What Is Love

What Is Love
kota matahari



niko tersenyum melihat dua orang di laptop nya "jadi ayah kapan kau pulang? " tanya niko "niko ayah mu baru saja pergi dua hari kau sudah tanya kapan dia pulang" kata seorang wanita berwajah cantik "nama nya juga niko bunda" kata wahyu "kalian lanjut saja ngobrol nya ayah mau melihat barang barang yang akan datang untuk di bawa ke perusahaan tuan sun" kata pria di laptop "ah.. baik kau hati hati ya" kata wanita itu "iya aku mencintai kalian" tak lama kemudian wajah pria itu menghilang dari layar laptop "jadi gimana dengan kuliah kalian" tanya wanita itu "seperti biasa bunda selalu ada tugas setiap mata pelajaran" kata wahyu "yah.itu sangat membosankan" kata niko "kau selalu saja mengeluh" kata wahyu "memangnya kau tidak mengeluh kau lihat saja sudah berapa jam kita mengerjakan tugas kuliah tadi" kata niko "jika tidak mau mengerjakan tugas jadilah seorang dosen" kata wahyu "ya.. dosen kan cuma bisa menyuruh" kata niko "itu kata mu! coba kau sehari jadi dosen ku yakin kau jadi botak apa lagi menghadapi mahasiswa nakal" kata wahyu "nakal? " niko tersenyum "sudah ku duga " kata wahyu "kalian ini masih saja suka berdebat" kata wanita itu "bunda lihat lah anak mu yang satu ini senyum senyum saja ketika mendengar mahasiswa nakal" kata wahyu "kenapa bisa? " kata wanita itu "ada mahasiswa nakal yang dia suka" ucap wahyu "hais.. dia tidak nakal" kata niko "siapa? jeje yang kau ceritakan itu" kata wanita itu "lihat bunda muka nya langsung merah" kata wahyu "jangan begitu dia suka menemukan wanita yang dia suka bagaimana dengan mu" kata wanita itu seketika wahyu terdiam niko juga menatap wahyu raut wajah wahyu menjadi malu malu membuat niko menyipitkan matanya "sudah lah bunda jangan di bahas" kata wahyu "kenapa muka mu jadi begitu" kata wanita itu "iya aku jadi curiga pada mu" kata niko "kau tidur di luar nanti malam! " kata wahyu "kau semakin mencurigakan" kata niko "bunda aku belum mandi aku akan pergi mandi" wahyu pergi niko semakin kebingungan "apa dia menyukai seseorang? " tanya wanita itu "tidak bunda dia belum ada cerita pada ku tapi.. kenapa muka wahyu.. " kata niko sambil menggaruk garuk kepalanya dengan kebingungan.


jerico memegang wajahnya dengan badan gemetar dia menundukkan wajahnya chai menatapnya dengan tajam "tuan" kal berjalan ke samping jerico dia menatap pistol di tangan chai yang di arahkan ke jerico "tenanglah tuan" akia berjalan ke depan jerico "tolong maafkan yang telah terjadi tuan" kata kal "semuanya bukan hanya salah jerico tuan ini salah ku juga" kata kal "tuan.. CCTV sudah di selidiki truk yang membawa nona juga sudah di temukan lokasi nya, meskipun anda menembak jerico nona tidak akan di temukan dengan cepat kita hanya buang buang waktu tidak ada gunanya menembak jerico. ini kecelakaan kecil semuanya sudah di atur bahkan banyak penjaga di tempat lokasi kejadian namun tidak ada yang menyadari kecuali jerico.. tenangkan diri anda tuan.. emosi tidak menyelesaikan masalah.. aku dan beberapa orang akan pergi ke lokasi truk itu" kata akia "tuan" kata kal akhirnya chai menurunkan pistolnya "aku ikut dengan kalian" kata chai "tapi tuan" kata Steven "AKU TIDAK BISA DIAM SAAT TAU ADIKKU DI CULIK.. entah bagaimana nasib dia sekarang" kata chai "jika anda dalam kondisi seperti ini anda lebih baik di rumah. jika anda bisa tenang anda silahkan ikut" kata bai chai mengatur nafas nya "ayo tuan" kata akia kal menatap jerico "kau baik-baik saja bodoh" kata kal jerico mengangguk "ayo kita temukan jeje" kal menarik tangan jerico dan pergi.


suasana gelap tidak ada cahaya sedikit pun jeje berusaha melepaskan tali yang mengikatnya "sial!! " jeje mencoba mencari sesuatu di saku nya namun tidak menemukan apa apa dan baru teringat semua barang yang ada di saku nya telah di ambil "HOII.. ****!! " jeje mulai kesulitan bernafas perlahan mencoba menarik liontin nya dengan tangan yang terikat "ptas!! " liontin nya putus jeje menekan tombol kecil liontin itu "Tekk!!" muncul pisau yang teramat kecil jeje menggigit nya agar bisa memotong tali itu perlahan "huf... aku harus tenang.. jangan membuang buang oksigen yang sedikit.. " fikir jeje.


