
"tuk" jeje membuka matanya ketika merasakan ada benda yang menindih tangan kanan nya jeje menyipitkan matanya melihat orang berambut hitam di samping nya "kakak" kata jeje terlihat chai benar benar sudah terlelap sambil memangku laptop di paha nya dokter datang "nona kau sudah bangun? tuan chai selalu ada di samping mu tidak pernah tidur tapi kali ini dia tidur kelihatan nya" kata dokter sambil memeriksa infus di lengan jeje "bagaimana perasaan mu nona? " tanya dokter "aku tidak merasakan apapun" kata jeje "maaf aku ingin periksa lehermu sebentar" kata dokter jeje mengangguk dokter menunduk melihat luka di leher sebelah kiri jeje yang tergores sampai ke bahunya "apa luka nya dalam ? " tanya jeje "lumayan nona cuma tidak terlalu dalam" kata dokter "di mana kakak ipar ku? " tanya jeje "dia sedang mengambil obat untuk mu" kata dokter "bisakah kakak ku di sebelah ku ranjang ini cukup untuk nya" kata jeje "bisa nona ranjang ini bahkan empat orang juga muat" kata dokter "tapi pelan pelan nanti dia bangun" kata jeje perawat menyingkirkan laptop milik chai "hum" chai terbangun "kakak tidur lah di sebelah ku" kata jeje "hum" chai berbaring di sebelah jeje "cepat bangun ya.. jangan buat aku kawatir" chai kembali tidur jeje tersenyum mengusap rambut chai "kau terlalu lelah sampai kau tidak melihat kalau aku sudah bangun " kata jeje ponsel jeje berbunyi.
niko menatap rizi "berdering kok" kata rizi "syukur lah kali ini dia aktif " kata mawar "oih"rizi tersenyum " jeje kau ke mana saja beberapa hari tidak ke kampus? kau sakit? terluka? atau apa? "tanya rizi " kenapa? "tanya jeje " kenapa kau bilang? kami kawatir pada mu! "kata anggel " lalu? "kata jeje " lalu apa lagi? katakan pada kami kau ada di mana dan sedang apa? "kata mawar " aku sedang di rumah "kata jeje " rumah? yang benar saja ngapain kau di sana kenapa tidak ke kampus" jeje menoleh ke arah pintu "nona ini makanan mu lima belas menit lagi aku akan kembali untuk mengganti perban mu " niko terlihat kawatir "perban? " kata niko "jeje kau sakit? " tanya vito "tidak tidak aku baik baik saja aku cuma malas bertemu kalian di kampus" kata jeje "jangan menipu aku mendengar mu tadi" kata dila "kalian tidak percaya? " kata jeje "tidak! " kata teman temannya "aku juga tidak percaya" kata jeje "astaga kenapa kau jadi tukang komedi sekarang" kata mawar "gini gini hati sabtu kita akan bertemu " kata jeje "kau ke kampus? " tanya dila "tidak kalian datang ke lokasi yang nanti aku kirim" kata jeje sambil menutup telpon "benar ya aw-- ya ampun aku belum selesai bicara dia sudah menutup telpon nya" kata rizi "hari sabtu kan masih lama" kata dila "tiga hari lagi" kata mawar.
di rumah sakit...
