Willea

Willea
Extra Bonus



“Ada apa, Zhi?” tanya Julia yang langsung berlari menghampiri Zhia begitu mendengar suara teriakannya.


Namun, Zhia tak menjawabnya. Dengan tatapan penuh kemarahan, Zhia pun menghampiri Rayden, Noland dan Double L yang tengah ketakutan karena rasa bersalah. Karena tidak tahu apa yang terjadi, Julia lebih memilih diam dan hanya memperhatikan apa yang akan terjadi selanjutnya.


“Ray, apa yang kau lakukan sebagai ayah dari mereka, Hah! Bagaimana bisa kau malah asyik mengobrol dengan Papah dan membiarkan anak-anak bermain dnegan benda tajam!” bentak Zhia pada Rayden, matanya memerah karena berusaha menahan tangis dan amarahnya agar tidak semakin pecah.


“Zhi, a-aku minta maaf! Aku pikir Luca dan Lucia hanya akan memberikan boneka saja seperti biasa, aku tidak tahu kalau, _….”


Rayden berusaha menjelaskan apa yang terjadi, tapi Zhia tak mau mendengarnya sama sekali.


“Kau tidak tahu ‘kan kalau mereka akan memberikan belati sebagai mainan? Tapi karena itulah alasan aku memintamu untuk menjaga mereka!” tukas Zhia.


“Tapi kau, _….”


Bahkan Zhia tak mampu untuk melanjutkan ucapannya, karena terlalu marah pada sikap Rayden hingga dia tak mampu berkata apapun lagi. Begitu juga dengan Rayden yang tak bisa mengatakan apapun lagi, sebab dia juga menyadari kesalahannya. Sementara, Luca dan Lucia hanya menundukkan kepala serta menangis dalam diam sembari menyadari kesalahan yang telah mereka perbuat.


“Zhi, ini semua bukan salah Cano saja. Jika, _….”


Melihat Zhia yang begitu marah pada Rayden, Noland pun berusaha untuk membantunya. Namun, bukannya membantu dia malah ikut kena amarah dari istrinya. Mendengar perkataan Zhia, Julia langsung tahu bahwa Noland pun melakukan kesalahan yang sama dengan putranya.


“Kau juga diam, Noland Cano Xavier!” bentak Julia yang juga ikut menghampiri mereka dengan tatapan tajam dan penuh kemarahan.


Seketika itu juga Rayden dan Noland pun langsung bersujud di hadapan Zhia dan Julia sambil menundukan kepala dan diam seribu bahasa. Karena tidak ingin kajadian langka itu tersebar, kepala pelayan pun melarang semua pelayan yang ada agar tidak memasuki ruang tamu.


“Ya Tuhan! Setelah sekian purnama, dia kembali menyebut nama lengkapku. Sepertinya aku akan tidur di ruang tamu untuk beberapa hari,” batin Noland yang langsung menyadari dirinya sudah masuk dalam masalah besar.


“Bagaimana kalian berdua membiarkan anak kecil dan anak masih bayi bermain dengan belati, Hah? Beruntung ada sarung pelindungnya, bagaimana jika tidak ada? Kalian berdua bisa membayangkan yang akan terjadi, bukan?” seru Julia yang memarahi anak dan nak sekaligus.


Suasana pun seketika menjadi hening, hingga tiba-tiba Lucia berkata, “Ma-maafkan Luci, Mah! Lucia tidak bermaksud untuk membahayakan adik-adik.”


Luca pun menimpali, “Luca juga minta maaf!”


Namun, Zhia diam saja hanya air matanya yang terus mengalir tanpa henti. Sebenarnya dia tidak ingin semarah ini, tapi entah kenapa amarah tidak kunjung mereda. Julia pun sebenarnya kasihan pada Luca dan Lucia tapi di sisi lain,mereka berdua juga bersalah atas kejadian ini.


“Mah, Zhi ingin sendiri dulu untuk sementara waktu! Tolong beritahu pelayan untuk menjaga anak-anak sementara waktu ‘yah?” pinta Zhia di sela tangisannya.


“Baiklah, tenangkan dirimu terlebih dahulu. Mamah akan mengurus semuanya, termasuk kedua orang tidak berguna ini,” ujar Julia sembari menatap tajam Rayden dan Noland secara bergantian.


Tanpa berkata apapun lagi, Zhia langsung berjalan menuju ke kamarnya sambil menangis. Baik Rayden, Luca dan Lucia hanya bisa menatap kepergian mamahnya dengan perasaan tidak menentu. Rasa bersalah, takut, khawatir dan lain sebagainya bercampur jadi satu.


