
...◦•●◉✿Willea✿◉●•◦...
...𝓑𝓾𝓴𝓪𝓷𝓵𝓪𝓱 𝓴𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓬𝓲𝓷𝓽𝓪 𝓪𝓷𝓽𝓪𝓻𝓪 𝓦𝓲𝓵𝓵 𝓭𝓪𝓷 𝓐𝓵𝓮𝓪 𝓼𝓪𝓳𝓪. 𝓜𝓮𝓵𝓪𝓲𝓷𝓴𝓪𝓷 𝓴𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓭𝓪𝓻𝓲 𝓦𝓲𝓵𝓵, 𝓓𝓸𝓾𝓫𝓵𝓮 𝓛, 𝓛𝓮𝓿𝓲 𝓭𝓪𝓷 𝓐𝓵𝓮𝓪. 𝓚𝓪𝓻𝓮𝓷𝓪 𝓲𝓽𝓾𝓵𝓪𝓱, 𝓚𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓲𝓷𝓲 𝓫𝓮𝓻𝓳𝓾𝓭𝓾𝓵...
...◦•●◉✿Willea ✿◉●•◦...
Akhirnya Kenzo dan Alice berhasil melarikan diri dari ruangan bawah tanah. Namun sayangnya, mereka malah berpisah di tengah jalan karena perbedaan pendapat.
Kenzo yang ingin mencari senjata terlebih dahulu dan tidak terlibat dalam pertarungan. Sementara Alice ingin memastikan keadaan Levi dan akan mencari senjata di dalam sana.
Karena merasa sedikit terganggu, Kenzo ingin memastikan untuk yang terakhir kalinga dengan bertanya, “Hay, kau yakin akan masuk kedalam sana?”
“Iya, sepertinya aku tahu dimana Sania menyekap Levi sekarang,” balasnya sambil fokus memperhatikan keadaan sekitar.
“Baiklah kalau itu sudah menjadi keputusanmu. Berhati-hatilah, jangan sampai mati di sana,” ucap Kenzo sebelum dia benar-benar pergi meninggalkan Alice di tengah pertarungan.
Beberapa menit yang lalu, ….
Will memang mengamankan Tuannya tepat waktu. Namun sayangnya, sebuah peluru berhasil mengenai lengan kanan Rayden.
Namun, luka sekecil itu bukanlah masalah besar bagi Rayden. Bahkan luka itu seakan memiliki efek stimulan yang menambah semangat untuk Rayden dan pasukannya untuk lebih menggila.
“Tuan muda, apakah anda baik-baik saja?” tanya Will dengan raut wajah panik sembari memeriksa kondisi Tuan mudanya.
Will semakin panik ketika melihat luka di lengan kanan Tuannya yang terus mengeluarkan darah. Will dengan panik berseru, “Astaga, Tuan muda! Lengan anda terluka!”
“Tidak masalah, ini hanya sedikit tergores saja. Will, ini bukan waktunya untuk merengek seperti orang bodoh. Kita harus membalasnya berkali-kali lipat,” ujar Rayden terlihat kemarahan sudah memenuhi pikirannya.
“Baik, Tuan muda! Saya mengerti,” ucap Will.
Lalu, Will menggerakan tangannya dan memberi isyarat kepada yang anak buahnya untuk menyerang.
Ternyata sumber getaran dan suara ledakan itu berasal dari bazoka yang di gunakan pihak Rayden untuk menghancurkan lantai dua, dimana para penembak jitu itu berada.
Namun sayangnya, karena jarak tembaknya yang terlalu jauh sehingga tidak bisa langsung menghancurkan rumah besar itu. Di satu sisi, Rayden merasa sedikit lega mengingat putrinya dan juga Levi masih berada di dalam sana.
“Will, kau sudah gila ‘yah? Bagaimana nasib putriku jika tepat mengenai dan membuat bangunan itu runtuh, Hah!” bentak Rayden pada Will.
Will mengerutkan keningnya, mendengar betapa keras bentakan dari Tuan mudanya itu. Di hanya bisa menjelaskan sambil berkata, “Maaf, Tuan! Saya tidak sengaja memberi isyarat yang salah.”
“Sudahlah cepat bantu aku membereskan mereka,” ujar Rayden tidak ada gunanya dia memarahi Will di saat dirinya sedang terdesak.
“Baik, Tuan muda!” sahut Will.
Dia pun kembali memberikan tanda isyarat pada anak buahnya. Tak berselang lama suara tembakan kembali bersahutan, Will dan Rayden juga mulai menembak musuhnya.
Rayden benar-benar sudah geram terhadap Fernand, padahal tinggal sedikit lagi dia bisa menghajarnya sampai mati.
Begitu Rayden dan yang lainnya sedang fokus membantai para musuhnya, terdengar suara Luca yang kesal sambil berkata, “Pah, Apa yang terjadi? Lucia dan Kak Levi masih berada di dalam Gedung itu. Kenapa Papah ingin meruntuhkannya?”
