Willea

Willea
139. Menepati Janji



...◦•●◉✿Willea✿◉●•◦...


...‌𝓑𝓾𝓴𝓪𝓷𝓵𝓪𝓱 𝓴𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓬𝓲𝓷𝓽𝓪 𝓪𝓷𝓽𝓪𝓻𝓪 𝓦𝓲𝓵𝓵 𝓭𝓪𝓷 𝓐𝓵𝓮𝓪 𝓼𝓪𝓳𝓪. 𝓜𝓮𝓵𝓪𝓲𝓷𝓴𝓪𝓷 𝓴𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓭𝓪𝓻𝓲 𝓦𝓲𝓵𝓵, 𝓓𝓸𝓾𝓫𝓵𝓮 𝓛, 𝓛𝓮𝓿𝓲 𝓭𝓪𝓷 𝓐𝓵𝓮𝓪. 𝓚𝓪𝓻𝓮𝓷𝓪 𝓲𝓽𝓾𝓵𝓪𝓱, 𝓚𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓲𝓷𝓲 𝓫𝓮𝓻𝓳𝓾𝓭𝓾𝓵...


...◦•●◉✿Willea ✿◉●•◦...


Namun, tiba-tiba Will mulai mengatakan sesuatu. Dia berkata, “Saya melihat Nona kecil dalam bahaya, tapi tidak ada yang bisa saya lakukan kecuali diam membeku. Saya merasa tidak dapat menempati janji untuk selalu melindunginya.”


“Hah?”


Seketika Noland tercengang mendengar perkataan Will. Ternyata syok yang di rasakan Will bukan karena orang lain ataupun musuhnya, melainkan karena sejak tadi Will terus menyalahkan dirinya sendiri.


Noland mencoba untuk bertanya, “Memang apa yang terjadi sampai kau sendiri bersikap seperti ini?”


Namun, bukannya menjawab Will malah mengatakan hal lain. Masih dengan tatapan kosong dan raut wajah sendunya.


Will berkata, “Bukan hanya Nona kecil, saya bahkan tidak bisa melindungi adik kecilku.”


Dengan terpaksa Noland harus mengulang bertanya, “Baiklah, lalu apa yang terjadi sampai kau sangat merasa bersalah seperti ini?”


“Levi tertusuk tepat di depan mataku dan kepala Nona kecil hampir saja tertembak, tapi saya tidak bisa berbuat apapun selain mematung di tempat tanpa bisa melakukan apapun,” jelas Will seraya menundukkan wajahnya dnegan sedih.


“Hay, apa kau menangis sekarang?”


Bukannya merasa simpati atau menghibur Will, Noland malah lebih tertarik untuk memastikan Will sedang menangis atau tidak. Sontak saja, Will pun langsung meliriknya dengan tatapan dingin.


Sebab kali ini dia sedang tidak ingin bercanda, hingga seketika Noland langsung terdiam dan mendengarkan cerita Will dengan serius.


“Lalu siapa kira-kira yang berhasil membunuh penembak jitu?” gumam Noland yang sangat penasaran.


“Saya mengira Kenzo yang melakukannya,” sahut Will.


“Kurasa salah satu pengawal Luca, karena tidak mungkin si Kenzo itu akan melakukan itu,” ujar Noland.


“Sudahlah, kita tunggu saja hasil laporan dari Jaydon dan Felix. Yang terpenting untuk sekarang adalah keadaan Levi dan cucu ku,” lanjut Noland menutup pembicaraan di antara mereka.


Hingga di akhir cerita Will dan Noland sama-sama bertanya apa yang terjadi dengan orang yang berniat menembak Lucia.


Will mengira bahwa Kenzo yang telah membunuh penembak jitu tersebut, sedangkan Noland mengira salah satu dari pengawal Luca.


Padahal Luca sendiri yang membunuh penembak jitu tersebut untuk menyelamatkan adik kembarnya.


...****************...


Sementara itu, ambulance yang membawa Alice telah tiba di rumah sakit. Disusul oleh Lucia dan Levi yang sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri.


Bahkan Rayden tidak memperdulikan pandangan semua orang yang menatapnya, karena tubuhnya yang di penuhi oleh darah.


“Bukankah itu Tuan Xavier dan anaknya? Apa yang terjadi dengan mereka?” ujar salah satu pengunjung rumah sakit yang tidak sengaja melihat Rayden melewatinya.


“Sepertinya mereka baru saja mengalami kecelakaan. Lihatlah, tubuhnya di penuhi dnegan darah,” sahut pengunjung yang lainnya.


“Sepertinya begitu! Putrinya juga tidak sadarkan diri,” ujar pengunjung yang lainnya lagi.


Akan tetapi, tidak ada satu pun orang yang mengira bahwa Rayden telah melakukan pertarungan hingga membunuh orang.


Sekali lagi, semua orang hanya berpikir bahwa Rayden dan putrinya telah mengalami kecelakan mobil di suatu tempat hingga di larikan ke rumah sakit.


