Willea

Willea
Extra Bonus



Puas berpelukan, mereka pun mempersilahkan istrinya untuk duduk di meja makan yang sudah di sediakan berbagai hidangan dan tidak lupa sebotol wine juga tersaji agar suasana dinner mereka semakin romantis. Namun, tidak untuk Zhia dan Alea.


Mengingat Zhia yang baru saja menjalani operasi caesar dan Alea yang sedang mengandung anak pertama. Sehingga hanya pasangan Noland dan Julia saja yang bisa menikmati wine tersebut.


Di tempat Will, hormon kehamilan Alea kembali membuat Will merasa khawatir. Pasalnya, Alea terus menangis tanpa sebab sampai membuat Will menjadi bingung sendiri menghadapinya. Will pun menjadi ikut menangis sendiri, karena tidak tahan dengan situasinya sekarang.


“Jangan menangis lagi, sayang! Maaf, seharusnya aku tidak terlibat dengan rencana Tuan muda dan Tuan besar,” ucap Will sembari bersimpuh di kaki Alea sambil menitikkan airmatanya.


“Tidak, Will! Seharusnya aku yang minta maaf, karena hormon kehamilanku ini. Aku tanpa sadar selalu melukaimu, entah itu dengan semua perkataan maupun perbuatanku yang menyuruhmu untuk menjaga jarak denganku. Maafkan aku! Hiksss, ….” jelas Alea yang semakin terisak saat mengatakannya, tapi dia tidak ingin kesalahpahaman ini semakin berlanjut lama.


“Tidak, sayang! Kau tidak perlu meminta maaf padaku, aku mengerti perasaanmu. Jadi, jangan menangis lagi! Kasihan bayi kita, dia pasti merasakan kesedihanmu sekarang, karena kau adalah ibunya, ibu dari anakku,” ujar Will yang langsung meraih tubuh Alea ke dalam pelukannya untuk menenangkannya.


“Aku taku kau akan membenciku, karena semua sikapku,” gumam Alea yang masih terisak di dalam pelukan suaminya.


“Aku malah takut, kau akan merasa mual lagi jika aku memelukmu seperti ini! Apakah kau sudah baik-baik saja sekarang?” tanya Will yang lebih mengkhawatirkan keadaan istri dan anaknya di bandingkan dengan perasaannya sendiri. Alea pun hanya menggelengkan kepalanya pertanda, dia sudah tidak merasa mual saat bersama dengan Will.


...****************...


Beralih pada Rayden dan Zhia yang masih saling diam, karena Rayden tidak terbiasa menghadapi seorang wanita. Namun, Rayden tidak ingin menyerah begitu saja. Dengan mengumpulkan semua keberaniannya dan juga membuang harga dirinya, Rayden pun berusaha untuk membuka pembicaraan dengan Zhia.


“Maaf, aku belum bisa menjadi ayah yang baik untuk anak-anak kita. Dan bahkan belum bisa menjadi suami yang baik untukmu, Maafkan aku, Zhi!”


Hanya permintaan maaf saja dan sebuah pengakuan yang bisa Rayden katakan.


“Tidak, Ray! Kau sudah berusaha semampumu untuk menjadi suami yang baik untukku dan ayah yang baik buat anak-anak kita. Saat itu kau memeng bersalah, tapi tidak seharusnya aku bersikap seperti itu. Aku tidak tahu, kenapa aku tiba-tiba sangat emosi seperti itu. Aku ‘lah yang seharusnya meminta maaf kepadamu,” ujar Zhia yang juga menyadari kesalahannya.


“Maafkan aku, Ray?” lanjutnya dengan tatatapan penuh penyesalan dan juga kerinduan.


Rayden pun kembali menghampiri Zhia dan meraih tubuhnya ke dalam pelukannya seraya berkata, “Jangan menangis, ini bukan salahmu! Aku malah akan merasa bersalah padamu kalau kau tidak seperti itu padaku akhir-akhir ini. Sebab aku tahu, melahirkan dan merawat tiga bayi sekaligus sangatlah sulit. Aku menjadi sadar bahwa betapa menderitanya hidupmu saat Luca dan Lucia lahir waktu itu.”


“Tak apa, lupakan masa lalu! Mulai sekarang kita sama-sama belajar untuk menjadi pasangan yang lebih baik lagi, menjadi orang tua yang terbaik bagi Double L dan Triple R. Kau mau ‘kan, Ray?” ujar Zhia yang tidak ingin membahas luka lama lagi.


“Tentu saja! Zhi, terima kasih karena sudah menjadi istriku serta menjadi ibu dari anak-anakku,” ucap Rayden dengan setulus hatinya.


“Terima kasih juga untukmu, Ray! Karena sudah menjadi suamiku serta ayah dari anak-anakku. Berkat kehadiranmu di dalam hidupku, aku merasa menjadi wanita yang paling beruntung di dunia ini,” ucap Zhia yang juga merasakan hal yang sama dengan Rayden.


“Aku yang beruntung karena bertemu dnegan dirimu, Zhi!” ujar Rayden sembari mencium kening istrinya.


...****************...


Kemudian, kita beralih pada pasangan Noland dan Julia. Karena takut salah lagi di depan istrinya, Noland pun lebih memilih untuk membicarakan hal lain. Dan ternyata Julia menanggapinya dengan baik, bahkan terlihat seperti mereka sedang bertengkar. Sehingga Noland pun tidak tahan untuk bertanya karena rasa penasarannya yang begitu tinggi mengenai alasan Julia marah dengannya.


“Sayang, bolehkan aku bertanya?” pinta Noland yang sekit ragu-ragu.


“Tentang apa?” sahut Julia dengan santainya.


