
akia mengamati kondisi sekitar nya "kau mau permen? " tanya akemi "tidak perlu" kata akia "kenapa kau selalu siaga" kata akemi "kau mau mati sekarang? " tanya akia "hum.. ti. tidak" kata akemi "lebih baik diam sebelum peluru di mulut ku menembus jantung mu" kata akia.
angin bertiup perlahan mengayunkan rambut jeje "ayo" kata shiba "iya aya.. ahh paman" kata jeje sambil melihat shiba membawa dua koper "paman aku bisa membawa satu" kata jeje "tidak papa aku saja yang membawa nya" kata shiba "kau cukup jalan dan temui kakak mu" kata shiba jeje mengangguk "ya akia" kata kal "aku melihat jeje sedang baru turun dari pesawat amati sekitar" kata akia "ok" kal menatap lim di samping nya "nona sudah turun dari pesawat yang itu ayo ke sana" kata kal "tuan nona sudah tiba" bisik bai chai langsung keluar dari mobil bai langsung memberikan sebuah masker untuk chai "kakak mu itu usia berapa? " tanya shiba "kira kira.. hum.. aku lupa paman" kata jeje "kau ini lucu juga" kata shiba jeje melihat empat orang berjas hitam berjalan ke arahnya "gawat siapa mereka" fikir jeje "nona" kata kal "ouh.. kak kal aku hampir menendang mu" kata jeje "ayo tuan sudah menunggu" kata kal "bawa barang barang ini" kata jeje "baik" lim mengambil dua koper dari tangan shiba "ayo paman ah..sial" jeje hampir terjatuh shiba langsung memegang tangan jeje "kau sangat ceroboh selalu saja ingin terjatuh atau terbentur meja" kata shiba jeje terkekeh.
chai menatap jeje yang berjalan mendekati nya "kakak" kata jeje chai menatap tangan jeje "ehem!! " menyadari arah pandangan kakak nya jeje langsung menarik tangan nya "paman" kata jeje "oh.. iya" kata shiba "berani sekali kau memegang tangan adikku? " ucap chai sambil menatap shiba dengan pandangan nya yang kejam "uh.. kak--" kata jeje "diam! " chai menarik jeje ke belakang tubuhnya "halo.. aku shiba" kata shiba "kakak dengar aku dulu" bisik jeje "aku kakak mu kau lah yang mendengar kan aku" kata chai "dan kau" chai mengepal kan tangannya "maaf tuan aku yang menemukan adik mu dan--" kata shiba "dan bukan berarti kau boleh menyentuh tangan nya!! " kata chai jeje menatap bai memberi isyarat agar bai menenangkan chai "tuan" kata bai "kakak.. dia yang menolong ku dia juga yang memberi kan aku pakaian jadi jangan--" kata jeje chai menatap jeje "kau bela dia atau aku? " kata chai "bawa dia ke mobil" kata chai "eh.. ayah.. ah.. paman aku pergi" kata jeje sambil berbalik pergi "ayah?? " chai maju selangkah "mungkin dia salah bicara tuan kalau begitu saya permisi" kata shiba "aku belum selesai bicara" kata chai "tunggu kakak" jeje datang kembali "jangan dekat dengan nya" chai menarik jeje ketika hendak mendekati shiba "kakak.. aku haya ingin mengembalikan ponsel saja" kata jeje "ponsel" chai mengambil ponsel yang di pegang jeje "itu ponsel milik paman shiba " kata jeje "ambil ponsel mu" kata chai "hum.. tapi aku membelikan nya untuk baby" kata shiba "baby? " kata chai "kakak dengar" kata jeje "kau bisa diam!! kau harus dengar kan kakak mu! " kata chai "paman shiba sebaiknya kau pergi saja" kata jeje "apa maksud mu? " chai menatap jeje "kakak.. kenapa kau terlihat kesal adikmjsekarat di dalam peti kemas tidak ada udara ataupun cahaya adikmu ini sekarat kakak.. dan dia paman shiba pria di depan mu yang membuat ku bertahan hidup" kata jeje "aku kesal pada mu aku mau pergi!!! " jeje berbalik dan pergi menjauh "ponsel nya" kata shiba "rasa nya aku ingin membunuh mu sekarang " kata chai.
