
"kenapa kau diam saja saat mereka membawa mu? " tanya chai sambil menatap jeje duduk di sofa "ayolah kak aku sedang malas bertarung jadi nya aku diam saja, santai saja mereka cuma memukul ku beberapa kali" kata jeje "mereka memukul mu? " kata chai "iya tapi aku tidak papa" kata jeje "APA KERJA KALIAN AKU MENYURUH KALIAN UNTUK MENJAGA ADIK KU!! " jeje memarahi bodyguard jeje "kakak aku melarang mereka membantu ku" kata jeje "ada apa dengan mu? " tanya chai "ya tidak papa sesekali saja biarkan musuh merasa senang ayolah jangan pasang muka jelek kau terlihat seperti suami di tinggal istri" kata jeje "seperti nya aku mengerti sesuatu" kata chai "apa? " chai melahap alpokat yang di berikan milli untuk nya "kau sedang malas belajar di kampus, itu sebab nya kau membiarkan mereka membawa mu" kata chai "oih.. salah aku tadi sedang bersemangat belajar tiba tiba mereka datang dan dari pada dia membuat keributan di kampus ya aku ikut saja dengan mereka dan tidak terlalu buruk aku sempat tidur di mobil polisi " kata jeje "setidaknya aku jauh dari kelas yang menyebalkan" gumam jeje "kau mengatakan apa? " kata chai "ah.. tidak ada " kata jeje "jangan ribut kakak nanti istri mu mengomeli ku lagi" kata jeje "aku ingin memarahi mu sebenarnya tapi aku tidak bisa melakukan nya" kata chai "jangan marah duduk lah, jujur aku mengatakan nya pada mu aku sedang malas bertarung sekalian aku melihat siapa yang menyuap polisi polisi bodoh itu, mereka baru berencana akan membunuh ku malam nanti " kata jeje "Anak bodoh" kata chai "ada apa ini? " monnie datang "Hai kakak ipar kau makin jelek setiap menit ya" kata jeje "kau selalu saja meledek ku" kata monnie "ada apa sayang" monnie mencium chai "oi.. oi ada aku di sini dan kalian melakukan hal itu lagi di depan ku" kata jeje "apa salah nya? " kata chai sambil menarik monnie agar duduk di pangkuan nya "aku tidak mau makan lagi" kata jeje "dari tadi aku mendengar kalian meributkan sesuatu ada apa? " tanya monnie
"adik bolos"
"kakak memarahi bodyguard ku"
chai dan jeje saling tatap "aku tidak bolos" kata jeje "aku juga tidak akan memarahi mereka tanpa sebab" kata chai "ayolah kenapa kalian seperti anak tk" kata monnie "tuan nonya besar datang" kata may "apa? " kata chai "kalian sedang santai ya? " cai datang "oih" jeje melompat ke belakang sofa di saat cai hendak memeluk nya "ada apa dengan mu? " kata cai "jangan peluk aku" kata jeje "dia memang seperti itu ma, ayo duduk lah aku akan buat minuman untuk mu" kata monnie "hei tidak usah repot repot kau juga tidak bole banyak melakukan pekerjaan. duduk saja makan buah buahan ini" kata cai "kemari lah je, duduk" kata chai "biarkan mama mencium mu" kata cai "sial" jeje pergi "aku ada tugas" jeje buru buru naik tangga dan pergi menghilang "dia sangat takut di cium siapapun ma" kata monnie sambil tertawa melihat apa yang jeje lakukan barusan "tidak papa " kata cai.
