
Monnie menuruni tangga bersama dengan chai mereka berjalan ke arah ruang makan beberapa pelayan langsung menunduk hormat melihat tuan dan nyonya nya datang "dimana nona kecil? " tanya chai "nona belum turun tuan" kata rai "selamat pagi adik ku" kata monnie ketika jeje datang "siapa yang menyuruh matahari terbit secepat ini" kata jeje "kau mau memarahi Tuhan? " kata monnie "aku tidak memiliki nya" jeje mengambil alpokat yang ada di atas piring "kau mengatakan apa? " kata monnie "lupakan" kata jeje "hah.. diam dan makan lah " kata chai "jangan rapat lama lama kak kau harus ingat ada baby di perut istri mu" kata jeje "iya" kata chai sambil tersenyum "terimakasih atas perhatian nya nona cilik" kata monnie .
"pak satpam buka pintu gerbang aku sedang malas lompat di sana" kata jeje di depan gerbang "kau sudah terlambat ini sudah setengah sebelas kamana saja kau tadi? " kata satpam "aku.. aku kan sibuk aku baru saja menghitung eh hum.. aku tadi salah jalan ayo buka pintu nya kau tidak bosan ya membiarkan aku melompati pagar itu" kata jeje "tidak bisa" kata satpam "kau menyebal kan awas kalau gaji mu nanti naik tiba tiba" jeje pergi.
di taman yang penuh dengan bunga yang beragama jenis dan warna monnie duduk sendirian sambil membuat mahkota dari bunga bunga yang ada di situ "kenapa adik berkata seperti itu? " dia teringat saat jeje sudah pergi ke kampus tadi pagi "sejak aku bertemu dengan nya dia tidak pernah berdoa ataupun melakukan ibadah lain nya. dia berkata pada ku bahwa dia tidak percaya Tuhan aku terkadang mencoba menyakinkan nya kalau Tuhan itu ada namun dia tetap tidak percaya itu saat aku berada di tempat ibadah dan aku sedang berdoa di dalam dia hanya di luar menunggu ku kadang juga dia duduk di samping ku mengikuti ku " kata chai "aku akan mengubah semua nya" kata monnie sambil memperhatikan mahkota yang baru dia buat "jeje anak baik aku yakin itu dan ku yakin dia juga percaya dengan Tuhan namun dia tidak mempercayai Tuhan sepenuhnya" kata monnie "aku akan membuat dia percaya kembali pada tuhan dan juga percaya kembali ke orang orang yang ada di sekitar nya" kata monnie.
di dalam kelas nilam menjelaskan materi yang sedang merekpelajari "penyebaran islam di indonesia sendiri mulai di kembang kan melalui kalau jaman dulu nama nya perniagaan, atau perdagangan" kata nilam "seharusnya aku ke kantin saja tadi" kata jeje dalam hati "entah apa yang dia bahas" kata jeje "jeje" vito melihat jeje sedang makan camilan "mau? " tawar jeje "tidak" kata vito "sekarang tugas untuk hari ini buat cari bukti bukti sekalian keterangan tentang masuk nya islam di indonesia" kata nilam "tidak bisa!!! " jeje menoleh seperti nya terjadi keributan di luar
"kau bahkan tidak memiliki bukti!! jangan seenaknya ya"
"benar setidak nya harus ada bukti baru bisa membawa nya saya dosen di sini dan dia mahasiswa saya"
"aku juga pengurus di sini"
baik mengerutkan kening nya "ada apa itu? " kata baim "iya ada apa ya kok berisik" kata shela
"DIA ORANG BAIK !! " terdengar suara niko dari luar "biar ibu periksa" kata nilam "huaam.. kelas yang buruk dan membuat ku ngantuk" kata jeje sambil berdiri "kau mau kemana? " kata dila "ke kolam aku mau bersantai di sana" kata jeje "tapi ada tugas" kata baim "kerjaan saja tugas kalian" kata jeje "tapi percaya lah dia tida--" niko menatap jeje yang keluar dari kelas "nona jeje" ada tiga polisi di dengan gilang "baby" niko berjalan ke arah jeje "oi.. oi.. kenapa kalian berdiri di sini aku mau lewat" kata jeje "baby mereka datang mencari mu" kata niko "aku? " kata jeje "nona jeje Soikham kami datang untuk menangkap mu" kata salah satu dari ketiga polisi itu "pak tolong jangan buat masalah" kata Gilang "anda yang bernama jeje kan? " tanya polisi itu "hum aku jeje kenapa kalian menangkap ku? " kata jeje "atas laporan yang kami Terima menyatakan bahwa anda telah melakukan penyekapan dan juga melakukan tindak kekerasan oleh karena itu kami harus menangkap mu mohon kerja sama nya" polisi itu maju menarik jeje dengan kasar namun niko dan Gilang langsung menarik polisi itu niko mengepal tangan nya "wah kesempatan bagus nih, kebetulan aku bosan di sini" kata jeje dalam hati "siapa yang melaporkan ku?ya..karena aku tidak melakukan apapun" kata jeje "kau dengar kan dia tidak melakukan apapun" kata niko "tapi ini perintah" jeje menatap polisi itu "aku meminta bukti surat perintah nya tidak kalian berikan, masalah dia mahasiswa ku aku yang membimbing nya tidak bisa seenaknya membawa nya" kata Gilang "benar itu" kata niko "setidaknya itu kan belum terbukti benar dan ku yakin laporan yang di tuduh kan ke baby itu tidak benar" kata niko "jeje kau tidak melakukan apapun kan? " tanya nilam "tidak" kata jeje "tapi tetap kami harus membawa mu" niko menarik jeje ke belakang tubuh nya "tidak bisa" kata niko "jika kalian memaksa ak--"niko menatap jeje yang menepuk bahunya " diam lah pecundang "kata jeje sambil melangkah maju mendekati polisi itu " kalian mau membawa ku? ya tidak masalah tapi tunggu dulu aku mau lihat nama kalian "jeje melihat nama yang tertulis di seragam polisi itu " aku bisa ikut dengan kalian tapi aku punya satu permintaan "kata jeje " baby!! kau tidak ak--"niko terdiam di saat jeje menatap ke arah nya "tidak ada yang boleh bicara" kata jeje "katakan saja permintaan mu" jeje menatap polisi di depan nya "nanti akan aku katakan tapi yang pasti kau akan menyesal karena membawa ku" kata jeje "jeje jangan ikut dengan nya" kata Gilang "tidak masalah ayo makan eh, jangan pegang aku tangan mu kotor " kata jeje "baby" kata niko "baby kau tidak waras ya" kata niko.
