
semua mata menatap ke arah seorang gadis yang berjalan sendirian .
"dia datang"
"dia sudah kembali"
"ya ampun itu dia"
"bagaimana ya dia sekarang"
"dia kemarin mengamuk lo"
"iya aku juga melihat nya"
"jangan bicara tentang nya nanti niko marah"
"oi.. oi" jeje menatap wanita di dekat nya "aku tidak.. aku tidak bicara apapun tentang mu" kata wanita itu "bicara lagi aku akan menarik lidah mu keluar" kata jeje "jeje!! " terlihat dari jauh anggel berlari ke arah nya "jeje!! aku merindukan mu" kata mawar sambil merentang kan ke dua tangannya "uh.. " jeje mundur seperti biasa "uh.. masih belum bisa memeluk mu ya" kata mawar "jeje ada plester di" kata anggel "iya dokter yang menempel nya" kata jeje "kau sudah sarapan" kata mawar "apa itu jeje" dila langsung sembunyi "halo kak niko jeje sudah ada di kampus" kata dila "dimana yang lain? " tanya jeje "aku tidak tau mungkin dia di--" anggel melihat niko di belakang jeje "kenapa? " kata jeje "aku sakit perut " kata mawar jeje memperhatikan bayangan di lantai langsung buru buru balik ke belakang "aku ingin bicara" kata niko sambil memegang lengan jeje "apa apaan kau ini! " kata jeje "kak niko tangan jeje mungkin masih sakit" kata anggel "ayo" kata niko "tidak mau lepas!! " kata jeje "dengar baby " kata niko "apa!! aku tidak mau mendengarkan mu! siapa kau!! " kata jeje "aku tidak peduli" kata niko sambil menarik jeje "lepaskan aku!! " seru jeje "kau harus dengar kan aku" kata niko "plakk" jeje menampar niko dengan keras "jangan sentuh aku" kata jeje "baby.. kau salah paham" kata niko "kau yang salah paham!! aku membenci mu dan benar-benar membenci mu pria pecundang" kata jeje "lima menit" kata niko sambil berusaha menarik tangan jeje lagi "dengar! " jeje mendorong niko "aku akan membunuh mu jika kau mencoba menyentuh ku" kata jeje niko langsung maju membalik keadaan yang semula jeje yang menyudutkan nya ke dinding kini sebaliknya "tembak aku" kata niko "kau mau membunuh ku kan? tembak aku sekarang" kata niko lalu dia menarik tangan jeje dan menempel kan nya ke dada nya "tembak lah ambil senjata mu ambil pisau kecil mu atau apapun itu tembak lah aku atau bunuh sekarang" bisik niko dengan penuh tekanan"dengar baby aku rasa nya lebih baik mati jika kau tidak percaya lagi pada ku" kata niko "aku tidak melakukan apapun dengan jeje palsu " mata niko terlihat merah "aku hanya mencintai mu" kata niko "aku tidak melakukan apapun sungguh" kata niko "aku juga tidak berpacaran dengan nya" kata niko "ku mohon percaya lah pada ku" ucap niko jeje mencoba menarik tangan nya yang di pegang niko "lepas" kata jeje niko menarik leher jeje "ah" mawar menutup matanya melihat adegan yang tak jauh darinya "tolong jangan benci aku" kata niko sambil menatap mata jeje niko kembali menarik nya dan mencium nya jeje mendorong niko dengan keras jeje terlihat menatap niko dengan marah jeje mengepal tangan nya "beraninya kau!! " jeje memukul niko "baby" leo menarik jeje "kenapa kau memukul niko? " tanya leo "menurut mu apa lagi? pria macam apa yang berani mencium seorang gadis yang tidak memiliki ikatan" kata jeje "ingat dengan seorang pria bernama shiba? " kata niko "shiba " kata jeje dalam hati dia kembali teringat seorang pria yang menganggap dirinya seperti anak nya sendiri "aku hanya ingin bicara sebentar hanya sebentar.. " kata niko "bel sudah berbunyi lebih baik masuk kelas dulu" kata leo lalu dia menatap jeje "um.. maaf jadi tarik tangan mu dengan kasar" kata leo "jeje" rizi datang jeje "kalian pergilah aku akan segera ke kelas" jeje pergi ke kamar mandi.
air mengalir jeje meletakkan ponsel nya lalu membuka topinya melihat kanan kiri dia membuka hoodie nya lalu mencuci wajah nya dan membasahi sedikit rambut nya lalu kembali memakai hoodie nya "tembak aku.. ayo tembak aku" jeje teringat perkataan niko tadi " ingat dengan seorang pria bernama shiba? "jeje memakai topinya " kenapa dengan paman shiba? "fikir jeje " jangan jangan dia sedang dalam bahaya "fikir jeje.
