari tahu apa yang di bicarakan Papahnya dengan Will dan yang lainnya. Luca pun segera berlari ke dalam kamar mandi dan meninggalkan laptopnya begitu saja.
“Apa yang sedang Kak Luca lakukan dengan laptopnya? Luci jadi penasaran,” batin Lucia segera mengambil alih laptop tersebut.
Betapa terkejutnya dia saat mendengar pembicaraan papahnya yang ingin mengorbankan Levi kesayangannya pada Musuh.
Seketika Lucia pun menyadari kenapa Papah dan Grandpanya masih berbicara di luar dengan Levi yang artinya mereka sedang menunggu pesan mengenai Levi akan bertemu dengan Kenzo.
“Luci, ada apa? Kenapa kau tiba-tiba diam begitu?” tanya Zhia yang menyadari perubahan di raut wajah putrinya.
“Tidak ada apa-apa, Mah! Luci mau menemui Papah dan Grandpa dulu ‘yah, Mah?” jawab Lucia yang langsung tersenyum pada mamahnya.
Setelah itu, Lucia segera berlari keluar dari ruangan Mamahnya sedang di rawat. Zhia dan Julia pun membiarkannya keluar begitu saja, sebab mereka yakin bahwa di luar pasti ada penjagaan ketat yang di atur Rayden yang akan selau melindungi keluarga Xavier.
Lucia memang keluar untuk mencari keberadaan Papah dan Grandpanya, tetapi dia tidak langsung menemuinya melainkan menguping pembicaraan mereka.
Dari pembicaraan ketiganya itulah, Lucia akhirnya benar-benar memastikan bahwa Papahnya ingin mengorbankan Levi sebagai umpan.
“Tuan, Saya sudah menerima lokasinya! Saya akan pergi ke sana sekarang juga,” ujar Levi begitu memeriksa pesan dim layar ponselnya.
“Apa? Kak Levi menerimanya begitu saja! Luci tidak bisa membiarkan ini begitu saja. Luci harus melakukan sesuatu untuk membantu Kak Levi,” gumam Lucia yang tidak terima dengan perlakuan yang Levi dapatkan dari sang Papah.
Dia kemudian melangkah pergi dari sana ssecara diam-diam bahkan dnegan mudahnya Lucia menghindari pengawasan dari pengawalnya yang berada di sana.
“Berhati-hatilah, aku akan segera menyuruh Will untuk terus memantau keberadaanmu!” pesan Rayden seraya menepuk pundak Levi seakan memberikan kekuatan kepadanya.
“Baik, Tuan! kalau begitu saya pamit undur diri sekarang,” pamit Levi.
Kemudian segera pergi menuju mobilnya, lalu tancap gas dengan kecepatan penuh menuju lokasi yang telah di kirimkan oleh Kenzo.
Meskipun Levi mengetahui bahwa itu jebakan untuk menangkap dirinya, tetapi keberanianya tidak akan pernah berkurang sedikitpun. Terlebih lagi pengorbanannya ini demi kebaikan semua orang dan dirinya sendiri.
...****************...
Disisi lain, Noland dan Rayden yang hendak masuk untuk menemui istrinya masing-masing di hentikan dengan suara seseorang yang memanggilnya.
“Senang bertemu denganmu kembali, Tuan Xavier?”
Sapaan dari pria itu seketika membuat Noland dan Rayden langsung berbalik, apalagi nama belakang keduanya sama-sama Xavier.
“Tuan Roman! Bagaimana anda bisa sampai di sini?” tanya Rayden secara spontan.
“Cano, jaga sopan santunmu!” Noland pun memperingatkan atau lebh tepatnya menyadarkan Rayden untuk menjaga sikap terhadap orang yang lebih tua.
“Maaf, atas sikap tidak sopan saya barusan. Senang bertemu dengan anda juga, Tuan Roman!”
Setelah di sadarkan oleh papahnya, Rayden pun mengulang sapaannya dengan benar.
“Tidak masalah, aku bisa mengerti kenapa kau terkejut melihatku bisa berada di sini,” ucap Tuan Roman yang tidak terlalu memikirkannya.
“Terima kasih atas sudah mau berbesar hati memaklumi kelakuan putraku ini,” ujar Noland sebagai basa basi.
“Ouh, … Bukankah anda Tuan Bastian?”
Rayden pun menyadari keberadaan Bastian yang terasa tidak asing, sebab dia hanya melihatnya beberapa kali saja di laporan yang di berikan Will kepadanya.
“Benar, Tuan! terima kasih sudah mau menjamin keselamatan saya selama saya di rawat di rumah sakit ini, Tuan Rayden!” ucap Bastian sembari membungkuk memberi hormat.
“Tidak, semua ini karena Levi yang sangat mengkhawatirkan dirimu. Aku tidak bisa membiarkannya terus terjerumus dalam perasaan bersalahnya, karena kau terluka saat ingin menemuinya,” jelas Rayden menjawab dengan jujur mengapa diam au menjamin keselamatan Bastian di sini hanya karena Levi.
“Bagaimana pun juga saya selamat berkat perlindungan dari anda. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih,” ucap Bastian yang merasa sangat berhutang nyawa pada Rayden.
“Baiklah, kau bisa menganggapnya seperti itu. Lalu apa yang membawa Tuan Roman kemari? Bukankah anda sedang dalam pengawasan ketat dari putra anda?”
Akhirnya Rayden pun kembali menanyakan pertanyaan yang sejak tadi menimbulkan rasa penasarannya.
Noland hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan Rayden yang tidak ada sopan santunnya kepada orang yang lebih tua. Meskipun begitu dia juga memaklumi, alasan Rayden bersikap seperti itu.
“Astaga, bocah ini! Aku tahu kau sedang emosi, tapi bisakah kau membedakan waktu yang tepat untuk mengekspresikan amarahmu itu,” gumam Noland yang hanya bisa menghela nafas dengan berat.
“Bisakah kita bicara di tempat yang lebih baik dari ini,” pinta Tuan Roman yang ingin membicarakan masalah penting.
“Tentu saja, silahkan ikuti saya!” sahut Rayden yang akhirnya membawa Tuan Roman dan Bastian ke ruangan pribadi Dr. Ian.
Betapa terkejutnya Dr. Ian ketika Rayden datang membawa segerombolan orang dan mengusirnya dari ruangan miliknya sendiri.
Namun, apalah daya seorang Dr. Ian yang masih sebagian besar mendapatkan penghasilan dari keluarga Xavier. Dr. Ian pun hanya pasrah menerima nasibnya.
“Cano, apa-apaan ini? Kenapa kau membawa tamu mu kemari?” tanya Dr. Ian dengan tampang terkejutnya.
“Aku pinjam sebentar ruanganmu ini, nanti kau hitung saja biaya sewa permenitnya,” ujar Rayden yang mengabaikan pertanyaan Dr. Ian dengan santainya.
Bersambung,.......
...****************...
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari setiap pukul 16.00 WIB ‘yah!😍😍...
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah seru Double L, keluarga Xavier dan para pengawal tampannya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...