“Sebenarnya apa yang membuatmu marah selama beberapa hari sampai mengusirku untuk tidur di luar seperti Cano. Aku akui bahwa baik aku maupun Cano memang lengah saat menjaga anak-anak, tapi bukankah kemarahanmu cukup keterlaluan!” Akhirnya Noland menanyakannya juga.


“Memang awalnya aku marah atas sikap tidak bertanggung jawab darimu dan Cano, tapi hanya beberapa saat saja,” ungkap Julia yang sebenarnya dia rasakan saat itu.


“Lalu kenapa kau mengusirku untuk tidur di luar selama seminggu?” tanya Noland yang semakin penasaran dengan alasan sebenarnya.


“Entahlah, melihatmu dan Cano menjadi cukup membuatku ingin meneruskan seperti itu. Tapi aku tidak menyangka kalian akan menyiapkan semua ini untuk mendapatkan maaf dari kami,” jelas Julia tanpa rasa bersalah sedikit.


“Jadi selama ini hanya itu alasanmu membiarkan aku tidur di luar?” ujar Noland yang tampak terkejut dan tidak percaya.


“Iya,” jawab Julia membenarkan.


Tiba-tiba alunan musiknya berganti menjadi sebuah alunan yang seakan mengajak mereka untuk berdansa romantis. Baik pasangan Noland-Julia, Rayden-Zhia dan Will-Alea pun mulai berdansa dibawah sinar rembulan dan di antara cahaya bunga LED yang begitu indah.


...****************...


Suasana romantis itu, ternyata di rekam oleh Felix dan Jaydon sebagai kenang-kenangan. Dimana ketiga pria yang selama ini sangat di takuti para musuhnya, takluk di hadapan wanita yang di cintainya. Hingga terlintas di benak Felix untuk mengundang satu orang lagi yang senasib dengan ketiga pria yang sedang di mabuk cinta itu.


“Kau merekamnya dengan baik, bukan?” tanya Felix memastikan bahwa Jaydon melakukan tugasnya dengan baik.


“Tentu saja, kalau tidak percaya lihatlah ini! Mereka benar-benar di taklukan oleh istri-istrinya,” ujar Jaydon sembari menunjukan bukti rekaman yang sedang di ambilnya.


“Bagaimana kalau kita hubungi Levi? Biar dia ikut belajar dari ketiga pria yang sedang di mabuk cinta itu, bukankah dia juga sedang di mabuk cinta kepada Nona kecil?” cetus Felix ketika teringat dengan Levi.


“Cobalah, aku juga penasaran dengan reaksinya.” Jaydon pun setuju dengan ide dari Felix.


Tanpa buang waktu, Felix langsung saja menghubungi Levi dengan menggunakan panggilan videocall. Dan tak perlu lama, Levi menerima panggilan video itu yang langsung memperlihatkan wajah juteknya.


“Ada apa? Aku sedang sangat sibuk tahu!” ketus Levi yang memang masih berada di dalam ruang kerja pribadinya.


“Apa kau ingin belajar cara menaklukan Nona kecil? Maka perhatiakan mereka dengan seksama,” ujar Felix yang langsung mengubah menjadi kamera belakang dan penunjukan pemandangan romantis dari ketiga pasangan itu.


“Hah? Apa yang terjadi dengan mereka semua?” Sontak saja, Levi yang melihatnya pun sangat terkejut.


“Mereka baru saja berbaikan,” ujar Felix yang membuat Levi semakin penasaran hingga tidak fokus bekerja lagi.


“Memangnya apa yang terjadi?” tanya Levi yang semakin penasaran.


Namun, belum sempat Felix menceritakan kejadiannya. Tiba-tiba Luca dan Lucia menghampiri mereka dan bahkan dari kejauhan Lucia bisa mendengar suara levi.


“Apakah itu Kak Levi?” tanya Lucia yang tiba-tiba muncul di belakang Felix.


“Nona kecil? Sejak kapan anda berada di sini?” ujar Felix yang terkejut dengan kehadiran Lucia dan bahkan ada Luca juga di sana.


“Seharusnya kau bertanya kenapa mereka datang ke sini?” ujar Jaydon menimpali.


“Kak Felix,berikan ponselnya pada Luci!” Namun, bukannya menjawab luciamalah hanya fokus mengobrol dengan Levi setelah berhasil merebut ponsel yang berada di tangan felix.


“Kami datang untuk melihat kembang apinya! Bukankah sebentar lagiakan di mulai?” jelas Luca yang akhirnya menjelaskan keberadaan mereka di sana.


“Ouh, … Benar! Ini memang sudah waktunya untuk pesta kembang apinya. Jay, kau tetaplah di sini dan jaga mereka. Aku yang akan mengurus soal kembang apinya,” ujar Felix yang baru teringat dengan tugasnya yang lain.


Dia bisa mendapat masalah besar, jika Luca tidak mengingatkannya tentang acara pesta kembang api yang menjadi puncak makan malam romantis ketiga pasangan itu dan di tambah lagi pasangan via virtual yaitu Levi dan Lucia.


Felix pun langsung pergi memastikan persiapan kembang apinya. dan membiarkan ponselnya di ambil alih oleh Lucia yang asyik mengobrol dengan Levi. Begitu semua persiapannya sudah sempurna, Felix pun memberikan isyarat jari yang menandakan hitungan mundur akan di mulai.


Satu, …. Dua, …. Tiga, ….


Duar, ….Duarrrrr, …..


Suara keras kembang api yang meluncur dan meledak di langit malam, semakin menambah suasana romantis pada malam itu. Tiada kata yang bisa menggambarkan suasana pada malam itu.


Ilustrasi pesta kembang apinya!