" pakai ini"leo memberi sapu tangan yang sudah di basahi air "buat apa? " tanya niko "pipi mu " kata leo "hu.m terimakasih" kata niko "untuk mendekati seorang wanita kau butuh beberapa pengetahuan salah satunya karakter dari wanita itu jika kasar kau hadapi dengan kasar kau akan kalah wanita ibarat seorang pembunuh yang sedang menyamar sebagai pedagang sayur" kata leo.
Gilang menatap jeje yang terlihat sedang santai sambil menatap meja nya "apa dia akan membuat tugas lagi? " fikir Gilang "waktu sudah habis silahkan di kumpul kan" kata gilang "jeje bagaimana luka di leher mu? " tanya baim "hum" jeje mengangkat sedikit kepalanya sehingga bagian leher nya terlihat "jeje mana tugas mu? " tanya Gilang "kau saja yang buat" kata jeje sambil pergi keluar kelas "itu baru jeje" kata baim dia memperhatikan kertas yang ada di meja jeje terlihat sebuah gambar "ya ampun jeje pintar menggambar ternyata" kata baim "masa" mata hima "lihat ini" kata baim "apa itu? " Gilang mendekat "lihat pak" kata baim terlihat di kertas itu gambar seekor naga yang membawa seseorang di cakar kakinya "dosen sialan" Gilang membaca tulisan di bawah gambar itu "dia telah kembali" kata gilang dalam hati.
"jeje sampai nanti" kata dila "hum" kata jeje sambil berjalan ke arah yang berlawanan jeje membuka loker nya meletakkan tas nya "**** !! " jeje sedikit terkejut melihat niko sudah ada di depan nya "aku ingin bicara" ucap niko "dari mana mau tau tentang paman shiba? " kata jeje "aku akan beritahu" niko menarik jeje pergi "kau bisa bicara kenapa ha--" niko menutup pintu setelah masuk ke dalam perpustakaan niko menatap jeje "bicara di situ" kata jeje sambil mengeluarkan sebuah pisau dari kaos kakinya "tunggu" niko mengeluarkan sebuah ponsel "dia menyuruh ku memberikan ini pada gadis bernama baby" kata niko "dan saat ku lihat isi ponsel nya wajah gadis itu sama dengan mu" kata niko jeje menatap ponsel yang di tangan niko dia kembali teringat shiba "apa yang terjadi dengan paman shiba? " jeje mendekat mengambil tas yang di letakan niko di atas meja semuanya isi barang barang nya yang di belikan oleh shiba "kenapa kau diam!! apa yang terjadi pada nya? " jeje mengacungkan pisaunya ke niko "kenapa semuanya ada pada mu? dimana paman shiba dan apa yang terjadi" kata jeje "kenapa dari suaranya dia terdengar sangat kawatir pada ayah" kata niko dalam hati "kau mau tau" kata niko "katakan! " kata jeje "apa kau akan mendengar kan aku? " kata niko "bahkan pagi tadi kau tidak mau mendengar apapun dari ku" kata niko "apa yang terjadi pada paman shiba" kata jeje dalam hati "beda cerita jika ini menyangkut paman shiba! " ucap jeje "jika kau mau mendengarkan aku duduk lah dan berikan pisau itu pada ku" kata niko "jika tidak ya tidak papa itu keputusan mu hak mu" suara niko terdengar begitu halus dia maju perlahan menyentuh pisau yang di acungkan jeje "ayo berikan" kata niko "kau mau tau kan? " kata niko jeje perlahan melepaskan pisau itu "duduk lah dulu" kata niko "tidak usah bertele-tele katakan saja! " kata jeje niko tersenyum "paman shiba mu yang menemui ku dan memberikan semua yang ada di meja ini pada ku " kata niko "bagaimana mungkin? " fikir jeje "dia mengatakan ada seorang gadis bernama baby yang sempat dia rawat dan dia tolong " kata niko "jangan coba coba berbohong" kata jeje "lalu kenapa kau berbohong pada nya nama mu jeje bukan baby" kata niko jeje terdiam "kenapa kau mengganti nama mu? ada apa? " kata niko "bukan urusan mu! " kata jeje "tentu saja urusan ku" niko maju kembali menyudutkan jeje "karena paman mu itu membuat ku