kal menatap jeje yang terlihat sedang kesal "kau baik baik saja? " tanya kal jeje mengangguk "jangan ke arah sana aku tidak mau pulang ke tempat kakak" kata jeje "jadi kau mau kemana? " tanya jerico "aku mau ke rumah ku" kata jeje "tapi" kata Steven "kalau tidak ya sudah aku akan turun di sini" kata jeje "baik kita ke rumah mu" kata kal "kau jangan kesal tuan chai memang sedikit posesif" kata jerico "dia kakak yang bodoh!! menyebalkan" kata jeje.
lim membuka pintu mobil chai langsung keluar "di mana nona? " tanya chai "nona belum datang tuan" kata may "apa? " chai berhenti berjalan "apa maksud mu" kata chai "nona belum ada datang ke sini tuan" kata milli "tuan nona mungkin berada di rumah nya" kata akia.
kal mengetuk pintu kamar jeje namun tidak ada jawaban mengetahui pintu kamar tidak di kunci kal membuka nya sedikit terlihat jeje sudah terlelap di atas sofa "baik lah" kal menutup kembali pintu nya lalu pergi "simpan saja makanan nya dia tidur" kata kal "dia tidur? " kata jerico "ya.. mungkin dia kelelahan" kata kal.
"tapi ayah tidak papa kan? " kata wahyu "ya.. ayah tidak papa tapi ayah kepikiran dengan baby" kata shiba "baby itu orang daerah mana ayah" kata niko "daerah sini juga tapi kakak nya galak banget ayah yakin baby pasti tertekan" kata shiba "astaga.. ngeri juga ya punya kakak yang galak" niko melirik ke arah wahyu "kenapa kau menatap ku dengan wajah jelek mu lagian aku gak galak" kata wahyu "ayah harus segera kembali ke rumah ayah minta kau temui baby cari dia berikan ponsel dan pakaian nya ayah tadi tidak sempat memberikan nya" kata shiba "tapi ayah bagaimana aku menemukan baby" kata niko "kalian tinggal cari saja ayah harus pergi" shiba langsung memeluk anaknya lalu pergi "ayah hati hati apa aku perlu mengantar" kata wahyu "tidak perlu ayah tau jalan ke bandara" kata shiba. niko menatap koper kecil dan ponsel di meja "aku hanya tau baby mu di kampus kalau baby yang satu ini orang mana dia aku benci dia mempunyai nama yang sama" kata niko.
chai masuk ke dalam rumah melihat jerico sedang duduk "tuan" kata kal "di mana jeje" kata chai "di kamar tuan" kata jerico "ooh.. tu. tuan" kata jerico ketika dia melihat chai melangkah cepat di atas tangga "nona sedang tidur" kata kal chai terdiam sesaat lalu tetap lanjut berjalan menuju kamar jeje dia membuka kamar jeje terlihat jeje masih tertidur di atas sofa .
jeje berjalan perlahan sambil mengusap wajahnya dengan handuk kecil "uhm.. ada jus alpokat untuk ku? " kata jeje sambil berjalan menuruni tangga "kenapa kau pulang ke sini? " tanya chai "kakak" kata jeje "kenapa kau tidak pulang ke rumah? " tanya chai "bukan urusan mu" ucap jeje sambil berjalan ke meja makan "apa maksud mu? " chai berdiri dan berjalan ke arah meja makan "kenapa? jangan sok peduli telpon saja semua musuh mu suruh mereka membunuh ku" kata jeje sambil berdiri "kenapa kau marah pada ku? " kata chai "aku tidak marah " jeje berjalan menjauh "lalu kenapa kau bersikap buruk pada ku? " kata chai "**** you!! kau lah yang bersikap buruk kau membentak ku di bandara menyuruh ku diam sana pergi!! aku mau kembali ke pelabuhan mau masuk ke peti kemas biar mati saja aku" kata jeje "sudah jelas kau marah pada ku" kata chai "ya aku marah dan juga kesal ayo keluar kan pistol mu bertarung lah dengan ku" kata jeje chai menghindari benda yang di lempar jeje ke arahnya "siapa yang mau punya kakak seperti mu kau buruk jahat!! dasar brengsek" jeje melempar apa