Willea

Willea
154. Kesedihan



...◦•●◉✿Willea✿◉●•◦...


...‌𝓑𝓾𝓴𝓪𝓷𝓵𝓪𝓱 𝓴𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓬𝓲𝓷𝓽𝓪 𝓪𝓷𝓽𝓪𝓻𝓪 𝓦𝓲𝓵𝓵 𝓭𝓪𝓷 𝓐𝓵𝓮𝓪 𝓼𝓪𝓳𝓪. 𝓜𝓮𝓵𝓪𝓲𝓷𝓴𝓪𝓷 𝓴𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓭𝓪𝓻𝓲 𝓦𝓲𝓵𝓵, 𝓓𝓸𝓾𝓫𝓵𝓮 𝓛, 𝓛𝓮𝓿𝓲 𝓭𝓪𝓷 𝓐𝓵𝓮𝓪. 𝓚𝓪𝓻𝓮𝓷𝓪 𝓲𝓽𝓾𝓵𝓪𝓱, 𝓚𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓲𝓷𝓲 𝓫𝓮𝓻𝓳𝓾𝓭𝓾𝓵...


...◦•●◉✿Willea ✿◉●•◦...


“Tidak, seharusnya aku yang berterima kasih padamu! Karena sudah mau menganggap ku seperti ibumu sendiri. Dan terima kasih juga selama ini sudah selalu melindungi keluarga kami, hingga sampai mempertaruhkan nyawamu,” ucap Zhia sambil terus membelai kepala Levi seperti dia sedang membelai Luca dan Lucia.


“Kau anak yang baik dan juga sangat hebat! Aku yakin Papah dan Mamahmu di atas sana pasti akan sangat bangga melihatmu tumbuh seperti ini,” lanjut Zhia.


“Hiks, … Terima kasih banyak telah mengatakan seperti itu padaku,” ucap Levi di sela isakan nya.


Kemudian, Levi beralih pada Noland dan Julia untuk berpamitan. Baik Noland maupun Julia tidak mengatakan apapun selain menyuruhnya untuk menjaga diri dengan baik.


Namun, Noland dan Julia mendekap tubuh Levi secara bersamaan. Sehingga Levi ssemakin merasakan kehangatan atas kasih sayang dari mereka semua.


Saat itu, Levi tidak memperdulikan apapun tentangnya sebagai bocah psikopat ataupun dewa kematian yang kejam.


Levi tetap menangis di dalam pelukan semua orang sampai sesegukan. Kini tiba giliran untuk berpamitan dnegan Will dan yang lainnya.


“Will?” ujar Levi dengan suara gemetar berusaha untuk tidak menangis, setidaknya di hadapan Will dan teman-temannya.


“Lain kali, kalau kita bertemu lagi! Kau tidak memanggilku ‘Will’ lagi, tapi panggil aku Kakak. Mengerti?” pinta Will sambil tersenyum manis pada adik kecil kesayangannya itu.


“Hikss, … Te-terima kasih selama ini sudah mengajariku mengenai banyak hal. Kau kakak terbaik yang pernah aku temui, terima kasih!”


Pada akhirnya Levi tetap kalah dengan air matanya, dia kembali menangis di dalam pelukan Kakak terbaiknya. Semua orang pun akhirnya ikut menangis sedih, sebuah perpisahan sungguh menyayat hati banyak orang.


“Adik kecil kesayangku! Ingatlah, aku tidak pernah mengajarkanmu tentang dunia malam. Jadi, hindari itu saat di sana. Kau harus menghindarinya ‘yah!” goda Will yang seperti sihir untuk Levi, hingga membuatnya tertawa kecil ketika mendengarnya.


“Hehee, … Baiklah, aku akan selalu mengingatnya,” ujar Levi sambil tersenyum di sela tangisnya.


“Baguslah, jangan jadi anak nakal di sana. Karena aku tidak bisa datang dengan cepat untuk menyeret mu. Kau tahu itu, bukan!” goda Will lagi.


“Iya, aku tahu! Kakak Will yang bawel dan sekarang bukan jomblo sejati lagi, Hehehe!” Kali ini, Levi membalasnya dengan menggoda Will balik.


“Dasar kau bocah sialan,” umpat Will yang hanya bercanda seperti biasanya.


Setelah itu, Levi berpamitan pada Felix dan Jaydon serta yang lainnya secara sekaligus. Mungkin untuk Felix dan Jaydon, Levi mengatakan secara pribadi tapi tidak untuk anak buahnya yang lainnya.


Hingga tiba saatnya berpamitan pada si kembar. Luca yang sudah mengerti dan menegtahui segalanya sejak awal memang bisa melepas kepergian Levi dengan mudah.


Tapi tidak dengan Lucia, keduanya sangat dekat dan Lucia tidak tahu mengenai kepergian Levi hingga sekarang.


“Jaga diri di sana dengan baik, Kak Levi! Jika butuh bantuan Luca katakan saja. Luca akan siap siaga untuk membantu Kak Levi,” ujar Luca penuh dengan percaya diri.