“Papah tidak bermaksud seperti itu. Semua itu kesalahan Will yang memberikan isyarat kepada yang lainnya,” jelas Rayden sambil menatap tajam pada Will dan yang di tatap hanya tersenyum seakan tidak bersalah sama sekali.
“Sebaiknya Papah cepat menyelesaikan yang di luar, karena Luci dan Kak Levi sepertinya sedang terdesak.” Luca yang terus memberikan arahan melalui alat komunikasi jarak jauh begitu dia mendapatkan informasi penting melalui drone.
“Papah juga tidak ingin menunda untuk membunuhnya lebih lama lagi lebih dari ini,” ujar Rayden.
Luca hampir lupa memberikan hal ini, “Ouhya, Pah! Papah dan yang lainnya boleh melakukan apapun sekarang, karena musuh yang bersembunyi di belakang Gedung itu sudah di urus.”
Mendengar informasi itu, seakan mendapat perintah untuk mereka menggila sesuka hati mereka. Terlihat Rayden tersenyum puas, lalu mencoba memastikannya lagi.
Dia bertanya, “Apakah mereka berdua sudah berada di sana?”
“Iya, Pah!” jawab Luca.
“Benar, Tuan muda! Kami sedang mengurus yang di sini, anda tidak perlu khawatir lagi.”
Mike yang menjawab, karena Nick sedang bersenang-senang dengan para musuhnya.
Will menanggapinya dengan senang hati dan berkata, “Iya, Tuan! Bukankah sekarang sudah waktunya untuk unjuk kemampuan?”
“Tentu saja, Will! Kita harus menunjukan akibat membuat marah raja iblis dan pasukannya. Kita buat kenangan terburuk untuk mereka sebelum mati,” ujar Rayden yang mengeluarkan seringainya yang sangat menyeramkan.
Moment epick dimana Rayden tersenyum seperti iblis tampan seketika lenyap, begitu Luca berkata, “Papah boleh melakukan apapun, tapi jangan menghancurkan gedungnya lagi. Ingatlah, adik kesayanganku masih berada di dalam sana.”
“Sudah Papah katakan, itu bukan perbuatanku tapi Will!” seru Rayden yang tidak terima terus di salahkan oleh Luca, padahal Will yang melakukan kesalahan.
“Baiklah, Luca hanya ingin mengingatkan itu!”
Perkataan Luca terdengar tidak peduli dengan penjelasan dan pembelaan dari Papahnya itu.
“Dasar! Semua ini gara-gara kau Will, aku menjadi yang tertuduh oleh putraku sendiri,” umpat Rayden yang melampiaskan kekesalannya pada Will.
“Maaf, Tuan! Saya benar-benar tidak sengaja melakukannya,” ucap Will.
Namun, Rayden tidak menggubrisnya sama sekali. Dia terus maju dan berusaha membidik Fernand seperti layaknya hewan buruan.
Di sisi lain, Fernand mulai menyadari ada sesuatu yang salah. Dia tidak melihat keberadaan Thunder maupun Sania, sementara pasukan Rayden sedang menggila segila-gilanya.
“Dimana Sania? Apakah dia masih belum menyelesaikan bocah itu?” Fernand mencoba bertanya pada salah satu anak buahnya.
“Nona Sania, dia sedang bertarungan dengan tawanan itu bahkan pembunuh bayaran juga tidak terlibat dalam pertarungan itu,” jelas sang anak buah yang mulai ketakutan.
“Aish, … Sialan!” umpat Fernand penuh kemarahan.
“Lalu dimana Thunder sekarang?” Fernand lanjut bertanya masih dalam keadaan marah.
“Sa-saya tidak tahu, Tuan!” jawab anak buah tersebut.
“Aish, … Sial! Kenapa rencanaku malah jadi berantakan seperti ini. Argghhhh, ….”
Teriak Fernand yang mulai merasa terdesak dan frustasi melihat kegilaan Rayden dan pasukannya. Belum selesai sampai di sana saja, Fernand malah mendapat kabar buruk dari salah satu anak buahnya yang menghampirinya dengan napas yang terengah-engah.
Sambil berlari tergopoh-gopoh anak buah Fernand berseru, “Tuan! Tuan, gawat! Pasukan cadangan kita juga telah di serang oleh mereka!”
“Apa?!” Fernand semakin terkejut.
“Sial, bagaimana bisa kekuatan mereka bisa pulih secepat ini? Padahal aku sudah menghancurkan Mansion utamanya,” sambung Fernand yang menjadi bingung apa yang harus dia lakukan.
Hingga dia menyadari bahwa tidak ada jalan keluar maupun pilihan lain, Fernand pun memutuskan untuk melawan Rayden mati-matian. Menghadapi secara langsung kemarahan sang Raja iblis dan para pasukannya yang sedang menggila.
Dengan penuh percaya diri dia berkata, “Benar, tidak ada pilihan lagi selain membunuhnya dengan tanganku sendiri.”
Bersambung,.......
...****************...
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah seru Double L, keluarga Xavier dan para pengawal tampannya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...