
...◦•●◉✿Willea✿◉●•◦...
...𝓑𝓾𝓴𝓪𝓷𝓵𝓪𝓱 𝓴𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓬𝓲𝓷𝓽𝓪 𝓪𝓷𝓽𝓪𝓻𝓪 𝓦𝓲𝓵𝓵 𝓭𝓪𝓷 𝓐𝓵𝓮𝓪 𝓼𝓪𝓳𝓪. 𝓜𝓮𝓵𝓪𝓲𝓷𝓴𝓪𝓷 𝓴𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓭𝓪𝓻𝓲 𝓦𝓲𝓵𝓵, 𝓓𝓸𝓾𝓫𝓵𝓮 𝓛, 𝓛𝓮𝓿𝓲 𝓭𝓪𝓷 𝓐𝓵𝓮𝓪. 𝓚𝓪𝓻𝓮𝓷𝓪 𝓲𝓽𝓾𝓵𝓪𝓱, 𝓚𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓲𝓷𝓲 𝓫𝓮𝓻𝓳𝓾𝓭𝓾𝓵...
...◦•●◉✿Willea ✿◉●•◦...
“Bicara apa dia?” gerutu Sania, tidak mempercayai peringatan Fernand sama sekali.
Apalagi menurutnya, dia lebih tahu seperti apa Lucia selama ini. Mengingat Sania sudah menjadi pengawal pribadinya, meskipun hanya beberapa bulan saja.
Namun, dibandingkan dengan Fernand, Sania merasa lebih tahu dan mengerti bahwa Lucia hanya seorang gadis kecil yang ceria dan juga menggemaskan. Sama sekali tidak berbahaya seperti yang di katakan oleh Fernand.
“Kalian jaga dia. Jangan sampai gadis kecil ini memberontak, karena aku ingin bersenang-senang dengan pria ini terlebih dahulu.”
Sania memberikan perintah pada dua anak buahnya yang sedang berdiri tidak jauh dari Lucia berada. Sementara, dia sendiri kembali menghampiri Levi yang masih belum sadarkan diri.
“Baik, Nona!” sahut keduanya serentak.
“Lepaskan Luci! Berani kau menyentuh Kak Levi sedikit saja, Luci tidak akan pernah mengampuni kalian. Kalian tahu ‘kan? Kalau Papah Luci dan yang lainnya telah tiba di sini,” ujar Lucia yang tidak ingin meninggalkan tempat Levi berada.
Lalu kedua anak buah tersebut pun berniat membawa Lucia pindah ke tempat lain, karena tidak ingin mengganggu kesenangan Sania. Sedangkan Lucia terus berusaha memberontak.
Sebab jika dia berada di ruangan berbeda dengan Levi, maka semakin sulit usahanyan untuk menyelamatkannya. Namun, sesaat kemudian Sania mengubah keputusannya.
“Tunggu sebentar!” seru Sania menghentikan anak buahnya yang tadi.
“Biarkan dia tetap di sini! Aku sudah tidak berselera lagi untuk menikmati tubuhnya, tapi aku masih berselera untuk menyiksanya hingga mati. Tepat di hadapan Nona kecil kesayangan semua orang ini,” lanjut Sania sembari mengambil sebuah pisau dari salah satu anak buahnya yang lain.
Sania tahu persis bahwa Levi adalah pengawal kesayangan Lucia, dia pun berubah pikiran dan ingin membuat ingatan buruk pada gadis kecil itu sebelum dia membunuhnya.
Melihat bonekanya akan menjerit dan menangis ketakutan saat melihat Levi di siksa hingga mati sudah sangat membuatnya merasa bahagia, meskipun itu masih bayangannya saja.
“Luci peringatkan sekali lagi. Jika menyentuh atau menyakiti Kak Levi sedikit saja, kau akan mati,” ujar Lucia mengancam.
“Kita lihat saja! Siapa yang akan mati di sini, karena pelindungmu ini sudah tidak berdaya melawanku. Sedangkan aku, ingin sekali membunuhmu,” tantang Sania tanpa tahu Lucia yang sebenarnya.
“Kau, siapkan tempat duduk untuk Nona kecilku ini. Berikan tempat terbaik agar dia bisa melihat dan mengingat semuanya dengan jelas, bahkan hingga dia mati.” Sania lanjut memberikan perintah.
“Segera laksanakan, Nona!”
Anak buah yang di tunjuk Sania pun segera mencari dan membawa sebuah kursi yang ada di sana. Kemudian, Lucia di paksa untuk duduk dalam penjagaan. Di dalam hatinya, Lucia sebenarnya sudah tidak dapat menahan amarahnya lagi.
