Willea

Willea
77. Buah Tangan



...◦•●◉✿Willea✿◉●•◦...


...‌𝓑𝓾𝓴𝓪𝓷𝓵𝓪𝓱 𝓴𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓬𝓲𝓷𝓽𝓪 𝓪𝓷𝓽𝓪𝓻𝓪 𝓦𝓲𝓵𝓵 𝓭𝓪𝓷 𝓐𝓵𝓮𝓪 𝓼𝓪𝓳𝓪. 𝓜𝓮𝓵𝓪𝓲𝓷𝓴𝓪𝓷 𝓴𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓭𝓪𝓻𝓲 𝓦𝓲𝓵𝓵, 𝓓𝓸𝓾𝓫𝓵𝓮 𝓛, 𝓛𝓮𝓿𝓲 𝓭𝓪𝓷 𝓐𝓵𝓮𝓪. 𝓚𝓪𝓻𝓮𝓷𝓪 𝓲𝓽𝓾𝓵𝓪𝓱, 𝓚𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓲𝓷𝓲 𝓫𝓮𝓻𝓳𝓾𝓭𝓾𝓵...


...◦•●◉✿Willea ✿◉●•◦...


“Astaga! Kau itu putrinya siapa ‘sih, Lucia!”


Rayden sungguh kehilangan kata-kata, bukan hanya Rayden tapi semua orang yang berada di dalam ruangan itu.


Bahkan sebagian dari mereka hampir terkena serangan jantung dadakan, terutama Levi yang masih tidak berkutik sama sekali.


Otaknya seakan membeku. Lain halnya dengan Lucia yang malah terus tersenyum bahagia tanpa tahu arti kata yang barusan dia ucapkan.


“Ehemm, … Sepertinya hari ini kau sudah mendapat kandidat calon menantu. Selamat ‘yah, Cano?”


Setelah sedikit menenangkan detak jantungnya, Noland masih saja sempat menggoda Rayden yang tengah pusing memikirkan cara memisahkan Lucia dan Levi agar terbiasa saat perpisahan mereka tiba.


“Hehehee, … Selamat juga untuk Papah. Sebab Papah juga hari mendapat kandidat calon cucu menantu. Benar, bukan?”


Sambil menahan amarahnya, Rayden membalikkan perkataan Noland.


“Tuan muda, _....” Levi sungguh tidak bisa berkata apapun lagi, semuanya tertahan di lidahnya.


“Ouh, … Benar juga ‘yah? Tapi bukankah Luci masih kecil untuk menikah sekarang?”


Respon polos Noland malah membuat amarah Rayden, Julia dan Zhia seketika meledak saat itu juga.


“PAPAHHH!!!” seru Rayden, Julia dan Zhia serentak.


“Why? Apa yang salah?” tanya Noland bingung.


“Kenapa Papah terlihat marah?” tanya Lucia masih dengan kepolosannya.


“Hentikan Lucia!” ujar Luca yang mulai angkat bicara, setelah dari tadi hanya diam mendengarkan.


“Hmmm?” Lucia hanya berdeham dan menatap kakaknya dengan lekat.


“Cepatlah makan sarapanmu atau kita akan terlambat ke sekolah,” ujar Luca dengan nada bicara yang terdengar sedikit kesal.


“Ouh, … Be-benar, lebih baik kita cepat habiskan sarapan ini atau kalian akan terlambat ke sekolah. Cepat habiskan sarapan kalian!” ucap Rayden yang ingin segera menghentikan drama pagi yang membuatnya semakin pusing kepala saja.


“Hehehee, … Baik, Pah! Kak!” sahut Lucia, lalu mulai memakan sarapannya dan tentunya meminta Levi untuk menyuapinya seperti biasa.


...****************...


Selesai sarapan, Levi, Sania dan Alice segera mengawal Tuan dan Nona kecilnya berangkat ke sekolah. Sementara Rayden dan Will menuju ke kantor untuk bekerja seperti biasanya.


Sedangkan Zhia tetap berada di rumah untuk menemani Noland dan Julia seraya membuka hadiah yang di belikan selama liburan mereka. Alea dan Karina di perintahkan untuk berjaga di luar ruangan.


Namun, kebanyakan dari hadiah tersebut ditunjukan untuk Luca dan Lucia serta Triple Baby yang masih berada di dalam kandungannya Zhia.


Seakan Noland dan Julia ingin melakukan apa yang tidak bisa mereka berikan kepada Zhia saat tengah mengandung Luca dan Lucia dulu.


“Sayang, aku masih tidak menyangka bahwa Lucia sekarang sudah tumbuh besar sampai melamar Levi seperti tadi. Hahahaa, ….” Noland masih saja membahas masalah pada saat sarapan tadi.


“Itu sama sekali tidak lucu, Sayang! Iya ‘kan, Zhi?” sahut Julia sembari memberi isyarat mata agar Noland berhenti membahas masalah itu.


“Ouh, … Maaf, aku akan diam sekarang.”


