What Is Love

What Is Love
niko terluka ,jeje mengamuk



"tukk"jeje menghindar ketika ada bola basket hampir mengenai kepalanya " kau tidak papa? "tanya dila dia langsung berlari ketika melihat bola basket mengarah ke jeje " tidak papa"kata jeje "syukur lah" dila melihat niko berjalan ke arah mereka "hei hati hati kalian kalau main bola lihat hampir kena temanku" kata dila "maaf" kata leo dari lapangan basket "dila " kata niko "kakak juga.. bola nya hampir kena jeje" kata dila "kau baik baik saja apa kau terluka dila? " kata niko "hah?? " dila langsung kebingungan "berikan bolanya pada ku, dan maaf bolanya hampir mengenai mu " kata niko "tapi.. yang" dila kebingungan niko mengulurkan tangannya "bolanya" kata niko dila menatap jeje karena bolanya di tangan jeje "minta maaf! " kata jeje "humm.. aku.. aku.. aku sakit perut mau ke toilet" dila pergi "bola! " kata niko "ini milikku" kata jeje lalu dia berputar arah "hei jangan cari masalah" kata niko tapi jeje tetap berjalan tanpa menghiraukan niko "hei anak nakal" kata niko "archie...!! " kata jeje archie yang di lapangan basket menoleh "bola ini untukmu " kata jeje "lempar je aku akan menangkap nya" kata archie "tangk--" jeje menoleh niko mengambil bola nya "tunggu ya aku akan mengambil bolanya dulu" kata jeje dia melihat niko berjalan membawa bolanya "pecundang! " kata jeje tapi niko tidak menoleh "dia fikir dia siapa" fikir niko "pecundang berhenti" niko masih belum berhenti "bruugg" kali ini niko berhenti dia melihat ada tas di dekatnya "dia melempar ku dengan tas nya? " kata niko dalam hati "degg"saat niko ingin berjalan jeje sudah menyudutkan nya di tembok niko melihat kaki jeje di samping wajahnya " ini milik archie "jeje mengambil bola itu sementara niko masih diam membeku " archie!!? ambil ini!! "jeje melemparkan bolanya lalu memungut tas nya " **** you"jeje memberi niko jari tengah lalu pergi "wajahnya dekat banget tadi" kata niko dalam hati "duuh.. jantung ku.. " guman niko.


kelas di mulai..


"Hai semua nya" niko datang "loh.. kok kak niko" kata dila "kenapa? jika tidak suka kalian boleh keluar, jika tidak mendengarkan kalian akan berdiri di depan seharian, jika membantah ku aku akan mengikat kalian" kata niko semuanya langsung diam "gluk" dila menelan liur nya "bakal ada perang kaya nya" kata vito "dingin" kata hima "diam di larang bicara yang ketauan bicara berdiri di atas meja!! " kata niko "baik.. buka buku kalian aku absen dulu aku menggantikan dosen psikologi, absen gak ada pengulangan yang telat jawab alfa" kata niko "baim! " kata niko "hadir" kata baim suasana kelas mendadak hening dan penuh ketegangan "ada yang belum di panggil!!! " kata niko "jeje kak" kata dila "berdiri kamu!! " kata niko "tapi.. tapi kak" kata dila "berdiri di depan apa jeje namamu? " kata niko "bukan" kata dila "berdiri" kata niko jeje menaikan kaki nya agar dila tidak bisa lewat "kenapa diam ayo berdiri" kata niko "tapi dia gak--" kata shela "kau juga berdiri" kata niko shela tidak banyak bicara lagi wajahnya terlihat ketakutan dia langsung berdiri di depan "kenapa kau masih diam? berdiri! " kata niko "kaki siapa itu? " kata niko "jeje awas kakimu gak papa aku akan berdiri di depan" kata dila "kau takut padanya? " kata jeje "pelajaran tidak akan di mulai jika ada yang membantah ku" kata niko "jeje ku mohon kita bisa di dalam masalah" kata dila niko meletakkan buku yang dia pegang lalu berjalan ke arah dila "singkirkan kaki mu atau kau mendapatkan hukuman dari ku" kata niko jeje terlihat tenang "di larang memakan permen" kata niko jeje berdiri "tuhaan... melihat dia seperti ini rasanya aku ingin pingsan" kata niko dalam hati "dosen macam apa dirimu kau di pecat! " kata jeje niko tertawa "kalian berdua berdiri di luar buat puisi dia lembar" kata niko "ayo" jeje menarik tangan dila dan pergi keluar kelas "jeje kita mau kemana bukan kah kita di suruh membuat puisi" kata dila "makan saja" kata jeje sambil mengunyah makanan nya di kantin.


