What Is Love

What Is Love
akibat salah bicara



bunga menundukkan kepalanya mendengarkan orang tua nya berdebat di hadapan nya "lalu siapa wanita itu" "kenapa kau selalu curiga dia hanya lah pekerja di toko kita" "jangan berbohong tiap malam kalian berdua selalu saja berbicara lewat telpon" "kami cuma membahas pengeluaran toko jika kau tidak percaya aku akan memanggilnya untuk mu!! " "panggil saja kalau berani" bunga melempar gelas nya ke lantai dengan marah "BISA GAK SIH KALIAN BERDUA SEHARI SAJA TIDAK BERTENGKAR" air mata keluar dari mata bunga "aku lelah ma, pa.. aku lelah mendengar kalian bertengkar" kata bunga "jika kau lelah kenapa kau tidak cari kerja sendiri" kata papa bunga "permisi" ada suara di depan pintu bunga segera membuka pintu terlihat seorang wanita muda "masuk Sinta" mendengar suara itu wanita muda itu segera masuk dia melihat kaca berserakan di lantai "dia sudah datang kenapa kau diam, tanya saja apa yang kau tuduhkan pada ku" kata pria dewasa itu "bu bos pak bos ada apa?" kata wanita muda yang bernama Sinta "Sinta coba katakan apa yang kita bahas di telpon" kata papa bunga "pak bos bukankah kita hanya membahas keuangan toko yang belakangan ini sering hilang" kata Sinta "mohon maaf Pak bos saya akan mengatakan ke bu bos" Sinta menatap ke dua orang di depannya "bu bos toko sedang mengalami kerugian tidak seperti bulan lalu, uang di toko hilang tapi pak bos tidak berani bercerita pada mu" kata Sinta "kau dengar ilmie apa kata Sinta" kata papa bunga "kenapa kau cerita? " kata ilmie "aku hanya tidak mau kau berfikir " kata papa bunga "kenapa, kita juga harus bersama membuka toko itu" kata ilmie "karena anak ini yang membuat toko kita hancur" papa bunga menunjuk anaknya "apa maksud mu rohan? " kata ilmie "Sinta" rohan menatap Sinta "mohon maaf Bu bos anakmu selalu datang mengambil uang di toko dalam jumlah besar" kata Sinta "bunga" ilmie menatap bunga "iya!! itu semua karena aku bosan hidup miskin mama! " kata bunga "kau dengar anak yang kau selalu bela itu" kata rohan "bunga" ilmie mengeluarkan air mata "sekarang kau jawab kau ingin aku mengusir anakmu atau kau menyuruh anakmu mencari kerja" kata rohan.


"huaam" jeje membuka matanya menyadari hari sudah pagi dia segera berdiri dan memperhatikan kamarnya dia baru teringat "aku pulang ke rumah ku kak setidaknya satu hari saja aku tidur di rumah sendiri" kata jeje saat selesai bertanding "baiklah satu hari" kata chai "oh.. pantas aku tidak mendengar suara kak milli" ucap jeje ketika dia baru menyadari dirinya berada di dalam rumah nya sendiri "nona, hari sudah pagi" ada suara dari luar "haah para bodyguard itu berisik sekali" kata jeje "oi.. oi aku sudah bangun" kata jeje dia langsung pergi mandi.


niko berpose di depan cermin "wah.. kau makin sok keren saja" kata wahyu "bagaimana rompi baru ku " kata niko "kau terlihat seperti apa ya.. yang di film film itu apasih ya lupa aku" kata wahyu "memakai kemeja dan rompi polos" kata wahyu "aku ingin terlihat keren di matanya" ujar niko "ku yakin hari ini kau akan di tampar lagi" kata wahyu "tidak papa tiap hari di tampar juga tidak papa yang penting dia yang menamparku" kata niko "ya ya.. ku harap pipi mu itu kuat" kata wahyu sambil tertawa.


