Willea

Willea
25. Foto pertama adik kecil



...◦•●◉✿Willea✿◉●•◦...


...‌𝓑𝓾𝓴𝓪𝓷𝓵𝓪𝓱 𝓴𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓬𝓲𝓷𝓽𝓪 𝓪𝓷𝓽𝓪𝓻𝓪 𝓦𝓲𝓵𝓵 𝓭𝓪𝓷 𝓐𝓵𝓮𝓪 𝓼𝓪𝓳𝓪. 𝓜𝓮𝓵𝓪𝓲𝓷𝓴𝓪𝓷 𝓴𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓭𝓪𝓻𝓲 𝓦𝓲𝓵𝓵, 𝓓𝓸𝓾𝓫𝓵𝓮 𝓛, 𝓛𝓮𝓿𝓲 𝓭𝓪𝓷 𝓐𝓵𝓮𝓪. 𝓚𝓪𝓻𝓮𝓷𝓪 𝓲𝓽𝓾𝓵𝓪𝓱, 𝓚𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓲𝓷𝓲 𝓫𝓮𝓻𝓳𝓾𝓭𝓾𝓵 ...


...◦•●◉✿Willea ✿◉●•◦...


“Kalian bilang apa? Kalau bicara yang jelas, biar kedengaran tahu!” seru Zhia yang semakin merasa tidak habis pikir dengan kelakuan suami dan anak kembarnya itu.


“Maafkan kamu, Pah!” ucap Luca dan Lucia dengan sedikit berteriak.


“Iya, papah juga minta maaf ‘yah, Sayang!” ucap Rayden juga sembari meraih kedua anak kembarnya itu kedalam pelukkannya.


Melihat papah dan anak kembarnya sudah berdamai dan sekarang tengah saling berpelukkan. Kemarahan Zhia pun seketika menghilang, dia pun ikut bergabung dalam pelukkan keluarga kecilnya yang sangat berharga itu.


“Kalau begini baru anak-anak mamah yang gemaskan dan suami yang terbaik,” ucap Zhia di sela pelukkan mereka.


“Maaf ‘yah, sayang! Kami bertiga selalu membuatmu kesal karena perdebatan tidak jelas kami.”


Kini Rayden pun beralih meminta maaf pada istri kesayanggannya itu yang selalu bersabar dengan tingkahnya dan juga kedua anak kembar mereka itu.


Zhia hanya mengangguk disertai senyuman manisnya, hingga Rayden tidak tahan untuk mengecup kening istrinya itu.


“Iya, Mah! Luca juga minta maaf sudah membuat mamah marah!” ucap Luca dengan wajah polos nan menggemaskannya itu yang membuat Zhia tidak sanggup untuk marah terlalu lama.


“Luci juga minta maaf, Mah!” Lucia ikut menimpali dengan raut wajah yang hampir menangis.


“Mamah tidak marah, sayang! Mamah hanya merasa sedih saja, karena kalian bersikap sangat tidak sopan pada papah kalian sendiri. Lain kali jangan bersikap seperti itu ‘yah?” pesan Zhia kepada kedua anak kembarnya.


“Iya, Mah! Kami janji tidak akan mengulanginya lagi.” Janji Luca dan Lucia pada sang mamah yang akan selalu mereka tepati sampai kapan pun.


“Ouhya, … Tadi papah dan mamah sudah melihat adik kalian. Apa kalian juga mau melihatnya?” ujar Rayden yang teringat dengan hasil USG dari triple babynya tadi pagi.


“Benarkah? Luci mau melihatnya!” seru Lucia degan wajah yang sangat berbinar, karena merasa sangat antusias.


“Luca juga mau melihatnya, Pah!” Begitu juga dengan Luca yang tidak kalah semangatnya dengan sang adik.


“Tunggu sebentar ‘yah! Papah ambilkan dulu foto-fotonya.”


Setelah itu, Rayden pun langsung beranjak menuju ke sebuah lemari, dimana di dalamnya terdapoat sebuah brankas berukuran besar tempat dia menyimpan barang-barang yang sangat penting baginya.


Kemudian, dia pun mengambil sebuah map berwarna coklat yang dia dapatkan pagi ini dari rumah sakit. Sudah dapat di tebak, kalau isinya pasti hasil pemeriksaan kandungan Zhia dan pastinya ada beberapa foto triple baby yang di ambil oleh Dr. Lena tadi.


“Ini, lihatlah ketiga adik kalian!” ujar Rayden yang menyerahkan foto hasil USG Itu pada Luca dan Lucia.


Luca dan Lucia tampak bingung, karena fotonya tidak tampak seperti bayi pada umumnya yang mereka lihat di internet. Terlihat Luca dan Lucia mengerutkan dahi, kerena apa yang mereka lihat tidak sesuai apa yang mereka bayangkan sebelumnya.


“Kalian kenapa? Apa ada yang salah?” tanya Zhia yang merasa aneh dengan reaksi yang ditunjukan oleh kedua anak kembarnya begitu melihat foto hasil USG nya.


