What Is Love

What Is Love
mata elang



"dia ada di dalam tempat ini" kata seorang pria berjas hitam "pergi dan selidiki agar rencana kita tidak gagal" kata pria itu seorang pria muda dengan kaos keluar dari mobil "dia hanya gadis biasa santai saja" mobil itu pergi.


di tepi kolam jeje terlihat sedang makan tiba tiba jeje terdiam dia merasakan ada seseorang di belakang nya "ahh jeje!! " anggel terkejut ketika jeje berbalik ke arah nya sambil mengacungkan garpu "jangan berteriak" kata jeje "kau membuat ku terkejut kenapa kau di sini? " tanya anggel "aku sedang bosan" kata jeje "tunggu! " jeje menatap ke arah pintu "ada apa je? " kata anggel "aku merasakan ada seseorang tadi berdiri di pintu, pergi sana" kata jeje "kau mengusir ku? " kata anggel "iya" kata jeje "Hai guys" mawar datang "oihh.. di usir satu datang satu" kata jeje "ada apa dengan mu? " kata dila "iya kenapa dengan nya? " kata anggel jeje menatap teman teman nya "aku mau cari makanan" jeje pergi "ini kan banyak makanan" kata mawar jeje membuka pintu "aku benci makanan manis" kata jeje "gak heran" kata dila "eh kenapa jeje lari? " kata rizi "masa? " kata mawar "iya dia lari ke sana" kata rizi "ayo lihat" kata yang lain .


"uhh!! " seorang pria terbaring di lantai jeje menahan pria itu dengan duduk di atas nya "oi oi siapa kau" jeje membuka masker pria itu "ayo jawab!! kau bukan orang sini! " kata jeje "jeje kau sedang apa? " vito datang "jeje astaga" kata mawar "siapa kalian jangan ikut campur!! " kata jeje "ah?? " semua nya saling tatap "ayo berdiri!! " jeje menarik pria itu "jangan harap bisa bersembunyi dari ku" kata jeje kal dengan kemeja putih datang membawa pria itu "jeje" kata anggel "bruuaaggg" jeje melempar sekaleng cola ke anggel lalu mendorong anggel ke arah loker "jeje" kata vito "plakk" jeje menampar vito jeje mengepal tangan nya dan menatap yang lain "jeje ada apa? " kata rizi "sial" jeje pergi ke tempat biasa duduk yang lain juga menyusul jeje melempar beberapa barang ke segala arah "jeje kenapa? " kata rizi jeje langsung menarik rizi dengan kuat "apa yang kalian lakukan!!! " seru jeje "ada apa? " kata vito "ada apa!!! " jeje menatap vito "aku sudah bilang jangan mengenal ku ketika ada orang asing!!! tapi apa yang kalian lakukan!!! " seru jeje "jeje kau tidak perlu kawatir semuanya akan bak baik saja" kata mawar "jangan sok tau!! " kata jeje "bagaimana jika sesuatu terjadi? " kata jeje "jeje.. jeje.. kita adalah teman apapun yang terjadi kedepan nya kita akan hadapi bersama sama" kata rizi "****" jeje pergi.


jeje masuk ke dalam mobil "dia belum mau bicara? " kata jeje "sudah di suruh seseorang " kata kal jeje menatap pria di samping nya "oih.. katakan siapa yang menyuruh mu memata matai ku" kata jeje pria itu diam "baik dengar aku tidak memiliki kesabaran seperti orang lain" kata jeje sambil mengeluarkan pisau nya "bruaggg" ada mobil lain menabrak dari belakang "oih!! " jeje terkejut "ada orang di belakang" kata jerico "kendalikan mobil nya aku akan menembak mereka" kata kal "berikan pada ku " kata jerico "ada crist di dalam mobil itu" kata jeje "hah?? aku tadi tidak lihat" kata jerico "perhatikan baik baik" kata jeje "jadi apa crist yang menyuruh mu? " tanya jeje "jawab dasar sialan!! " pria itu meringis jeje mencabut pisau itu dari paha pria itu "akkhh" pria itu kesakitan "masih tidak mau bicara jangan salah kan aku jika aku melepas anggota tubuh mu satu per satu" kata jeje "aku aku bicara" kata pria itu "dorr dorr dorr dorr dorr dorr dorr" kal melepaskan tembakan dari pintu mobil "tuan fe--" pria itu belum selesai bicara jerico sudah berteriak "oh sial!! awas!!! kita di hadang tiba tiba" seru jerico mobil menabrak truck besar dan langsung berbalik beberapa kali sampai menabrak pembatas jalan kal langsung berusaha membuka pintu mobil "jerico bangun" kata kal "jeje" kata kal dua pria lain datang melempar peledak ke dalam mobil yang sudah setengah hancur setelah menarik pria yang ada di dekat jeje "sial"kal menarik jeje keluar dari mobil lalu jerico "DUUUUAAARRR" ledakan pun terjadi "oih" jeje di baringkan di atas aspal hitam "mereka kabur" kata jeje "kau juga terluka" kata kal "oih.. tubuh ku sakit semua nya" kata jeje sambil melirik ke arah jerico yang tidak sadarkan diri.