kebingungan gadis mana yang bernama baby yang aku tau baby hanya satu yaitu dirimu dan juga satu hal lagi" kata niko "aku putra dari shiba" kata niko "apa? " kata jeje "jeje! " jeje langsung menendang niko sampai niko terjatuh jeje mendorong tubuh niko dengan kakinya "jeje" kata seseorang dari luar "aku di sini" kata jeje "kau sedang apa kelas sudah selesai" kata Steven "ada barang yang ketinggalan jadi aku mengambil nya" kata jeje "biar aku bawa" Steven masuk membawa tas jeje pergi "ahh" niko berdiri "kenapa kau menendang ku? " kata niko "karena kau pantas mendapatkan nya bukan hanya tendangan rasanya aku ingin membunuh mu sekarang" kata jeje "tunggu" niko menahan tangan jeje "apa lagi!! " kata jeje "kau harus dengar kan aku" kata niko "aku akan mengatakan semuanya meski kau tidak percaya aku tidak melakukan apapun dengan jeje palsu aku juga tidak menyukai nya" kata niko jeje terkekeh "benarkah lalu apa peduli nya dengan ku? itu bukan urusan ku" kata jeje "aku hanya ingin kau tau agar tidak salah paham kare--" kata niko "karena kebohongan mu" kata jeje "kebohongan? " kata niko "akui lah saja! aku melihat nya aku melihat semuanya apa yang kau lakukan setelah jeje palsu menghilang kau langsung mendekati jeje asli kau sungguh menjijikkan" kata jeje "apa yang ku lakukan? " tanya niko "apa aku harus mengatakan nya? sungguh" jeje maju selangkah "kau memeluk nya, mencium nya, pergi bersama, kemana mana berdua, saling berpegangan tangan, saling suap saat makan? apa yang tidak ku tau? " kata jeje "kau salah ka--" kata niko "diam!! aku belum selesai" ucap jeje "kau mengatakan kau tau semua nya tentang ku tapi apa? bahkan dengan gadis yang meniru ku saja kau tidak bisa membedakan nya!! kau benar-benar pembohong!! " kata jeje "tap--" niko memegang pipinya yang di tampar jeje "tapi aku berusaha menolong mu? iya itu yang mau kau katakan? apa yang bisa kau lakukan?? kau hanya pasrah pada keadaan percaya dengan apa yang ada di depan mu!! " kata jeje "sungguh aku tidak pernah melakukan hal itu kau tolong dengar kan aku dulu ak--" lagi lagi niko di tampar "aku lebih percaya apa yang aku lihat bukan yang aku dengar, kau tidak tau rasanya MELIHAT MU DENGAN NYA SEMENTARA AKU DI DALAM SEBUAH RUANGAN YANG TERTUTUP DAN HANYA BISA MELIHAT KALIAN MENGHABISKAN WAKTU BERSAMA!! KAU TAU APA YANG KU RASAKAN selintas aku ingin menghabisi kalian berdua" kata jeje "bahkan saat ini aku masih ingin membunuh mu" kata jeje "kau juga mengambil teman lama ku, dia datang ke rumah ku hanya untuk membela mu!! apa yang kau lakukan sehingga dia berubah? KENAPA DIA MEMBELA MU BUKAN DIRI KU. apa apaan ini? Kenapa selalu aku dan aku KENAPA AKU!! kau sekarang senang bukan? " kata jeje "jojo berpihak pada mu? " kata jeje "aku tidak" kata niko "bukan tidak tapi sudah" kata jeje "iya aku salah" kata niko "ini salah ku semuanya aku tidak bisa melakukan apa apa saat kau dalam bahaya dia saat mereka menculik mu aku hanya bisa diam! menghabiskan waktu dengan jeje palsu, dan juga merebut jojo teman mu ya ini salah ku " kata niko "aku minta maaf aku benar-benar minta maaf" kata niko "aku memang bodoh" kata niko "kau mengakui nya kan sekarang" kata jeje "iya " kata niko "apa kau yakin kau putra dari seorang seperti paman shiba? kurasa tidak kau hanya bermimpi" kata jeje "pembohong" kata jeje niko menunduk "jika kau kasar maka dia akan lebih kasar" niko teringat perkataan leo "Tuhan.. aku mengakui apa yang tidak ku lakukan ku mohon.. buat dia percaya pada ku walaupun sedikit saja" kata niko dalam hati terlihat jeje sudah pergi meninggalkan nya.