“Mamah kenapa foto adik Luci seperti ini?” Dengan wajah polosnya, Lucia pun menunjukkan foto USG Itu kepada mamahnya.


“Kenapa fotonya berbeda dengan yang kami tahu?”


Luca menimpali dengan raut wajah penasaran yang lebih mendominasi dari pada kebingungannya.


“Hah?”


Baik Zhia maupun Rayden pun sama-sama tercengang mendengar pertanyaan dari kedua anak kembarnya itu. Mereka pun bingun sendiri dengan maksud pertanyaan Luca dan Lucia terhadap foto USG itu.


“Bukankah memang harusnya seperti itu?” ujar Rayden yang sebenarnya sama tidak tahunya dengan kedua anak kembarnya.


Mendengar pertanyaan Rayden yang juga polos seperti anak kkembarnya, Zhia hampir saja tidak dapat menahan tawanya lagi.


Baik Papah maupun anak kembarnya memang seperti satu kesatuan yang sangat mirip satu sama lain.


Dengan cepat Luca pun meraih ponsel milik papahnya yang berada di atas meja di samping tempat tidur.


Karena sebelumnya sudah pernah meretas ponsel itu, tanpa bertanya pun Luca bisa membuka kata sandinya dengan mudahnya.


Luca kemudian mencari tentang bayi di internet dan setelah itu muncul foto bayi yang dia maksud.


“Seperti ini, Mah!” seru Luca.


Dan benar saja, Luca dan Lucia memang mengira foto janinnya ssebagai bayi yang sudah lahir. Pantas saja mereka tampak kebingungan dengan foto hasil USG yang Rayden berikan.


Terlihat juga Rayden yang terus menganggukkan kepala, karena sampai sekarang Rayden sebenarnya berpikiran hal yang sama dengan kedua anak kembarnya.


“Ray, jangan bilang kalau pemikiranmu juga sama dengan mereka dengan semua penjelasan dokter tadi pagi?” ujar Zhia yang hanya ingin memastikannya saja.


“Tidak! Tentu saja aku sudah mengerti tentang kehamilan. Bukankah Dr. Lena sudah menjelaskan semuanya denggan sangat jelas!” seru Rayden yang tentu saja hanya berbohong untuk menutupi ketidak tahuannya itu.


Percaya tidak percaya, Zhia tidak terlalu memperdulikan perkataan Rayden yang sangat tidak menyakinkan itu.


Zhia lebih memilih fokus untuk menjelaskan kepada kedua anak kembarnya tentang masa kehamilannya.


“Sayang, semua mahluk hidup di dunia ini pasti akan mengalami pertumbuhan dan juga perkembangan. Baik itu ssecara fisik maupun jiwanya. Dulu papah, mamah maupun orang dewasa lainnya pasti pernah mengalami masa saat berada seperti kalian berdua,” jelas Zhia dengan lembut dia mulai menjelaskan.


“Berarti Papah, Mamah dan yang lain juga pernah menjadi anak kecil seperti kami, Mah?” ujar Luca yang sepertinya sudah mulai mengerti maksud perkataan mamahnya.


“Tepat sekali! Sebelum itu, kalian berdua juga tumbuh dan berkembang di dalam perut mamah seperti adik kalian ini. Awalnya seperrti kecambah kecil, seperti yanga ada foto ini. Namun, seiring berjalannya waktu mereka akan terus tumbuh dan berkembang. Hingga pada saat waktunya mereka lahir akan terlihat seperti foto bayi ini.”


Zhia kembali menjelaskan secara sederhana tapi langsung membuat ketiganya langsung mengerti. Zhia juga menyadari bahwa Rayden juga menyimak penjelasannya dengan seksama, dia sudah seperti guru yang tengah mengajar saja di sana.


“Jadi, dulu Luci dan kakak juga berawal seperti kecambah seperti adik?” tanya Lucia dengan rasa penasaran yang semakin memuncak.


“Papah dan mamah juga ‘yah?”


Luca menanyakan pertanyaan yang lebih polos lagi. Sementara Rayden diam memperhatian dan mendengarkan tanpa ingin ketinggalan satu informasi pun.


“Tentu, sayang! Dan bukan hanya kalian atau papah dan mamah saja yang berawal dari sebuah kecambah tapi semua orang yang ada di dunia ini juga mengalami proses yang sama,”


Zhia membenarkan, dia tahu cara menyampaikan yang baik untuk anak-anaknya yang masih kecil itu. Sekarang suami dan anak kembarnya itu sepertinya sudah cukup mengerti, kenap foto USG terlihat seperti itu.


Zhia hanya bisa menahan tawa melihat Rayden dan anak kembarnya yang kelakuannya sama persis itu, seakan Rayden seumuran dengan Luca dan Lucia.


Bersambung,.......


...****************...


Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗


Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari setiap pukul 10 pagi ‘yah!😍😍


Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰


Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰


Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat.


Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓


Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!


Agar tidak ketinggalan kisah seru Double L, keluarga Xavier dan para pengawal tampannya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!


Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