di dalam kantor


dengan wajah serius chai memeriksa hasil kerjaan karyawan nya, "ini sudah bagus" kata chai "tolong siapkan file untuk pertemuan selanjutnya" chai mengeluarkan ponsel nya yang menyala "halo" kata chai "kakak mobil ku hancur" chai langsung terkejut mendengar suara jeje "diam di sana jangan kemana mana" chai berlari ke luar "bai atur semua wutt ikut aku" kata chai.


chai tiba di lokasi terlihat jeje bersandar di pembatas jalan "jeje" chai menghampiri nya "oih kakak... mobil ku hancur lagi" kata jeje "kita bisa beli, bagaimana ada yang luka? " tanya chai sambil memperhatikan wajah adik nya "jangan kak.. tangan ku luka" kata jeje saat chai hendak menyentuh tangan nya "coba lihat" kata chai ada tiga goresan di lengan jeje "kepala mu juga berdarah" kata chai "terbentur tadi" kata jeje "siapa pelaku nya? " tanya chai "crist" kata jeje.


di tempat lain..


feat menatap pria muda di depan nya "mustahil jika dia tidak memiliki teman" kata feat "pasti ada aku ingat beberapa orang yang mencoba menolong jeje saat orang orang ku menculik nya" kata crist "terdiri dua wanita dan satu pria" kata Crist lagi "ada apa dengan mu? " feat menatap pria di depan nya "tuan.. dia dia buka gadis sembarangan... dia.." pria itu teringat tatapan tajam jeje dan juga pukulan nya "kau takut pada seorang gadis? " kata crist "aku belum pernah bertemu dengan gadis yang memiliki aura seperti pembunuh berantai tatapan sangat terasa menusuk ucapan nya bisa membuat siapa pun ketakutan" kata pria itu "omong kosong" kata crist sambil memberi kan pria itu uang "ini bayaran mu".


" ooiiihhh.... pelan dong"suara jeje terdengar sampai keluar rumah "kau yang banyak gerak jadi dokter kesulitan" kata monnie "oi.. oi.. kenapa kau memegang jarum suntik? " kata jeje "tidak nona cuma menyingkirkan saja" kata dokter "uh..! " jeje meringis "geser" chai duduk di dekat jeje monnie berdiri "bisa lebih tenang" kata chai "Lina telah bertelur sangat banyak aku tadi mau mengatakan itu saat kau pulang " kata monnie "hei benarkah sudah berapa sekarang telur nya? " kata jeje "sekitar duapuluh tiga" kata monnie "sial sekali aku belum sempat melihat nya" kata jeje "aku akan menemanimu melihat nya nanti" kata monnie "uhm.. mencurigakan, kau tidak suka pada buaya ku kenapa sekarang jadi peduli pada buaya ku? " kata jeje "kau ini bicara apa" kata chai "aku bicara pada nya ini kenyataan dia lebih sering membahas novel yang dia baca, kebun bunga, ikan aquarium nya, film yang dia lihat" kata jeje "ya aku tau kau akan bosan kalau aku membahas novel romance " kata monnie "oihhh" jeje menatap dokter yang membalut luka nya "sudah selesai nona" kata dokter "sudah siap ya" kata jeje "aku akan mengurus sesuatu monnie tetap di dekat nya ya" kata chai "iya" kata monnie "kak kau mau kemana? " tanya jeje "bukan urusan mu" kata chai "****" kata jeje "kau mau sesuatu aku bisa membuat kan mu makanan enak" kata monnie "aku cuma mau mie pedas" kata jeje "oke" monnie pergi "firasat ku gak enak" kata jeje.