"nona pakaian mu" kata para bodyguard "iya.. iya aku sudah memakainya" jeje pergi dengan motor nya para bodyguard saling tatap ketika jeje pergi.


jeje melompati pagar tembok seperti biasa "aduuh.. baru saja jam sepuluh udah di tutup saja gerbang nya" kata jeje lalu dia berjalan "jeje apa yang pakai? " kata rizi "apa? " kata jeje "celana mu keren sekali seperti celana pembalap" kata mawar "apa? " jeje menunduk melihat celananya "sial.. ini celana balap tadi malam" kata jeje "hum ya aku harus pergi" jeje langsung berjalan "aduhh.. kok bisa aku ceroboh" kata jeje dalam hati "aha.. kau mau lari kemana? " kata niko yang sudah duduk di kursi dekat pagar tembok di mana jeje biasa melompat "kenapa aku tidak mendengarkan bodyguard kakak" fikir jeje "kau bisa minggir gak? " kata jeje "oho.. hoodie dengan celana yang keren" kata niko "awas" kata jeje "kau mau bolos? " kata niko "huh" jeje berjalan ke arah lain "banyak bicara" jeje berusaha melompat "hei kenapa kau di atas pagar? " jeje melihat satpam "haha ketahuan" kata niko "pak, aku begini karena di suruh" kata jeje "di suruh siapa? " kata satpam "mahasiswa teladan itu" kata jeje "hei, kau salahkan aku? " kata niko "niko ya? " kata satpam "iya dia juga sedang di sini kau kemarilah jika tidak percaya!" kata jeje "lalu celana apa yang kau pakai itu? apa kau seorang pembalap? " kata satpam "huh.. celana tertukar saat.. saat.. saat aku mandi di hah di Alfamart pak" kata jeje "makanya aku mau ganti tadi tapi niko berengsek ini menyuruh ku bolos saja" kata jeje "kau tunggu di situ" kata satpam segera berlari "haha dasar bodoh ini tentu sempatan ku kabur" kata jeje dalam hati "greb" niko menarik jeje yang mau melompat membuat jeje yang berada di atas pagar terjatuh "aahh.. sial" jeje kehilangan keseimbangan "grebbb" niko menangkap tubuh jeje yang terjatuh jeje menatap mata niko begitu juga sebaliknya "siaalll.. brengseknya dirimu" jeje menarik telinga niko dengan kuat "HUAAAAAHHHH"niko kesakitan dan buru buru menurunkan jeje "aduh.. duh.. duh kenapa kau menarik telinga ku gimana kalau putus" kata niko "lalu kenapa kau menarik ku!!" ujar jeje "tentu saja aku harus menarik mu! kau pergi setelah menjadikan aku kambing hitam" kata niko "aahh.. bodoh amat" jeje mau melompat lagi tapi niko menariknya kembali "jangan lari anak nakal aku tidak mau kena hukuman karena ulah mu" kata niko jeje melihat satpam semakin dekat "biar saja kau di hukum karena ini salahmu. mengapa tadi kau menarikku jika kau membiarkan ku pasti akan aman" ujar jeje "aku tidak mau tau, pokoknya kau tidak boleh lari " kata niko "huh.. awas" jeje mencoba mendorong niko "kau yang harus di hukum bukan aku" kata niko "kalau tidak mau di hukum ikut saja dengan ku lari" kata jeje "eh" jeje baru menyadari ucapan nya "aku salah bicara" kata jeje "kau mengajakku lari? " kata niko "haah cepatlah" jeje segera melompat "wah.. seru juga" niko pun melompat juga "kita lari kemana? " tanya niko "kau lari kesana aku kesana " kata jeje "aku benci kampus " jeje langsung berlari mengambil motor nya "ehh" niko memegang bahu jeje "kau mau apa? " tanya jeje dengan kesal "kau mengajakku lari tapi kau malah menyuruh ku pergi" kata niko "kau sudah mengajakku lari ya aku akan ikut dengan mu" kata niko "apa kau gila aku tidak serius tadi" kata jeje "tapi aku serius ayo bawa aku lari aku sudah terlanjur lari dengan mu jika aku kembali aku pasti di hukum" kata niko "haah!! kok bisa aku salah bicara seperti tadi" fikir jeje "oke oke ayo naik" kata jeje "kau yang menyetir? " niko terkejut "cepat atau kau akan ku tinggal! " kata jeje "iya iya" niko langsung naik dan duduk di belakang jeje "helm nya mana? " kata niko "tidak ada" jeje langsung melajukan kendaraan nya membuat niko semakin terkejut "aahh.. jeje kau ngebut sekali!! kita tidak pakai helm" kata niko tetapi jeje tetap menambah kecepatan motor nya niko memegang pinggang jeje "wahyu maafkan aku" kata niko dalam hati.


satpam terlihat kebingungan kemana anak itu? "fikir nya " pak satpam"leo menghampiri satpam itu "ada apa pak satpam? " kata leo "oh.leo aku sedang mencari si anak nakal itu" kata satpam "jeje ya? " kata leo satpam mengangguk "aku tidak ada melihat nya sedari tadi" kata leo "apa aku halusinasi? " fikir satpam.


