Willea

Willea
83. Kekesalan Seorang Levi



...◦•●◉✿Willea✿◉●•◦...


...‌𝓑𝓾𝓴𝓪𝓷𝓵𝓪𝓱 𝓴𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓬𝓲𝓷𝓽𝓪 𝓪𝓷𝓽𝓪𝓻𝓪 𝓦𝓲𝓵𝓵 𝓭𝓪𝓷 𝓐𝓵𝓮𝓪 𝓼𝓪𝓳𝓪. 𝓜𝓮𝓵𝓪𝓲𝓷𝓴𝓪𝓷 𝓴𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓭𝓪𝓻𝓲 𝓦𝓲𝓵𝓵, 𝓓𝓸𝓾𝓫𝓵𝓮 𝓛, 𝓛𝓮𝓿𝓲 𝓭𝓪𝓷 𝓐𝓵𝓮𝓪. 𝓚𝓪𝓻𝓮𝓷𝓪 𝓲𝓽𝓾𝓵𝓪𝓱, 𝓚𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓲𝓷𝓲 𝓫𝓮𝓻𝓳𝓾𝓭𝓾𝓵...


...◦•●◉✿Willea ✿◉●•◦...


“Will, aku ingin ikut mereka.”


Levi merengek layaknya seorang anak kecil yang sedang meminta mainan pada papahnya.


“Kau masih punya banyak mainan di sini. Bukankah kita harus mencari tahu siapa mata-mata yang di maksud dia tadi?” ujar Will yang menanggapi keinginan Levi layaknya sedang berhadapan dengan anak kecil.


“Benar juga, tapi kenapa kau memperlakukanku seperti anak kecil!” seru Levi yang tidak terima dengan cara Will memperlakukan dirinya barusan.


“Lagian siapa suruh kau terus merengek kayak anak kecil,” gumam Will dengan sikap santainya.


Levi masih mengocehkan berbagai hal dengan kesal, tetapi Will tidak memperdulikannya sama sekali. Will malah berjalan mendekati salah satu mata-mata yang babak belur oleh Felix dan Jaydon sebelumnya.


“Wahh, … Sepertinya mereka sudah bermain-main sedikit dengan kalian ‘yah?” tanya Will pada orang tersebut, meskipun hanya mendapat tatapan dingin darinya.


“Kita apakan mereka agar mau bicara, Lev?”


Karena tidak ada respon positif dari mata-mata itu, Will pun terpakssa menanyakannya pada Levi yang masih menggerutu di belakangnya. Levi lalu mendekat dan sesaat memperhatikan orang yang sedang terikat di hadapannya itu.


“Sejak kapan kalian semua mengikuti Tuan dan Nona kecilku, Hah?” bentak Levi sembari mencengkeram kerah baju yang di kenakan orang tersebut.


“Hahaaa, … Apakah kau perlu menanyakan hal bodoh seperti itu?”


Bukannya menjawab orang tersebut malah sengaja memancing kemarahan Levi yang sudah kesal dari tadi.


“Aish, … Sial, aku menjadi sangat kesal sekarang,” umpat Levi seraya memutar sedikit kepalanya supaya sedikit merasa rileks.


“Cari mati kalian, jika berbicara seperti itu pada Levi yang sedang menahan kekesalannya,” gumam Will yang hanya tersenyum sinis.


Lalu, Will pun menjauh dari Levi dan orang-orang itu. Sebab Will sangat paham apa yang akan terjadi, jika Levi sudah berada dalam mode On si bocah psikopat.


Seperti yang dia katakan sebelumnya, Will akan membiarkan Levi bermain dengan orang-orang itu sesuka hatinya.


“Will, boleh aku mulai bermain sekarang?” tanya Levi layaknya seoarang anak yang meminta ijin pada papahnya sebelum pergi bermain.


“Silahkan! Bermainlah sesuka hatimu, Nak! Kalau tidak ada informasi penting dari mereka, maka bereskan saja semuanya,” sahut Will mengijinkan.


“Hehehee, … Baiklah, aku juga butuh tempat pelampiasan kekesalanku ini,” gumam Levi di sertai seringai ala bocah psikopat yang membuat orang yang melihatnya langsung merinding.


“Aku tanya pada kalian sekali lagi. Sejak kapan kalian mengawasi kami dan apa tujuan kalian melakukan itu?” tanya Levi dengan tatapan mengintimidasi.


Namun, seolah tidak takkut pada apapun. Semua orang itu tutup mulut dengan sangat rapat dan bahkan hanya menertawakan Levi yang saat ini sedang mencoba menahan diri lebih lama lagi.


Sontak saja, batas kesabaran Levi pun runtuh.


Dengan gerakan yang tidak dapat di lihat dengan mata kepala, Levi segera mengeluarkan pisau belatinya yang langsung saja dia tancapkan pada telapak tangan orang yang ada di depannya itu.


“Aaakhhh, ….” Teriakan kesakitan dari orang tersebut segera menggema ke setiap sudut ruangan itu.