chai melihat jalanan melalui jendela mobil yang terbuka sedikit "sial.. kenapa aku lengah" fikir chai "itu mobil nya" kata akemi "ayo turun" kata kal akia memasukan beberapa peluru ke mulutnya lalu segera membuka pintu mobil "benar ini mobil apelnya" kata jerico "ini markas mereka kepung" kata hary "ada apa ini??? " kata orang orang yang ada di dalam rumah kecil itu "paksa mereka keluar!! " kata chai enam pria keluar dari rumah itu "ini tuan dia yang menawari nona apel" jerico menunjuk salah satu pria "iska mereka siapa? " tanya feri "aku juga tidak tau" kata iska "mati kita" kata iwan "aduh.. kaki ku" kata supri "siapa kalian? " tanya wira "kenapa kalian menangkap kami? " kata wandi "kau!! " kal menarik wira dengan kasar "di mana gadis yang kau culik? " kata kal "gadis? " kata wira "shh.. itu kan pria yang ada bersama gadis semalam" kata supri "dasar bodoh kau bisa diam tidak" bisik wandi "kau" jerico menarik supri "katakan di mana gadis itu" kata jerico "gadis itu--" kata supri "dia tidak tau apa apa" seru feri "jangan ikut campur! " kata jerico "ehem.. aku bisa memperlihatkan pada mu seberapa panjang usus mu" kata kal sambil manatap supri "diam jangan katakan apapun! " kata feri "dorr!!! " darah muncrat kemana mana akia dengan pandangan dinginnya menatap wira "jika tidak bisa dengan cara lembut cara kasar pun jadi" kata kal supri membeku melihat wajah feri hancur separuh karena di tembak oleh akia "sekarang katakan!! dimana gadis itu" kata hary "gadis itu kami buang ke dalam air yang dalam" kata wira "oh... masih berbohong ya" kata akia sambil menatap wajah wira "kau fikir aku berbohong? " kata wira "krakk!!" wira meringis merasakan ada benda yang menembus punggung nya "katakan! " kata akia wira tersenyum lalu dengan cepat mengambil sesuatu dari sakunya tiba tiba badan wira menjadi kejang kejang mulut nya berbusa semuanya terkejut menatap ke arah wira beberapa orang juga langsung melakukan hal yang sama "hei" lim mencegah wandi yang ingin melakukan hal yang sama "sisa dua orang" kata jerico "kami akan melepaskan mu jika kau berkata jujur" kata jerico "jika tidak kawan ku yang itu akan menarik usus mu keluar" bisik jerico sambil menunjuk akia supri menatap wandi "hum.. ak.. akkku.. hum" supri gugup "kami tidak tau" kata wandi "kau masih mau berbohong" ucap lim "kami benar-benar tidak tau!! kami memang membawa nya" kata wandi "lalu mengapa ka bilang tidak tau? " kata jerico "hum.. " supri gemetaran "tuk" lim menempel pistolnya ke punggung wandi "jangan tembak! " kata supri "kau katakan yang sebenarnya atau teman mu ini ku habisi" kata lim "kami benar-benar tidak tau.. semua isi truk kami menghilang saat tiba di pelabuhan" kata supri "kami tidak berbohong kami juga baru saja ingin istirahat karena dari semalam kami mencari gadis itu sama sekali tidak ketemu dia menghilang " kata wandi " kami bicara jujur bahkan nyawa kami juga terancam jika bos kami mengetahui kami gagal membawa gadis itu untuk di tukar"kata wandi "siapa bos kalian" kata akia "tuan hanya dia.. dia menelpon kami beberapa hari yang lalu untuk menculik nona muda soikham yang akan pergi ke pabrik kami akan membawanya untuk di tukar dengan tuan kami karena dia sedang ditahan" kata supri "jadi kalian anak buah han?" kata chai "iya Pak.. tolong lepaskan kami" kata supri "lim ikat mereka dan suruh dua pengawal membawa mereka bertemu han" kata chai "tap.. tapi.. kau bilang akan melepaskan kami jika bicara jujur" kata supri "aku beri kalian tugas aku akan bayar kalian " kata chai "benarkah? " kata wandi "dia adalah tuan muda soikham yang adiknya kalian culik" kata kal.