niko membuka pintu dia tidak melihat dua mahasiswa yang dia hukum "dasar nakal" niko langsung pergi "makan saja kenapa kau takut dengan manusia payah seperti nya" kata jeje muka dila menjadi tegang dari sebelum nya "memang nya dia siapa seenaknya saja" kata jeje dalam hati "untung aku tidak memikirkan nya semalam tau gitu biar saja dia menghilang " kata jeje dalam hati , "jeje kak.. hum.. kak niko itu menurut mu seperti. a. aapa? " kata dila "apa tidak melihat nya dia manusia yang menyebalkan sok berkuasa" kata jeje "a.. apa.. apa kau menyukai nya? " tanya dila "ck.. kau bicara apa? " kata jeje "la... lalu bagaimana.. jika dia datang? " kata dila sambil membaca teks di belakang jeje "aku akan memukulnya" kata jeje "enak ya makan di saat pelajaran? " jeje menoleh ke belakang.


niko melipat keduanya tangannya melihat dua wanita di depan nya "kerjakan puisinya lima lembar! " kata niko "ampun kak... ampun" kata dila "kenapa meminta ampun? " tanya niko "karena aku salah" kata dila "pergi sana ke kelas" kata niko "tapi jeje" kata dila "kau mau ku beri hukuman lagi? " tanya niko dila langsung masuk ke dalam kelas niko menatap jeje yang masih berdiri "berikan ponselmu" kata niko "tidak mau! " kata jeje "jangan kira aku tidak tau kau masih bermain game" kata niko jeje mengeluarkan ponsel nya lalu memberikan nya ke niko terlihat di layar ponsel nya game masih berjalan "lagi! " kata niko "kau yang keluar kan atau aku yang mengambil sendiri" kata niko "dasar sialan" jeje mengeluarkan dua ponsel lagi "buang permen nya" kata niko sambil memberikan dua lembar tisu ke jeje "aku akan mengampuni mu jika kau menulis kata maaf sepuluh ribu aku mengawasi dari dalam" niko membuka pintu lebar lebar jeje menoleh niko sudah masuk "huh" jeje berjalan ke arah lain "mending aku tidur" jeje berhenti di depan laboratorium dia kembali teringat niko membawa nya ke laboratorium itu "haih.. apa apan ini jangan ingat" jeje memukul kepalanya sendiri "dia menghukum ku berani sekali" kata jeje.


suara bell terdengar "waktu habis! " kata niko sambil melirik ke arah luar pintu "masuklah kita siap siap berdoa" kata niko namun tak ada jawaban niko berjalan keluar terlihat selembar tisu bertuliskan kata **** you niko kembali masuk ke dalam kelas "oke semuanya terimakasih atas waktunya semangat terus belajar nya agar bisa lulus bersama sama berdoa dalam hati lau pulang lah" kata niko.