pintu kamar di ketuk jeje yang sedang melepas sepatu nya langsung melihat ke arah pintu "siapa? " tanya jeje dia berjalan membuka pintu "oih apa yang kau lakukan? " tanya jeje "apa begitu cara mu bicara dengan orang tua mu? " kata cai "ini kamar ku" kata jeje "mama cuma mau lihat" kata cai "astaga poster apa yang kau pajang ini? " kata cai "itu kera sakti " kata jeje "muka nya seperti monyet" kata cai "rasa nya aku mau melempar mu dari balkon" kata jeje "kau mau melempar mama mu sendiri? " kata cai "oih.. bercanda ayolah kamar ku ini rapi apa yang mau di lihat" kata jeje "kenapa tidak ada alat make up di sini? " tanya cai "make up apa? " kata jeje "alat rias, kau tidak merias wajah mu? astaga anak ku " kata cai "aku tidak butuh itu " kata jeje "banyak sekali poster nya" kata cai "itu orang orang yang hebat" kata jeje "ayo sini duduk" cai menarik jeje untuk duduk di tepi ranjang "mama punya rekomendasi dekorasi kamar yang bagus lihat ini" cai menunjukkan ponsel nya "ayolah aku bukan anak kecil warna nya juga jelek" kata jeje "yang ini" kata cai "ah.. tidak menarik ayolah jangan perdulikan aku, aku sendiri yang mendekorasi kamar mu dengan warna gelap aku suka warna hitam" kata jeje "kau bilang apa di awal tadi? " kata cai "jangan perdulikan aku" kata jeje "aaahhh!!! " chai dan Monnie saling tatap "ayo kita lihat apa yang terjadi di atas" kata monnie "kenapa menarik telinga ku, sakit tau" kata jeje "bagaimana bisa lidah mu mengatakan hal itu pada ku? aku ini mama mu kau lupa? " kata cai sambil menarik telinga jeje "bahkan tidak ada satupun foto keluarga di sini bukan nya kita sudah foto kemarin dimana foto nya? kau juga tidak memakai riasan? dan --" kata cai "iya iya.. dengar kan aku dulu" kata jeje "dengar kan apa? kau mau bilang seperti tadi hah? berani nya bicara seperti itu pada mama mu" kata cai "tidak tidak ayo lepasin tangan mu dari telinga ku" kata jeje "siapa yang salah? " kata cai "tidak ada? " kata jeje "siapa yang salah" cai menarik telinga jeje lebih keras "kau kau yang salah, kau mengomentari dekorasi kamar ku, dan protes ini itu memang nya kau kritikus? " kata jeje "kau bilang apa? " kata cai "oih.. telinga ku" kata jeje "jadi kau mengatakan mama yang salah? " kata cai "aku aku aku yang salah" kata jeje "bagus jika kau bicara seperti itu lagi aku akan menarik telinga mu dengan pernah jepit kue" kata cai "iya iya" kata jeje "iya apa? udah salah gak minta maaf" kata cai "apa?? " kata jeje "cepat katakan maaf" kata cai "oih.. shh.. aku benar-benar mau memukul nya sekarang" kata jeje dalam hati "malah diam" kata cai "iya iya maaf maaf " kata jeje "begitu cara nya? " kata cai "maaf kan aku aku minta maaf pada mu" kata jeje "pada siapa? apa aku orang asing? " kata cai "ma aku minta maaf " kata jeje "ulangin" kata cai "MAMA.. AKU MINTA MAAF" kata jeje "kenapa nada mu tinggi sekali" kata cai "serba salah" kata jeje "lembut sedikit" kata cai "mama aku salah aku minta maaf" kata jeje "itu baru bagus mama bangga pada mu" kata cai sambil menarik jeje kepelukan nya "OIH.. AKKH" jeje mencoba mendorong cai. monnie dan chai tertawa melihat muka jeje "singkirkan tangam mu" kata jeje "memang nya salah? mama cuma memeluk mu" kata cai "aku tidak suka di peluk" kata jeje "hahaha hahahahah" monnie tertawa "ah.. kenapa kalian jadi di kamar ku semua ingat ini privasi" kata jeje "privasi apa nya, sekarang pasang foto keluarga di sini " kata cai "kenapa harus di sini di ruang tamu juga sudah ada " kata jeje "merepotkan saja" kata jeje "kau ini punya keluarga tapi seperti nya tidak ingin mengakui keberadaan keluarga mu" kata cai "ya ya ya kau menang aku akan pasang nanti yang lebar dan besar" kata jeje "bagus lah" kata cai "ukuran dua r cukup kan" kata jeje "apa!! " ketiga orang itu menatap ke arah jeje "kau mau aku menarik telinga mu lagi? " kata cai "kakak ipar tolong lah aku" jeje