"bruugg" jeje terjatuh ketika menabrak sebuah box "sial!!! kenapa banyak box di sini" kata jeje sambil berusaha berdiri kembali sambil memegangi dadanya berusaha menarik nafas pelan pelan "uhuk.. uhuk.. uhuk.. sial.. ini di mana sih" kata jeje "grriitt!! " jeje mendengar suara dari arah belakang nya seorang pria berdiri dengan pakaian rapi "astaga kenapa? kenapa ada orang" kata pria itu jeje tidak dapat menahan tubuhnya lagi "brukkkk!! " jeje yang terlihat kesulitan bernafas akhirnya ambruk "hei" pria itu langsung mendekati jeje "benar kan tuan di sini bar--" pria pendek yang baru datang terdiam melihat pria itu memegang wajah seorang gadis "kau membawa asisten ya? " kata pria pendek itu "hum.. iya tapi. .. dia sedang sakit " kata pria itu "oh.. kau bisa urus dia dulu" kata pria pendek itu . tubuh jeje pun di angkat dan di bawa nya pergi.


seorang pria turun dari motor nya dan melepaskan helm nya melihat sekitar nya "pak es kelapa muda dua di bungkus ya" kata pria itu "iya mas Gilang seperti biasa toh" kata pria tua penjual kelapa muda "iya" kata pria itu yang tak lain adalah Gilang dia berjalan perlahan menuju motor nya sambil melepas kaos tangan nya "eh? " dia melihat ada benda di dekat trotoar di antara rerumputan yang hijau "pena siapa " Gilang mendekati benda yang dia lihat sebuah pena berwarna biru hitam dan juga benda kecil dengan tombol merah "aku kaya pernah lihat pena ini" fikir Gilang "aku susah menulis kau lihat aku masih memegang pena" Gilang akhirnya ingat "jeje" kata Gilang "tunggu" Gilang memiringkan kepala nya "kaya ada suara ponsel berdering" kata Gilang "mas Gilang ini kelapa muda sudah selesai" kata penjual kelapa muda "oh iya Pak" Gilang menghampiri si penjual suara ponsel berdering kembali berbunyi "anu mas itu suara ponsel yang saya temukan dari tadi bunyi terus buat saya takut" kata penjual itu "ponsel? " kata Gilang "iya mas ini loh coba mas bawa aja cari siapa pemiliknya kaya nya yang punya ponsel ini orang yang sangat penting" kata penjual itu Gilang mengamati ponsel itu dan mencoba mencari tau pemilik ponsel nya "aduh.. pakai kode lagi" kata Gilang "eh? " Gilang memperhatikan wallpaper ponsel itu gambar sebuah motor "mungkin ini milik jeje" kata Gilang.


kal menatap jerico yang sedang mengutak-atik komputer nya terlihat banyak angka dan huruf yang muncul di layar komputer nya "aahh.. tu.. tuan.. tuann!! tuaaan" kata jerico semua pengawal langsung berdiri "tuan masih ada di bawah" kata kal "aku menemukan lokasi jeje dari sinyal ponselnya.. aku menemukan dia" kata jerico "tuan" kata kal "apa ada perkembangan? " tanya chai.


"setiap aku bergaya dia selalu tidak datang ke kampus" kata niko "hahaha.. nasib mu selalu buruk" kata jojo "kau kenapa ariel? " tanya memo "jeje masih belum mengangkat panggilan ku" kata Ariel "jangan kan kau aku juga" kata jojo "aku juga bahkan pesan ku tidak di baca oleh nya" kata niko "aku pagi tadi menelpon nya tapi tidak ada jawaban ku rasa dia sedang dengan kakak nya" kata jojo "kau kenapa niko ikut ikutan kaya Ariel" kata memo "ada sesuatu yang ku rasakan dari semalam" kata niko "apa? " kata jojo "kau semakin cinta padanya? " kata wahyu "bukan.. aku merasa ada yang tidak nyaman di dalam diriku.. seperti ada yang mengganjal ini sangat membuat ku tidak nyaman tapi aku tidak tau ada apa" kata niko "mungkin ada saudara mu yang sakit" kata Ariel "saudara ku cuma anak yang di sebelah ku ini" kata niko "yang lain? " kata jojo niko menggelengkan kepala nya "bawa minum biar terasa nyaman" kata jojo "tapi.. " kata Ariel semua mata memandang ke arah ariel "aku juga merasakan apa yang niko rasakan".


