Willea

Willea
151. Pengakuan Cinta



...◦•●◉✿Willea✿◉●•◦...


...‌𝓑𝓾𝓴𝓪𝓷𝓵𝓪𝓱 𝓴𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓬𝓲𝓷𝓽𝓪 𝓪𝓷𝓽𝓪𝓻𝓪 𝓦𝓲𝓵𝓵 𝓭𝓪𝓷 𝓐𝓵𝓮𝓪 𝓼𝓪𝓳𝓪. 𝓜𝓮𝓵𝓪𝓲𝓷𝓴𝓪𝓷 𝓴𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓭𝓪𝓻𝓲 𝓦𝓲𝓵𝓵, 𝓓𝓸𝓾𝓫𝓵𝓮 𝓛, 𝓛𝓮𝓿𝓲 𝓭𝓪𝓷 𝓐𝓵𝓮𝓪. 𝓚𝓪𝓻𝓮𝓷𝓪 𝓲𝓽𝓾𝓵𝓪𝓱, 𝓚𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓲𝓷𝓲 𝓫𝓮𝓻𝓳𝓾𝓭𝓾𝓵...


...◦•●◉✿Willea ✿◉●•◦...


Rayden menghela napas panjang, kemudian berkata, “Baiklah, lakukan saja sesuka hatimu Lucia!”


“Yeah, … Papah memang yang terbaik!” Luci langsung bersorak sorai penuh kemenangan.


Akhirnya Levi dengan terpaksa menuruti keinginan Lucia. Sebenarnya Levi merasa sangat bahagia sekaligus akan menjadikan kejadian hari sebagai kenangan paling berharga selama hidupnya, tapi tatapan tajam seluruh anggota Xavier membuatnya menjadi sudah untuk mencerna yang masuk ke dalam perutnya.


Terutama tatapan membunuh dari Rayden yang sangat jelas di tunjukan kepadanya. Belum berhenti sampai di sana saja, hampir selama 24 jam Lucia bersikeras untuk selalu berada di sisi Levi.


Seharusnya Levi merasa sangat bahagia mendapat perlakuan khusus dari Nona kecil tercintanya tapi tatapan Rayden sungguh membuatnya hampir tidak bisa bernapas.


Keesokan harinya, Lucia dan Zhia di ijinkan pulang oleh Dokter. Selama itu juga, mereka harus bolak balik ke rumah sakit untuk menemani Lucia bertemu dengan Levi. Sebagian besar waktu Lucia, akhirnya di habiskan untuk menemani Levi di rumah sakit.


Mendengar kabar bahwa Levi akan segera kembali ke negara asalnya. Felix, Jaydon dan seluruh anggota klan BlackSky secara bergantian menemui Levi setiap harinya. Jauh berbeda dengan Alice, dia masih saja di anggap sebagai pengkhianat keluarga Xavier.


Sehingga tidak ada satu pun yang menjenguknya kecuali Alea, Karina dan juga Will. Sementara keluarga Xavier belum membuat keputusan apapun mengenai Alice, meskipun Lucia dan Will telah memberitahu semua orang bahwa Alice yang telah melindunginya.


Benar juga perkataan Rayden yang mengatakan dia akan mencoba bicara dengan Levi, jika di berikan kesempatan oleh putrinya sendiri. Hingga tibalah waktu, Rayden dan Levi berdua di ruangan tersebut. Karena Lucia ajak berjalan-jalan di taman oleh Kakek Roman.


“Kata Dokter kapan kau bisa keluar dari rumah sakit?” tanya Rayden mencoba membuka topik pembicaraan


“Kemungkinan besok saya sudah di ijinkan untuk pulang, tinggal menunggu hasil dari pemeriksaan terakhir kali,” jawab Levi yang menyadari arah dari pembicaraan itu.


“Apakah kau sudah membuat keputusan?” Akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulut Rayden.


“Iya, saya akan segera meninggalkan negara ini begitu keluar dari rumah sakit. Kakek sudah mengurus semua kepindahannya untukku,” jelas Levi dari raut wajahnya, terlihat sekali dia tidak ingin meninggalkan siapapun.


“Bisakah kau mengundurnya beberapa hari? Kami akan mengadakan Gender Reveal Party sekaligus sebagai pesta terakhir bersama denganmu sebelum kau pergi. Semua orang menyiapkan sebaik mungkin agar kau selalu mengingat kami semua yang berada di sini,” ujar Rayden setengah memohon.


“Bukankah kau juga harus berpamitan pada yang lainnya sebelum pergi?” lanjut Rayden seakan sedikit memaksa Levi untuk mengikuti keinginannya.


“Baiklah, aku akan membicarakannya dulu dengan Kakek,” sahut Levi yang ragu untuk menghadirinya.