malam harinya..


beberapa pria datang ke semua klub malam "ahh apa ini" crist terkejut beberapa orang menarik nya dan membawa nya keluar dari tempat hiburan itu "uhh!! ****" tubuh crist di sudutkan di dinding.


chai berjalan perlahan ke arah crist "buagg" crist kesakitan "sudah bosan hidup? " kata chai "apa maksud mu tuan chai? anak buah mu memperlakukan ku seperti ini" kata crist "apa feat membantu mu? apa feat tau kelakuan mu? " kata chai "tuan chai" feat datang "ada apa ini? " tanya feat "kebetulan sekali" chai menatap feat "apa ada masalah tuan chai? " tanya feat "anak buah kesayangan mu ini melukai adik ku" kata chai "benarkah crist? " tanya feat "iya" kata crist "plak" feat menampar crist "maaf kan aku tuan chai ini kesalahan ku aku tidak akan membiarkan ini terjadi lagi" kata feat "ku harap itu benar namun jika dia melakukan lagi aku terpaksa membunuh nya tidak perduli bagaimana dengan mu" kata chai "iya tuan chai tidak papa, jika dia melakukan lagi kau bisa menghukum nya" kata feat chai menatap crist "kali ini kau aman" chai pergi dengan di ikuti bodyguard nya "kau tenang saja dia akan kehilangan adik nya besok" kata feat.


monnie tersenyum melihat jeje terlelap dia perlahan berdiri memungut kertas dari novel yang di robek oleh jeje "griitt" monnie menoleh "jangan berisik" bisik monnie chai melihat ke arah lantai yang terlihat banyak barang dan kertas berserakan chai membungkuk membantu monnie "tidak papa aku saja" kata monnie dengan suara yang sangat lembut "tidak papa terimakasih sudah menjaga adik ku maaf merepotkan mu" kata chai "sudah jangan berisik nanti dia bangun, dia kesakitan seharian dan kesulitan untuk tidur maka nya jangan berisik dia baru bisa tidur" kata monnie chai mengangguk.


keesokan harinya...


suara ketukan terdengar berkali kali "ooiiihhh... ku mau ku haj--" jeje melihat siapa yang ada di pintu "ayo sarapan hari ini kakak ipar mu memasak sesuatu untuk sarapan kita pagi ini" kata chai "hum.. kenapa kau biarkan dia masak!! " kata jeje "kemarin aku ingin mie pedas dan dia malah membuat kan ku sup ayam" kata jeje "kau akan mengerti nanti ayo" kata chai.


"bagaimana dengan luka mu apa masih sakit? " tanya monnie sambil menyiapkan sarapan untuk jeje dan chai "kakak ipar tangan mu kenapa? " kata jeje "kena pisau saat memotong sayuran" kata monnie "nah ayo makan" kata monnie jeje tersenyum perlahan dan mulai makan "tidak usah ke kampus dulu jika masih sakit" kata chai "hum.. terimakasih" kata jeje "hari ini aku akan belanja kau jangan kemana mana " kata monnie "baik" kata jeje "jangan lupa bawa banyak pengawal untuk menjaga mu" kata jeje monnie dan chai menatap jeje dan perlahan tersenyum "terimakasih perhatian nya" kata monnie.


di kampus..


"tuk" rizi meletakkan ponselnya di atas meja "dia keluar dari grup kita" kata rizi "aku tau dia seperti nya begitu kawatir pada kalian" kata leo "dia seperti nya tidak menganggap kita teman nya" kata anggel "tenang kita coba tenangkan dia dan yakin kan dia kalau semua nya baik baik saja" kata niko "ini gak mudah tapi kita pasti bisa" kata mawar "jeje anak yang baik" kata baim "aku yakin kita akan bisa menyakinkan nya" kata dila.