berjalan ke belakang monnie "dia mengerikan dan seenaknya" bisik jeje "itu lah seorang ibu, dia terlihat mengerikan padahal hati nya penuh kasih sayang" kata monnie "kau membela nya sana ikut dengan nya" kata jeje "kakak kau membela ku kan? " kata jeje "iya aku membela mu" kata chai "dua r juga gak buruk yang penting aku pajang kan? " kata jeje "anak nakal" cai berdiri "kakak kakak telinga ku sudah panas" kata jeje "mama jangan ma" kata chai "dia mau memajang foto keluarga sekecil itu apa guna nya " kata cai "kakak kakak" jeje berlindung di dekat chai "mama.. mama tolong jangan ma" kata chai "awas jangan bela adik mu" kata cai "kau ini seperti ibu tiri ya" kata jeje "apa kata mu" cai mengambil katana mainan yang di pajang di dinding "waduh.. kakak.. ibu mu itu jelmaan kyubi ya" kata jeje "dia juga ibu mu ku fikir juga dia jelmaan ibu tiri cinderela" kata chai "kalian berdua mengatai aku? " kata cai "bukan aku bukan aku gak ikut ikutan" kata jeje "ma ma.. jangan jangan pukul adik ku" kata chai "dia masih kecil ma" kata chai sambil melindungi jeje monnie hanya tertawa melihat tingkah ketiga orang itu "mama juga dengar kau bilang apa tadi" kepala chai di ketuk pelan oleh cai "ma ayolah jangan bertingkat kekanak-kanakan seperti ini" kata chai "tuk" jeje tertawa melihat kakak nya di pukul "karena kau anak tertua maka kau yang akan menerima banyak hukuman" kata cai "aduh ma jangan aku sudah dewasa jangan perlakuan aku seperti ini" kata chai "adik mu harus memajang foto nya jika tidak mama akan menggantung mu di lantai tiga" kata cai "hei kau seorang psikopat ternyata" kata jeje "apa kata mu? " kata cai "kalau begitu ayo kerja sama, tadi pria ini juga mengomeli ku bagaimana kita gantung dia sama sama" kata jeje "apa? jadi membela mama? tadi kau memohon pertolongan pada ku" kata chai "oi aku tidak lupa kau mengomeli ku tadi" kata jeje "dia mengomeli mu? " tanya cai "iya dari perjalanan sampai kerumah telinga ku sudah panas dan kau malah menarik telinga ku tadi makin terbakar rasa nya" kata jeje "berani nya mengomeli anak bungsu ku!! di keluarga ini cuma aku yang boleh marah aku akan buat jus cabe untuk mu" kata cai "jadi aku yang kena" kata chai "ayo minum jus cabe" cai menarik chai pergi "sayang tolong" kata chai "akhirnya aku aman" kata jeje "bagaimana perasaan mu apa hati mu dapat merasakan sesuatu sekarang? " tanya monnie jeje menatap monnie "apa maksud mu? " kata jeje "maksud ku apa hati mu itu bisa merasakan kehangatan barusan? tempat ini baru saja menjadi saksi dimana kasih sayang dan cinta antara anak dan ibu, ku harap hati mu terbuka sedikit untuk merasakan hal ini jika tidak maka itu sayang sekali . putri bungsu" monnie pergi "ku rasa dia benar" gumam jeje "aku tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelum nya? jadi apakah ini kasih sayang dari sebuah keluarga? kasih sayang seorang ibu? kasih sayang seorang kakak? " fikir jeje perlahan dia memegang dada nya "aku tidak pernah merasakan kehangatan seperti yang terjadi barusan, tapi bagaimana jika ini hanya kebohongan? apa ini nyata? apa aku salah menganggap kasih sayang itu tidak ada? cinta itu tidak ada? " jeje berjalan keluar dengan perasaan campur aduk "mama jangan lakukan itu" kata monnie "ma aku mengomeli nya karena dia bolos hah.. terasa sangat pedas istri ku" kata chai "ini minum susu" monnie menuang segelas susu kotak dari kulkas "minum cepat" kata monnie "dia sungguhan memberi kakak jus cabe" kata jeje "monnie kapan kau USG? " tanya cai "seminggu lagi ma" kata monnie "aku membenci mu" chai pergi duduk di sofa "berani mengomeli putri ku akan ku buatkan kau setong jus cabe" kata cai "ma dimana papa? kenapa tidak ikut" kata monnie "dia ada urusan sebentar dengan rekan nya" kata cai jeje berbalik dan masuk ke dalam kamar nya "ada apa dengan ku? " kata jeje sambil duduk di lantai bersandar dengan sofa.
