Willea

Willea
103. Malam Penentuan! Part. 2



...◦•●◉✿Willea✿◉●•◦...


...‌𝓑𝓾𝓴𝓪𝓷𝓵𝓪𝓱 𝓴𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓬𝓲𝓷𝓽𝓪 𝓪𝓷𝓽𝓪𝓻𝓪 𝓦𝓲𝓵𝓵 𝓭𝓪𝓷 𝓐𝓵𝓮𝓪 𝓼𝓪𝓳𝓪. 𝓜𝓮𝓵𝓪𝓲𝓷𝓴𝓪𝓷 𝓴𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓭𝓪𝓻𝓲 𝓦𝓲𝓵𝓵, 𝓓𝓸𝓾𝓫𝓵𝓮 𝓛, 𝓛𝓮𝓿𝓲 𝓭𝓪𝓷 𝓐𝓵𝓮𝓪. 𝓚𝓪𝓻𝓮𝓷𝓪 𝓲𝓽𝓾𝓵𝓪𝓱, 𝓚𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓲𝓷𝓲 𝓫𝓮𝓻𝓳𝓾𝓭𝓾𝓵...


...◦•●◉✿Willea ✿◉●•◦...


“Apa tidak ada yang bisa kalian lakukan lagi untuk menyelamatkan mereka?” tanya Rayden dengan putus asa.


“Tangan kami sudah berusaha semaksimal mungkin melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan mereka. Dan sekarang tinggal menunggu keajaiban tangan Tuhan yang bisa menentukannya, Cano!” jawab Dr. Ian dengan mengatakan sejujurnya.


“Terus berada di sampingnya. Temani Lah istri dan anak-anakmu di sini, aku yang akan menyampaikan kabar ini pada Papah dan Mamahmu serta yang lainnya yang sedang menunggu di luar,” imbuh Dr. Ian sembari menepuk bahu Rayden untuk memberikan semangat untuk lebih bersabar menghadapi cobaan dari Tuhan.


“Zhi, mereka semua bohong ‘kan? Kau sendiri yang berjanji akan berjuang untuk hidup bersama anak-anak kita ini. Aku percaya padamu! Aku sangat mempercayaimu dan anak-anak kita melebihi dengan perkataan mereka. Jadi, tolong buka matamu dan buktikan kalau mereka semua salah. Kumohon! Aku mohon padamu, Zhi! Hiks, … hiks, ….” ucap Rayden di sertai tangisan sambil menggenggam tangan Zhia dan sesekali membelai perut Zhia yang sedikit membuncit.


Sejenak Dr. Ian mendengarkan semua perkataan Rayden pada Zhia dan setelah itu, dia pun berjalan menuju pintu keluar.


Dan begitu dia membuka pintu dan melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu, Noland dan yang lainnya langsung saja menggerumuninya dengan wajah yang terlihat lelah, cemas dan takut seperti yang selalu dia lihat di wajah Rayden.


Namun, di antara semua wajah yang Dr. Ian lihat. Hanya dua wajah yang membuat hatinya terasa teriris oleh sebilah pedang yang sangat tajam.


Bagaimana dia tidak merasa pilu ketika melihat wajah polos ketakuatan dari Luca dan Lucia yang tengah mengkhawatirkan mamah dan calon adik mereka.


“Ian, bagaimana kondisi menantu dan cucuku? Mereka baik-baik saja, bukan?” cecar Noland yang menunggu jawaban dari Dr. Ian dengan perasaan bercampur aduk.


“Mamah dan adik kami baik-baik saja ‘kan, Dok?” tanya Lucia dengan mata polos yang di penuhi dengan kesedihan.


“Dokter?” ujar Luca menimpali.


“Jangan katakan kalau mereka, _...”


Julia tidak mampu melanjutkan ucapannya yang mencoba menebak keadaan menantu dan calon cucunya. Apalagi begitu melihat reaksi Dr. Ian yang menampakkan kesedihan saat mendengarkan tebakannya.


“Ian, katakan padaku apa yang terjadi pada Zhia dan bayinya!” seru Noland yang mulai murka dengan sikap diam Dr. Ian.


“Ada kemungkinan besar untuk Nyonya Zhia dan bayinya tidak dapat melewati malam ini. Mereka dalam keadaan sangat kritis saat ini, karena itulah aku menemui kalian untuk menyampaikan tentang kabar buruk ini. Aku harap, kalian semua mulai menyiapkan hati dari sekarang,” jelas Dr. Ian yang tidak mampu melihat banyak kesedihan lagi di wajah mereka.


“APA!!!” seru semuanya bersamaan.


“MAMAHHH, … Huhuhuu, …”


Isak tangis Luca dan Lucia seketika saling bersahutan sembari menyebut mamahnya. Mereka bahkan hampir langsung berlari masuk ke dalam ruangan Zhia sedang di rawat, kalau tidak segera di hentikan oleh Levi.


“Tuan, Nona kecil! Tenanglah, kalian tidak boleh masuk sekarang,” ujar Levi yang memeluk kedua anak kembar itu dengan erat.