kal membantu jeje duduk di sofa "sakit sekali rasa nya ingin duduk" kata jeje "kemana yang lain? " kata kal "Hai je" Ariel duduk "di mana yang lain? " tanya jeje "mereka masih kerja bentar lagi juga pulang" kata Ariel "bagaimana dengan luka mu? " kata Ariel "tubuh mu sedikit sakit tapi aku bosan jadi aku ke sini" kata jeje "aku mau duduk di sofa yang itu deh" jeje berdiri "biar aku bantu" kata Ariel "tidak papa biarkan aku mandiri" kata jeje sambil berjalan lalu berbaring di sofa yang lebih besar "aku akan buatkan jus untuk mu" kata Ariel "tidak usah aku sudah menyuruh kak kal membuat jus di belakang" kata jeje "Hai hai" desi dan yang lain datang "jeje kau di sini? " kata jojo "ya.. aku ingin makan siang dengan kalian" kata jeje "wah aku akan siapkan" kata desi "bagaimana dengan kerjaan kalian? 'Tanya jeje "aman cuma dubbing saja" kata jojo "aku akan bersantai sambil menunggu makan siang jangan ajak aku bicara"jeje menutup wajahnya dengan topinya.


suara motor terdengar dari dalam markas " kaya niko datang "kata jojo " biar aku lihat "kata memo " Hai guys "niko muncul di pintu " sudah ku duga jangan berisik ya"kata memo "kenapa? " kata wahyu "jeje sedang ingin bersantai" kata memo "dia ada di sini? " kata niko "iya ssstt dia sedang tidak enak badan" kata memo.


"jeje makan siang sudah siap" kata jojo "hai baby" niko mengambil topi jeje "jeje ayo" kata Ariel "hum?? " jeje membuka matanya mata nya berkedip beberapa kali memperhatikan pria yang berdiri di dekat nya "mimpi ya? " fikir jeje "ah kaya nya aku sudah bangun dari tidur" kata jeje dalam hati "sakit apa? " tanya niko "hei? kok diam? " kata niko "plak" semua nya terkejut "nyata aku bisa menampar nya" kata jeje dalam hati "berani sekali kau ke sini" jeje berdiri "apa? apa yang salah kenapa kau menampar ku"kata niko " aku sudah lapar"jeje duduk "ya ini masih hangat ayo makan dulu" kata Ariel "niko ayo makan" kata desi "tidak tidak kalian lanjut saja" kata niko "kau mau kemana? " tanya desi "kak monnie akan kembali aku harus segera pulang aku akan makan di mobil" jeje pergi membawa makanan nya "tumben sekali dia begini" kata jojo "ku rasa dia sudah sangat akrab dengan kak monnie" kata Ariel "ya ku rasa iya".


malam harinya...


pintu di ketuk jeje langsung menoleh "buka pintu" kata jeje pintu terbuka "kau sedang apa? " tanya monnie "kau mau apa? aku sedang bermain game" kata jeje sambil menepuk sebelah nya agar monnie duduk "terimakasih" kata monnie "kakak sudah pulang? " tanya jeje "sudah dia sedang mandi" kata monnie "nih makan" jeje menyerahkan piring kecil berisi alpokat yang sudah siap makan "camilan mu unik ya" kata monnie "makan saja " jeje masih fokus main game di ponsel nya "kau kan sudah ada ruangan untuk bermain game kenapa malah main di ponsel? " tanya monnie "suami mu akan sangat cerewet ketika melihat mu main sampai tengah malam di sana" kata jeje monnie tersenyum "hei hei" chai datang dengan memakai pakaian tidur "suami mu sudah datang sana pergi" kata jeje "apa begitu cara mu bicara dengan istri ku? " kata chai sambil mencium monnie "bicara lebih lembut pada nya" kata chai sambil terus mencium wajah monnie "sial!! " jeje melempar ponsel nya "jangan lakukan hal kotor di kamar ku sana sana kamar ku bisa ternodai dengan kehadiran kalian di sini di larang melakukan ciuman dan juga pelukan" kata jeje "menjijikkan" kata jeje chai tersenyum "aku juga bisa mencium mu" kata chai "gak butuh ayo ayo sana sana keluar" kata jeje "ayo istri ku kira pergi " kata chai sambil menggendong monnie "hah?? " jeje terlihat keheranan "ini nama nya suami cinta istri" kata monnie sambil melambaikan tangan ke jeje "**** cinta" seru jeje.