“Sejak kapan kau menjadi anak yang penurut, itu sama sekali tidak cocok dengan karakter Zaender Levi. Besok kami akan menjemputmu, tinggal di Mansion sampai kau pergi!” ujar Rayden yang tidak akan menerima kata penolakan dari Levi.


Seperti yang yang sudah di baha, keesokan harinya Levi pun ijinkan untuk pulang dari rumah sakit. Sesuai janji Rayden dan yang lainnya menjemput kepulangan Levi di rumah sakit dan tinggal di Mansion lama milik Noland dan Julia.


Selama tinggal di Mansion, Levi benar-benar mendapatkan semua moment indah dari semua orang dan terutama dari Nona kecilnya. Hingga malam harinya sebelum acara Gender Reveal Party di mulai keesokan harinya, Levi pun berniat untuk mengatakan pada Lucia bahwa dirinya akan segera kembali ke negara asalnya.


Malam itu, Levi yang sedang duduk termenung di bangku taman kecil yang berada di halaman Mansionsembari memikirkan tentang perpisahannya besok dengan semua orang.


Tiba-tiba di datangi oleh Luca dan Lucia yang tidak sengaja melihatnya saat akan menuju ke kamar mereka.


“Kak Levi sedang apa di sini?” tanya Lucia yang langsung duduk di samping Levi dan bergelayut manja padanya.


“Ouh, saya hanya ingin mencari udara segar saja, Nona kecil!” jawab Levi sekenanya.


“Angin malam tidak baik untuk kesehatan, apalagi Kak Levi masih belum sembuh sepenuhnya,” ujar Luca secara tidak langsung mengingatkan pada Levi tentang kesehatannya.


Lucia membenarkan perkataan kakaknya dan mencoba mengajak Levi untuk kembali ke dalam Mansion.


Sesaat Levi memang terdiam, seketika raut wajahnya tyerlihat serius seraya berkata, “Nona, ada sebenarnya ada sesuatu yang ingin saya katakan padamu!”


“Ada apa, Kak?” tanya Lucia yang mulai penasaran dengan apa yang akan di katakan Levi padanya.


“Se-sebenarnya besok saya akan, _….”


Levi tidak dapat melanjutkan perkataannya, karena Luca dengan keras memberikan isyarat untuk tidak mengatakan apapun pada Lucia mengenai kepergiannya.


Levi pun menjadi sangat ragu untuk mengatakan yang sejujurnya soal kepergiannya pada Lucia. Sudah pasti Lucia akan menangis dan akan melakukan segala cara agar Levi tidak pergi kemana pun saat itu juga.


“Besok akan apa, Kak? Kenapa Kak Levi tidak meneruskannya? Sebenarnya Kak Levi mau mengatakan apa ‘sih? Luci jadi semakin merasa penasaran,” desak Lucia yang memang semakin di buat penasaran dengan apa yang ingin Levi sampaikan kepadanya.


“Mungkin Kak Levi hanya ingin kita melakukan permainan tebak adik kita laki-laki atau perempuan. Iya ‘kan, Kak Levi?” Dengan cepat Luca mencari alasan untuk menutupi yang sebenarnya.


“Iya, benar!” sahut Levi lirih.


Akhirnya malam itu hanya berakhir dengan Levi, Luca dan Lucia membuat tebakan mengenai jenis kelamin bayi yang masih di dalam kandungan Zhia. Malam itu juga, Levi sudah mengemasi semua barangnya.


Semalam Levi tidak bisa tertidur sama sekali, hanya untuk memikirkan hari esok. Secara diam-diam, Levi masuk ke dalam kamar Lucia dan hanya menatap gadis kecil tercintanya itu sedang tidur dnegan lelapnya.


Bahkan tanpa sadar, air mata seorang Levi jatuh begitu saja saat membayangkan tangis Lucia begitu mengetahui dirinya akan pergi.


“Nona kecil, aku harap besok aku hanya akan melihat senyuman darimu! Jangan menangis, jika kau sudah mengetahui semuanya. Atau langkah kakiku akan terasa semakin berat untuk meninggalkan tempat ini,” gumam Levi dengan buliran air mata yang mengalir di wajahnya seraya membelai rambut Lucia dengan lembut.


“Sampai kapan pun aku tidak akan melupakan dirimu gadis kecilku, Lucia! Karena aku sangat mencintaimu,” lanjutnya berbisik sembari mencium kening Lucia yang tengah tertidur.


“Selamat tinggal, Gadis kecilku tercinta!” pamit Levi berharap bisa tersampaikan di alam mimpi Lucia.


Bersambung,.......


...****************...


...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...


...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...


...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...


...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...


...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....


...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...


...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...


...Agar tidak ketinggalan kisah seru Double L, keluarga Xavier dan para pengawal tampannya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...


...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...