Willea

Willea
144. Sekarang harus apa?



...◦•●◉✿Willea✿◉●•◦...


...‌𝓑𝓾𝓴𝓪𝓷𝓵𝓪𝓱 𝓴𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓬𝓲𝓷𝓽𝓪 𝓪𝓷𝓽𝓪𝓻𝓪 𝓦𝓲𝓵𝓵 𝓭𝓪𝓷 𝓐𝓵𝓮𝓪 𝓼𝓪𝓳𝓪. 𝓜𝓮𝓵𝓪𝓲𝓷𝓴𝓪𝓷 𝓴𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓭𝓪𝓻𝓲 𝓦𝓲𝓵𝓵, 𝓓𝓸𝓾𝓫𝓵𝓮 𝓛, 𝓛𝓮𝓿𝓲 𝓭𝓪𝓷 𝓐𝓵𝓮𝓪. 𝓚𝓪𝓻𝓮𝓷𝓪 𝓲𝓽𝓾𝓵𝓪𝓱, 𝓚𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓲𝓷𝓲 𝓫𝓮𝓻𝓳𝓾𝓭𝓾𝓵...


...◦•●◉✿Willea ✿◉●•◦...


“Apa Papah tidak masalah saat mendengarnya?” tanya Rayden masih dengan tatapan kemarahan.


“Tidak ada gunanya kita membahas masalah ini, Cano!” ujar Noland yang sama sekali tidak tertarik dengan topik pembicaraan yang berhasil menaikkan amarah Rayden pada level tertinggi.


Kemudian, Noland pun langsung beralih menatap Dr. Ian yang menunggu kesempatan agar bisa bicara. Raut wajah Noland saat ini sangat serius.


Lalu dengan nada datarnya dia bertanya, “Ian, kenapa darah Cano dan Levi bisa sama? Itu bukan berarti Levi itu anakku atau cucuku, bukan?”


Mendengar pertanyaan konyol Noland, Dr. Ian pun tak kuasa untuk tidak tertawa. Namun, berkat pertanyaan konyol itu, ketegangan yang di rasakan Dr. Ian sejak dia salah bicara kini sudah semakin di rasakan lagi.


“Pffttt, … Hahahaa, … Kau ini bicara apa?” ujar Dr. Ian di sela tawanya.


“Tentu saja bukan! Mungkin ini hanya situasi kebetulan saja atau yang biasa di sebut semua orang sebagai takdir, bahwa Putramu ini dan Levi memiliki golongan darah yang cukup langka,” lanjutnya.


“Apa kau yakin?” Noland coba memastikan.


“Sangat yakin! Tapi kalau kau masih meragukannya, bagaimana kalau kita lakukan saja tes DNA? Dengan begitu semua akan terlihat sangat jelas,” ujar Dr. Ian sembari memberikan sebuah solusi.


“Hai, apa kalian sudah gila!” teriak Rayden yang semakin frustasi dnegan pembicaraan Noland dan Dr. Ian itu.


Noland dan Dr. Ian pun sama-sama terkejut mendengar teriakan Rayden, bahkan semua oerang yang berada di dalam Café itu langsung menatap ke arahnya. Merasa bahwa candaan mereka sudah keterlaluan, Noland pun mencoba untuk meminta maaf.


Dengan berkata, “Tenanglah, itu hanya bercanda! Kenapa kau jadi serius begini ‘sih?”


Rayden tampak jelas menghela napas panjang. Lalu membalas, “Cano, tidak dalam kondisi untuk bisa bercanda, Pah! Jadi, tolong jangan menyulut emosi Cano seperti ini.”


“Maaf, tadi aku juga tidak berniat bertanya seperti itu padamu,” ucap Dr. Ian yang baru bisa memberanikan diri untuk meminta maaf secara langsung.


“Sudahlah! Lalu bagaimana dengan keadaan Alice? Apakah kondisinya tidak seburuk Levi?” tanya Rayden yang memang sudah ingin menanyakan sejak tadi.


“Benar, aku mendapat kabar dari Dokter yang mengoperasinya bahwa ketiga peluru itu tidak sampai mengenai organ dalam vitalnya. Jadi, kondisinya untuk saat ini sudah stabil. Kau bisa tenang tentangnya,” jelas Dr. Ian yang baru ingat setelah di ingatkan oleh Rayden.


Penjelasan Dr. Ian secara tidak langsung membuat perasaan lega dan pensaran. Dan tanpa basa-basi Noland langsung menanyakannya, “Tunggu! Alice terkena tiga tembakan, tapi kenapa kondisi malah tidak seburuk itu? Lalu kenapa keadaan Levi yang sangat parah?”


“Sebab sejak mereka tiba di rumah sakit, Levi sudah kehilangan banyak darah. Selain itu, kondisinya juga sudah sangat lemah karena dia mungkin memaksakan dirinya untuk tetap bertahan agar bisa melindungi Lucia,” jelas Dr. Ian sesuai faktanya sebenarnya.


