Willea

Willea
133. Mengejar tersangka utama



...◦•●◉✿Willea✿◉●•◦...


...‌𝓑𝓾𝓴𝓪𝓷𝓵𝓪𝓱 𝓴𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓬𝓲𝓷𝓽𝓪 𝓪𝓷𝓽𝓪𝓻𝓪 𝓦𝓲𝓵𝓵 𝓭𝓪𝓷 𝓐𝓵𝓮𝓪 𝓼𝓪𝓳𝓪. 𝓜𝓮𝓵𝓪𝓲𝓷𝓴𝓪𝓷 𝓴𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓭𝓪𝓻𝓲 𝓦𝓲𝓵𝓵, 𝓓𝓸𝓾𝓫𝓵𝓮 𝓛, 𝓛𝓮𝓿𝓲 𝓭𝓪𝓷 𝓐𝓵𝓮𝓪. 𝓚𝓪𝓻𝓮𝓷𝓪 𝓲𝓽𝓾𝓵𝓪𝓱, 𝓚𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓲𝓷𝓲 𝓫𝓮𝓻𝓳𝓾𝓭𝓾𝓵...


...◦•●◉✿Willea ✿◉●•◦...


Seketika Sania terdiam, karena semua yang di katakan Will memang kebenarannya. Melihat Sania yang tidak dapat berkutik hanya karena perkataannya saja, Will malah semakin menertawakannya hingga suara Levi menghentikan tawanya tersebut.


Will lalu tertawa untuk meledeknya sembari berkata, “Hahahaaa, … Lihatlah dirimu! Melihat reaksimu yang hanya diam membisu, sepertinya tebakanku memang benar adanya,”


“Aish, … Diamlah, suara tawamu membuat lukaku terasa semakin sakit,” gerutu Levi sembari menahan sakit pada luka tembakan yang baru saja mengenai salah satu lengannya lagi.


“Paman Will, segera selesaikan tugasmu karena ita harus segera membawa Kak Levi ke rumah sakit,” ujar Lucia menimpali sekaligus mendesak Will untuk segera membereskan Sania.


Sebab Lucia sangat takut terjadi sesuatu yang buruk pada Levi karena sudah kehilangan banyak darah akibat luka-luka yang di terimanya.


Bahkan Lucia hampir saja menangis terisak, jika saja Levi tidak memberinya sedikit kata ancaman pada Nona kecilnya itu.


“Nona kecil, tolong jangan menangis. Lihatlah saya belum mati, kalau anda menangis saya bisa mati beneran ‘loh,” goda Levi yang melihat air mata Lucia hampir jatuh hanya karena melihat keadaannya yang di penuhi luka.


“Luci tidak menangis ‘kok! Jadi, Kak Levi tidak boleh mati tanpa ijin Luci. Mengerti!” seru Lucia yang terpaksa harus menahan air matanya agar tidak jatuh.


“Baiklah, Nona kecilku!” sahut Levi yang tersenyum melihat keimutan Lucia.


Tapi di saat yang tidak tepat, Will memberitahu Levi dengan berkata, “Lev, sekarang bukan saatnya kau bersantai. Apa kau tahu siapa yang baru saja berusaha menembak mu sampai mati?”


“Pamanmu, aku melihat dia sedang mengarahkan sebuah senjata api padamu ketika aku sampai di sini, _....” lanjut Will.


Akan tetapi, belum selesai Will mengatakan sesuatu Levi langsung saja bangkit dan berlari untuk mengejar Richo.


Lucia memang sempat menghentikannyan sesaat, tapi dengan sifat keras kepala Levi dia meninggalkan Will dan Lucia begitu saja di sana.


“Will, wanita iblis itu untukmu! Sekalian tolong lindungi Nona kecil, aku harus mengejar tersangka utama dalam kejadian ini untuk menuntut pertanggung jawabannya,” ujar Levi sebelum lanjut berlari keluar.


“Hay, bocah! Tunggu dulu.”


Will berusaha menghentikan Levi juga, tapi semua percuma saja karena Levi tidak mendengar teriakannya sama sekali.


Sania yang sedari tadi diam, kini mulai menyerang Will lagi sembari mengumpat, “Sial, kalian berisik sekali! Diam dan matilah.”


Will yang memang sejak awal sudah siap siaga menghadapi serangan dadakan dari Sania dengan sigap menangkis setiap serangan itu dengan mudahnya.


Sementara Lucia yang merasa semakin khawatir dengan keadaan Levi, dia pun berniat untuk menyusulnya.


Sebelum meninggalkan Will dan Sania untuk menyusul Levi, Lucia sempat berpamitan, “Paman Will, Luci akan menyusul Kak Levi. Paman Will bersenang-senang lah di sini.”


“Nona Kecil!”


Will berteriak memanggil Lucia berharap gadis kecil berhenti, tapi teriakannya itu tak di pedulikan sama sekali. Lucia tetap saja berlari agar bisa segera menyusul Levi.