“Luci sudah tidak bisa berdiam diri lagi. Tapi bagaimana Luci bisa menghadapi mereka semua sendirian, apalagi Kak Levi masih belum bangun dari pingsannya. Bagaimana ini?” batin Lucia yang terus memikirkan kapan dirinya bisa beraksi sembari memperhatikan situasi di sekitarnya.
“Tidak, sebaiknya Luci menunggu sedikit lebih lama lagi. Setidaknya sampai Kak Levi bangun dari pingsannya,” lanjut Lucia yang sudah memutuskan.
Namun, Lucia tidak bisa bertindak gegabah sebelum Papah dan yang lainnya tiba di tempat dia dan Levi berada sekarang. Setidaknya sampai Rayden dan yang lainnya telah memasuki gerbang rumah utama.
Dan seperti yang di laporkan, Rayden dan pasukannya memang sudah hampir sampai di lokasi. Akan tetapi, Luca memerintahkan semua orang untuk berhenti dan beberapa anak buah yang lainnya di minta untuk mulai menerbangkan drone yang sudah mereka sediakan sebelumnya.
“Pah, kita berhenti dulu di sini!” pinta Luca pada Papahnya.
“Kenapa kita harus berhenti di sini? Bukankah keberadaan Lucia masih cukup jauh dari lokasi kita sekarang?” tanya Rayden yang penasaran dengan apa yang sedang di pikirkan putra geniusnya saat ini.
“Kita memang pernah bertarung di tempat ini sebelumnya, karena itulah Luca sangat yakin bahwa mereka menempatkan beberapa jebakan di dekat area utama. Luca akan memeriksanya melalui drone sambil kita maju secara perlahan,” jelas Luca sembari mulai mengotak atik system di layar laptopnya.
“Bagaimana bisa anak sekecil dirimu bisa berpikir penuh perhitungan seperti ini?” Rayden semakin di buat takjub dengan kemampuan putranya.
,
Lagi dan lagi penjelasan Luca membuat Rayden merasa takjub sekaligus tersadar bahwa putranya ternyata lebih baik darinya dalam segala hal. Meskipun begitu, Rayden masih mempunyai banyak kesempatan untuk memperbaiki dan menutupi semua kekurangannya selama ini.
“Baiklah!” sahut Rayden.
“Will, perintahkan beberapa orang untuk mulai menerbangkan drone ke wilayah musuh sesuai yang di minta putraku.”
Lalu Rayden memberikan perintah pada Will yang akan segera di teruskan kepada yang lainnya.
“Baik, Tuan muda!” sahut Will.
Beberapa drone pun di terbangkan sekaligus, sedangkan Luca terus memeriksa system dan rekaman melalui drone tersebut. Rayden pun memberikan kekuasaan penuh pada putranya untuk mengatur para anak buahnya yang mengoperasikan drone tersebut.
“Menyebarlah! Telusuri semua wilayah yang berada dekat di Mansion utama dan usahakan jaga jarak untuk tidak terlalu dekat dengan daratan.”
Luca memberikan instruksi melalui alat komunikasi jarak jauh.
“Baik, Tuan kecil!”
Semua orang dalam kekuasaan penuh Luca pun segera mengoperasikan drone mereka menyebar menyusuri wilayah kediaman Sam Joseph dengan jarak yang tidak terlalu dekat.
Namun, baru saja menyebar beberapa drone tersebut langsung di tembak hingga jatuh dan tidak dapat di gunakan lagi.
“Pah, sebaiknya mulai dari sini kita tidak boleh menggunakan mobil lagi. Sebab di sisi kanan dan kiri jalan yang akan kita lalui terdapat sekumpulan orang bersenjata api yang siap menyerbu pasukan kita dengan mudah,” jelas Luca sembari terus memperhatikan rekaman pada drone yang tersisa.
“Baiklah, kalau begitu!” ujar Rayden yang kemudian turun dari mobilnya. Luca pun hanya menatap sekilas kepergian Papahnya.
“Aku yakin Papah pasti akan mengurus semuanya dengan baik mulai dari sini,” gumam Luca yang sangat mempercayai kemampuan Papahnya.
Begitu Rayden turun dari dalam mobilnya, Will dan yang lainnya pun segera ikut turun dan langsung berkumpul. Apalagi mengingat jarak perhentian mereka masih cukup jauh dari kediaman utama Sam Joseph membuat sebagian dari mereka banyak yang penasaran apa yang sedang terjadi.
“Tuan, _....”
“Will dan kalian semua! Menggila ‘lah mulai dari sini, jangan sisakan satu pun kali ini dan hancurkan semuanya sampai rata dengan tanah.” Rayden memberikan perintah.
Bersambung,.......
...****************...
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life🙏🙏🙏😞...
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah seru Double L, keluarga Xavier dan para pengawal tampannya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...