Tini berhenti berjalan dia menoleh terlihat dari jendela buku buku tersusun bertumpuk dengan banyak dan di atas buku ada seorang gadis sedang tertidur di atas buku dalam ruang perpustakaan "siapa dia? " kata Tini lalu dia membuka pintu terlihat jeje sedang Tertidur di atas tumpukan buku "jeje.. jeje.. " Tini membangun kan jeje "a... hum.. " jeje seperti mendengar suara orang yang memanggilnya perlahan dia membuka matanya "niko" jeje melihat niko di depannya "tidak bisakah kau meng--" jeje terdiam "sudah waktunya pulang je, jangan tidur lagi" kata Tini "kenapa dia memanggil nama niko" fikir Tini "ck.. huam" jeje berdiri "kenapa kau di sini apa tadi malam tidak tidur? " tanya Tini "humm" jeje mengusap wajahnya "apa aku salah lihat tadi kan si pecundang itu kenapa sekarang wanita ini? " fikir jeje "eh.. jangan kucek matamu pakai ini pergilah cuci muka" kata Tini sambil menyerahkan sebotol air minum "aku salah lihat kali ya? " fikir jeje "aku gak butuh" kata jeje tapi dia berbalik lagi mengambil botol minuman itu dari tangan Tini "aku haus " jeje langsung pergi Tini tersenyum "anak yang baik" Tini merapikan buku buku yang berantakan karena jeje.


jeje berjalan sambil membuka tutup botol nya "huahh.. rasanya enak banget" jeje terdiam saat minumannya terjatuh karena di tabrak seseorang "kau!! " jeje melihat niko di depan nya "kalau jalan lihat lihat dong" kata jeje "lah.. maka nya kalau minum itu duduk jangan jalan" kata niko "apa ka--" jeje menoleh archie sudah di samping nya "ada apa " kata archie "hah sudah lah" kata jeje "baim apa yang terjadi? " kata archie "baim? " jeje berbalik "hah!! jadi bukan si pecundang? kok bisa? " fikir jeje "ini" archie menyodorkan minuman kotak "minum lah kau haus kan? " kata archie jeje mengambil minuman kotak itu dan segera meminum nya "nih habisin" jeje memberikan sisa minumnya ke archie lalu pergi archie tersenyum lalu meminum minuman bekas jeje.


pagi harinya..


"morning" kata chai "morning to" kata jeje lalu dia duduk "kak chai ka terlihat berbeda hari ini" kata jeje chai memiringkan kepala nya "apa yang berbeda? " kata chai "dasimu dasi baru ya? " kata jeje "apa kau mencoba mengerjai ku? " kata chai "tanya saja pada mereka dasimu membuatmu berbeda kau terlihat menyeramkan" kata jeje milli tertawa pelan mendengar ocehan jeje "apa kau tidak dengar kalau aku orang yang paling tampan" kata chai "huahahaha mimpi" kata jeje langsung terdiam dia melihat niko di belakang chai melambaikan tangan "good morning baby" kata niko "hei" jeje merasakan ada sesuatu yang mengenai kepalanya "aduh" jeje melihat jeruk "aku bicara dari tadi dan kau malah melamun" kata chai "bukan.. sudah lah makan hari ini kau ada pertemuan di perusahaan jus kotak mu" kata jeje "iya aku tau" kata chai "aku ini kenapa sih.. jangan jangan si pecundang menghipnotis ku" fikir jeje.


niko menempelkan sesuatu di mading "haah.. ngomong ngomong kemana dia ya" kata niko "pagi" leo menepuk bahu niko "pagi" kata niko "kemana baby mu? " tanya leo "dia jam segini tuh belum datang" kata niko "asikkk.. kala udah jadian jangan lupa malam" kata leo.


tiga orang pria berbaju hitam masuk dari gerbang "aduuh" wahyu di dorong "kau melihat gadis ini" salah satu pria itu menunjukan foto jeje dengan baju balap wahyu terkejut "hei kau lihat ini? " pria lainnya menghampiri mahasiswa yang lain "aku tidak kenal" kata wahyu "heii.. jangan bohong kau mau berapa biar aku bayar atau kau mau ku hajar" wahyu di dorong "aaaaaaaa!!!" niko dan leo menoleh ketika mendengar suara jeritan "ada apa itu? " kata leo "ayo kita lihat" kata niko "aahhhgh" archie kesakitan akibat pukulan orang asing itu.