saja yang dia lihat di dekatnya "katakan apa yang salah" kata chai "kemana isi kepala mu kau selalu saja ingin aku mendengarkan mu apa kau tidak tau!! aku juga ingin di dengar!! aku be ci kakak!! aku akan menembak kepala mu!!! melempar mu ke sungai biar mati di makan hiu" kata jeje sambil menyambar gunting dan pistol di atas meja kecil "aku sungguh sungguh akan menembak mu" jeje melempar satu benda lagi lalu mengacungkan senjatanya "ahh!! " chai menangkap benda yang di lempar adiknya "pulang saja sana!! " jeje melihat benda di tangannya lalu melihat benda yang di tangan chai pistol yang seharusnya dia pegang sudah ada di tangan chai "aku salah lempar" kata jeje dalam hati "ya sudah selesai" kata chai dengan tenang sambil berjalan mendekati jeje "aku salah" chai menarik adiknya ke pelukan nya "maaf" kata chai "kau tidak ku maafkan! " kata jeje "jangan marah lagi.. aku salah tadi saat di bandara aku benar-benar emosional aku hanya tidak ingin kau kenapa kenapa" kata chai "aku sekarat paman shiba menolong ku, mengobati luka, dan juga membelikan aku makanan, agar aku tidak di usir di hotel paman shiba bilang ke petugas hotel kalau aku anak nya aku meminta agar dia membelikan aku ponsel yang bisa ku pakai untuk menghubungi mu, dia bertanya siapa namaku aku bohong padanya aku mengatakan nama ku baby jika aku mengatakan pada nya aku jeje soikham mungkin musuh mu yang ada di sana akan menghabisi ku dan juga paman shiba. aku minta di antar pulang tapi aku tidak punya paspor terpaksa menunggu dia menyelesaikan pekerjaan nya agar aku bisa kembali dengan aman dan kau malah memarahi nya dan juga membentak ku.. " kata jeje chai mengusap rambut jeje "oke.. aku salah kau memaafkan aku? aku selalu takut kau pergi dengan orang lain yang tidak ku kenali, aku takut orang orang yang berniat buruk mencoba menghancurkan ku melalui dirimu aku salah maaf" kata chai "dan satu lagi" kata jeje chai melepaskan pelukan nya menatap mata adiknya "aku tidak suka di peluk" kata jeje "haha.. kalau kakak mu yang memelukmu kau harus suka tapi ngomong ngomong nama palsu mu itu terdengar manis dan imut" kata chai "apa!!! " kata jeje "baby.. nama yang imut bagaimana bisa kau mendapatkan nama itu? " tanya chai "aku tidak menyukai nama itu nama itu muncul karena aku ingat dengan ni--" chai mengerutkan dahinya "sial hampir saja aku menyebutkan nama pecundang dasar sialan kenapa dia selalu muncul" fikir jeje "ingat dengan ni? ni apa? " kata chai "ni itu loh salah satu karakter film yang di lihat akemi" kata jeje "oh.. " kata chai "jadi jika ka bertingkah menyebalkan seperti tadi aku benar-benar akan pergi jauh dari kakak" kata jeje "jangan bicara begitu di mana ada aku maka kau akan ada di sana bersama ku" kata chai sambil mengusap kepala jeje "sudah malam kau belum makan kan? sekarang kita makan bersama lalu kau istirahat ke kamar mu besok pagi kita kembali ke rumah utama" kata chai "kau saja aku tidak" jeje berjalan ke meja makan "apa? kau kan sudah memaafkan ku" kata chai "aku belum mengatakan itu" kata jeje "apa?? apa kau sedang bercanda? " kata chai "tidak " kata jeje "jadi tadi kau " kata chai "eh.. jerico jangan bereskan apapun kalian pergi lah istirahat" kata jeje "cuma mereka yang kau suruh istirahat? " kata chai "kau bereskan kekacauan itu baru boleh makan jika tidak pergi sana pulang ke rumah mu" kata jeje "hum" chai membungkuk memungut barang barang yang berserakan di lantai.
keesokannya...