“Padahal dulu dia tidak seperti itu dalam menjalankan tugasnya,” gumam Noland yang dapat di dengar dengan jelas oleh Rayden dan Dr. Ian.


“Benar, dia tidak seperti ini sebelumnya.”


Rayden membenarkan, karena tidak ada yang bisa dia buat alasan untuk menyembunyikan pengorbanan seorang Levi.


Mereka bertiga tiba-tiba saling terdiam selama beberapa menit, hingga Rayden pun memutuskan untuk melihat dan memastikan keadaan semua anak buahnya yang sedang di rawat di rumah sakit tersebut.


“Kalau sudah tidak ada yang ingin kalian bicarakan lagi, maka saya akan pergi terlebih dahulu,” pamit Rayden seraya beranjak dari tempat duduknya.


“Kau mau kemana?” tanya Noland.


“Melihat mereka yang di rawat di rumah sakit ini dan menghubungi Felix untuk mengurus tempat itu,” jawab Rayden yang baru teringat tentang Felix dan tempat pertarungannya.


“Kau tidak perlu menghubungi Felix lagi, aku sudah menyuruhnya untuk mengurus yang di sana,” ujar Noland memberitahu Rayden bahwa dia yang telah mengurusnya.


“Duduklah, karena kita harus membahas hal ini sekarang,” pinta Noland dan Rayden pun langsung duduk di tempatnya kembali.


“Ada apa lagi?” tanya Rayden tak bersemangat.


“Apa kau sudah memikirkannya?” tanya Noland balik.


“Tentang apa?” tanya Rayden.


“Levi! Dan bagaimana caramu untuk membuat Lucia mengerti begitu waktunya tiba?”


“Maaf, aku harus pergi sekarang! Ada pasien lain yang sahru aku tangani sekarang,” pamit Dr. Ian.


“Baiklah, terima kasih untuk semua bantuanmu selama ini.”


Tidak lupa, Noland pasti akan selalu mengucapkan kata terima kasih pada Dokter sekaligus sahabatnya itu.


“Senang bisa berguna untuk keluargamu, Noland!” sahut Dr. Ian dnegan senyum tipisnya.


Setelah itu, Dr. Ian langsung saja meninggalkan Café itu dan segera kembali ke rumah sakit.


Kini hanya ada Noland dan Rayden yang berada di Café itu. Rayden masih terdiam, sementara Noland terus memperhatikan putranya yang tengah banyak pikiran yang mengganggunya itu.


Sebenarnya Noland sudah mengetahui segalanya, tapi dia memilih diam dan selalu menunggu waktu yang tepat untuk membantu putranya seperti sekarang.


“Cano!” Noland mencoba menyadarkan Rayden dari pemikirannya sendiri.


“Cano, tidak tahu apa yang harus Cano lakukan! Sekarang harus apa, Cano pun tidak bisa menemukan jawabannya,” ujar Rayden sembari menunduk dengan putus asa.


Noland menepuk pundak Rayden dnegan pelan seakan sedang memberikan sebuah semangat pada putranya. Seraya berkata, “Jangan bersedih seperti ini, kau tidak cocok bersikap lemah seperti ini. Mengerti?”


“Hmm, … Bagaimana menurut Papah?” Rayden mencoba meminta pendapat pada papahnya setiap dia mengalami jalan buntu.


“Pikirkan pelan-pelan saja!” ujar Noland seraya tersenyum penuh arti.


“Papah percaya kau bisa menemukan jawabannya,” lanjutnya.


Rayden hanya diam sembari mendengarkan semua yang di katakan papahnya. Pembicaraan mereka pun berhenti di sana dan memutuskan untuk kembali ke rumah sakit.


Pertarungan secara fisik memang sudah berakhir, tapi ini merupakan awal pertarungan mental mereka.


...****************...


Sementara di lokasi pertarungan, Felix dan Jaydon kembali bergosip sembari memberikan arahan kepada anak buahnya untuk membereskan tempat itu.


Sebagian ada bertugas untuk mengevakuasi para korban, lalu mengantarkan kepada keluarganya masing-masing. Sementara untuk korban yang sudah tidak memiliki keluarga langsung di makamkan dengan selayaknya.


Dan sebagian yang tersisa membakar dan menghancurkan semua bangunan yang berdiri di sana hingga rata dengan tanah. Sehingga mereka membutuhkan banyak waktu agat tidak menyisakan sedikitpun kenangan menyakitkan di tempat itu.


Ketika Felix sedang membantu anak buahnya, tiba-tiba Jaydon menghampirinya. Kemudian bertanya, “Menurutmu apa yang terjadi setelah ini?”


“Apa maksudmu? Kalau bicara yang jelas,” ujar Felix sedikit mengacuhkannya.


“Itu, apakah Levi benar-benar akan kembali ke tanah kelahirannya?” tanya Jaydon langsung pada intinya.


Bersambung,.......


...****************...


...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...


...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...


...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...


...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...


...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....


...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...


...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...


...Agar tidak ketinggalan kisah seru Double L, keluarga Xavier dan para pengawal tampannya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...


...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...