monnie duduk di samping jeje "kenapa kau belum makan? " tanya monnie "aku harus tau dulu apa kalian sudah makan? " tanya jeje "sudah.. " monnie menatap chai yang terlelap di samping jeje "kak monnie berbaring jika kau mau kau pasti kelelahan karena berjam jam menunggu ku" kata jeje "kau tidak sadar selama empat hari" kata monnie "apa!! kok lama banget " kata jeje "ayo aku akan menyuapi sambil menceritakan semuanya" kata monnie "baik" kata jeje kemudian monnie menceritakan kejadian saat terjadi ledakan "chai datang menemui ku menceritakan kejadian nya dan menceritakan kalau kau begitu kawatir pada kami chai menyuruh ku menyamar menjadi staff di sana agar tidak ada yang mengenal ku chai pergi menolong mu sampai ledakan terjadi aku melihat chai menggendong mu darah berceceran di lantai dari luka mu chai terlihat begitu kawatir waktu itu dia berusaha sekuat nya agar tidak menangis di depan wartawan tapi sesampainya di mobil dia" monnie terus bercerita sambil menyuapi jeje "kakak kau tidak berbohong kan? " ucap jeje "kau yang terus berbohong" kata monnie "aku? " kata jeje "ya kau " monnie mengelap bibir jeje dengan tisu "tapi kenapa? " kata jeje "kalian berdua juga berbohong saling menutupi kebohongan masing-masing kau mengerti kasih sayang ka mengerti cinta kau menyayangi kakak mu mencintai kakak mu dan aku namun kau menyembunyikan di balik sikap dingin dan kasar mu sama seperti kakak mu yang menyembunyikan kasih sayang nya di balik sikap sok angkuh nya tidak bisakah kalian seperti diri ku" kata monnie "dan satu lagi kau sudah melihat nya kan apa yang cerita kan beberapa minggu lalu? " kata monnie "apa? " kata jeje "kehadiran cinta di dalam kehidupan itu nyata apa kau tidak melihat nya? " kata monnie "apa yang katakan aku tidak melihat nya" kata jeje "apa kau tidak merasakan juga bahkan kakak mu sendiri yang menunjukkan bahwa cinta itu ada kau tidak melihat nya tidak masalah tapi kau pasti merasakan nya dengar jeje jangan kau butakan mata mu dari kebenaran" kata monnie "cinta itu ada" kata monnie "kau ada di sekeliling cinta itu sendiri" kata monnie "cinta dari kakak mu, dari mama, papa, mungkin juga teman teman mu" kata monnie "apa kau coba mempengaruhi pemikiran ku? " ucap jeje "tidak sama sekali aku cuma mau kau menatap kebenaran dengan berani tanpa harus berpura-pura untuk tidak melihat kebenaran itu" kata monnie "apa ini? tidak mungkin kan aku salah? cinta apa itu? " fikir jeje.
beberapa hari berlalu...
jeje berjalan ke ruang tamu di kamar nya menatap lukisan yang di pajang monnie "rada Krisna kisah cinta yang tidak akan pernah di lupakan aku ada buku nya aku meletakkan nya di perpustakaan jika kau mau kau bisa membaca nya di sana" jeje teringat perkataan monnie jeje kembali ingat waktu masa masa sekolah menengah dia ikut menari bersama seorang pria "tarian cinta rada Krisna" jeje menghembuskan nafas panjang "tidak tidak.. kak monnie pasti mencoba menghasut ku" kata jeje "jeje" milli berada di luar pintu kamar "iya" jeje segera keluar dari kamar nya "makanan sudah siap semua menunggu mu" kata milli "oke" kata jeje "ya ampun... lama sekali sih" kata chai "apa nya" kata jeje "itu dia sudah datang" kata monnie "kak aku dengar pernikahan mu tertunda karena aku ya" kata jeje "apa nya? aku memang sengaja menunda nya karena ada rapat" kata chai "jadi hari apa dong" kata jeje "selasa" kata chai "kak monnie kenapa kau senyum senyum aku jadi curiga" kata jeje "kenapa kau curiga? " tanya monnie "ada deh" kata jeje "kak hari ini aku mau ke vila ku beberapa jam menemui Ariel" kata jeje "benarkah? " kata chai "iya " kata jeje "bawa beberapa pengawal " luka mu belum benar-benar kering tapi sudah pergi pergi "kata chai " di sini juga aku makin pusing mendengar kak monnie menyampaikan teori gelap nya"kata jeje chai tersenyum sambil menatap monnie "sudah sudah makan lah".
niko berjalan ke arah rizi " aku ikut kalian tapi nanti aku di dalam mobil saja"kata niko "masa gak turun kak" kata mawar "tidak papa melihat dari nya dari jauh sudah membuat ku senang" kata niko.
jeje berbaring di sofa panjang nya pelayan datang menyiapkan makanan dan minuman "dasar orang orang bodoh di suruh tepat waktu saja gak bisa" kata jeje "nona mereka datang" kata lim.