chai menatap adiknya di samping nya "hati hati" kata chai "apa yang hati hati aku hanya ke kampus " kata jeje "ya ya aku salah lagi sekarang semoga hari mu menyenangkan" kata chai "ya.. semoga hari mu tidak buruk" jeje keluar dari mobil "kenapa diam sana pergi" kata jeje "kau tidak mengatakan apapun lagi? " kata chai "ada hum... ini untuk pertama kalinya kau mengantar ku setelah lama kan? " kata jeje sambil berjalan men jauh chai tersenyum lalu pergi dengan mobil nya "uhh.. rasanya aneh berangkat ke kampus jam setengah sembilan " ucap jeje sambil mendekati gerbang "pak.. masih di buka tidak? " tanya jeje "sudah tutup bell baru saja bunyi" kata satpam "buka dong aku lagi malas melompat aku ingin minum kopi dengan mu aku sedang malas ke kelas" kata jeje "dasar anak nakal kau harus ke kelas segera hati ini aku baik aku akan membuka gerbang nya kalau jam tuju lima belas" kata satpam "awas kau ya kopimu akan kejatuhan musibah" jeje pergi ke tempat biasa dia melompat "malah do'ain kopi ku memang nya kopi bisa kena musibah? " kata satpam "pluk! " wajah satpam terkena percikan kopi "ahh.. apa ini kopi bisa melompat " kata satpam tiba tiba dia melotot melihat seekor cicak berada di gelas kopinya.
suasana terlihat sepi tidak terlihat siapapun jeje terus berjalan "enak nya ngapain ya pagi pagi buta begini" fikir jeje "baby" jeje mendengar ada suara di belakang nya "sial.. ini pasti halusinasi masa pagi pagi gini ada yang manggil aku baby.. eh paman shiba yang tau panggilan palsu ku itu" kata jeje "baby" jeje masih mendengar suara yang menurut nya tidak asing "ini bukan suara paman " jeje berbalik "grebb!! " jeje terkejut tidak sempat merespon tindakan pria di hadapan nya yang memeluk nya tiba tiba "apa? apa yang terjadi..? " jeje merasakan ada aliran hangat yang perlahan lahan merayap ke dalam tubuhnya rasa hangat dan lembut dia tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya "aku sangat merindukanmu" bisik niko tanpa melepaskan pelukan nya "kenapa kau tidak mengabari ku jika kau dalam bahaya.. aku mencemaskan mu tiap saat tapi aku tidak tau gimana aku harus mencari mu.. aku mencintai mu baby.. " bisik niko "aku mencintai mu.. aku mencintai mu" bisik niko "orang yang mencintai kita akan membuat kita merasa nyaman bahkan dengan pandangan nya kita bisa merasakan adanya kehangatan yang merasuki diri kita, jangan kan pelukan suara nya saja akan ada rasa hangat yang kita tidak tau dari mana asalnya tapi kita merasakan nya" jeje teringat perkataan akemi "tidak.. tidak boleh" jeje mendorong niko "apa yang kau lakukan? " kata jeje "kak jerico? " jeje melihat tak jauh di belakang niko ada jerico yang sedang menyamar menjadi seorang mahasiswa "apa yang salah? " kata niko "plak!! " niko memegang wajahnya "siapa kau? beraninya memeluk ku sembarangan! " ujar jeje dengan marah "niko" wahyu melihat niko menahan rasa sakit akibat tamparan dari jeje "jeje dengar kau harus menjauh darinya dia akan membuat mu menderita percaya lah dia hanya datang karena penasaran buka cinta cinta itu tidak ada" kata jeje dalam hati "bisa tampar aku sekali lagi sudah lama kau tidak menampar ku" kata niko jeje mengepal tangannya "jeje" archie menahan tangan jeje seketika pandangan jeje langsung berfokus ke archie "kenapa kau ikut campur" jeje menatap archie lalu niko "oh.. kalian berdua sama saja" kata jeje sambil berbalik beberapa orang yang melihat kejadian itu juga mulai bubar dan kembali sibuk dengan kegiatan masing-masing "apa yang salah dengan aku jatuh cinta pada mu!! " seru niko "apa kau tidak merasakan.. " niko berjalan ke depan jeje "jantung ku berdebar hebat karena mu" kata niko lalu dia menarik tangan jeje dan menempel kannya di dadanya "kau bisa merasakannya sendiri ini nyata bukan sandiwara" kata niko "tidak jeje.. tidak.. itu hanya kebohongan.. sadar lah jangan terhanyut dalam ucapan nya" fikir jeje archie yang melihat niko bersikeras mendekati jeje bahkan tidak mundur walaupun jeje menampar nya membuat archie merasa bersalah ke niko "cinta niko di akui semua orang" kata archie dalam hati "sedang kan aku" kata archie "plakk plakk plakk" semua orang memejamkan matanya mendengarkan suara renyah dari tamparan jeje "apa kau masih kuat bicara omong kosong? " kata jeje "cinta buka omong kosong baby.. cinta itu kebahagiaan" kata niko "bagimu tidak bagiku! tau apa soal cinta " kata jeje "kau lah yang belum mengerti kala--" jeje langsung memotong ucapan niko "cinta bisa membuat orang bahagia itu versi mu apa kau tau banyak orang yang menderita karena nya banyak orang baik menjadi kejam karena cinta bukan kebahagiaan tetapi kebohongan!! " kata jeje "jika kau masih ingin bicara tentang omong kosong lagi aku tak akan segan menghabisi mu" kata jeje "kalau begitu habisi saja aku" kata niko "hei kalian pergi saja jangan lihat kemari" kata niko lalu dia berlutut di depan jeje "habisin aku baby.. terserah kau menusuk jantung ku, menebas leher ku, atau menusuk perut ku lakukan lah ayo habisi aku" kata niko jeje mengambil sebuah pena dari saku hoodie nya "aku siap mati di tangan mu " kata niko "kal kal kau dengar jeje akan menebas seseorang dia sudah memegang pisau" bisik jerico "aku tau" kata kal "kita harus mencegahnya" kata jerico "jeje! " seorang pria memegang tangan jeje "tenang kan dirimu" kata pria itu "kau" kata jeje "ikut lah dengan ku kita bicara sebentar" pria itu menarik jeje dengan paksa.
Pria putih berhidung mancung menuangkan sebotol cola ke dalam sebuah gelas "minum" kata pria itu "aku sedang tidak haus" ucap jeje "kenapa kau takut ku racuni? " kata pria itu jeje mengambil gelas di depan nya "cheers" kata pria itu "apa sudah lebih baik? " tanya pria itu jeje tidak menjawab "kenapa kau mau menghabisi seseorang kau tau kau bisa di keluar kan dari kampus" kata pria itu "lalu apa aku harus peduli? " ucap jeje "kau tidak peduli pada diri mu tidak masalah tapi fikir kan kakak mu" kata pria itu jeje langsung menatap pria di depan nya "kemana saja kau kenapa menghilang beberapa hari ini? " kata pria itu "ku yakin kau menghilang bukan karena bolos? tapi karena seseorang" kata pria itu "aku baru saja tenang dan kau menyerbu ku dengan pertanyaan kau ini dosen atau reporter? " kata jeje "aku dosen tapi apakah aku salah bertanya pada murid ku " kata pria itu yang tak lain adalah Gilang "dari mana kau tau aku mempunyai seorang kakak" kata jeje "aku hanya menebak" kata Gilang "ambil kembali kola mu" kata jeje sambil berdiri lalu pergi "semua pria kenapa suka berbohong" fikir jeje.