"kau ini punya keluarga tapi seperti nya tidak ingin mengakui keberadaan keluarga mu"
"beraninya mengomeli anak bungsu ku"
"ada apa? " milli masuk ke dalam kamar sambil membawa segelas jus "kak milli aku kacau" kata jeje "ceritakan kekacauan nya" milli duduk di depan jeje kemudian mendengar apa yang di katakan Oleh jeje.
milli tersenyum mata nya terlihat berkaca kaca "itulah keluarga dimana kau akan di berikan kehangatan dan kenyamanan, dimana keluh kesah mu di dengar kan tangisan mu di hapuskan, itu keluarga yang sesungguhnya kau akan merasakan cinta dan kasih sayang kau akan di sambut dengan kata kata manis selamat datang jeje selamat datang sayang saat kau kembali ke rumah " kata milli "aku tau mungkin ini seperti tidak nyata apalagi kau benar-benar membunuh hati mu sendiri" kata milli "aku tidak membunuh nya tapi orang di sekitar ku yang membunuh nya" kata jeje "kau masih hidup dengan rasa sakit dengan trauma sampai kau sulit membedakan mana yang nyata mana yang tidak, mana yang bersandiwara mana yang sungguh-sungguh kau bahkan sampai lupa bagaimana cara berekspresi di saat bahagia kau harus tersenyum dan tertawa di saat rasa sakit ka harus bersedih. kau jangan bicara biarkan dia yang ada di dalam dirimu yang bicara" kata milli "hah? " jeje kebingungan "kita tidak bisa mengubah rasa sakit atau pun kejadian buruk di masa lalu namun kita menjadi semua nya sebagai pelajaran, sebagai motivasi untuk tetap hidup, hidup dari rasa sakit membuat mu menjadi buta akan segala rasa kau membunuh semua nya kau mengurung semua nya menjadi kebencian, dendam, dan amarah sebagai alasan semuanya. kau masih hidup belum mati kau masih memiliki harapan untul memperbaiki semua nya, masih ada yang mengharapkan cinta dari mu kasih sayang dari mu, rasa sakit memang menjadi kan mu semakin kuat sangat kuat sampai sampai kau tidak bisa mengalah kan dirimu sendiri kau terlalu keras dengan dirimu.. kau lupa banyak hal yang di hati mu hanya kebencian. masih ada orang yang menyayangi mu masih ada orang yang mencintaimu mu belajar lah untuk kembali menjadi yang lebih baik lepaskan keragu-raguan tidak semua nya orang memperlakukan mu buruk dan lupa kan mereka yang memperlakukan mu dengan buruk anggap saja itu adalah pembelajaran agar hati dan mental mu semakin kuat untuk menghadapi keras nya takdir yang berjalan. mempercayai orang memang sulit ketika kau sudah berkali-kali merasakan penghianat tapi coba lah kembali , bangkit dan percaya dengan mereka yang memberikan mu kasih sayang kau bisa.. kau bisa.. "kata milli " kau tidak boleh menderita di dalam rasa sakit mu terus menerus ka harus berusaha keluar dari rasa sakit mu kau harus keluar dari kebencian mu kalah kan dirimu dalam versi musuh mu kau adalah kau kau anak baik kau anak sangat baik kau pantas mendapat kan kehangatan kasih sayang dan cinta"kata milli "lepaskan kebencian mu" jeny menatap air mata milli menetes "kakak kenapa kau menangis" kata jeje "Karena aku tau bagaimana dirimu dari dulu dari awal kau datang dan sampai sekarang " kata milli "kau seperti adik ku sendiri " kata milli "melawan diri sendiri itu sangat sulit tapi setelah mengalahkan kan nya kau akan menemui rasa yang belum pernah kau rasakan" kata milli "aku selalu kalah di saat melawan diriku sendiri" kata jeje "karena kau dan diri mu tidak ada beda nya kalian sama sama tidak pernah mau merasakan kasih sayang dan cinta" kata milli "apakah kau tau apa itu cinta? " kata jeje "itu membuat ku bingung" kata jeje "tidak masalah jika kau merasa bingung, kebingungan adalah jalan menuju kejelasan" kata milli "cinta kedengarannya hanya satu kata yang sangat sederhana namain cinta satu kata itu bisa melengkapi banyak hal , bisa berubah menjadi rasa dan juga kata Senderhana cinta juga rasa yang membuat siapapun yang merasakan nya dan juga memiliki nya akan senang dan bahagia, perasaan yang melengkapi segala nya emosional amarah dan juga perasaan sayang " kata milli "jika cinta bisa membuat seseorang merasa bahagia lalu kenapa masih ada yang terluka karena nya? " tanya jeje "cinta bisa mengubah kita pertama cinta bisa mengubah kita menjadi bahagia ya karena kita membawa nya ke jalan yang positif kita