"aduuh!! " tubuh niko terdorong ke depan di saat jeje menekan rem motor nya mendadak "ada apa lagi? " kata niko sambil melihat ke depan karena jeje tidak menjawab terlihat seorang badut sedang menyebrang dengan tiga anak kecil "kau mau aku menabrak nya? " tanya jeje "oh.. tidak.. tidak" kata niko tak lama kemudian jeje kembali menjalankan motor nya "Tuhan.. benar kata wahyu aku mulai tidak waras" kata niko dalam hati "aduuuh!! " niko kembali terdorong ke depan "turun!! " kata jeje niko pun turun melihat sekitar nya "plakkk" niko terkejut mendapatkan tamparan keras dari jeje "hei kenapa kau menampar ku? " kata niko "karena kau memegang pinggang ku" kata jeje sambil menampar niko lagi "gimana aku tidak memegang pinggang mu? kau mengendarai motor seperti sedang balapan aku bisa saja terlempar di jalanan" kata niko "itu yang aku mau" jeje berjalan ke sebuah tempat makan di depannya "wahyu benar aku akan mendapatkan tamparan hari ini" ucap niko sambil mengikuti jeje tempat makan itu sangat ramai "kenapa kau ikut aku? " kata jeje "jadi aku harus kemana kan kau yang mengajakku tadi" kata niko "pakai ini" jeje melempar kain ke niko "tutup wajahmu" kata jeje "kenapa? " kata niko "pakai saja sebelum aku memukulmu" kata jeje "oh.. nona soikham selamat datang" kata seorang pria dengan ramah "kau membawa siapa? " tanya pria itu "siapa lagi kalau bukan jojo" kata jeje "baiklah kau ingin makan apa? " kata pria itu "aku pesan seperti biasa tapi aku tidak makan di sini" kata jeje "oh.. baik nona tunggu sebentar " kata pria itu jeje melihat sekitar nya "kenapa dia menjadi sangat waspada? " fikir niko "nona jeje ini pesanan anda" kata pria itu "nih" jeje memberikan sebuah kartu berwarna hitam setelah selesai mereka berdua keluar dari tempat itu "kita akan kemana? " kata niko "ke sebuah tempat " jeje menyerahkan box yang dia bawa ke niko "ayo cepat! " kata jeje.


wahyu mengerutkan dahinya saat kelas sudah selesai "kemana niko? kenapa dia tidak kelihatan" kata wahyu "kemana niko? " kata leo "iya dari pagi dia menghilang" kata adhi "apa dia dapat tugas ya dari dosen" fikir wahyu.


niko melihat gedung besar dan terbengkalai sekeliling nya penuh dengan rumput "hei kenapa kita di tempat yang begini? " kata niko tapi jeje tetap berjalan tanpa menjawab pertanyaan niko "jeje kau yakin? " kata niko "kau takut? " jeje berbalik menatap niko "hum.. tidak" kata niko kemudian mereka masuk ke dalam niko terkejut melihat keadaan di dalam gedung itu terlihat sangat bersih dan rapi jeje mengambil tempat untuk meletakkan makanan niko memperhatikan sekitar nya dengan rasa kagum "ini luar biasa" kata niko "hei pecundang kau ngapain berdiri cepat bawa makanan nya kesini" kata jeje niko mengangguk lalu duduk di kursi .


han memantau kampus tempat jeje kuliah tapi tidak ada tanda tanda jeje muncul sedetikpun "biar aku cek ke dalam" kata seorang pria di samping hanya "pergilah" kata han pria itu pun keluar dari mobil dan segera mengganti bajunya dan merapikan rambutnya lalu pergi melalui pagar tembok.