jeje berhenti di dekat mobil polisi "feat yang menyuruh kalian kan? " kata jeje polisi itu langsung terdiam "dengar jika nanti aku terbukti tidak bersalah akan ku pastikan kalian menerima akibatnya dan jika aku bersalah kalian boleh membuat permintaan " kata jeje "baby" niko berlari ke arah jeje "hei pecundang tas ku di kelas suruh dila membawa nya" kata jeje "awas tangan mu" jeje masuk ke dalam mobil polisi "apa? hei kau tidak waras" kata niko "ahh.. kalian datang tepat waktu jujur kelas itu sangat membosankan geser sedikit biarkan aku tidur dan bagunkan aku ketika sudah tiba di kantor polisi" kata jeje.
chai meletakkan berkas yang mau dia periksa "kau urus sisa nya" chai pergi dengan pengawal nya "cepat ke kantor polisi" kata chai "astaga ada ada saja" kata chai.
polisi itu menarik jeje ke dalam sebuah ruangan "oih jangan sentuh aku dengan tangan kotor mu" kata jeje "tuan feat" kata polisi itu jeje tersenyum menatap feat yang sedang duduk "oih.. sudah ku duga kau akan datang" kata jeje "aku mau semua nya seperti yang aku katakan" kata feat "tentu tuan" kata polisi di ruangan itu "buat alasan persidangan agar gadis ini tetap di sini " kata salah satu polisi yang lainnya "itu benar" kata polisi itu "oh..kalian mau membunuh ku" kata jeje "lakukan lah secepatnya" kata jeje "jangan sombong kau nona Soikham" kata feat "kita akan tentukan hasil nya di persidangan nya" kata polisi "Persidangan apa? " chai datang "adik ku tidak bersalah" kata chai "tuan chai" polisi terkejut melihat chai datang "kakak aku tidak melakukan apapun tanpa di mulai duluan" kata jeje chai berjalan menghampiri feat "sraak" chai menarik kerah feat "menganggu adik ku sama saja mengganggu ku" kata chai "kakak jangan kasar dia ketakutan nanti" kata jeje polisi diam mematung sementara bodyguard kedua belah pihak saling mengacungkan senjata "aku kan sudah mengatakan nya pada mu jika crist melakukan hal buruk lagi ke adik ku maka aku tidak akan melepaskan dan kau juga setuju" kata chai "tapi adik mu menculik crist " kata feat "Crist mencoba melenyapkan adik ku lagi dan ku yakin kau tau itu namun kau membiarkan nya dengar aku bisa membunuh ratusan orang jika itu soal adik ku, aku juga bisa membuat laporan untuk mu . kartu As mu ada di tangan ku" kata chai feat mendorong chai lalu pergi "" siapa yang menangkap adik ku? "tanya chai " jangan repot repot nih mereka yang menangkap ku"kata jeje "tuan chai maaf atas kelalaian anggota saya" kata seorang pria "aku butuh tiga anggota mu ini" kata chai dengan muka datar.
kereta api melaju dengan cepat suara terdengar sangat keras
"tuan tuan ampuni kami"
"tuan kami mohon tuan ampuni kami"
"kami benar-benar di suruh tuan "
"kami di iming-iming dengan uang tiga koper tuan asal bisa menangkap adik anda"
"tuan ampuni kami"
"kami di paksa membawa adikmu ke kantor polisi dan malam nya kami akan membunuh nya"
"kami sangat menyesali nya tuan"
chai sama sekali tidak merespon perkataan tiga polisi itu "jalan kan mobil nya" kata akia, akemi menjalan kan mobil ke tengah rel kereta api akemi langsung keluar dari mobil ketiga polisi itu langsung merengek memohon pengampunan suara kelakson kereta api terdengar keras "aku tidak pernah mengampuni siapapun yang mencoba mencelakai adik ku" kata chai sambil berbalik dan berjalan pergi suara kereta api semakin dekat "bruuuuaaggg... duaakk" mobil itu hancur seketika setelah di tabrak oleh kereta api yang berkecepatan tinggi.