
...◦•●◉✿Willea✿◉●•◦...
...𝓑𝓾𝓴𝓪𝓷𝓵𝓪𝓱 𝓴𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓬𝓲𝓷𝓽𝓪 𝓪𝓷𝓽𝓪𝓻𝓪 𝓦𝓲𝓵𝓵 𝓭𝓪𝓷 𝓐𝓵𝓮𝓪 𝓼𝓪𝓳𝓪. 𝓜𝓮𝓵𝓪𝓲𝓷𝓴𝓪𝓷 𝓴𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓭𝓪𝓻𝓲 𝓦𝓲𝓵𝓵, 𝓓𝓸𝓾𝓫𝓵𝓮 𝓛, 𝓛𝓮𝓿𝓲 𝓭𝓪𝓷 𝓐𝓵𝓮𝓪. 𝓚𝓪𝓻𝓮𝓷𝓪 𝓲𝓽𝓾𝓵𝓪𝓱, 𝓚𝓲𝓼𝓪𝓱 𝓲𝓷𝓲 𝓫𝓮𝓻𝓳𝓾𝓭𝓾𝓵...
...◦•●◉✿Willea ✿◉●•◦...
Beberapa hari yang lalu, …..
Lebih tepatnya setelah kepergian Levi, lucia langsung mengurung dirinya di dalam kamar sambil terus menangis.
Tidak peduli entah itu Rayden, Zhia, Luca, Noland, Julia dan yang lainnya mencoba membujuk Lucia untuk membuka pintu kamarnya. Tidak ada satupun permintaan dari mereka yang di dengarkan oleh Lucia.
Dan itu terjadi selama beberapa jam, hingga Lucia melewatkan makan siang dan makan malam. Bukan hanya Lucia saja yang melawatkan waktu makan, bahkan semua orang pun jadi melakukan hal yang sama karena mereka semua mengkhawatirkan keadaan Lucia.
Hingga pada tepat tengah malam sudah tidak terdengar suara tangisan ataupun isak tangis dari Lucia dari balik pintu.
“Pah, aku tidak mendengar suara Luci lagi dari dalam,” ujar Luca yang menatap penuh rasa cemas ke arah papahnya.
Wajah semua orang semakin terlihat cemas. Tanpa pikir panjang lagi, Rayden langsung mendobrak pintu kamar itu dengan sekuat tenaganya.
Dan benar saja terjadi sesuatu pada Lucia di dalam sana, begitu pintunya hancur tatapan semua orang langsung tertuju pada Lucia yang sudah tidak sadarkan diri di lantai.
“LUCIA!!!”
Semua orang langsung berteriak dan menghampiri Lucia. Rayden langsung mengendong tubuh putrinya dan berniat untuk langsung membawanya ke rumah sakit.
Tapi Dr. Ian yang juga masih di berada di dalam Mansion menyarankan pada Rayden agar dia dapat memeriksanya lebih dulu.
“Will, cepat siapkan mobil! Kita harus ke rumah sakit sekarang juga,” perintah Rayden yang terlihat panik sekaligus cemas secara bersamaan.
“Baik, Tuan muda!” sahut Will yang langsung berlari untuk menyiapkan mobil.
Namun, setelah Will tidak terlihat lagi. Dr. Ian tiba-tiba muncul dengan membawa peralatan dokternya seraya berkata, “Baringkan saja dulu, Cano! Biar aku mencoba untuk memeriksanya.”
Tanpa berpikir panjang, Rayden langsung kembali menuju ke kamar Lucia dan perlahan mulai membaringkan putri kecilnya. Setelah itu, Rayden pun memberikan sedikit ruang kepada Dr. Ian agar lebih leluasa untuk melakukan pemeriksaan.
“Bagaimana keadaan putri saya, Dok?” tanya Zhia dengan deraian airmata yang terus mengalir di pipinya, sedangkan Rayden berdiri di sampingnya mencoba untuk memenangkan istrinya.
“Emmm, … Putri kalian hanya mengalami sedikit shock dan kelelahan karena terus menangis dan melewatkan makan, karena itulah dia tidak sadarkan diri. Untuk sekarang memang tidak masalah, tapi kalau ini terus berlanjut maka kondisinya akan semakin memburuk,” jelas Dr. Ian sembari menuliskan resep obat untuk di konsumsi oleh Lucia.
“Cobalah untuk mengalihkan perhatiannya dari hal yang membuatnya seperti ini. Dia masih anak kecil, maka akan mudah untuk membuatnya teralihkan pada hal lain yang lebih menarik. Dan ini resep obat dan vitamin yang bisa memulihkan nafsu makan dan energinya,” lanjutnya sembari menyerahkan secarik kertas pada Rayden.
“Terima kasih banyak, Dok!” ucap Zhia dan Rayden bersamaan.
...****************...
Setelah itu, Dr. Ian pun pamit untuk kembali ke rumahnya. Malam itu, Lucia di pindahkan ke kamar utama milik Rayden dan Zhia bersama dengan Luca sekalian untuk tidur bersama mereka.
Semalam penuh Rayden dan Zhia menjaga Lucia, siapa tahu Lucia akan terbangun di tengah tidurnya.
Namun, ternyata Lucia baru bangun pada keesokan harinya. Akan tetapi, sikapnya masih sama Lucia sama sekali tidak mau menatap papahnya.
Menolak untuk makan maupun minum obat, dia hanya diam membisu dengan air mata yang terkadang jatuh tanpa dia sadari.
“Luci, kau sudah bangun sayang?” tanya Rayden saat melihat putrinya perlahan membuka mata.