mawar memotong piza "wah.. enak nih"kata rizi " wah.. piza nya ada emasnya ya"kata dila "siapa dulu yang beli? " kata mawar "aku gak beli teman teman ini koki di rumah yang buat" kata anggel "kokimu boleh mu sewa" kata rizi "sewa saja" kata anggel "ini ambil je" kata mawar "kemana vito? " kata jeje "dia bilang tadi ke toilet" kata rizi. "duaaggg!! " archie di banting lalu di angkat kembali "jawab!! tadi kau barusan menyebutkan nama gadis ini!! di mana dia" kata pria bertopi ungu "hei!! " niko datang menendang pria itu lalu menarik archie "kau tidak papa? " kata niko "ahh.. " archie terlihat kesakitan "leo bawa archie pergi" kata niko "oke" leo mengangkat archie dan membawa nya pergi "berani sekali kau mengacau di sini! " kata niko sambil menyerang pria bertopi ungu itu "bruugg" wahyu terjatuh ketika mencoba melindungi mahasiswa lain nya "ada apa ini? " kata kal di atas atap "jeje masih belum terlihat" kata akia "KAK NIKO!! " seru beberapa orang "niko? " jeje langsung berdiri "ada apa? " kata anggel "diam" kata jeje "awas" niko menarik vito yang hendak di tusuk "hei.. jangan macam macam kamu" kata niko "vito pergi lindungi jeje" kata niko "baik kak" kata vito.