"hum?? " jeje membuka matanya ponselnya berbunyi di lantai dengan malas dia memungut ponselnya "nomor siapa ini ya? " fikir jeje "kaya nya.. rizi kalau enggak eh leo kaya nya tapi buat apa leo menelpon ku? " jeje menerima telpon setelah beberapa panggilan terus masuk


"baby"


"le--" jeje terdiam "ini bukan suara leo tapi suara pecundang" kata jeje dalam hati "baby kau tidak ke kampus? apa kau masih sakit? " tanya niko "bukan urusan mu" jeje melempar ponsel nya setelah memutuskan panggilan "sial ganggu saja" kata jeje sambil berdiri dan pergi mandi.


di ruang makan...


monnie membuat susu untuk jeje "kemana nona? " kata chai "belum turun tuan" kata milli "bagaimana dengan jerico? " tanya chai "belum bisa jalan tuan " kata Steven "pagi sayang" kata monnie "pagi" kata chai "oih" mereka melihat ke arah tangga "tatapan nya bisa begitu ya" kata monnie "dia punya tatapan seperti elang tapi itu terlihat menggemaskan" kata chai "kemarilah cepat makan lihat kakak ipar mu membuat susu dengan campuran alpokat untuk mu" kata chai "kau mau apa dari ku kakak ipar" jeje mendekat "tidak mau apa apa ini minuman sehat untuk mu ada alpokat nya kok" kata monnie "ya ya.. " kata jeje "minum dong" kata monnie jeje memegang gelas itu "aku benci susu" jeje meneguk minuman buatan monnie sampai habis "sudah ku minum " kata jeje "aku senang sekali" kata monnie "kau jadi pergi hari ini? " kata jeje "jadi ,aku harus ke hongkong untuk bertemu dengan orang penting" kata chai "cuma satu hari kan? " kata jeje "iya" kata chai "aku berangkat, langsung ke pertemuan, selesai pulang" kata chai "iya tapi kau bisa dua hari di sana , perjalanan sangat jauh kau akan kelelahan" kata monnie "melihat mu aku tidak akan merasa lelah lagi" kata chai "I love you" kata monnie "I love you to" kata chai "oih.. mereka kumat lagi dasar tidak waras" fikir jeje.


jeje masuk ke dalam mobil "belajar dengan benar ya" kata monnie "hm.. jangan kemana mana sendirian" kata jeje "siap" kata monnie.


di kampus..


sambil memakan kentang goreng jeje berjalan ke arah kelas nya "jeje" kata baim nilam yang sedang menjelaskan materi langsung menatap jeje "hei" kata nilam di saat jeje hendak masuk "di larang makan di kelas buang makanan mu" kata nilam jeje langsung berbalik "aku gak masuk" jeje pergi "cih dosen rendahan" kata jeje "jeje!! " dila mengejar nya "kenapa kau malah pergi ayo ke kelas" kata dila "jeje" jeje tidak menoleh sedikit pun "jeje kau marah pada kami? sebagai teman kami gak akan biar kan kau melangkah menghadapi bahaya seorang diri" kata dila "kita itu teman jeje!! " seru dila jeje berhenti melangkah "apapun yang terjadi kita akan hadapi bersama kita bisa saling melindungi satu sama lain, menjaga satu sama lain, kami merasakan kekhawatiran mu kecemasan mu kami senang kau khwatir pada kami itu tandanya kau menganggap kami adalah teman ka menyayangi kami" kata dila jeje berbalik menatap tajam ke arah dila "jee kau mau apa? " dila melihat jeje menjatuhkan makanannya dan mengeluarkan pisau sambil berjalan ke arah nya "jeje" kata dila "buktikan kata kata mu" jeje maju menyerang dila "uh?? " dila tidak berkutik lagi "dengan dasar apa kau berkata saling melindungi? bahkan melindungi diri mu sendiri saja tidak bisa" kata jeje "ini baru contoh kecil hanya pisau bukan pistol kau bisa mati dengan mudah nya tanpa perlawanan" kata jeje sambil kembali menyimpan pisau nya "aku akan berusaha" kata dila "meskipun aku lemah aku akan berusaha melindungi semua nya.. aku juga ingin melindungi mu dan yang lainnya.. aku tau aku gak bisa apa apa.. aku tidak kuat dan tidak jago seperti mu tapi.. tapi aku akan berusaha semampu ku jika kita bersatu semua nya akan baik baik saja" kata dila tapi jeje tetap berjalan menjauh.


"minum air hangat nyonya"kata may " bagaimana? "kata kal " aku tidak tau kenapa rasanya kepala ku berputar dan aku ingin muntah"kata monnie "aku akan panggil dokter" kata hary "tenang lah jangan panik" kata kal "jangan beritahu jeje soal ini aku gak mau pelajaran nya terganggu dan juga jangan beri tau chai nanti dia gak fokus kerja" kata monnie "kal kenapa kau tidak ke kampus? " tanya milli "nona meminta ku untuk di sini dia membawa Steven dan beberapa pengawal lainnya" kata kal.