jeje membuka lokernya meletakan topinya lalu mengambil topi yang lain "sial! " kata jeje "apa aku membuat mu kaget?" tanya anggel "kau sedang apa kau seharusnya ada di kelas" kata jeje "aku ingin bicara pada mu" kata anggel "tentang apa? " kata jeje "ayo" anggel menarik tangan jeje "kau mau membawa ku kemana? " kata jeje "ayolah kau harus melihat sesuatu" kata anggel sambil terus berlari "anggel! ini sudah jauh" kata jeje "bentar lagi" kata anggel tak lama kemudian anggel berhenti "jangan berisik" bisik anggel terlihat niko sedang duduk di rerumputan dengan satu tangan menutupi wajahnya "kau sudah melukai saudara" jeje menoleh ke samping terlihat wahyu berdiri dengan mata berkaca kaca "terimakasih luka nya kau selalu bicara seolah-olah kau yang paling mengerti apa itu cinta tapi nyata nya kau sama sekali tidak mengerti apa apa soal cinta kau hanya memikirkan luka masa lalu mu kau mati ya kau memang mati rasa atau kau membenci cinta tapi satu hal yang harus kau tau jeje" wahyu mengusap mata nya "tidak selamanya orang baru yang datang untuk melukai mu tapi terkadang ada orang yang datang mengharapkan cinta mu mengharap kan kau membuka hati agar kau menerima nya.. adikku saudara ku tidak pernah menangisi seorang wanita tapi kali ini dia menangis walaupun tanpa suara tapi aku tau dia sedang menangis " kata wahyu "kau jahat.. kau benar-benar jahat aku akan membawa saudara ku jauh jauh dari mu.. dia selalu tidak bisa tidur apalagi makan di saat tau kau dalam bahaya bahkan dia juga terluka di saat melindungi mu tapi apa balasan mu!! kau benar-benar membuat nya bersedih" wahyu mengusap wajahnya lagi lalu berjalan mendekati niko "saudara ku kelas sudah mulai" kata wahyu "aku sedang tidak ingin ke kelas yu kau pergi saja" kata niko "kenapa kau menutupi wajahmu? " kata wahyu "kepala ku sakit" kata niko wahyu langsung merangkul niko erat erat "tidak papa saudara ku.. tidak papa.. ada aku di sini kau jangan sedih" kata wahyu "hei aku baik baik saja" niko menatap wahyu niko tersenyum lebar "aku tidak sedih aku cuma kurang enak badan aku akan istirahat sebentar soal tadi tidak papa" niko tersenyum "dia belum mengerti tentang cinta karena dia mencoba melihat nya dengan mata kau tau saudara cinta tidak bisa di lihat dengan mata biasa tapi cinta itu ada tapi bukan di lihat tapi di rasa kan dia akan paham suatu saat nanti, mesikpun dia memukuli ku berkali kali atau bahkan suatu saat nanti jika aku mati di tangan nya aku ikhlas yang terpenting dia paham akan cinta" kata niko "kalau begitu kau istirahat lah aku akan mengantar mu" kata wahyu "aku bisa sendiri kau pergilah ke kelas" kata niko. "kau lihat je kak--? " anggel tidak melihat jeje berada di samping nya lagi.
semua pengawal berlari ketika mendengar suara ribut di ruang latihan namun saat mereka sampai sama sekali tidak terjadi apa apa cuma jeje yang sedang memukuli manekin dengan kuat"HAAAAAAHH.... HAAAAAAHH"jeje terus menghantam kan pukulan dengan kuat lalu dia menyambar senjata lalu menembakan peluru ke manekin yang ada di sana "ada apa dengan nya ini tidak wajar" kata kal "bahkan dia tanpa penyumbat telinga saat menembak manekin seperti biasa" kata jerico jeje mengambil katana yang ada di dalam peti lalu menghajar semua yang dia lihat "jeje hentikan" kata jerico "jeje" kata kal "jleb" jeje berhenti "aahkk"jeje meringis " jeje"jerico menghampiri jeje "paha mu" kata kal "tidak papa" jeje mencabut katana yang menancap di pahanya "aku akan pergi mandi bereskan tempat ini aku akan kembali nanti" kata jeje "paha mu harus di ob--" kata kal "di cuma kena gores bukan putus" kata jeje sambil pergi. di dalam bathup jeje berendam dengan tenang melihat air di bathup bercampur dengan darah nya "suatu saat nanti jika aku mati di tangannya" suara niko menggema di telinga nya "HAAAAAAAAA....... AAAAAAHHH!!" jeje memasukan kepala nya di dalam air "kenapaa? kenapa? kenapa jika kau tau kau bisa bersedih karena cinta tapi kau malah mencintai orang apalagi orang seperti ku" kata jeje "saudara ku tidak pernah menangisi seorang wanita" jeje memegang kepala nya suara wahyu dan niko terus menerus terdengar semakin lama semakin kuat membuat jeje merasa seperti orang gila dia pun langsung mengambil pena yang ada di baju kotor nya membuka penutup pena itu jeje menatap pisau kecil di depan nya "aku hanya ingin tenang.. aku hanya ingin tenang" ucap jeje sambil memejamkan matanya perlahan air di bathup menjadi merah.