Noland tampak bingung dan mencoba mencari cara untuk mengalihkan topik pembicaraan.


“Sebentar, bukankah kita membeli banyak hadiah. Tunggu di sini, Papah akan membawanya kemari,” lanjut Noland segera beranjak dari tempat duduknya dan pergi dari ruangan itu dengan canggung.


“Jangan pikirkan perkataannya barusan. Papahmu memang selalu seperti itu,” ujar Julia yang menyadari apa yang sedang Zhia pikirkan saat ini.


“Iya, Mah! Tapi, jujur saja Zhia takut kalau Luci tidak mau membiarkan Levi pergi jika tiba waktunya nanti. Apalagi dengan sifat keras kepalanya itu,” jelas Zhia mengenai khawatirannya saat ini.


Julia masih berusaha berpikir positif dan menenangkan perasaan khawatir Zhia sesama seorang ibu.


“Zhi, harap juga seperti itu, Mah!”


Zhia hanya bisa berharap yang sama dengan Julia. Pembicaraan itu pun terhenti saat Noland kembali masuk dengan setumpuk kotak hadiah di tangannya.


Tidak lama setelah Noland masuk, beberapa pelayan juga ikut masuk mengantarkan hadiah yang begitu banyaknya hingga membuat Zhia tercengang.


“Yeahh, … Hadiah untuk cucuku sudah tiba!” seru Noland sembari meletakkan setumpuk hadiah yang dia bawa.


“Ouh, … Pisahkan hadiahnya untuk Double L dan Triple babynya. Letakkan dengan hati-hati dan jangan sampai tertukar,” perintah Noland pada para pelayan yang membawa hadiahnya.


“Apa semua ini, Pah?” tanya Zhia dengan tatapan takjub akan banyaknya hadiah yang di bawa oleh Noland.


“Tentu saja hadiah, Zhi! Sebelah sini untukmu, lalu yang sebelah sana untuk Luca dan Lucia. Lalu sisanya untuk calon cucu Papah yang masih ada di dalam perutmu. Bagaimana menurutmu? Sepertinya masih kurang, Iya ‘kan?”


Dengan penuh semangat dan antusias, Noland menunjukkan semua hadiah yang sudah dia beli dan bahkan mengatakan bahwa semua hadiah itu masih belum cukup.


Padahal sudah hampir memnuhi ruangan itu, Julia hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan suaminya itu.


“Benar sekali! Sepertinya masih banyak yang belum kita beli untuk Zhi, apalagi semakin hari pasti perutnya akan semakin membesar.”


Meskipun begitu, Julia masih sependapat dengan suaminya. Sehingga membuat Zhia tidak mempercayai pemikiran papah dan mamah mertuanya itu.


“Hah? Sebanyak ini menurut Papah dan Mamah masih kurang!” seru Zhia tak percaya.


“Tentu saja, sayang! Jadi, jika kau membutuhkan sesuatu atau menginginkan sesuatu. Jangan sungkan untuk memberitahukannya pada kami ataupun Cano, karena kami ingin memberikan yang terbaik untukmu dan cucu kami yang masih berada di dalam sini,” ujar Julia sembari mengelus lembut perut Zhia yang sudah membuncit.


“Ta-tapi kami tidak membutuhkan sebanyak ini, Mah! Pah!”


Maksudnya, Zhia dan bayinya tidak memerlukan begitu banyak barang. Sebab semuanya sudah dia miliki dan menurutnya semua itu sudah lebih dari cukup.


“Zhi, apa kau tahu betapa menyesalnya kami karena terlambat menyadari keberadaan mu dan Si kembar?”


Noland ikut mendekati Zhia dan mulai mengatakan sesuatu dengan raut wajah sedihnya.


“Andai saja, waktu itu Cano langsung bertanggung jawab atas perbuatannya. Maka kau tidak akan menderita seorang diri di negeri orang, Luca dan Lucia juga akan mendapatkan semua yang mereka mau,” sambung Noland menyesali perbuatan buruk putranya.


“Aaah, … Semuanya sudah menjadi masa lalu, Pah! Lihatlah sekarang, Zhi kini sudah mendapatkan segala. Papah dan Mamah yang sangat baik pada Zhi, suami yang sangat hebat seperti Cano dan anak-anak yang pintar serta menggemaskan seperti Luca dan Lucia. Lalu anak yang masih berada di dalam kandungan Zhi ini. Semua ini sudah lebih dari apa yang Zhia harapkan,” jelas Zhia yang memang tidak menginginkan apapun lagi.


“Mamah dan Papah tahu kalau kau memang wanita yang sangat baik, Zhi! Jadi, biarkan kami memberikan yang terbaik untukmu sekarang agar penyesalan kami juga sedikit terobati,” pinta Julia dengan sangat memohon.


Bersambung,.......


...****************...


...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...


...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari setiap pukul 16.00 WIB ‘yah!😍😍...


...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...


...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...


...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....


...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...


...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...


...Agar tidak ketinggalan kisah seru Double L, keluarga Xavier dan para pengawal tampannya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...


...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...