What Is Love

What Is Love
pesta hari jadi pernikahan



dengan gaun merah muda Monnie berjalan sambil bergandengan dengan chai beberapa orang langsung menatap ke arah mereka berdua "hum.. dimana putri kita? " tanya cai "selamat hari jadi pernikahan tuan chai" kata beberapa orang "selamat ya tuan chai" chai hanya mengangguk "kau terlihat cantik sekali" kata cai "tapi di mana adik ku? "tanya chai " iya dimana adik? "kata monnie.


kal duduk di dekat jeje yang sedang berdiri di teras " kau akan terbiasa nanti "kata kal " ini baru terjadi sekali dalam seumur hidup ku"kata jeje "di mana ada orang yang mengatakan pada ku aku papa mu, aku mama mu. dulu aku sangat mengharapkan kalimat itu " kata jeje "dan sekarang harapan itu sudah menjadi kenyataan" kata kal "ku katakan pada mu tuan dhika sebenarnya berhati baik cuma dia menyembunyikan nya di balik sikap nya yang keras dalam mendidik anak anak nya tuan chai juga mengalami apa yang kau alami kemarin" kata kal "dimana tuan dhika membentak tuan chai sambil berkata siapa papa mu!! aku siapa dan nanti akan berujung dengan tawa keras tuan dhika" kata kal "aku harus apa kak kal senang, tertawa juga atau apa nanti? " kata jeje "ini hari bahagia keluarga soikham mengadakan pesta untuk menyambut bayi yang di kandung nyonya monnie cuma demi ke amanan bayi dan nyonya monnie pesta ini tidak di sebutkan untuk merayakan bayi tapi hari jadi pernikahan tuan chai kau seharusnya tersenyum seperti ini bukan bingung harus berekspresi seperti apa" kata kal "aku cuma sedikit terkejut kalau aku akhirnya memiliki keluarga seperti orang lain dalam hidup ku aku tidak pernah mendapatkan pelukan dari orang orang yang mengaku keluarga ku aku juga tidak pernah mendengar kalimat seperti kemarin jadi itu membuat ku bingung aku ini mimpi bukan? apa kah takdir sedang mempermainkan ku? aku selalu berfikir begitu maka nya aku tidak keluar dari semalam karena aku benar benar merasa ini tidak nyata " kata jeje "apakah hati jeje benar benar sudah mati seutuhnya? dia bahkan tidak tau harus berekspresi seperti apa di hati bahagia seperti ini, dia bahkan masih mengira apa yang dia alami adalah mimpi, sesakit itukah luka dari keluarga nya di masa lalu? " fikir kal "kau sedang ada di dunia nyata kau tidak mimpi" kata kal "kau ada di sini kau harus sadar kau masih hidup di dunia nyata ini bukan mimpi, takdir baik sedang berjalan di depanmu memberikan pada mu kebahagiaan demi kebahagiaan coba lah rasakan dengan hati mu" kata kal "perlahan-lahan kau akan merasakan nya" kata kal "apa yang kau maksud? " kata jeje sambil menatap kal "kasih sayang dan cinta dari keluarga" kata kal.


kal menarik jeje untuk berdiri "kau harus pergi ke bawah tuan chai dan yang lain sedang menunggu mu saat ini" kata kal "aku akan periksa keamanan dulu" kal pergi jeje masih berdiri mematung "dimana nona kecil? " tanya chai "ada di lantai atas tuan" kata pelayan chai langsung buru buru menaiki lift "ada apa dengan nya kenapa dia malah menjadi lebih dingin dari sebelum nya" kata chai "ting" pintu lift terbuka "tuan chai" sapa beberapa pelayan "di mana nona? " tanya chai "ada di teras tuan" chai langsung pergi dengan cepat "tap tap" chai berhenti dan langsung menatap adik nya "ada apa dengan mu? apa luka mu masih terasa sakit? " chai memegang tangan jeje "aku baru saja mau turun ke bawah" kata jeje "kenapa lama sekali? kau baik baik saja? " tanya chai "jika terasa sakit kau bisa istirahat aku akan panggil dokter" kata chai "aku baik baik saja ayo" kata jeje "kau membuat ku kawatir" chai menggandeng tangan jeje "kenapa kau meninggal kan kakak ipar? " kata jeje sambil terus berjalan "untuk menjemput mu dan membawa mu turun, apa kau masih menyimpan perkataan kasar papa? " kata chai "dengar jangan dengar kan apapun dari nya kerena dia memang begitu dari dulu" kata chai "itu dia" kata monnie sambil tersenyum menatap jeje dengan kemeja berompi hitam dan celana panjang serta sepatu berjalan di samping chai "mereka sudah menunggu mu" kata chai sambil tersenyum jeje yang sedari tadi menatap wajah chai perlahan ikut tersenyum juga "aku merasa senang" kata jeje "itu yang harap kan" kata chai sambil menatap jeje "selamat ya tuan chai" seorang pria menghampiri chai dan menjabat tangan nya "semoga bahagia selalu" kata nya "terimakasih" kata chai "hu.. ini adik mu? " kata pria itu "iya dia adik ku" kata chai sambil lanjut berjalan "putri ku" kata cai sambil menarik jeje untuk berdiri di samping nya "kenapa kau lama sekali? " kata cai "jeje mama bertanya pada mu" kata monnie "oh.. aku hanya memastikan semua nya aman terlebih dahulu" kata jeje "itu bukan tugas mu" sahut dhika "itu tugas para pengawal" kata dhika "halo tuan dhika kau di sini rupanya" seorang pria menghampiri dhika "baru kali ini aku melihat mu di acara anak mu" kata pria itu "aku kebetulan tidak ada jadwal" kata dhika "hum gadis ini? " pria itu menatap jeje "dia anak bungsu ku" kata dhika "oh.. aku jarang melihat nya jadi tidak tau" kata pria itu "dia sibuk kuliah jadi gak ada sempat tampil di depan acara formal seperti biasa" kata dhika "putri ku sapa dia, dia teman papa" kata dhika "halo paman" jeje menyatukan kedua telapak tangan nya "oh.. sangat sopan sekali manis nya" kata pria itu "halo tuan dhika " ada pria lain mendekati dhika lagi "kau mau kemana? " tanya monnie "mengambil minum aku haus" kata jeje "jangan minum Akohol ya" kata cai "dia jarang minum Akohol kok ma" kata monnie "bagus lah ayo kita ke sana mama mau mencoba hidangan nya biarkan chai sendiri" kata cai sambil membawa monnie pergi "hati hati ya" kata chai "tuan chai selamat hari jadi pernikahan" chai menoleh "Hai tuan fang terimakasih sudah menyempatkan datang ke sini" kata chai "tentu saja kebetulan aku ada bisnis di wilayah ini jadi tidak mungkin aku tidak datang kan? apalagi kau yang mengundang ku" kata fang "mari mari nikmati hidangan nya" kata chai "ya ya mari bersulang tuan chai " kata fang "bersulang" chai mengangkat gelas nya "selamat hari jadi pernikahan tuan chai bersulang" kata fang.