“Cepat bawa pasien ini ke ruang operasi satu. Denyut nadinya semakin melemah dan siapkan transfusi darahnya,’ ujar seorang dokter pada perawatnya.


Kemudian, dia langsung mengambil alih tubuh Alice dan segera membawanya ke ruang operasi.


“Lalu bagaimana dengan pasien ini, Dok? Saat ini tidak ada dokter lain yang bisa mengoperasi selain Dr. Kevin dan anda, Dr. Ian?” tanya sang perawat memberitahu. Dr. Kevin adalah dokter yang baru saja membawa Alice ke ruang operasi.


“Bawa pasien ke ruang operasi terlebiih dahulu! Pastikan saja denyut jantung dan tekanan darahnya tidak turun, saya akan segera ke sana setelah memeriksa pasien ini terlebih dahulu,” ujar Dr. Ian.


Dia tidak bisa mengabaikan kondisi Lucia begitu saja, terlebih lagi dia adalah seorang anak kecil dan salah satu anggota keluarga inti Xavier.


“Baik, Dokter!” sahut sang perawat.


Mereka pun segera membawa Levi keruangboperasi yang tersisa, sementara Dr. Ian langsung membawa Lucia ke ruang perawatan dan segera melakukan pemeriksaan secara menyeluruh.


Alice, Levi dan Lucia segera mendapatkan perawatan dari para dokter terbaik yang berada di rumah sakit tersebut.


Awalnya Dr. Ian di perintahkan untuk merawat Lucia tapi melihat Lucia yang tidak mengalami luka sedikitpun, dia pun langsung menuju ke ruang operasi untuk menyelamatkan Will.


“Bagaimana dengan kondisi putri saya, Dok?” tanya Rayden dengan perasaan khawatir ketika Dr. Ian baru saja keluar dari ruang rawat Lucia.


Disaat yang bersamaan, perawat yang tadi membawa Levi datang dan memberitahu bahwa kondisi Levi semakin memburuk.


Perawat itu berkata, “Dok, tekanan darah dan denyut jantung pasien yang bernama Levi tiba-tiba menurun drastis!”


“Ayo, kita segera menuju ke ruang operasi. Siapkan semuanya” ujar Dr. Ian pada perawat tersebut.


“Cano, putrimu baik-baik saja! Dia hanya sedikit mengalami syok dan juga kelelahan, aku sudah menyuruh perawat lain untuk memasangkan selang infus dan mengganti pakaiannya yang penuh darah.”


Sebelum pergi Dr. Ian pun menjelaskan tentang kondisi Lucia secara singkat, pada dan jelas agar Rayden ataupun yang lainnya tidak terlalu khawatir.


“Kau ini sudah berapa kali aku peringatkan agar tidak melibatkan anak-anakmu dalam perkelahian antar mafia. Telingamu itu terbuat dari batu atau apa?”


Kemudian, Dr. Ian membisikan sesuatu yang menyindir Rayden secara langsung sebelum benar-benar meninggalkan Rayden di sana.


Rayden hanya bisa terdiam, hingga Julia dan Zhia menghampiri dirinya serta putranya yang selalu berada di sampingnya. Sebelumnya Rayden tidak menyadari keberadaan istri dan mamahnya di sana.


“Ray?” lirih Zhia dengan berlinang air mata melihat seluruh tubuh suaminya di penuhi dengan darah.


“Cano?” Begitu juga Julia yang tercekat melihat putranya itu.


Hingga tiba-tiba Luca berlari memeluk Zhia sembari berseru, “Mamah!!”


Zhia pun memeluk erat putranya disertai air mata yang tidak bisa dia bendung lagi. Sementara seketika Rayden pun langsung berbalik menatap istri dan mamahnya, terlihat mata Rayden sudah berkaca-kaca.


“Zhi, …”


Terdengar nada suara Rayden gemetar saat memanggil nama istrinya. Tanpa berpikir panjang maupun merasa jijik dengan penampilan Rayden yang di penuhi darah dari orang lain, Zhia pun segera menghampiri dan memeluk suaminya dengan begitu erat sambil menangis.


“Kenapa kau tidak mengatakan apapun padaku saat pergi? Kau tahu betapa khawatirnya aku! Aku terus merasakan firasat buruk saat mengatahui kau, Luca dan Lucia tidak berada di sampingku. Apa kau tahu betapa frustasinya aku membayangkan hal buruk terjadi pada kalian. Hiks, … Hikss, …” cecar Zhia di sela isak tangisnya.


Rayden tak kuasa menahan tangisnya lagi melihat istrinya yang sudah terisak. Di sela tangisnya Rayden berkata, “Aku memang berhasil menepati janji padamu, Zhi! Baik aku maupun Luca dan Lucia tidak terluka sedikitpun tapi Levi, _....”


Bersambung,.......


...****************...


...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...


...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...


...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...


...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...


...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....


...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...


...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...


...Agar tidak ketinggalan kisah seru Double L, keluarga Xavier dan para pengawal tampannya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...


...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...