mobil berhenti satu persatu mereka di periksa baru boleh masuk ke dalam "mari" pelayan mengantar mereka menuju ruangan di mana jeje berada "mewah banget " bisik mawar "silahkan nona ada di dalam" kata pelayan dengan ramah sambil membuka pintu "masuk saja! " ucap jeje 'jeje sungguh kau membuat kami takut "kata vito " masuk saja ini bukan rumah hantu "kata jeje " leher mu luka lagi? "tanya anggel " iya sedikit tergores karena jatuh di tangga"kata jeje "kau ini" kata dila "ini kami bawa bingkisan untuk mu" kata baim
"hei kok kau bilang? "
"iya lihat hidangan di meja"
"mati kita salah bawa bingkisan"
"bingkisan kita murahan"
jeje menyipitkan matanya melihat teman teman nya berbisik "oih.. kalian berbisik bisik tapi kedengeran sampai telinga ku kalian bawa apa? kalian fikir di meja ini hidangan mewah ini buatan mereka bukan beli jadi mewah apa nya? " kata jeje vito melihat kepala koki menatap mereka "kami merasa" kata mawar "letakan saja di meja kita makan sama sama" kata jeje sambil mengambil gelas berisi jus nya "ayo minum kalau gak minum aku akan melempar kalian ke luar dari jendela" kata jeje "ya ampun je" kata dila "hum.. manis banget" kata baim "nona" Steven datang "kenapa kau datang"ucap jeje Steven mendatangi jeje lalu berbisik " kalian meninggal kan seseorang di dalam mobil? "tanya jeje " gluk "dila menatap yang lain " hum masa sih? memang kita tadi berapa orang? "tanya rizi " ayo kita periksa"kata jeje "tidak tidak" kata vito "hum.. kami" kata mawar "kak niko memaksa ingin ikut" kata baim "baim kok jujur banget sih" fikir anggel "dia ingin melihat mu" kata dila "pecundang" kata jeje "maafkan kami" kata mawar "jadi bagaimana? " tanya Steven "buka saja mobilnya takut nya orang nya mati" kata jeje.
niko datang jeje menatap nya dengan kesal "Hai baby" kata niko jeje menatap pelayan "beri asam sulfat satu gelas " kata jeje "apa!! " kata yang lain "siap nona" kata pelayan "jeje kau mau memberi kak niko asam sulfat? " tanya mawar "dia pantas mendapat kan nya" kata jeje tak lama kemudian pelayan datang "minum lah" kata jeje "jus lemon tenyata" kata anggel "terimakasih" kata niko "gluk gluk" mata niko berkedip kedip "minum tuh air lemon tanpa gula" kata jeje dalam hati "asam nya" kata niko dalam hati "oh ya je jadi kapan kau ke kampus" kata dila "tidak tau" kata jeje "kaya nya dia niat ngerjain aku deh" fikir niko "mampus lu" fikir jeje "kak niko kenapa? muka kakak merah banget loh" kata vito "tidak papa" kata niko.
monnie melihat kanan kiri "kaya nya tadi jeje sudah pulang tapi kemana dia? " fikir monnie
jeje menatap susunan buku di sekeliling nya "ini" jeje mengambil salah satu buku yang bergambar seorang pria memegang sebuah seruling dengan seorang gadis di samping nya "kaya ini deh" jeje membuka buku itu "dengar rada cinta adalah kunci kebahagiaan tanpa cinta kita semua bukan apa apa" jeje membaca buku itu "jeje" jeje menjatuhkan buku itu karena terkejut "i.i.. iya iya" jeje menendang buku itu jauh jauh "kau di sini? " monnie datang "iya waktu itu headset ku ketinggalan di sini jadi aku mencarinya" kata jeje "hum.. biar aku bantu" kata monnie "ku fikir kau di sini tadi" kata jeje "benar aku tadi di sini aku mau menunjukkan sesuatu ayo" monnie menarik jeje "satu dua tiga" monnie menarik kain di dekat nya "patung? " jeje melihat sepasang patung yang saling berpegang tangan dan bertatapan dan bahkan wajah mereka itu hampir menyatu jeje mencubit lengan monnie "apa ini? " kata jeje "bukan itu lihat ada video untuk mu khusus " kata monnie "oke" kata jeje monnie menyalakan video nya.