niko menuang makanan ke mangkuk di depannya tak lama kemudian jeje datang dengan celana yang sudah di ganti jeje duduk di kursi depan niko "aku datang aku datang" seorang wanita datang "hum" wanita itu terdiam "duduklah Ariel" kata jeje Ariel mengangguk sesekali melirik ke arah niko "kenapa niko di sini? " fikir Ariel "Ariel" kata niko dalam hati "jeje hum" kata Ariel "kenapa? " kata jeje "dia" kata Ariel "bukan siapa siapa hanya pecundang biasa" kata jeje sambil menikmati makanannya "yoo guys" desi datang dan tetap sama seperti Ariel dia juga terkejut melihat niko "makan" kata jeje sambil mengambil tisu lalu pergi ke kamar mandi "hei kau kenapa di sini? " kata desi "aku tadi ikut dengan nya kalian tau mungkin tuhan menakdirkan nya" kata niko "gimana bisa? " kata Ariel "tadi tuh dia bilang gini" niko pun menceritakan kejadian saat dirinya di kampus dengan jeje "oh.. aku tau satu hal sekarang" kata ariel tersenyum "tau apa? " niko heran "kau harus sering sering mendesak nya agar jeje reflek mengatakan hal seperti tadi" kata ariel "iya juga ya" kata desi "sstttt" kata niko jeje datang dan kembali duduk "jeje kau tidak menyuruh nya makan? " kata desi "iya dari tadi diam saja dia loh" ucap ariel tapi jeje hanya diam saja "jeje kau tidak mendengar kan kami ya? " kata ariel "hum? " jeje melihat ariel di depan nya lalu menatap niko "ku rasa dia sudah makan" kata jeje.


seorang pria datang menghampiri mobil hitam lalu masuk ke dalam mobil itu "gimana? " kata han "aku mendapatkan informasi anak itu tidak ada dan biasanya dia datang sebulan dua kali " kata pria itu "ouh sial" kata han.


chai melangkah ke luar kantor nya lalu melihat jam tangannya "kita akan kemana tuan? " tanya wut "kita akan pulang" kata chai "baik tuan" wut membawa tas milik chai.


niko mengerutkan dahinya sambil berkedip kedip muka merah karena perut nya berbunyi "duhh.... bikin malu saja" kata niko dalam hati "maaf" kata niko tapi jeje tidak mengatakan apapun dan tetap fokus menyetir motor nya .


wahyu mengendarai motor nya keluar gerbang "sebenarnya kemana dia" kata wahyu "bahkan dari pelajaran awal sampai akhir niko menghilang secara misterius" kata wahyu.


niko mengedip ngedip kan matanya "cepat pergi" kata jeje "maksudnya? " kata niko "perut mu terus bersuara sangat mengganggu ku!! " kata jeje "oh.. hehe maaf..tapi..nanti kalau aku ke sana kau pasti meninggalkan ku" kata niko jeje memutar lehernya dan menatap niko dengan tajam "plakk" niko memegang pipinya "cepat!! " kata jeje niko turun dari motor "hum.. janji ya jangan tinggal aku di sini" kata niko jeje tidak menjawab tapi dia mencabut kunci motor nya dan memberikan nya ke niko "bisa cepat! " kata jeje "hum" niko langsung berlari ke toko burger tak lama kemudian dia langsung berlari menghampiri jeje "ayo" kata niko sambil menyerahkan kunci motor ke jeje "eh!! " kata jeje di saat niko mau naik "ada apa? " kata niko jeje memberi isyarat agar niko melihat ke arah mobil di samping niko "hum? " niko melihat mobil di samping nya "ini maksudnya apa lag--" niko semakin heran jeje sudah tidak ada lagi di sisinya kaca mobil perlahan menurun "ayo silahkan naik tuan" kata supir taxi "oh.hum" niko pun akhirnya masuk ke dalam mobil "dia meninggalkan ku begitu saja" niko terlihat kesal sambil membuka bungkus burger nya dan mulai memakan burger nya dengan muka cemberut "ini mau jalan ke mana tuan? " kata supir taxi "hum" niko meneguk minumnya "nona tadi memberi bayaran dengan berpuluh kali lipat jadi kemana anda pergi saya siap mengantarkan nya" kata supir taxi "antar aku pulang saja" kata niko "baik lah" kata supir taxi.


chai melihat makanan di meja "apa nona sudah datang? " kata chai "tentu saja sudah" sahut jeje di tangga "kau sangat takut sekali aku tidak kembali" kata jeje "jangan harap aku takut kau tidak kembali ya" kata chai "oh ya barusan saja kau bertanya pada may" ucap jeje chai terlihat kesal dan langsung membuang mukanya "kakak jangan marah" kata jeje sambil meletakan sepotong cumi panggang ke piring chai "ayolah makan" kata jeje "makan saja " kata chai "kakak kalau kau marah kau mirip ke... gak jadi deh" kata jeje mata chai langsung terbelalak mendengar ucapan jeje.