mencintai seseorang misalnya kita saling bahagia melengkapi satu sama lain dan menghargai satu sama lain, menerima kekurangan satu sama lain, berjuang sama sama cinta akan melahirkan kebahagiaan nya sendiri tanpa kita sadari kita fokus mencintai satu orang yang juga mencintai kita saling berbagi dan mengerti serta memahami cinta akan terasa sangat damai. kedua cinta bisa mengubah kita menjadi gila itu terjadi karena kita meletakkan posisi cinta di atas segala nya tidak ada arah lain tidak ada apapun yang lain maka lahir lah dampak kegilaan ini yang mengubah seseorang menjadi obsesi. tingkat ketertarikan nya kepada seseorang yang dia suka berubah menjadi obsesi dia ingin segala nya yang berkaitan dengan kemauan nya harus berjalan sesuai keinginan nya cinta seperti ini membuat kita tidak waras bukan hanya kita tapi juga berdampak ke orang lain hal ini tidak bisa di biarkan. ketiga cinta mengubah kita menjadi seorang pembenci ini biasanya terjadi pada ketika dalam sebuah hubungan terjadi penghianat dari salah satu pihak mengubah cinta yang tulus menjadi kebencian dan juga amarah yang mengacu ke dendam cinta ini akan mengubah kita menjadi seseorang yang menutup diri apalagi dia benar benar menutup hatinya rapat serapat nya tidak akan ada cinta yang dia rasakan apalagi jika penghianat nya berkali-kali terjadi maka dia akan berubah 180° cinta akan berubah menjadi kebencian karena rasa sakit yang teramat sangat mungkin dalam hal ini bisa di bilang dia akan menjadi trauma akan cinta . cinta yang sudah menjadi kebencian akan sulit kembali menjadi seperti sedia kala orang baru yang datang dalam pandangan cinta ini tetap sama mau orang baru atau orang lama dia mata cinta ini merek semua sama yang datang kepada nya hanya untuk melukai nya padahal tidak tidak semua orang datang untuk melukai nya terkadang ada yang datang membawa obat membawa harapan namun itu akan sia sia karena dia tidak akan dapat merasakan hal itu lagi hanya keajaiban yang tau"jeje perlahan tersenyum "kak milli kau seperti biasa ya" kata jeje "apa? " kata milli "entah kenapa setiap kata kata yang keluar dari mulut mu aku langsung merasa jauh lebih baik dari sebelum nya kau dulu seorang hum.. peramal ya? " kata jeje milli tersenyum "peramal apa nya, aku dari dulu ya begini " kata milli "tapi kenapa kau bisa tau banyak hal lama kelamaan aku bisa terpengaruh dengan perkataan mu" kata jeje "dulu aku punya seorang sahabat dia mengalami fase cinta yang tiga yaitu cinta kebencian" kata milli "lalu" kata jeje "tapi dia sudah tidak ada dia kalah dengan dirinya sendiri dia berhenti berjuang dan mengakhiri hidup nya itu sebab nya aku selalu banyak bicara pada mu" kata milli "kau takut bunuh diri ya" kata jeje "aku takut kau kalah dengan dirimu yang ada di dalam tubuh mu" kata milli "aku sudah pernah bunuh diri kira kira tiga sampai empat kali dan aku masih hidup sekarang dan aku memutuskan aku harus hidup walaupun kehilangan arah setidaknya ada kak chai yang membimbing ku" kata jeje "jadi apa sekarang kau masih ragu? " kata milli "aku tidak tau pasti, tapi.. aku hum.. aku menyukai kehangatan yang mereka beri barusan" kata jeje "aku tidak pernah merasakan hal seperti itu sebelum nya, aku tidak pernah di kejar kejar seperti tadi dimana aku berlindung di belakang kakak hum.. ternyata begini rasa nya main kejar kejaran dengan seorang mama dan kakak" kata jeje "rasa nya aku ingin mengulang nya lagi karena tadi barusan itu serasa mimpi aku seakan-akan lahir kembali di dalam sebuah keluarga yang benar-benar menerima ku menyambut kelahiran ku, membesar kan ku, memperlakukan ku dengan baik dan mengajak ku bermain layak nya anak anak yang ada di luar sana mereka mengejar ku karena mereka ingin memeluk ku itu itu sangat menakjubkan " kata jeje "kau sadar" kata milli "hu? " jeje menatap milli "kau sudah lahir kembali kau lahir di keluarga Soikham kau terlahir kembali sebagai anak bungsu di keluarga ini kau memiliki mama, kakak" kata milli "kakak ipar, papa dan semua" kata jeje sambil tersenyum "akhirnya nya kau mengerti sekarang kau sudah lahir kembali maka perlakukan lah keluarga baru mu dengan baik " kata milli sambil mengusap rambut pendek jeje.