Luca dan Lucia bahkan semakin kencang menangisnya, karena mengira mereka akan di benci oleh mamahnya atas kesalahan mereka itu. Suasana yang tadinya terasa hening dan tegang,kini berubah penuh tangis dari Double L dan juga Triple R.


Sehingga Julia terpaksa memanggil beberapa pelayan untuk mengurus mereka, sementara Rayden dan Noland di biarkan begitu saja. Dan memilih untuk mengikuti Zhia, karena dia takut terjadi sesuatu yang buruk padanya. Apalagi Zhia baru saja menjalani operasi untuk melahirkan ketiga anaknya.


Benar saja, Zhia ternyata mengalami gejala Baby Blues Syndrome. Sehingga dia tidak bisa mengatur emosinya dan juga sering menyalahkan diri sendiri atau orang lain. Menyadari hal itu, Julia pun langsung mendatangkan Dr. Lena sebagai tindakan pencegahan.


Satu minggu telah berlalu setelah kejadian itu. Dan sesuai perkiraan Noland, dia dan Rayden benar-benar harus tidur di kamar yang terpisah dari sang istri. Untuk Luca dan Lucia, Zhia dan Julia sudah memaafkan serta bersikap seperti biasanya. Namun, tidak untuk Rayden dan Noland, baik Zhia maupun Julia masih mendiamkan mereka dan terus saja bersikap dingin.


Meskipun Noland dan Rayden saling berbagi penderitaan, tapi Rayden merasa semakin frustasidnegan hubungannya dengan Zhia. Sehingga saat berada di dalam kantornya berdua dengan Will, dia pun memutuskan untuk melakukan sesi curhat.


Dan ternyata bukan hanya Rayden dan Noland saja yang mengalami masalah dengan istri masing-masing, ternyata Will juga sedang mengalami masalah dengan hormon kehamilan istrinya.


“Tuan muda, ini adalah dokumen yang perlu anda periksa dan di tanda tangani hari ini juga,” ujar Will sembari menyerahkan dokumen yang di maksud.


“Will, apa kau tahu apa yang harus di lakukan untuk mengatasi istri yang tengah mengalami Baby Blues Syndrome?” tanya Rayden secara tiba-tiba dan sama sekali tidak memperdulikan semua dokumennya yang semakin menumpuk setiap menitnya.


“Mana saya tahu, Tuan muda? Istri saya ‘kan baru saja mengandung dan belum melahirkan. Kenapa anda tidak bertanya pada Tuan besar saja,” jawab Will dengan sejujur-jurnya.


“Sudahlah lupakan saja! Kalian berdua memang sama-sama tidak berguna,” ujar Rayden yang tidak tertarik dengan saran Will, karena nasib Papahnya juga sama dengannya.


“Tuan muda, bisakah saya menanyakan sesuatu tentang sesuatu pada anda?” pinta Will dengan sangat hati-hati.


“Tanya apa? Kalau ingin memastikan soal aku dan Zhia sedang bertengkar, maka tebakanmu benar seratus persen. Sudah puas kau!” ujar Rayden dengan nada ketusnya.


“Kalian sedang bertengkar?” Akhirnya Will malah menanyakannya dengan raut wajah bingungnya.


“Tapi bukan itu yang mau saya tanyakan kepada anda,” lanjutnya.


“Ehmm, … Hmmm, …. Lalu?”


Rayden pun menjadi salah tingkah, karena secara tidak langsung dia membuka aibnya sendiri.


“Begini, sebenarnya saya juga sedang bertengkar dengan Alea. Entah kenapa belakangan ini, dia menjadi moodswing, bahkan dia selalu merasa ingin muntah setiap melihatku. Sehingga aku harus menjaga jarak 5 meter darinya dan terpaksa saya harus tidur di ruang tamu atau kamar lain selama satu minggu ini.”


Akhirnya Will malah mencurahkan semua isi hatinya yang selama dia berusaha dia sembunyikan dari siapapun, karena tiudak ingin menjadi bahan ledekan semua orang terutama Rayden. Namun, karena tidak ada perubahan selama seminggu ini, Will pun terpaksa menceritakannya, mengingat Rayden merupakan yah dari lima orang anak.


“Hahahaaa, … Ternyata bukan aku dan Papah saja yang harus tidur di luar selama ini.”


Lagi-lagi Rayden membuka aibnya sendiri, bahkan Papahnya juga harus terlibat ke dalamnya.


“Jadi, Tuan muda dan Tuan besar juga sama?” Sontak Will ingin langsung memastikan kebenarannya.


“Sial! Aku keceplosan lagi,” gumam Rayden saat menyadarinya.


Ilustrasi para suami teraniaya sedang saling curhat!🤫