jeje menatap teman teman nya "dengar kan aku, kalian jangan keluar apapun yang terjadi" kata jeje "tapi kenapa? " tanya rizi "rizi pastikan jangan ada yang keluar jika kalian keluar aku tidak akan bertemu kalian lagi" setelah selesai bicara jeje langsung pergi "uhuk.. uhuk" niko tercekik jeje melihat sekitar "akkkhh" wahyu meringkuk kesakitan "jeje" wahyu langsung berdiri "jeje kabur.. cepat kabur!! ada orang orang mencari mu" ujar wahyu "prang.... " vas pecah di kepala wahyu di saat wahyu melindungi jeje wahyu terjatuh ke lantai dengan kepala berdarah pria bertopi merah memperhatikan jeje "hei" jeje menunduk memperhatikan wahyu "bagun" kata jeje pria bertopi merah itu pergi jeje menarik tubuh wahyu ke kursi panjang lalu merobek baju wahyu untuk membalut kepala wahyu "siapa orang orang itu" jeje langsung pergi "buang" niko memukul pria bertopi ungu itu dengan kuat "hias" pria bertopi kuning memukul niko dengan kursi niko terjatuh "hiaah"leo membantu niko " astaga"Gilang mengindari serangan pria bertopi merah "uggghh" darah keluar dari mulut niko tubuhnya perlahan jatuh "niko!! " kata aciel "hah.. hah.. hah.. ugghh.. jeje jangan datang ke kampus" kata niko sambil bangkit kembali "kuat juga dirimu" kata pria bertopi ungu sambil menendang niko yang sudah terluka parah "gubragg" tubuh niko terjatuh tepat di bawah kaki jeje "ugghh.. " niko meringis bajunya sudah penuh dengan darah "pergilah" kata niko sambil berdiri lagi "pergiii!! " niko lanjut menyerah pria bertopi ungu itu "sraakk!! " darah muncrat jeje masih terdiam melihat lantai yang penuh dengan darah niko kembali terjatuh "itu jeje" kata kal "pecundang" jeje baru menyadari niko tergeletak penuh luka "oi.. kau.. " jeje menghampiri niko "siapa.. siap yang membuatmu begini? oi.. niko.. niko.. hei.. " jeje memegang wajah niko "kau dengar aku.. oi.. katakan padaku siapa pelakunya.. kenapa kau.. " jeje melihat niko menunjuk pria yang sedang menyerah adhi "kau.. ka.. kau.. per.. pergilah" kata niko "HOI!! " jeje mengepalkan kedua tangan nya tubuhnya bergetar "siap siap" kata akia "jadi kalian" kata jeje "ini orang nya" kata pria bertopi kuning jeje mengangkat satu tangannya niko melihat itu "salah satu kode dari keluarga tuan soikham adalah mengangkat satu tangan nya itu bukan hal sepele katanya itu memberitahu pengawal nya agar tetap di tempat" niko teringat perkataan leo "jadi kau jeje? " kata pria bertopi merah "kau akan menyesali perbuatan mu!! " jeje terlihat marah "jangan coba menggertak ku" pria bertopi merah maju "graaakkk" semua mata terlihat terkejut "puff.. uhuk.. ohok"pria bertopi merah mengeluarkan darah dari mulutnya " apa kita tidak membantu nya? "tanya akia yang sudah siap membidik siapa pun dengan tembak nya " jangan.. lihat lah.. pukulan mematikan tuan chai baru saja di lakukan oleh nona"kata kal "brugg" pria bertopi merah ambruk "apa tadi suara tulang patah" kata orang orang jeje dengan mata tajam menatap pria bertopi kuning "hiaaa!! " pria itu maju dengan membawa pisau "craaattt" darah langsung muncrat pria itu kesakitan dia melihat dadanya berdarah "bangsaattt!! " jeje langsung maju memukuli pria itu "aahh" gilang memegangi matanya yang di lempar tanah "ahh.. " Gilang kesakitan saat merasakan punggung nya tertusuk benda tajam. "buagg"jeje mendapatkan pukulan bertubi tubi " ahh"jeje mengelap darah dari hidung nya "fuckk!! " jeje menghindari serangan pria itu "niko.. niko.. hei.. mau bertahan lah" kata adhi mendengar itu jeje menoleh ke arah niko dan tak sempat menghindari serangan pria itu pisau itu menggores lengannya "haaa" jeje menendang pria itu lalu mengambil pisau nya dan menusukkan nya ke tangan pria itu jeje langsung menindih pria itu dan lanjut memukuli pria itu vito datang dengan yang lain "jeje sudah" kata Gilang "jeje.. dia sudah tidak berdaya" kata leo "haaa ahh.. " jeje terlihat berenergi full dia terus memukuli pria itu lalu dia mengambil nafas dengan tubuh bergetar jeje mengepal tangannya "jeje sudah" kata mawar "buugg"hidung pria itu patah " hiaaa"jeje mengangkat tangannya lagi "baby.. hum.. " niko duduk bersandar ke leo "JEJE SUDAH CUKUP" kata niko tapi jeje sudah mengayunkan tangannya "HENTIKAN JEJE! " kata niko "tapi" tangan jeje berhenti tepat di atas hidung pria itu suasana menjadi sangat tegang "dia mendengar kan mu" kata leo jeje perlahan menoleh ke arah niko dengan nafas tersengal sengal jeje berdiri jeje memungut pisau pria tadi lalu menatap ke arah rizi pria bertopi merah berada di belakang rizi "**** you" kata jeje pria itu langsung maju "TIAARAAAPP" kata jeje pria itu melepaskan tembakan jeje langsung maju "uhhh" jeje berusaha merebut pistol pria itu "dorr" jeje meraba lehernya yang terkena goresan peluru "fuuuckk" jeje memukul perut pria itu Gilang juga membantu sampai akhirnya pria itu di ikat Gilang jeje melihat ke atas atap sambil tersenyum "ayo kita turun urus orang orang itu " kata kal "jeje" kata vito "maaf aku terlambat mencegahmu" kata vito "kak niko ingin aku melindungi mu tapi aku gagal" kata vito jeje menoleh ke arah niko lalu berjalan me arahnya niko melihat tangan jeje yang tergores membuat nya sedih "apa kau masih baik baik saja? " tanya jeje dan niko bersamaan kal datang mengamankan tiga pria itu "maaf" kata niko "gak melindungi mu" kata niko "ambulance datang" kata Tini jeje berdiri lalu mengulurkan tangannya ke niko "kau perlu ke rumah sakit pecundang" kata niko leo juga membantu niko berdiri "kau juga" kata niko.


"apa dia baik baik saja? " tanya niko sambil melihat main pembatas berwarna biru "apa dia pacarmu? " tanya dokter "bukan tapi calon istri" kata niko "kalau begitu berdoa lah" kata dokter. "akh.. ah.. sakit pelan dong" kata jeje "sabar nona obat bius nya belum bereaksi" kata dokter jeje menatap pembatas berwarna biru itu sama seperti niko.