seorang pria berkemeja putih di dorong dengan kasar " di mana gadis yang kau culik! "kata kal " heii.. jangan sentuh anak ku!! anak ku salah apa? "seorang wanita berteriak histeris " gadis apa?? aku tidak menculik siapapun "kata pria itu " ini.. ponsel dan barang barang nya ada pada mu"kata jerico pria itu menatap barang barang yang ada di hadapan nya "itu milik murid ku!! kalian siapa? " kata pria itu "langsung saja" chai menatap pria itu dengan tajam "di mana adikku kau sembunyikan.. jeje soikham" kata chai "jeje? jeje siapa? apa jeje murid ku? " kata pria itu "jeje soikham pemilik ponsel ini cepat katakan atau ku habisi kau" kata chai "aku tidak menculik adikmu.. sungguh aku menemukan barang barang itu dekat kios kang cecep" kata pria itu "sungguh.. bang.. ampun deh aku beneran gak culik adikmu.. aku menemukan ponsel itu lalu ku fikir aku akan menyimpan nya dan memberikan nya besok ke jeje" kata pria itu yang tidak lain adalah Gilang "saksinya ada bang kang penjual es kelapa muda kang cecep dia masih hidup sungguh bang demi Allah" kata Gilang "tuan seperti nya dia berkata benar" kata akia chai langsung berbalik membelakangi pria itu "di mana kamu adikku" kata chai dalam hati "maaf bang.. kamu ini kakak nya jeje" kata Gilang "ya dia kakak nya nona jeje awas ya jika kamu memberikan informasi yang tidak benar" kata lim chai pergi para pengawal mengikuti nya "tuan kita bisa tanya pada han dia kan dalang pelakunya" kata kal "kau benar" kata jerico sambil menutup pintu mobil. Gilang memegangi perutnya "astagfirullah.. duuhh sakit banget.. pertama kalinya di pukuli orang ramai" kata Gilang.


di penjara..


han tersenyum puas "aku akan katakan pada mu adikmu mungkin sekarang sedang berteriak kakak.. kakak.. hahahha.. huahahaha.. aku menyuruh orang lain untuk menculik dan membawa adikmu " kata han "ini momen langkah bukan? siapa yang pernah melihat adikmu tanpa hoodie kata kasar nya siapa yang pernah membuka pakaian adikmu satu persatu? tapi kau tenang saja aku menyuruh orang orang ku membuka pakaian adikmu dengan lembut mungkin dengan pisau" kata han chai menatap han tanpa berkedip "aku juga menyuruh orang orang ku untuk membeli beberapa air asam untuk memandikan adik mu aku mengatakan pada mereka lakukan apa yang kalian suka yang terpenting pastikan gadis itu tidak bernafas sesudah nya agar kakak nya yang dia puja puja menangis darah melihat mayat adiknya di temukan dalam kondisi mengenaskan da--" kata han "tutup mulut mu dasar sialan" kata kal chai mengangkat satu tangan nya ketika akia membidik han "kau letakan di mana adikku? " kata chai "di tempat yang bahkan aku sendiri tidak tau hanya malaikat maut yang tau hahahha.. kau takut kan?.. kau takut adikmu mati kan?? hahahah.. itu akibatnya jika kau berani melawan ku" kata han "malaikat maut mu akan datang" kata chai sambil menatap akia "keluarkan dua orang tadi" kata chai akia mengangguk wandi dan supri di bawa ke hadapan chai "ambil ini" chai melempar dua buah pisau kecil akia menarik rantai yang menahan tubuh han "DENGAR.. ADIKMU AKAN SANGAT SENGSARA... KULITNYA AKAN MENGELUPAS TUBUHNYA AKAN TERPISAH SATU SAMA LAIN... KAU MUNGKIN HANYA MENEMUKAN TANGANNYA SAJA HUAHAHAHA" kata han "aku tidak mau tau pakai apapun yang bisa membuat kalian nyaman uang berapa koper pun aku kasih.. gunakan pisau itu potong apapun bagian dari tubuhnya pastikan dia tetap hidup agar lino mendapatkan makanan yang segar dan masih hidup" kata chai "kal awasi mereka" ucap chai "pak kau menyuruh kami un.. untuk" wandi gugup sambil menatap chai pergi di dari tempat itu "lakukan apa yang dia minta" kata kal "pak.. kami.. kami gak sanggup" kata supri "ini" akia memberi beberapa penyumbat telinga dan kain hitam "kalian bisa menutup mata dan telinga kalian" kata akia "**** you... kalian mau memutilasi ku? " kata han "tepat sekali" kata kal "kalian berdua harus tau lima sampai enam koper bisa jadi milik kalian satu orang enam koper" kata jerico supri menatap han perlahan mengambil penyumbat telinga yang ada di meja "aku akan membayar kalian berkali lipat cepat bebaskan aku!! " seru han "ketahuilah han tuan chai bisa me jadi lebih sadis dari pada iblis jika kau melukai adiknya" kata akia han menatao kedua orang yang mendekati nya keringat nya mulai bercucuran di wajahnya "jangan mendekat" kata han "jangan mendekaaaattt!!! ".