"aadduhhhh.. aduh.. duhhh.. aahhh.. yu.. cukup" niko terus berlari karena wahyu masih saja mengejarnya sambil membawa sapu "wahyu... ampuun ini bukan seperti yang kau fikirkan aduhh.. aduh.. aahhh.. duuuh" niko masih menghindari pukulan dari wahyu "kau bicara terputus putus itu karena kau berbohong!! berani sekali kau bolos kau mulai menjadi anak nakal ya" kata wahyu "tidak.. tidak... aduhh... atas nama bunda berhentilah" kata niko wahyu pun berhenti "akhirnya nya" niko langsung rebahan di lantai "gini ya saudara ku" kata niko "aku tadi tuh menemukan anak nakal yang mau bolos jadi aku mencoba mencegah nya" kata niko "lalu kau ikut bolos? " kata wahyu "tidak kok dengar dong.. " kata niko "baik" ucap wahyu "lalu setelah aku mencoba mencegahnya satpam mengetahui anak nakal itu mau kabur dia menegur anak itu tapi anak nakal itu bilang kalau dia bolos karena aku yang menyuruh nya bolos dan satpam kelihatan nya percaya dan satpam akan menghampiri aku kau tau aku tidak mau di hukum aku terus menahan agar anak nakal itu tidak kabur karena dia menuduh ku" niko tersenyum "jujur saat itu aku panik yu, gimana kalau di hukum kalau anak nakal itu kabur satpam terus mendekat eh anak nakal itu malah mengajakku dan... aku fikir dari pada aku di hukum mendingan aku ikut dia kan" kata niko "tukk"wahyu memukul niko " aahhh... aduh.. yu seharian ini aku sudah menerima tendangan, tamparan ancaman darinya sampai di rumah aku masih harus di pukuli.. huuu sedih banget aku"kata niko "jangan drama kamu di sini gak laku di depan ku" kata wahyu sambil mengayunkan sapu "aahhhh yu ampuun.. ".


jeje mengambil tisu " gimana kuliah mu hari ini?"ucap chai "hum" jeje memberikan senyuman ke chai "ngapain sih nanya nanya" fikir jeje "kau pasti tau jawabannya" kata jeje "yah.. ku harap kau tidak bolos kuliah" kata chai "ya ya ku harap kau tidak melupakan jadwalnya lagi" kata jeje "hah, aku tidak seperti mu" kata chai "aih.. lihat saja besok " jeje berdiri "jericooooo!!! " seru jeje di luar "yaaaa!! " kata jerico "ayo temani aku latihan " kata jeje.


kal menyiapkan beberapa manekin jerico memakaikan alat yang menutupi telinga jeje chai duduk sambil memperhatikan jeje "kenapa kau menutup telinga ku? " kata jeje "kau mau berlatih menembak kan? " kata jerico jeje menggelengkan kepalanya "tidak papa" kata chai jeje menoleh "berlatih lah menembak sesekali lain waktu kita akan bermain di hutan" kata chai "benar kah? " kata jeje chai mengangguk jeje langsung memasang penutup telinga lalu mulai mengangkat senjata nya.


niko berbaring di ranjang nya "meskipun dapat tamparan dari nya aku rasanya semakin tak ingin menjauh darinya" ucap niko "semoga kamu terus salah bicara ya je, agar aku bisa dekat dengan mu" kata niko "eh..malah melamun" kata wahyu "aduh... yu.. badanku jadi sakit sakit" kata niko "bodoh amat" kata wahyu.


chai mengambil tisu lalu mengelap keringat jeje "sudah cukup, bersihkan tubuhmu dan istirahat" kata chai "hei.. lihat dulu tuh aku berhasil kan" kata jeje "iya" kata chai "yeeah" jeje melompat chai langsung pergi jeje berjalan keluar dari ruangan itu "**** you pecun--" jeje melihat siapa yang memegang bahunya "kau bilang apa? " kata lim "sial aku salah bicara lagi" kata jeje dalam hati "aku bilang ada apa gitu aja gak dengar" kata jeje sambil pergi berjalan lagi "hum" lim menggaruk garuk kepalanya "aku kira dia bilang sesuatu yang kasar" kata lim.