"cklek" jeje membuka sekaleng cola dingin perkataan dila terus terngiang di telinga nya "sudah ku duga kau ada di sini" kata niko "kenapa kau melamun di dekat air " kata niko "bisa tidak sehari aja gak muncul di depan ku" kata jeje "gak bisa" niko berdiri di dekat jeje "tidak melihat mu sehari sama seperti aku tidak makan seminggu" kata niko "apa yang sedang kau fikir kan? " niko duduk " bukan urusan mu"jeje berdiri "tunggu" niko menahan tangan nya "terlalu mencemaskan sesuatu secara berlebihan itu tidak baik" kata niko "guys" kata dila "kak niko sedang bicara pada nya" kata rizi "hei kalian sedang apa ini sudah waktu nya pulang" kata Gilang "iya Pak ini juga mau pulang" kata baim "ya sudah saya duluan" gilang pergi hanya mereka yang tersisa di kampus "jangan sok tau! " jeje menarik tangan nya dengan kasar "oke oke aku memang sok tau tapi aku benar" kata niko "segera pulang jangan terlalu lama di kampus" kata niko "aku mau memeriksa sekitar kampus dulu" niko pergi "jeje ayo kita pulang" kata Steven melalui alat komunikasi "ayo" kata jeje "jeje membuka pintu " jeje kita makan di luar yuk"kata rizi "iya yuk je" kata anggel "kalian saja" kata jeje sambil pergi "jeje kami salah kami minta maaf" kata baim "kami gak akan ulangi lagi" kata dila "maaf ya" kata mereka bersamaan "kaya nya gak berhasil" kata vito "halo.. bagaimana keadaan di rumah? " tanya jeje sambil terus berjalan "ya sudah besok saja gak papa" kata rizi "ayo pulang" kata yang lain .


jeje melihat teman teman nya berjalan keluar gerbang niko menatap jeje "kau tidak pulang? " tanya niko "diam! " kata jeje "hum kau menunggu yang lain pulang dulu ya" kata niko jeje diam "pak satpam ini kunci nya" kata niko "oke aku akan periksa yang lain" satpam pergi "ahhhh!! " mawar berteriak ada beberapa orang yang tak di kenal menarik mawar dan anggel "hei!! " niko dan wahyu langsung membantu "tangkap semua nya saja" kata para pria bermasker hitam itu "jangan harap" niko melawan mereka jeje langsung berjalan ke arah teman teman nya "ummm!! " niko terdiam "coba melawan lagi aku tembak gadis ini" kata pria bermasker hitam itu semuanya langsung tidak berkutik "aku lebih dulu menembak mu" jeje datang "ccsss" Steven melihat ada benda di dekat mereka langsung menarik jeje "awas" kata Steven "duarr!!! duarrr!! " asap menghalangi pandangan "mereka lari kejar!! " kata jeje sambil memegang lengan kirinya "sial lengan ku sakit kembali" kata jeje.


"buagg" niko memberontak begitu juga dengan wahyu "hiaaa" niko menendang beberapa pria "dorr dorr dorr" bodyguard rizi jatuh ke lantai "aku tidak main main" kata para penculik.


dila menatap niko yang di pukuli "kenapa aku lemah aku tidak bisa melindungi teman teman ku sendiri" kata dila dalam hati.


mobil berhenti "mereka pasti di dalam ini mobil box nya tadi" kata jeje "ayo" kata Steven "jangan ada yang memberitahu orang rumah nanti kakak ipar panik" kata jeje.