“Tentu, kemampuan Tuan kecil memang yang terbaik bahkan jika itu di bandingkan dengan kemampuan Tuan muda,” balas Levi seraya tersenyum.


Terakhir dan yang paling sulit yaitu berpamitan pada Nona kecilnya, Lucia. Gadis kecil yang telah berhasil mencuri hari Levi diam-diam, hingga tidak tersisa sedikitpun hati untuk wanita lain. Tepat di hadapan Nona kecilnya, Levi berjongkok untuk menyetarakan tingginya dengan Lucia.


Kemudian Levi meraih kedua tangan mungil Lucia, menatap wajahnya dengan lekat untuk beberapa saat. Lalu dia berkata, “Nona kecil, saya harus pamit pergi sekarang!”


Saat itu, mata mereka saling bertemu dan terpaku satu sama lain. Hati Levi seakan hancur berkeping-keping ketika melihat air mata Lucia mengalir deras kerena dirinya. Dengan lembut, Levi mencoba untuk menghapus air mata itu tanpa berkata sedikitpun.


“Jangan pergi!” pinta Lucia dengan suara bergetar.


“Tetaplah berada di sisi, Luci!”


Pintanya lagi dengan sangat memohon, air matanya semakin mengalir derat. Genggaman tangannya semakin erat, menggenggam tangan Levi seakan tidak akan pernah untuk melepaskannya.


“Kenapa kau Levi meninggalkan Luci! Bukankah kau Levi sudah berjanji tidak akan pergi, tiadakan mati dan tidak akan kemanapun tanpa ijin dari Luci. Hiks, … Maka dari itu, jangan pergi! Lucia tidak akan pernah mengijinkan Kak Levi untuk pergi kemanapun. Hiks, … Huhuhu, ….” cecar Lucia dalam isak tangisnya.


Melihat Levi yang yang tidak mampu berkata apapun lagi, Rayden dan Zhia pun mencoba membantunya untuk membuat Lucia mengerti.


Akan tetapi, Lucia menepisnya dengan keras. Karena ini merupakan janji yang telah di buat antara Levi dengannya saja. Namun, Levi masih saja diam membisu hanya air matanya yang terus mengalir sembari menundukkan kepalanya.


Lucia langsung saja memeluk tubuh Levi dengan erat sembari berbisik, “Jangan pergi, Kak Levi! Tetaplah berada di sisiku, jangan pergi kemanapun.


“Maaf, Nona kecil! Kakek sudah menunggu, saya harus pergi sekarang,” ucap Levi penuh dengan kepedihan.


“Tidak! Jangan pergi, ….” teriak Lucia semakin mempererat pelukannya pada Levi.


“Nona, tolong lepaskan! Saya harus pergi sekarang,” pinta Levi tak berdaya, sesungguhnya dia tidak pernah ingin Lucia melepaskan pelukannya itu.


“TIDAK!! Huhuhuu, ….” bentak Lucia di iringi isak tangisnya yang semakin menjadi.


“Kakek, tolong jangan bawa Kak Levi-ku pergi! Luci mohon jangan bawa Kak Levi pergi. Huhuuu, ….” pinta Lucia berusaha menghiba dan memohon pada Kakek Roman.


“Lucia!”


Rayden langsung turun tangan dan berusaha memisahkan Lucia dari Levi. Namun, bukannya terpisah, Lucia malah semakin melekat pada Levi. Semua orang merasa sangat sedih melihat kejadian itu.


“Tidak Papah! Kak Levi tidak boleh pergi kemana pun!”


Lucia terus berteriak sembari memperkuat pelukannya pada Levi. Tidak ingin Nona kecilnya terluka, Levi berusaha menguatkan hati untuk melepaskan pelukan Lucia padanya.


Perlahan Levi mulai melepaskan tangan Lucia sembari berkata, “Maaf, Nona! Saya harus tetap pergi. Maaf, saya tidak bisa menempati janji.”


“Setidaknya untuk sekarang! Maafkan, aku Lucia,” batin Levi seraya berjalan pergi dengan langkah yang sangat berat.


Kakek Roman dan Bastian terdiam, mereka merasa sangat pilu melihat penolakan Lucia atas keputusan Levi. Akan tetapi, mereka berdua juga tidak bisa melakukan apapun. Demi kebaikan bersama, Kakek Roman dan Bastian pun langsung mengikuti Levi pergi dari sana.


“Tidak! Jangan pergi Kak Levi! Jangan pergi.”


“Papah! Cepat hentikan Kak Levi! Jangan biarkan Kak Levi meninggalkan Luci, Papah! Huhuuu, …”


“Luci, tenanglah sayang!” bujuk Rayden berusaha menenangkan putrinya.


Lucia terus berteriak meminta, memohon dan berharap Levi akan mendengarnya. Sembari berusaha memberontak melepaskan diri dari dekapan papahnya dan berniat mengejar Levi untuk menghentikannya pergi.


Bersambung,.......


...****************...


...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...


...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...


...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...


...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...


...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....


...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...


...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...


...Agar tidak ketinggalan kisah seru Double L, keluarga Xavier dan para pengawal tampannya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...


...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...