“Aish, … Haruskan aku memakai Earphone agar tidak terganggu dengan teriakan mereka. Sayang sekali, aku tidak membawanya hari ini,” gumam Will yang berusaha mencari barang di maksud di dalam sakunya tapi tidak menemukannya.


“Astaga, belati kesayangku jadi kotor gara-gara darahmu ini.”


Levi menarik paksa pisau belatinya, lalu dengan santainya menggunakan pakaian yang di kenakan oleh orang tersebut untuk membersihkan darah yang tersisa.


Akan tetapi, masih tidak ada jawaban dari orang-orang yang sudah di landa ketakutan itu. Levi pun semakin dibuat gila dan frustasi dengan sikap diam orang-orang itu.


Dengan kejamnya, Levi menusukkan berkali-kali pisau belatinya ke beberapa bagian tubuh orang yang yang ada di hdapannya. Hingga cipratan darah segar mengenai wajah dan tubuhnya.


“Haaah, … rasanya sedikit melegakan,” gumam Levi dengan tubuh yang berlumuran darah terutama bagian tangannya yang masih memegang pisau belatinya.


“Astaga, bocah itu benar-benar psikopat! Padahal dia selalu terlihat seperti anak anjing saat berada di dekat Nona kecil. Hanya Nona kecil yang bisa mengendalikan psikopat kejam ini.”


Will hanya bisa bergumam sendiri menyaksikan kekejaman Levi yang sekarang terlihat seperti manusia yang haus darah. Meskipun merasa ngeri dan ngilu melihat aksi Levi, Will tidak mempunyai sedikitpun niat untuk menghentikannya.


“Ini waktu terakhir kalian semua untuk bertahan hidup. Aku tidak akan segan lagi membunuh kalian dengan cara yang sangat menyakitkan lebih dari ini, jika kalian tidak berhasil menjawab pertanyaan dariku. Maka setiap sepuluh menit, belati ini akan mengoyak tubuh kalian satu persatu hingga mati.”


Tatapan Levi semakin mengintimidasi dan menakutkan. Apalagi ketika dia tersenyum dengan wajah yang dipenuhi dengan cipratan darah segar. Satu orang telah Levi ajak bermain sebagai pemanasan, sebelum memasuki permainan yang sebenarnya.


Kini Levi perlahan berjalan menghampiri mainannnya yang selanjutnya. Sambil mengeluarkan senyuman ala psikopatnya, Levi bertanya “Siapa adik Fernand yang berhasil menjadi salah satu pengawal di sana?”


“Ka-kami sungguh tidak tahu, Tuan!”


Orang itu menjawabnya dengan terbata-bata. Apalagi Levi dengan sengaja memainkan belatinya yang berlumaran darah tepat di wajahnya. Namun sayangnya, Levi yang sudah sangat kesal sebelumnya tidak dapat memberikan ampun lagi.


Meskipun mereka telah berkata jujur bahwa mereka tidak mengetahui siapa adik Fernad yang di maksud oleh Levi dan Will. Sesuai perkataannya, Levi terus membunuh orang-orang itu setiap sepuluh menit dengan berbagai cara yang sangat sadis dan kejam.


Ruangan itu kini menjadi sungai darah, dimana darah segar terus mengalir dari bekas luka yang di sebabkan pisau belati milik Levi. Teriakan kesakitan terus terdengar setiap Levi menancapkan belatinya, hingga Will tidak dapat menahannya dan memilih pergi dari ruangan itu.


“Haaah, … Puas sekali rasanya melampiaskan kekesalanku seperti ini. Walaupun tidak sebaik saat mereka bisa melawan,” ujar Levi sembari membersihkan darah di wajahnya.


Tidak lupa senyuman mengerikannya terus terukir, di wajah yang masih di penuhi dengan darah.


“Ishhh, … Lihatlah penampilanmu sekarang! Bersihkan tubuhmu lebih dulu sana, aku hampir muntah mencium bau amis darah di tubuhmu,” protes Will yang benar-benar merasa mual dengan bau darah yang masih menempel di tubuh Levi.


“Hahaaa, … Baiklah! Tunggu aku 15 menit, maka semua akan bersih tanpa sisa,” ujar Levi yang malah tertawa melihat ekspresi jijik Will saat melihatnya.


“Tidak perlu terburu-buru. Mandilah selama 1 jam dan pastikan kau menggunakan sabun agar bau amisnya hilang. Mengerti?” tukas Will yang sudah tahu bahwa Levi hanya akan menyiram tubuhnya hanya dengan air saja.


“Hahaa, …Sepertinya kau trauma soal ini ‘yah!” Lagi-lagi Levi malah menertawakannya.


Bersambung,.......


...****************...


...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...


...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari setiap pukul 16.00 WIB ‘yah!😍😍...


...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...


...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...


...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....


...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...


...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...


...Agar tidak ketinggalan kisah seru Double L, keluarga Xavier dan para pengawal tampannya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...


...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...