chai berlari ke sebuah kamar "jeje.. jeje.. bangun lah ayo buka mata mu.. hei.. ini kakak" kata chai memegang lengan jeje "ayolah.. apa apaan kau bilang kau kuat ayo buka mata mu!! siapa yang akan mengganggu ku nanti ayolah" chai mengusap air matanya "kau tidak boleh tidur lama lama" kata chai "chai.. " monnie mengusap kepala chai yang sedang menangis sesegukan "bagaimana jika dia tidak bangun" kata chai "kau ini bicara apa?? dia masih hidup dia akan bangun" kata monnie "aku takut... ayolah adikku.. bangun lah.. " kata chai. "ini sudah malam kau tidak tidur " kata monnie "tidak.. aku mau menjaga nya " kata chai "kalau begitu kau harus makan terlebih dahulu kau dari tadi belum makan" kata monnie "dia juga belum makan aku akan kalau dia bangun" kata chai "apa yang kau fikir kan jeje juga akan marah jika tau kau tidak makan" kata monnie "aku kakak yang tidak berguna monnie.. tidak berguna tidak bisa menjaga adik sendiri" kata chai "chai.. kau akan sakit saat jeje bangun" kata monnie "tidak papa" kata chai. "chai.. kau tidak tidur juga ini sudah jam berapa? " tanya monnie "jam sembilan pergilah makan aku sedang rapat online" kata chai sambil memangku laptop nya "aku akan ambil makanan untuk mu" monnie pergi berjalan "nona anda mau kemana? " tanya akia "aku ingin makanan untuk ku dan chai" kata monnie "ada di sana ayo saya temani" kata akia "dengar jeje mungkin saat kau bangun aku akan menceramahi mu! kau lihat apa yang di lakukan chai? itu bukan hanya sekedar perhatian atau karena kepedulian pada mu kau tau itulah cinta , cinta yang yang di berikan seorang kakak pada adiknya kau mungkin tidak melihat nya ya bagaimana bisa ka melihat nya kau menutup mata mu bagaimana kau bisa merasakannya kau tidak akan bisa merasakan nya kalau kau masih tidak menyadari cinta dari orang orang di sekeliling mu" ucap monnie "ini makanan nya" monnie menerima makanan dari wanita di depan dengan kucir kuda. "chai ayo makan" kata monnie terlihat dokter yang baru memeriksa jeje langsung pergi "chai.. " kata monnie "kau makan lah aku tidak lapar" chai meletakkan laptop nya lalu pergi ke kamar mandi "cinta nya sangat besar apa kau tau itu? aku sengaja merekam nya untuk mu agar ka tau cinta itu ada, kenapa ada orang yang menderita karena cinta? mereka bukan menderita karena cinta tapi mereka menderita dengan orang yang menyakiti nya dengan menggunakan nama cinta " kata monnie "cinta dan benci berdekatan namun tergantung pada kita ingin ke arah mana yang lebih banyak aku memilih cinta dan kau benci lihat lah perjalanan cinta yang akan ku tunjukkkan pada mu" kata monnie "kau bicara dengan siapa? " chai datang mengusap rambut monnie "kau bisa pulang wajah mu terlihat kelelahan aku akan tetap di sini maaf tidak bisa menemani pulang" kata chai "kau bicara apa aku tidak akan meninggal kan mu ayolah makan sedikit saja" kata monnie "aku sudah minum" kata chai sambil duduk di dekat jeje mengambil tisu basah mengusap wajah jeje "jujur aku lebih suka kau memarahi ku ketimbang diam begini" kata chai. "lihat sekarang sudah hampir pagi dan dia masih memperhatikan mu dia memang kakak terbaik " bisik monnie "ini hari ketiga dan dia masih bertahan tidak tidur dan tidak makan" ucap monnie dengan suara yang sangat pelan pagi hari kembali datang "aku akan ambil pakaian buat diri mu" kata monnie "iya aku akan meeting di sini jangan berisik hati hati bawa semua bodyguard untuk menjaga mu" kata chai "iya" kata monnie. "lihat kita sudah sampai ke rumah sakit chai terlihat mengantuk berat namun tetap memaksakan diri ketahuilah cinta terkadang membutuhkan pengorbanan sala satunya seperti ini eh" monnie menatap chai terlelap menjatuhkan kepala nya ke ranjang jeje.
jeje menatap video yang masih menyala di depan nya "jadi ka--?? " jeje tidak melihat monnie ada di samping nya lagi jeje terdiam sesaat memukul kepala nya dua kali monnie menatap jeje dari jauh "kau akan mengerti tujuan ku melakukan ini" kata monnie "apakah selama ini aku salah? apa aku yang benar" jeje menatap laptop di depan nya "ku harap perlahan lahan kau mengubah cara berfikir mu tentang cinta" kata monnie sambil tersenyum.