“Pergi! Luci sangat membenci Papah! Luci tidak mau melihat Papah lagi,” teriak Lucia yang langsung mengusir keberadaan Papahnya di sana.
“Lucia?” lirih Rayden, hatinya terasa sangat perih melihat putri kesayangannya sekarang membenci dirinya.
“Sayang, tenanglah! Ada Mamah dan Kakakmu di sini?” pinta Zhia yang langsung meraih Lucia ke dalam pelukannya.
“Luci tidak ingin melihat Papah, Mah!” rengek Lucia yang masih menginginkan hal yang sama yaitu menyuruh papahnya untuk pergi.
“Ray, …”
Sementara Zhia dan Luca akan sedikit memberikan pengertian agar Lucia tidak bersikap seperti itu lagi pada Papahnya sendiri.
Selepas kepergian Rayden, Zhia pun mulai berkata, “Sayang, kenapa kau bersikap seperti ini? Kepergian Levi adalah untuk kebaikannya di masa depan. Mungkin kelak Lucia akan melihat Levi sudah menjadi pria yang sangat hebat seperti Papah Luci sekarang.”
“Tapi Luci tidak ingin Kak Levi pergi kemana pun! Luci hanya ingin Kak Levi selalu berada di samping Luci,” ujar Lucia yang tidak peduli dengan hal apapun kecuali keberadaan Levi.
“Luci, katakan apapun yang Luci inginkan! Kakak pasti akan memberikannya padamu, asal Luci berjanji tidak akan bersikap seperti ini lagi! Kak Levi mempunyai kehidupan dan keluarganya sendiri, bukankah Luci juga begitu?” ujar Luca pada adiknya.
“Benar, kita lupakan tentang itu dan Mamah juga kan memberikan apapun yang Lucia minta.”
Dengan cepat Zhia menimpali.
“Benarkah? Mamah dan Kakak akan mengabulkan apapun keinginan Luci?” Lucia harus benar-benar memastikan.
“Iya, kecuali menyuruh Kak Levi untuk kembali,” ujar Luca dengan cepat menolak jika permintaannya itu.
“Baiklah! Kak Luca harus selalu ada kapan pun dan di mana pun saat Luci membutuhkan Kakak, sedangkan Mamah harus membiarkan Luci yang memberi nama pada ketiga adik kembar Luci nanti. Mamah dan Kakak harus janji dulu, maka Luci akan melupakan tentang Kak Levi. Janji?” jelas Lucia seraya menunjukan kedua jari kelingking yang ada di tangannya.
“Baiklah, Mamah janji! Nama apapun yang Luci inginkan untuk ketiga adik Luci ini pasti akan Mamah terima dengan senang hati,” ujar Zhia yang menyanggupi permintaan dar putrinya yang ternyata sangat sederhana itu.
“Kakak juga janji! Lagian Kakak tidak akan pernah mungkin meninggalkan Luci sendirian.”
Luca pun juga menyanggupinya, lagian tanpa di minta oleh siapapun Luca pasti akan selalu ada untuk adik perempuan satu-satunya itu.
“Sekarang, Luci tinggal berbaikan dengan Papah ‘yah?” ujar Zhia yang merasa sangat kesihan pada Rayden karena Lucia tadi menolak keberadaannya begitu keras.
“Tapi Luci masih kesal sama Papah, Mah?” celetuk Lucia dengan polosnya.
“Tidak boleh seperti itu, sayang! Kau juga boleh meminta apapun pada Papah pasti akan di kabulkan,” bujuk Zhia.
“Benarkah, Luci juga boleh minta apapun pada Papah!” seru Lucia yang tampak tak percaya.
“Coba saja,” sahut Zhia.
“Mamah akan memanggil Papah, kalian bicara berdua saja! Kak Luca akan membantu Mamah membawa makanan untukmu ‘yah!” lanjut Zhia seraya beranjak dari tempat tidurnya bersama dengan Luca.
Tak lama setelah Zhia dan Luca keluar, Rayden pun masuk dengan raut wajah memelas sembari menghampiri Lucia secara perlahan.
Sebab Rayden masih takut di tolak lagi oleh putrinya dan mendengar bahwa putrinya sangat membencinya, karena itu kata-kata yang paling menyakitkan yang pernah Rayden dengar seumur hidupnya.
Bersambung,.......
...****************...
...Hay, kakak semua!!!🤗🤗🤗...
...Kalau tidak ada halangan apapun, novel ini akan update setiap hari tapi untuk waktu updatenya tidak pasti. Maaf 'yah Author harus mengutamakan pekerjaan di Real life 🙏🙏🙏😞...
...Maka dari itu, mohon dukungannya ‘yah!🙏🙏🥰🥰...
...Jangan lupa tinggalkan like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga ‘yah! Biar novelnya semakin bersinar!🌟🌟🌟👌🥰🥰🥰...
...Novel ini hanya ada dan akan update di Aplikasi Noveltoon atau Mangatoon saja. Bila terdapat ditempat lain berarti itu semua merupakan plagiat....
...Jadi, mohon terus dukung novel orisinilku ‘yah dan segera laporkan jika ada plagiat novel ini!🙏🙏😓...
...Dan jangan lupa berikan cinta dan tips untuk Author kesayangan kalian ini ‘yah!...
...Agar tidak ketinggalan kisah seru Double L, keluarga Xavier dan para pengawal tampannya. Tambahkan novel ini ke rak novel favorit kalian ‘yah!...
...Terima kasih, All! 🙏🙏🙏😘😘😘...