setelah berjalan agak lama akhirnya jeje melihat teman teman nya di ikat jadi satu "kalian kenal wanita tadi? hum.. lebih mudah aku akan kata kan nona soikham " kata seorang pria dengan kemeja hitam "mau apa kau!!! kau mengincar nya kan!! " kata niko "tepat sekali" kata pria itu "hei apa hubungan mu dengan nona soikham aku melihat mu waktu itu menolong nya" pria itu mendekati anggel "lepaskan gadis ini untuk ku" kata pria itu "hei.. mau apa kau!! " seru wahyu "sekarang katakan siapa nona soikham? " kata pria itu "dia teman ku!! " kata anggel "teman ya.. pantas saja kau selalu mencoba menolong nya" kata pria itu "akhh" anggel kesakitan ketika rambut nya di tarik "kita mulai waktu nya sampai nona soikham datang aku akan jadikan ini contoh untuk kalian yang mencoba kabur" kata pria itu sambil menarik baju anggel "hei!!! " seru wahyu dan niko "jangan sentuh teman ku!!!! " seru dila "kalian tau ini menyenangkan aku akan tarik lagi" kata pria itu "maka akan ku pastikan kau tidak memiliki tangan lagi" jeje datang dan berjalan ke arah pria itu "akhirnya nya kau datang" kata pria itu "sungguh binatang" kata jeje "kenapa kau tidak mati mati? " kata pria itu Steven membuka tali yang mengikat yang lainnya "kau punya dendam dengan ku maka selesai dengan ku bukan dengan orang asing ini " kata jeje "asing? "kata pria itu sambil tertawa " mereka teman mu kan? "kata pria itu " ayo crist kita bertarung secara adil satu lawan satu jangan libatkan siapa pun"kata jeje "creek" anak buah crist mengacungkan senjata "aku ingin membunuh mu" kata crist "duaagg" Steven menyerang crist "anggel" jeje menangkap anggel "bawa yang lain ke luar" jeje membuka hoodie nya "pakai ini" kata jeje "jangan menangis" kata jeje "cepat cepat keluar dari sini" kata jeje bodyguard jeje membantu yang lain untuk lari "ahh" Steven jatuh "baby bawa mereka aku akan bantu melawan orang ini" kata niko "tidak!! kau yang membawa mereka" kata jeje sambil mendorong niko "dorr dorr dorr dorr dorr dorr dorr dorr" jeje menunduk "ahhh" bodyguard jeje mulai berjatuhan jeje langsung mencegah orang orang itu ketika hendak menyerang tema teman nya "bawa tongkat semuanya" kata dila "kita harus lawan juga" kata dila "iya" kata mawar "hei patah bawa anggel ke mobil" kata jeje "oke" kata wahyu "dorr dorr dorr dorr" jeje memungut pistol yang ada di lantai dan muka menyerang lawan nya "sial tidak ada peluru" kata jeje dia langsung menendang pria di depan nya "hajar!!! " kata baim "pukul lagi" kata vito "CUKUP!! " seru crist sambil melepaskan tembakan jeje yang baru merebut senjata musuh langsung terdiam Steven terlihat terkena tembakan crist tersenyum licik di bawah kaki kiri nya ada niko "berhenti atau aku menembak nya" kata crist anak buah Steven datang dengan membawa teman teman nya "hum.. aku mau menembak bagian apa ya" kata crist "hei kau" Steven hendak menyerang lagi "dorr" crist melepaskan tembakan tepat di samping kepala niko "aku gak main main" kata crist "hum.. nona soikham kaya nya kepala dulu atau jantung dulu" kata crist "dasar pengecut!! " kata jeje "oke jantung saja ya" crist bersiap menarik pelatuk "jangan!! " kata jeje "ini antara kau dan aku crist jangan libatkan siapapun" kata jeje "hum.. tapi aku ingin melihat nya mati eh tunggu? kenapa sorot mata mu berubah kali ini.. apa ini bukan sembarangan orang asing" kata crist "dia pengurus di kampus ku.. jangan bawa bawa dia" kata jeje "hahahhaaha.. " crist tertawa "turunkan senjata mu jika kau mau dia baik baik saja " kata crist "anak buah mu juga" kata crist "tlak!! " jeje meletakkan senjata yang dia pegang para bodyguard nya langsung mengikuti nya "ikat semuanya " kata crist "aku sudah tidak memegang senjata lepas kan dia" kata jeje "tidak" kata crist "periksa saku nya" kata crist satu pria memeriksa saku jeje mengeluarkan semua isi sakunya "sekarang lepasin mereka" kata jeje "belum" kata crist "berlutut" kata crist jeje terdiam dia langsung menatap crist dengan tatapan yang sangat tajam mengepal tangan nya "berani nya kau!! " kata Steven "dorr!! " kaki Steven di tembak "tidak baby jangan ber--lu-tut" kata niko "jangan jeje" kata rizi "aku tidak memaksa" crist menatap anak buah nya yang siap menembak teman teman jeje "pria pengecut.. beraninya sama perempuan!! " seru niko crist langsung menendang niko "niko!! " kata wahyu "lebih baik tembak aku!! tembak dia tidak akan berlutut " kata niko "benar aku juga gak takut mati!! " kata mawar "dorr!! " niko meringis "nikooo!! " kata wahyu "ahh" niko menggigit baju nya agar dia tidak mengeluarkan suara "berani nya kau menyentuh saudara ku" kata wahyu "diam!! " wahyu di pukuli habis habisan "kakak" kata jeje dalam hati niko menatap jeje "hitungan mundur " kata crist.