Will yang seharusnya membantu Levi dan melindungi Lucia malah harus terjebak dalam pertarungan dengan Sania.


“Sialan, aku harus mendapatkan gadis kecil itu,” umpat Sania lagi yang berniat meninggalkan Will dan mengejar Lucia.


Namun, Will segera menghentikannya sembari berkata, “Mau kemana kau? Urusan kita belum selesai sampai kau mati di tanganku.”


“Mendapatkan kembali bonekaku yang kabur! Lebih baik kau menyingkir dan tunggu dengan tenang giliranmu,” ujar Sania yang masih saja menganggap remeh kemampuan Will.


“Dasar wanita ******! Beraninya kau terus meremehkan kemampuanku, kita lihat saja berapa kau bisa bertahan dengan semua serangan ku.”


Hingga Sania tersadar bahwa yang di lawan sekarang bukanlah manusia, melainkan monster berwajah malaikat.


Will berkali-kali melakukan serangan tipuan pada Sania, sehingga dia bisa dengan mudah melukai tubuh Sania dan membuatnya semakin terdesak.


Tentu saja Sana tidak akan tyinggal diam saja, dia mencoba bertahan dan melawan balik menyerang Will. Akan tetapi, Will tidak memberikan celah sedikitpun untuk Sania membalas, apalagi melarikan diri.


Sementara, Levi ternyata berhasil menyusul Richo yang hendak melarikan diri dnegan menggunakan sebuah mobil hitam yang sudah tersedia di sana.


Namun, siapa sangka Levi malah kembali terjebak di tengah banyaknya pembunuh bayaran yang di siapkan Richo secara diam-diam.


“Berhenti kau, keparat!” seru Levi.


Seketika Richo pun menghentikan niatnya untuk masuk ke dalam mobil. Richo tampak terdiam sejenak saat berbalik dan melihat Levi berdiri di hadapannya dengan penuh luka, lalu tak lama kemudian dia tersenyum sini sambil menatap Levi tajam.


“Dasar anak tidak sopan! Bagaimana bisa kau memanggil Pamanmu sendiri sebagai keparat,” ujar Richo masih dengan senyumannya yang sangat menyebalkan di mata Levi.


Levi pun balik tersenyum sinis setelah mendengar perkataan Richo. Kemudian dia berkata, “Haah, … Apa kau sedang melantur?”


“Mana ada seorang Paman yang akan berencana untuk membunuh keponakannya sendiri, bahkan dia tidak segan-segan menyewa sekelompok mafia dan gangster sekaligus,” lanjutnya menyindir.


Richo malah tertawa dan tanpa tahu malu dia berkata, “Hahahaa, … Karena ku terlalu sayang kepadamu, keponakanku! Maka dari itu, aku menyewa mereka semua untuk mengirim mu pergi menuju ke dunia orang tuamu tinggal sekarang.”


“Dan satu hal lagi, kau salah tentang aku menyewa sekelompok mafia dan gangster untuk membunuh. Karena pada kenyataannya, aku juga menyewa sekelompok pembunuh bayaran untuk bermain-main denganmu,” lanjut Richo sembari memberikan sebuah kode.


Dan begitu dia menjentikkan jarinya, sekelompok orang berpakaian serba hitam dengan wajah tertutup segera mengepung Levi. Sekitar ada sepuluh orang yang telah mengepung Levi saat ini, pada Levi sudah dalam keadaan terluka cukup parah.


“Bagaimana menurutmu, keponakanku tersayang? Aku sengaja menyiapkan mereka di akhir mengingat mereka semua malah menargetkan hal lain yang tidak aku inginkan,” ujar Richo yang semakin tertawa puas melihat Levi sudah tidak berkutik lagi di hadapannya.


Berharap bantuan kembali datang, Levi berusaha mengulur waktu dengan berkata, “Sebenarnya apa alasanmu ingin membunuhku? Selama ini aku tidak pernah berpikir untuk kembali, apalagi berniat mengambil harta serta kekuasaan keluarga Zaender.”


“Salahkan saja Tuan Roman yang terhormat itu. Jika saja dia tidak berusaha mencarimu, maka tidak ada alasan untukku untuk berbuat sejauh ini. Tapi memang lebih baik menyingkirkan akar masalahnya sejak awal, dengan begitu tidak akan ada lagi perasaan khawatir bahwa suatu saat akar itu akan tumbuh menjadi benalu di masa depan,” jelas Richo yang terpancing oleh perkataan Levi.


“Syukurlah, aku rasa dia tidak menyadari bahwa aku sedang mengulur waktu sampai bantuan yang lain tiba,” batin Levi.


Bersambung,.......


...****************...


...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...


...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...


...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...


...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...


...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....


...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...


...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...


...Agar tidak ketinggalan kisah seru Double L, keluarga Xavier dan para pengawal tampannya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...


...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...