“Tapi Kak Levi, bagaimana dengan Mamah Luci! Huhuuu, …”


Lucia menangis histeris di pelukkan Levi, begitu juga dengan Luca yang terus memanggil-manggil mamahnya dengan histeris.


“Tenanglah, mereka pasti akan baik-baik saja.”


Levi terus berusaha menenangkan Luca dan Lucia dengan cara memeluknya dan membelai punggung mereka dengan lembut. Sembari mendengarkan tangisan memilukan dari kedua anak kembar yang berusia 7 Tahun itu.


“Ian, tolong lakukan yang terbaik untuk menyelamatkan menantu dan cucuku itu! Kami tidak bisa kehilangan mereka sekaligus,” pinta Noland dengan sangat.


“Kami sudah melakukan yang terbaik dan semaksimal mungkin, tapi hasil akhirnya hanya adadi tangan Tuhan. Kita hanya bisa mengharapkan keajaiban dari sang pencipta hidup dan mati seseorang,” ujar Dr. Ian yang memang sudah melakukan semua yang dia bisa untuk menyelamatkan Zhia dan bayinya.


“Ouh, … Tuhan! Kenapa setiap kemalangan kau selalu tunjukan kepada menantu kami,” lirih Julia sambil menangisi nasib malang menantunya itu.


“Aku sudah memberitahunya dan keadaannya seperti yang kau duga sekarang. Aku harap kalian bersabar dengan semua yang terjadi ini dan minta ‘lah keajaiban pada Sang pencipta,” jawab Noland yang tidak bisa mengatakan apapun lagi.


“Pasti, kami akan terus berdoa sampai keajaiban itu terjadi. Jadi, aku serahkan Cano dan Zhia serta cucu kami pada kalian untuk melakukan yang terbaik yang bisa kalian lakukan,” ujar Noland.


“Kami akan terus melakukan yang terbaik, kalau begitu aku akan kembali masuk ke dalam sekarang,” pamit Dr. Ian yang tidak bisa berlama-lama.


Dr. Ian pun kembali masuk kedalam ruangan Zhia sedang di rawat. Sementara kesedihan masih menyelimuti mereka setelah mendengar kabar yang tidak mengenakan tersebut. Noland terus berusaha menenangkan Julia yang terus menangis di pelukannya.


Sedangkan Levi menenangkan Luca dan Lucia yang jauh lebih sedih dari siapapun. Sedangkan Felix hanya bisa menatap pilu tanpa bisa berbuat apapun, karena itu di luar kemampuannya.


Namun, tiba-tiba Luca mendorong tubuh Levi menjauh darinya. Kemudian dia berseru pada Felix dengan tatapan mata yang sangat membara, Luca bertanya “Apa Kakak dan Paman Will sudah menangkap siapa pelakunya yang berani melukai Mamah?”


“Be-belum! Tapi kami sudah memiliki perkiraan siapa saja yang menjadi tersangkanya,” jawab Felix terbata-bata, sebab dia sedikit terkejut dengan ekspresi Luca yang berubah serius dan terlihat sedang mengintimidasinya.


“Apakah dia orang di maksud adiknya Fernand, musuhnya Papah?”


Luca kembali bertanya, lebih tepatnya seperti sedang menginterogasi Felix secara tidak langsung.


Bukannya hanya Felix yang tercengang dengan pertanyaan Luca, baik Noland maupun Levi pun juga tidak percaya bahwa Luca dapat mengetahui informasi rahasia itu.


Lain halnya dengan Julia dan Lucia yang sama sekali tidak tahu tentang Fernand ataupun yyang sedang Luca bicarakan.


“Bagaimana kau bisa tahu tentang ini!” seru Noland menuntut penjelasan dari Luca.


“Luca akan menjelaskan pada Grandpa nanti. Sekarang yang terpenting adalah menangkap pelaku yang berani menyakiti Mamah dan adik Luca. Luca sudah tidak bisa berdiam diri lagi, mereka harus mendapatkan balasan yang lebih menyakitkan!” ujar Luca, tampak jelas kemarahan di sorot matanya.


“Apa anda tahu bagaimana caranya menangkap mereka? Will saja belum bisa mencari tahu siapa adik Fernand di antara keempat pengawal pribadi Nyonya muda?” tanya Felix yang mencoba membandingkan kemampuan Luca dengan Will.


“Tentu saja! Grandpa, bisakah Luca mendapatkan seperangkat computer tercanggih di sini?” pinta Luca pada Noland.


Luca akan memulai aksinya dan menunjukan kehebatan seorang Luca Cano Xavier untuk menangkap dan membalas perbuatan oaring yang berani membuat mamah dan adiknya berada dalam bahaya kematian.


Bersambung,.......


...****************...


...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...


...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari setiap pukul 16.00 WIB ‘yah!😍😍...


...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...


...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...


...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....


...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...


...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...


...Agar tidak ketinggalan kisah seru Double L, keluarga Xavier dan para pengawal tampannya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...


...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...