di dalam kamar..


monnie memegang ponselnya "kenapa jeje gak pulang pulang ya" kata monnie "bagaimana kondisi mu nyonya? " tanya mili "sudah membaik tapi coba hubungi jeje kenapa dia belum kembali" kata monnie.


angin bertiup menggerakkan rambut pendek jeje dila menatap jeje yang masih berdiri "aku gak bisa apa apa" kata dila "membiarkan dia berjuang seorang diri" kata dila "empat" kata crist "baby" niko menggeleng kan kepala nya sambil menatap ke arah jeje "Tiga" kata crist "bruk" jeje menjatuhkan lutut nya ke lantai crist tersenyum senang jeje menatap niko lalu menunduk "" hahahahahhaha hahahahhaahha jeje soikham berlutut di depan ku"kata crist "bagus bagus aku sangat suka" kata crist jeje menatap niko kembali "aku mengerti" kata niko dalam hati "kemari anjing ku jalan dengan merangkak ke sini" kata crist "cium sepatu ku" kata crist jeje bergerak ke arah crist "hahaahahha" crist terus tertawa "" cium sepatu ku"kata crist sambil mengulurkan kakinya "shiiball" jeje langsung menarik kaki crist niko langsung merampas pistol milik crist "creek" jeje mengacungkan dua senjata sekaligus yang baru dia ambil dari mayat di sebelah nya crist terkejut dengan apa yang baru terjadi "turun kan senjata kalian atau" jeje melepaskan satu tembakan ke tangan crist anak buah crist langsung menjatuhkan semua senjata nya "berdiri kau payah.. bawa yang lainnya pergi bawa sekalian semua senjata nya" kata jeje dila langsung memungut senjata di lantai "bawa pergi segera!! " kata jeje "baik" kata dila "cepat pergi tunggu apa lagi!!! " seru jeje yang lain langsung pergi "Steven you ok? " kata jeje "ok" Steven berdiri bersama beberapa bodyguard yang tersisa "kau" niko menatap wajah jeje sorot mata jeje begitu tajam niko dapat merasakan kebencian dan amarah sedang menguasai jeje "menyentuh mereka sama seperti mencari mati dengan ku" jeje memukul wajah crist dengan pistol "jeje.. jangan harap aku takut dengan mu meskipun kau memiliki senjata sekarang" kata crist "dorr dorr dorr" crist berteriak kesakitan segera tangan kanan nya kembali di tembak oleh jeje "buagg" jeje melempar senjata nya "berdiri kau" jeje menarik crist "bisa kau pergi dari ku" jeje menatap niko "kau dengar aku! " kata jeje niko mundur "hati ini ku pastikan kau kehilangan anggota tubuh mu" jeje membanting crist "ahhakhh" crist kelihatan sudah tidak bisa melawan jeje "kraakkkk!!! " crist terlihat benar benar kesakitan suara tulang tangan nya terdengar begitu renyah "akhhh" Crist meringkuk kesakitan "ayoo berdiri lawan aku" kata jeje "ayo!!!! " kata jeje crist maju dengan tenaga nya yang masih tersisa jeje menghindari serangan dari crist "buaaggg" jeje menendang crist "dia benar benar mengamuk" kata niko melihat jeje menghajar crist "tatapan nya sangat sangat tajam seperti mata elang aku yang harus ku lakukan" kata niko "ternyata dia lebih kuat dari yang ku fikir kan " kata crist dalam hati "baby!! " niko menarik jeje di saat jeje hendak memukul crist dengan pistol "minggir!! " kata jeje "baby tenang baby!! " niko langsung menarik jeje ke pelukan nya "kendalikan amarah mu" kata niko Steven mendekati crist yang sedang sekarat "tenang lah" kata niko jeje terdiam merasakan kehangatan dari niko.